Share

bab 2

Penulis: SingoRanu
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-31 10:12:31

"Wah, siapa ini yang datang?" Suara ketukan sepatu pantofel dengan lantai marmer beradu diiringi sosok Clarisa yang mendekat.

Gadis cantik dengan gaun berwarna merah menyala seperti polesan lipstik di bibirnya. Menyungging senyum angkuh pada Lily yang berbanding terbalik dengan gaya Clarisa.

"Sepertinya kamu sangat nyaman tinggal di rumah ini, Clarisa."

Lily, gadis cantik yang sederhana namun memiliki hati lembut. Sikap dan sifat kerasnya adalah bukti tempaan hidup yang dia jalani.

"Sepertinya kamu sangat cocok dengan hidupmu di luar sana," ujar Clarisa memandang rendah Lily dari atas ke bawah.

"Benar. Aku menyukai hidup diluar tanpa merampas milik orang lain," ucap Lily berjalan mendekat dan merapikan gaun Clarisa, lalu menepuk menyingkirkan debu dari pundaknya.

"Bersiaplah, aku sudah kembali. Mungkin nanti kamu akan merasakan lebih banyak debu di bajumu."

Usai berbisik tepat di telinga Clarisa dan tersenyum sinis. Lily melangkah menuju kamar yang lama ia tinggalkan.

Dengan tangan mengepal kuat, Clarisa menatap punggung Lily.

"Sabar Clarisa, jangan membuat dia curiga dan marah. Kau tau kedatangan Lily untuk apa," suara Bella dari sudut lain.

"Jallang itu! Selalu menyebalkan sejak dulu! Kita sudah mengusirnya, tapi dia kembali lagi!" geram Clarisa uring-uringan.

"Kita akan melemparkan nya lagi ke tempat yang lebih buruk. Kenapa kamu harus uring-uringan, Clar? Biar dia merasakan hari terakhirnya di sini sebelum dia memasuki neraka." Bella tersenyum licik.

"Papa."

Netra Lily berair, melihat sang papa kini terduduk diatas kursi roda. Sangat memprihatinkan, dengan luka lebam di wajahnya. Lukas memang sangat pandai berakting.

"Papa, apa yang terjadi? Kenapa papa jadi seperti ini?"

Lily menghampiri papanya, dan langsung bersimpuh di depan sang papa yang berwajah kuyu.

"Maafkan papa nak. Ini semua salah papa," tangis Lukas memeluk Lily.

"Kenapa bisa seperti ini pa? Papa sakit apa?" tanya Lily dengan mata berkaca menatap sang papa.

"Papa, sudah kehilangan satu ginjal papaa nak," jelas Lukas berbohong hanya untuk menarik simpati anak tertuanya.

"Apa?" Lily sangat terkejut."Bagaimana bisa papa sampai kehilangan ginjal papa?"

"Ini semua salah papa nak, papa yang tidak berhati-hati dlaam memilih rekan bisnis. Papa di tipu. Hingga kehilangan jutaan dolar." Lukas terlihat sangat menyesal. Lily menjadi merasa iba sekaligus marah.

"Bagaimana papa bisa sampai di tipu? Ayo pa, kita bawa kasus ini ke jalur hukum. Aku tidak terima papa sampai seperti ini." Lily beranjak dengan wajah yang sudah sangat marah. Lukas gelagapan, karena reaksi Lily justru mengajaknya untuk membuat laporan.

"Ti-tidak bisa Lily."

"Kenapa?"

"Karena... Karena papa tak punya cukup bukti. Jadi,kita tidak bisa membawa nya ke jalur hukum."

"Pasti ada cara pa." Lily berpikir keras mencari jalan keluar, sementara Lukas melirik putri sulungnya.

"Dan papa sudah berhutang pada tuan Douglas Alfaro."

