Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 5 – Rumah yang Menjaga dan yang mengintai

Share

Bab 5 – Rumah yang Menjaga dan yang mengintai

Author: Vika moon
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-02 16:13:18

Matahari sudah condong ke barat ketika kegiatan KKN hari itu akhirnya selesai. Delapan mahasiswa itu berjalan menyusuri jalan tanah yang dipagari rumpun bambu di kanan kiri. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua Namun tak satu pun dari mereka merasa benar-benar lega.

“Kenapa rasanya capek banget ya,” keluh Bagas sambil mengibas-ngibaskan topinya. “Padahal cuma pendataan warga sama bersih-bersih balai.”

“Bukan capek,” jawab Bulan pelan. “Rasanya… berat.”

Aruna merasakan hal yang sama. Sejak pagi, dadanya terasa penuh, seolah ada sesuatu yang terus mengawasi langkahnya. Beberapa kali ia menangkap bayangan samar di sudut matanya kebaya hijau, rambut panjang tergerai namun selalu menghilang saat ditoleh.

“Adik-adik,” suara Pak Seno terdengar dari depan. Ia berjalan sedikit lebih cepat dari mereka. “Sakdurunge bali, ayo mampir sek rumiyin.”

(Sebelum pulang, ayo mampir sebentar.)

“Mampir ke mana, Pak?” tanya Hileon.

Pak Seno berhenti di persimpangan kecil. Di depannya, sebuah jalan setapak sempit mengarah ke area yang lebih rimbun. Pohon-pohon tua berdiri rapat, cahaya matahari nyaris tak menembus tanah.

“Ke rumah Mbah Karso,” jawab Pak Seno pelan.

Nama itu membuat langkah Aruna terhenti sesaat Embun menelan ludah. “Dukun desa itu?”

Pak Seno mengangguk. “Sing njaga desa iki.”

(Yang menjaga desa ini.)

Tak ada yang menolak. Bahkan Pelangi yang biasanya banyak protes kini terdiam, hanya berjalan lebih dekat ke Hileon.

Rumah Mbah Karso berdiri di ujung jalan setapak. Bangunannya sederhana, berdinding kayu tua dan beratap genteng gelap. Namun suasananya berbeda—udara di sekitarnya terasa lebih dingin, lebih sunyi, seperti waktu melambat di tempat itu.

Di depan rumah, dupa menyala. Asap tipisnya berpilin naik, membentuk pola aneh di udara.

“Monggo… mlebet.”

(Silakan masuk.)

Suara itu muncul sebelum sosoknya terlihat.

Seorang lelaki tua keluar dari dalam rumah. Tubuhnya kurus, punggungnya sedikit membungkuk, rambutnya putih seluruhnya. Namun matanya tajam dan dalam membuat siapa pun yang menatapnya ingin segera menunduk.

“Kulo Mbah Karso.”

Aruna merasakan getaran kuat menjalar dari telapak kakinya hingga ke tengkuk. Bulu kuduknya berdiri Mbah Karso menatap satu per satu wajah

mereka. Lama. Terlalu lama Saat pandangannya bertemu mata Aruna, langkahnya terhenti.

“Hmm…” gumamnya pelan. “Tekan saiki yo.”

(Akhirnya datang juga.)

Hileon refleks berdiri sedikit di depan Aruna.

Mbah Karso tersenyum samar. “Tenang, Le. Aku ora ala.”

(Tenang, Nak. Aku tidak jahat.)

Mereka dipersilakan duduk melingkar di ruang tamu. Ruangan itu penuh dengan benda-benda aneh: keris tua, kain mori, botol-botol kecil berisi cairan keruh, dan sebuah cermin besar yang ditutupi kain hitam.

“Mbah,” ujar Pak Seno membuka pembicaraan. “Kulo ngersakke panjenengan maringi pitutur.”

(Saya minta Anda memberi nasihat.)

Mbah Karso mengangguk pelan. “Adik-adik iki ora mung tamu.”

(Kalian ini bukan sekadar tamu.)

Semua terdiam.

“Kalian wis mlebu wilayah sing nduwe aturan lawas,” lanjutnya. “Ana sing katon, ana sing ora katon.”Bagas menggeser duduknya, berusaha santai. “Maksudnya… makhluk halus, Mbah?”

Mbah Karso melirik Bagas tajam. “Aja guyon.”

(Jangan bercanda.)

Ruangan langsung terasa lebih dingin.

