Se connecterSatu per satu, anggota KKN mulai keluar kamar.
Embun muncul sambil mengucek mata. “Wah… bau masakan. Aku langsung laper.” Bagas menyusul, rambutnya masih acak-acakan. “Pagi, Bu Seno. Wah, ini sih KKN rasa pulang kampung.” Bu Seno tersenyum tipis. “Nggih, Nak. Nanging dipun resiki rumiyin sakwise dhahar.” (Iya, Nak. Tapi dibersihkan dulu setelah makan.) Pelangi keluar sambil menguap panjang. “Aku mimpi aneh,” gumamnya, lalu cepat menggeleng. “Eh, nggak penting.” Bulan duduk tenang, langsung membantu menyusun piring tanpa diminta. Alvaro menyapa Bu Seno dengan sopan, sementara Alex datang paling akhir, wajahnya masih pucat Hileon berdiri di dekat pintu, memperhatikan sekitar dengan tatapan waspada. Matanya sempat bertemu Aruna. Gadis itu terlihat tenang, namun Hileon tahu—ketenangan itu dibuat-buat. Mereka duduk mengelilingi meja makan. Suara sendok menyentuh piring terdengar jelas. Untuk beberapa saat, tak ada yang bicara. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. “Masakannya enak, Bu,” kata Alvaro akhirnya. Bu Seno mengangguk. “Nggih. Dhahar mawon sing kathah. Benjing panjenengan sedoyo mesthi sibuk.” (Iya. Makan yang banyak. Hari ini kalian pasti sibuk.) Embun melirik sekeliling. “Bu… semalam nggak ada apa-apa, kan?” Sendok Bu Seno berhenti sesaat. “Ora wonten nopo-nopo, Nduk,” jawabnya cepat. (Tidak ada apa-apa.) Nada suaranya terlalu cepat. Aruna memperhatikan tangan Bu Seno yang sedikit gemetar saat kembali mengaduk sayur. Setelah makan, Bu Seno menepuk tangan pelan. “Saiki monggo adus. Sakwise punika, resik-resik griyo.” (Sekarang silakan mandi. Setelah itu bersih-bersih rumah.) “Siap, Bu!” jawab Bagas semangat. “Tim bersih-bersih siap bergerak.” Pelangi tertawa kecil. “Jarang-jarang aku disuruh bersih-bersih sama ibu kepala desa.” Bu Seno hanya tersenyum tipis. Satu per satu mereka menuju kamar mandi dan halaman belakang. Matahari mulai naik, namun cahaya yang jatuh ke halaman terasa pucat, seperti tertutup lapisan kabut tipis yang tak kunjung hilang. Aruna kebagian menyapu ruang tengah bersama Bulan. “Kamu ngerasain sesuatu pagi ini?” tanya Bulan pelan. Aruna berhenti sejenak. “Rumah ini… lebih diam dari seharusnya.” Bulan mengangguk. “Seperti menunggu.” Di luar, Bagas dan Alvaro membersihkan halaman. Embun dan Alex mengepel lantai dapur. Pelangi membantu sambil terus mengomel kecil. Tiba-tiba Embun berhenti. “Alex…” bisiknya. “Ada apa?” Embun menatap ember air. Airnya beriak pelan—padahal tak ada yang menyentuhnya. Lalu, samar-samar, terdengar suara seperti hembusan napas dari arah sumur belakang. Alex merinding. “Kita… pindah ke depan aja.” Embun mengangguk cepat. Tak lama kemudian, Bu Seno muncul di ambang pintu. “Sampun cekap, Nak.” (Sudah cukup.) Ia menatap mereka satu per satu. “Pak Seno sampun ngentosi wonten balai desa. Monggo siyap-siyap.” (Pak Seno sudah menunggu di balai desa. Silakan bersiap.) Aruna mengangguk. “Baik, Bu.” Saat mereka mengambil tas, Aruna menoleh sekali lagi ke dalam rumah. Untuk sesaat sangat singkat ia melihat bayangan kain hijau melintas di lorong menuju kamar belakang Jantungnya berdegup keras. Namun ketika ia menoleh kembali, lorong itu kosong. “Aruna?” panggil Hileon pelan. “Aku baik-baik saja,” jawabnya cepat. Mereka melangkah keluar rumah. Bu Seno