“Tak jelaskan pelan-pelan,” kata Mbah Karso. “Supaya ora ana sing kebacut.”

Ia mengangkat tongkat kayunya dan mengetukkannya pelan ke lantai.

“Larangan pertama,” ucapnya tegas.

“Aja njupuk opo wae sing dudu duwekmu.”

(Jangan mengambil apa pun yang bukan milikmu.)

“Sekalipun cuma batu,” lanjutnya.

“Sekalipun cuma kain,”

“Sekalipun nemu ing pinggir dalan.”

Embun mengangkat tangan ragu. “Kalau… tidak sengaja, Mbah?”

“Ora ana ora sengaja.”

(Tidak ada yang namanya tidak sengaja.)

Aruna menelan ludah. Kalimat itu menggema keras di kepalanya.

“Larangan kedua,” lanjut Mbah Karso.

“Aja muni sawenang-wenang.”

(Jangan bersuara sembarangan.)

“Jangan bersiul malam hari. Jangan memanggil nama orang keras-keras di dekat sendang. Apalagi… menyahut nyanyian.”

Jantung Aruna berdegup keras.

Pelangi berbisik, “Nyanyian sinden itu…”

Mbah Karso menatap Pelangi. “Kowe wis krungu, ta?”

(Kamu sudah mendengarnya, kan?)

Pelangi membeku.

“Larangan ketiga,” suara Mbah Karso merendah.

“Aja nggunakke ati kanggo nantang.”

(Jangan gunakan perasaan untuk menantang.)

“Takutlah secukupnya. Hormatlah secukupnya. Tapi jangan merasa paling berani.”

Ia lalu menoleh ke Aruna lagi.

“Lan sing paling penting,” katanya lirih.

“Nduk iki aja nganti piyambakan.”

(Gadis ini jangan sampai sendirian.)

Semua mata langsung tertuju pada Aruna.

“Kenapa saya, Mbah?” tanya Aruna dengan suara tenang meski dadanya bergetar.

Mbah Karso mendekat. Jarak mereka hanya satu langkah.

“Merga ora kabeh sing nunggu kuwi ala,” katanya pelan.

“Tapi sing ngenteni kowe… wis suwe banget.”

Alvaro mengepalkan tangan. “Mbah, maksudnya Aruna dalam bahaya?”

Mbah Karso menggeleng pelan. “Bahaya kuwi gumantung pilihan.”

Ia lalu mengambil sebuah gelang benang hitam dari kantong bajunya dan menyerahkannya pada Aruna.

“Pakai iki. Ora kanggo ngusir, tapi kanggo ngelingke.”

(Pakai ini. Bukan untuk mengusir, tapi untuk mengingatkan.)

Aruna menerima gelang itu. Saat disentuh, kepalanya berdenyut hebat.

Sekilas hanya sesaat ia melihat bayangan perempuan berkebaya hijau berdiri di belakang Mbah Karso, tersenyum tipis.

Namun saat Aruna berkedip, bayangan itu lenyap.

“Sudah,” kata Mbah Karso. “Pulanglah. Istirahat. Amarga wengi iki… desa bakal nyoba nyedhak maneh.”

Saat mereka melangkah keluar, Mbah Karso menambahkan satu kalimat terakhir:

“Yen ana sing nglanggar larangan… ora mung siji sing mbayar.”

(Jika ada yang melanggar larangan… bukan satu orang saja yang menanggung akibatnya.)

Di perjalanan pulang, tak ada yang berbicara.

Namun Bagas, yang berjalan paling belakang, berhenti sejenak.

Di pinggir jalan, ia melihat sebuah sisir kayu ukir tergeletak di tanah.

“Lucu juga,” gumamnya pelan sambil membungkuk.Di kejauhan, suara sinden kembali terdengar lirih, memanggil nama seseorang.