berdiri di teras, menatap punggung mereka pergi. Wajahnya tegang. Bibirnya bergetar pelan. “Mugi Gusti paring pangayoman…” (Semoga Tuhan memberi perlindungan…) Di bawah tanah Desa Sendang Pitu, sesuatu bergerak pelan Pagi telah tiba. Namun teror belum pernah benar-benar pergi. * Tatapan yang Tertuju pada Aruna* Balai desa Sendang Pitu berdiri di tengah lapangan luas yang ditumbuhi rumput liar. Bangunannya tidak terlalu besar, namun terlihat tua dan kokoh, dengan tiang-tiang kayu gelap yang dipenuhi ukiran sederhana. Di depan balai, beberapa warga desa sudah berkumpul sejak pagi Langkah kaki delapan mahasiswa KKN itu terdengar jelas saat mereka memasuki halaman. Percakapan warga langsung meredup. Aruna merasakan perubahan itu seketika. Tatapan-tatapan asing tertuju pada mereka—lebih tepatnya, tertuju padanya. Tatapan yang bukan sekadar penasaran, melainkan meneliti, menimbang, bahkan… mengenali. “Kenapa mereka lihat kita kayak gitu?” bisik Pelangi, mendekat ke Aruna tanpa sadar. Bulan berjalan di sisi Aruna, ekspresinya tetap tenang, tapi matanya waspada. “Bukan kita,” katanya pelan. “Kamu.” Aruna menelan ludah Ia merasakan getaran halus di pelipisnya sensasi yang selalu muncul ketika indra keenamnya disentuh sesuatu dari dunia lain. Desa ini seolah berbisik, dan bisikan itu berputar-putar di sekelilingnya. “Aruna,” bisik Hileon di belakangnya. “Kalau kamu ngerasa nggak nyaman, bilang.” Aruna mengangguk kecil. “Aku masih bisa jalan.” Mereka memasuki balai desa. Di dalam, Pak Seno sudah menunggu bersama beberapa perangkat desa. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding malam sebelumnya, namun garis kelelahan masih jelas di sekitar matanya. “Monggo, monggo, dipun lenggah,” ujar Pak Seno. (Silakan duduk.) Mereka duduk berjejer di bangku panjang. Udara di dalam balai terasa dingin, meski matahari sudah cukup tinggi. Pak Seno berdiri di depan. “Hari ini saya akan memperkenalkan adik-adik KKN kepada warga,” katanya dalam bahasa Indonesia yang formal. “Harapannya, selama satu bulan ke depan, kita bisa bekerja sama dengan baik.” Beberapa warga mengangguk. Namun sebagian lain justru menatap Aruna tanpa berkedip. Seorang perempuan tua berkebaya hitam berdiri perlahan dari bangkunya. Rambutnya memutih, wajahnya keriput, matanya tajam menusuk. “Nduk…” panggilnya lirih. Suasana mendadak hening. Aruna refleks berdiri. “Iya, Mbah?” Perempuan tua itu menatap mata Aruna lama sekali. Terlalu lama. Napas Aruna terasa berat, seolah ada tekanan tak terlihat yang menekan dadanya. “Mripatmu… ijo.” (Matamu… hijau.) Aruna mengangguk sopan. “Iya, Mbah.” Perempuan itu tersenyum tipis. Senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. “Podho…” gumamnya. (Sama…) “Sama dengan siapa, Mbah?” tanya Pak Seno cepat, nada suaranya tegang. Perempuan itu tertawa pelan. “Sing tau nembang.” (Yang pernah bernyanyi.) Embun menutup mulutnya. Pelangi mencengkeram lengan Hileon. Pak Seno segera menyela. “Mbah Sri sudah sepuh,” katanya pada warga lain. “Kadang ucapannya bercampur cerita lama.” Namun mata Pak Seno justru menghindari Aruna. Aruna duduk kembali dengan jantung berdebar keras. Alvaro mencondongkan badan. “Kamu kenal perempuan itu?” Aruna menggeleng. “Tapi… dia tahu.” “Tau apa?” tanya Bagas pelan. “Sesuatu yang seharusnya nggak dia lihat dari orang asing.” Pertemuan dilanjutkan. Warga mulai bertanya tentang jurusan, program kerja, dan rencana kegiatan. Namun setiap kali Aruna berbicara, balai desa kembali sunyi. Seolah mereka mendengarkan bukan kata katanya melainkan suaranya. Seorang bapak paruh baya bertanya, “Nduk Aruna dari kedokteran, ya?” “Iya, Pak.” Bapak itu mengangguk pelan. “Cocok.” “Cocok untuk apa?” tanya Aruna hati-hati. Bapak itu tersenyum tipis. “Kagem ngrumat.” (Untuk merawat.) Kata itu bergema aneh di telinga Aruna. Setelah acara selesai, warga bubar perlahan. Namun beberapa masih berdiri, menoleh ke arah Aruna sebelum pergi.Malam setelah percakapan di bawah pohon beringin itu terasa berbeda.Aruna duduk sendiri di kamar kosnya. Lampu meja menyala redup, menyorot gelang akar yang tergeletak di atas buku catatan KKN mereka. Angin dari jendela membuat tirai tipis bergerak perlahan.Ia memandang gelang itu lama.“Kenapa kamu memilihku?” bisiknya pelan.Tidak ada suara menjawab.Namun ada rasa hangat yang menjalar pelan dari dada hingga ke ujung jarinya. Bukan desakan. Bukan paksaan. Seperti sebuah keyakinan yang tumbuh perlahan, tanpa perlu diyakinkan.Aruna memejamkan mata.Dan lagi-lagi ia berdiri di persimpangan.Dua jalan membentang di hadapannya.Yang satu terang, ramai, penuh suara tawa dan kehidupan biasa.Yang satu lagi sunyi, panjang, dengan cahaya samar yang tidak menyilaukan—namun dalam.“Tidak semua pilihan berarti meninggalkan,” suara lembut itu terdengar lagi.Aruna menoleh, tapi tidak ada siapa pun.“Apa aku harus memilih sekarang?” tanyanya.“Tidak.”“Lalu?”“Berjalanlah. Jalan akan memperlih
Langit kota tampak mendung sejak pagi, padahal musim kemarau belum benar-benar berakhir. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seperti beban yang belum dijatuhkan. Aruna berdiri di depan jendela kelas setelah dosennya selesai menjelaskan revisi laporan KKN. Suara teman-teman yang bercakap terdengar samar, seakan tertutup lapisan tipis di telinganya. Ia tidak sedang melamun. Ia sedang merasakan sesuatu. Getaran halus. Bukan ketakutan. Bukan ancaman. Melainkan panggilan. Pelangi yang berdiri di sampingnya menyenggol pelan. “Na… kamu lagi ngerasa ya?” Aruna mengangguk tanpa menoleh. Embun dan Bulan yang berada di belakang mereka ikut mendekat. Bima, Bagas, Alvaro, dan Hileon pun menghentikan obrolan. “Datang lagi?” tanya Hileon pelan. “Bukan datang,” jawab Aruna perlahan. “Tapi seperti… ada yang bangun.” Bima menghela napas panjang. “Jangan bilang kita harus balik ke desa.” “Bukan desa,” bisik Aruna. Semua terdiam. “Bukan di sana.” Sore itu mereka berkumpu
Perjalanan kembali ke kota terasa berbeda dari saat mereka pertama kali datang ke Desa Sumber Arum. Dulu, mobil yang mereka tumpangi dipenuhi tawa penasaran dan candaan tentang KKN yang dianggap sekadar kewajiban akademik. Kini, suasana di dalam mobil sunyi, bukan karena ketakutan melainkan karena masing-masing tenggelam dalam pikiran. Aruna duduk di dekat jendela. Angin pagi menerpa wajahnya ketika ia membuka kaca sedikit. Ia menatap jalan yang semakin menjauh dari desa, seolah ingin memastikan bahwa semua yang terjadi benar-benar telah usai. Pelangi memecah keheningan. “Rasanya aneh ya… kayak kita ninggalin sesuatu yang besar banget.” Embun mengangguk pelan. “Atau mungkin… sesuatu itu yang ninggalin kita.” Bima tersenyum tipis. “Yang penting sekarang nggak ada lagi yang ikut.” Bagas tertawa kecil. “Jangan ngomong gitu. Nanti malah kebawa beneran.” Hileon menoleh ke Aruna. “Kamu gimana?” Aruna terdiam sejenak. “Aku merasa ringan. Tapi… bukan kosong.” Alvaro memahami