Dan senja pun menelan desa Sendang Pitu perlahan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 277 - RUMAH YANG TIDAK LAGI KOSONG

    Gerbang cahaya keemasan itu berdiri megah di hadapan mereka. Serpihan cahaya putih masih beterbangan pelan di udara ruang perantara, membuat semuanya terasa seperti mimpi yang belum benar benar selesai. Pelangi berjalan pelan di samping Asa. Sesekali ia melirik cahaya kecil itu diam diam. Dan semakin ia melihatnya… semakin terasa bahwa Asa benar benar berubah. Bukan berubah menjadi lebih kuat saja. Namun lebih tenang. Rasa sakit itu masih ada. Pelangi tahu itu. Namun sekarang rasa sakit itu tidak lagi menghancurkan Asa dari dalam. Aruna berjalan beberapa langkah di depan mereka sambil memperhatikan gerbang. “Jalan pulang sudah stabil.” Sosok besar langsung mencatat sesuatu lagi. “Peluang perpindahan aman.” Pelangi langsung menghela napas lega. “Akhirnya ada kabar bagus.” Namun sebelum mereka melangkah lebih dekat… gerbang itu tiba tiba berdenyut pelan. Cahaya keemasannya bergerak seperti air. Pelangi langsung berhenti. “Eh…” Asa juga ikut diam. “…hangat…” Gerbang

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 276 - Cahaya Yang Dibawa Pulang

    Portal bercahaya itu bergetar pelan di depan mereka. Retakan ruang di belakang semakin melebar, membuat suara runtuhan terus terdengar seperti gema panjang yang tidak ada akhirnya.Pelangi berdiri di samping Asa sambil menatap portal itu hati hati.“Kita beneran masuk?”Aruna mengangguk singkat.“Kalau tidak, kita ikut hancur bersama ruang ini.”Pelangi langsung menelan ludah.“Oke… pertanyaan bodoh.”Sosok besar berjalan lebih dulu mendekati portal sambil tetap mencatat sesuatu di buku cahayanya.“Stabilitas cukup untuk dilewati.”Pelangi melihat Asa.Cahayanya kini jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.Masih redup karena kehilangan.Namun tidak lagi kacau.“Asa…”Asa menoleh perlahan.“…iya…”Pelangi tersenyum kecil.“Kita pulang.”Sunyi sebentar.Lalu cahaya Asa bergerak pelan.“…pulang…”Seolah kata itu masih terasa asing baginya.Pelangi mengangguk kecil.“Iya.”Ia menggenggam cahaya Asa lagi.“Bareng.”Dan untuk pertama kalinya…Asa menggenggam balik dengan lebih jelas.Cahaya

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 275 H DUNIA SETELAH KEHILANGAN

    Cahaya portal di ujung ruang itu terus berkedip tidak stabil. Retakan besar menyebar ke mana mana, membuat seluruh tempat terasa seperti akan hancur dalam hitungan detik.Pelangi menggenggam Asa erat sambil berlari.“Atas sana! Cepat!”Aruna bergerak lebih dulu melewati serpihan cahaya yang terus berjatuhan. Sosok besar mengikuti di belakang mereka sambil terus mencatat keadaan ruang yang semakin kacau.“Integritas ruang tersisa dua belas persen.”Pelangi langsung panik.“Bisa nggak sih ngomong yang nggak bikin stres?!”Namun tidak ada yang menjawab.Karena semua orang tahu…keadaan mereka memang sedang buruk.Asa bergerak di samping Pelangi tanpa banyak bicara.Cahayanya redup.Sangat redup.Pelangi meliriknya beberapa kali dengan khawatir.“Asa…”Asa tidak menjawab.Ia masih terlihat kosong setelah kepergian Eren.Dan itu membuat hati Pelangi terasa berat.Dummm!Lantai di belakang mereka runtuh besar sekali.Pelangi refleks mempercepat langkah.“Cepat!”Portal bercahaya itu kini te

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 274 - SAAT DUNIA MULAI RUNTUH

    Retakan besar di bawah mereka terus melebar. Cahaya putih yang selama ini memenuhi ruang perlahan runtuh menjadi serpihan serpihan kecil seperti kaca pecah yang jatuh ke dalam kegelapan tanpa dasar. Pelangi hampir kehilangan pijakan saat lantai di bawahnya berguncang hebat. “Asa!” Ia menggenggam cahaya Asa kuat kuat. Asa bergerak mendekat refleks. “…Pelangi…” Suara runtuhan terdengar dari segala arah. Langit ruang itu juga mulai retak semakin parah, memperlihatkan pusaran hitam besar di baliknya. Aruna berdiri menjaga keseimbangan sambil melihat sekeliling. “Ruang ini tidak akan bertahan lama.” Sosok besar langsung mencatat. “Perkiraan kehancuran total semakin dekat.” Pelangi langsung panik. “Terus kita harus gimana?!” Sosok tinggi itu menatap retakan di langit. “Kita harus keluar sebelum inti ruang hancur sepenuhnya.” Eren masih berdiri di dekat pintu yang nyaris pecah total. Cahaya hitam di tubuhnya bergerak tidak stabil mengikuti runtuhnya tempat itu.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 273 - ORANG YANG MENARIK ASA KEMBALI