Malam turun perlahan di Desa Sumber Arum. Angin berdesir melewati pepohonan jati, membawa aroma tanah basah yang baru saja diguyur hujan sore. Di pendopo tua tempat mereka dulu pertama kali berkumpul saat KKN, lampu minyak kembali dinyalakan. Cahayanya bergetar lembut, seolah ikut bernapas bersama kenangan yang tersisa.Aruna berdiri paling depan. Wajahnya tidak lagi menyimpan ketakutan seperti dulu. Di matanya kini ada sesuatu yang lebih dalam—ketenangan yang lahir dari badai panjang yang berhasil dilewati.Pelangi duduk bersandar pada tiang kayu, memeluk lututnya. Embun menatap langit-langit pendopo yang sudah diperbaiki. Bulan duduk diam, tangannya menggenggam tasbih kecil pemberian Bu Seno. Bima berdiri tegap di samping Hileon dan Alvaro, sementara Bagas memeriksa sekeliling dengan waspada, meski hatinya tahu malam ini berbeda.Pak Seno dan Bu Seno datang membawa termos teh hangat.“Sudah waktunya,” ujar Pak Seno pelan.Aruna mengangguk.Sudah waktunya bukan untuk melawan. Bukan u
Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Desa itu tidak lagi sekadar sunyi ia seperti menahan napas. Angin yang biasanya berdesir di antara pepohonan kini berhenti total, seolah waktu ikut membeku bersama ketakutan yang menggantung di udara. Aruna berdiri di depan pendopo tua, jantungnya berdegup tak beraturan. Di belakangnya, Pelangi menggenggam tangan Embun erat-erat. Bulan memeluk lengannya sendiri, mencoba mengusir dingin yang tidak wajar. Bima berdiri di sisi kanan, wajahnya tegang. Alvaro dan Bagas membawa senter, tapi cahaya itu terasa tak berarti di tengah kegelapan yang menebal seperti asap hitam. Pak Seno dan Bu Seno berdiri di ambang pintu rumah mereka. Wajah keduanya pucat. Dari dalam pendopo terdengar suara sinden. Pelan. Melengking. Lirih. Tapi bukan suara biasa. Itu tembang yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. “Dia kembali…” bisik Bu Seno gemetar. Aruna mengangguk pelan. “Bukan kembali. Dia belum pernah pergi.” Suara gamelan terdengar samar,
Hujan malam itu tidak berhenti.Air mengguyur atap kos Aruna seperti ribuan jari yang mengetuk tanpa henti. Langit kelabu sejak sore, dan kini gelapnya terasa lebih dalam dari biasanya.Aruna duduk di lantai kamarnya.Kain merah tergeletak di hadapannya.Ia tidak lagi ragu.Apa pun yang tinggal di rumah tua itu bukan sekadar arwah tersesat.Ia adalah sesuatu yang tumbuh.Dipupuk.Dibiarkan hidup oleh ketakutan dan kebungkaman selama puluhan tahun.Dan seperti akar pohon tuaia tidak akan mati hanya karena satu pintu dibuka.Sejak mereka kembali dari rumah itu, gangguan tidak berhenti.Embun mendengar suara langkah di loteng rumah orang tuanya.Pelangi melihat bayangan berdiri di sudut kamar saat lampu dimatikan.Bima bermimpi berulang kali tentang lorong panjang tanpa ujung.Bagas menemukan bekas goresan di meja belajarnya.Bulan terbangun dengan tangan terasa seperti diikat sesuatu yang tak terlihat.Dan ArunaAruna tidak lagi hanya bermimpi.Ia melihat.Dalam keadaan sadar.Bayangan