    Cahaya hitam itu terus merambat dari tangan Eren menuju tubuh Asa perlahan seperti akar gelap yang hidup. Seluruh ruang dipenuhi getaran aneh yang membuat udara terasa semakin berat.Pelangi langsung bangkit meski tubuhnya masih terasa sakit akibat terpental tadi.“Asa!”Asa menoleh sedikit.Cahayanya berkedip kacau.“…Pelangi…”Namun tangan Eren masih mencengkeramnya erat.Tatapan gelap itu tidak berpindah sedikit pun dari Asa.“Aku sudah terlalu lama sendirian,” katanya pelan.Pelangi menggigit bibir kuat kuat.“Aku bilang lepasin dia!”Ia mencoba mendekat lagi.Namun kali ini Aruna langsung menahan lengannya.“Tunggu.”Pelangi langsung menoleh kesal.“Nunggu apalagi?!”Aruna menatap Eren serius.“Kalau kau bergerak sembarangan sekarang, energi mereka bisa bentrok.”Sosok besar langsung menambahkan.“Kemungkinan kehancuran ruang meningkat drastis.”Pelangi mengepalkan tangan.Ia benci harus diam saat Asa terlihat kesakitan.Eren perlahan mendekatkan wajahnya ke Asa.“Aku terus meman

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 272 - JANGAN PERGI SENDIRI LAGI

    Retakan di pintu itu terus menyebar seperti luka yang tidak bisa dihentikan. Cahaya hitam keluar semakin banyak, membuat seluruh ruang terasa dingin dan berat.Tangan Eren kini sudah sepenuhnya mencengkeram sisi pintu.Perlahan.Namun pasti.Ia sedang mencoba keluar.Pelangi masih menggenggam cahaya Asa erat erat. Jantungnya berdetak kacau saat melihat Asa melangkah maju tadi.Ketakutan yang sejak tadi ia tahan akhirnya muncul sepenuhnya.Bukan takut pada kehancuran.Bukan takut pada Eren.Namun takut kehilangan Asa.“Asa…” suaranya pelan namun bergetar.Asa menoleh perlahan.Cahayanya bergerak tidak stabil.“…aku harus…”“Nggak,” potong Pelangi cepat.Ia menggenggam cahaya itu semakin erat.“Kamu jangan ngomong kayak mau ninggalin aku.”Sunyi.Kalimat itu membuat Asa langsung diam.Bahkan retakan pintu yang terus berbunyi terasa seperti menjauh beberapa detik.Eren memperhatikan mereka dari balik celah pintu.Matanya yang gelap bergerak perlahan.“Masih sama seperti dulu.”Pelangi la

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 136 – Tembang yang Tidak Selesai

    Malam turun tanpa suara.Desa tempat mereka KKN terasa berbeda sejak beberapa hari terakhir. Bukan karena angin lebih kencang, bukan karena langit lebih gelap—melainkan karena ada sesuatu yang tidak terlihat, namun terasa mengendap di udara.Aruna berdiri di teras rumah Pak Seno. Lampu kuning kecil

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 135 – Bayangan di Balik Resonansi

    Sejak gudang kosong itu, suasana berubah.Bukan karena jaringan melemah.Justru sebaliknya.Resonansi tiga simpul taman, sungai, dan rumah sakit lama kini terasa lebih padu. Jalur cahaya di bawah tanah tidak lagi tipis seperti benang, melainkan lebih tebal, lebih stabil, seperti akar yang saling me

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 134 – Resonansi yang Menyebar

    Tiga simpul telah bangun.Taman.Sungai.Rumah sakit lama.Dan sejak hari itu, kota tidak lagi terasa seperti kota biasa bagi Aruna.Ia tidak perlu lagi mencari denyut jaringan. Denyut itu kini selalu ada seperti napas kedua yang hidup berdampingan dengan napasnya sendiri.Namun malam itu, sesuatu

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 133 – Simpul Ketiga

    Pertemuan dengan Hana mengubah segalanya.Bukan karena ada kekuatan baru yang muncul secara dramatis, bukan karena retakan besar tiba-tiba menganga di langit kota. Justru sebaliknya karena semuanya terasa lebih tenang.Terlalu tenang.Aruna berdiri di balkon kos pada suatu malam, memandang lampu-la

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status