"Apa? Douglas Alfaro? Bukankah dia pria tua yang kejam dan dingin? Yang bisa membunuh siapa saja yang ia kehendaki? Seluruh keluarganya bermasalah! Bagaimana bisa papa berhutang pada orang seperti mereka?" Lily terpekik tak percaya.

"Papa terpaksa, nak," tangis Lukas menundukkan badannya.

Lily merasa iba sekaligus kesal pada papanya, merasa semua sudah runtuh dan hancur."Sudahlah, Pa. Apa rencana Papa selanjutnya?"

"Papa harus membayar hutang pada mereka."

"Iya berapa hutang yang papa punya?" Lily memijit pelipisnya.

"500juta dolar."

"Apa?"

Apa papa sudah gila? Bagaimana bisa papa memiliki hutang sebanyak itu? Bahkan jika seluruh aset kita di jual sekalipun. Tidak kan cukup."

"Karena itu, Lily..." Lukas memegangi dadanya untuk memperkuat aktingnya dan bernafas berat berkali-kali. "Mereka menginginkan putri papa...."

"Tidak!" sela Lily tegas."Jangan pernah berpikir untuk menjadikanku penebus hutang mu papa!"

***

"Apa papa sudah gila? Bagaimana bisa papa memiliki hutang sebanyak itu? Bahkan jika seluruh aset kita di jual sekalipun. Tidak kan cukup."

"Karena itu, Lily..." Lukas memegangi dadanya untuk memperkuat aktingnya dan bernafas berat berkali-kali. "Mereka menginginkan putri papa...."

"Tidak!" sela Lily tegas."Jangan pernah berpikir untuk menjadikanku penebus hutang mu papa!" Vokal Lily mata nya mengedar keseluruh ruangan di sudut ruang itu berdiri Clarisa dan Bella yang sedari tadi hanya jadi penonton.

"Mereka...." Lily menunjuk dua wanita yang berdiri di depan anak tangga ruangan itu."Dua jallang itu yang menikmati uangmu! Merekalah yang seharusnya menjadi penebus hutang mu! Bukan aku!"

"Kurang ajar!" Clarisa mendekat dan hendak melayangkan tamparan namun tangan Lily lebih cepat menangkap tangan Clarisa dan melintirnya di balik punggung saudara tirinya itu.

"Aauuuu.... Sakit! Mama! Tolong!" pekik Clarissa kesakitan.

"Teruslah memekik pertolongan dari mama mu Clar, seperti dulu!"

"Lepaskan tangan Clarisa, anak sialan!" Bella pun mendekat hendak membantu anaknya. Saat Bella sudah semakin dekat, Lily tersenyum tipis dan mendorong tubuh Clarissa ke arah Bella. Hingga dua wanita itu terjatuh.

"Aaakkkkhh...." pekik keduanya kesakitan.

"Papa apa yang kau lakukan? Melihat kami di perlakukan seperti ini?"

Lily menatap Lukas yang terlihat bingung. Sudah tentu Lukas bingung, jika dia membantu Bella dan Clarisa pasti sandiwara yang sudah ia mainkan akan terbongkar. Namun, melihat Bella yang beramarah membuat Lukas ingin memberi Lily pelajaran juga. Tapi, saat ini kelangsungan hidup keluarga tergantung pada Lily.

Jika anaknya itu sampai pergi, habislah sudah semua. Kedua anaknya harus menjadi budak di keluarga tuan Douglas dan Lukas sendiri harus kehilangan ke lima jarinya. Lukas tak ingin itu terjadi, jadi ia mencoba menahan diri.

"Papa! Jika kau tak mau menghukum rubah ini, biar mama yang melakukan nya," geram Bella bangkit karena melihat Lukas sedikitpun tak menggerakkan tubuhnya. Justru diam dalam kebimbangan.

Bella mendekat dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi hendak menampar wajah cantik Lily. Sedangkan Clarisa bersiap mencekal lengan Lily dengan senyum liciknya.

Lily menangkap tangan itu dan memilin lalu menarik tubuh Clarissa ke depan wajahnya hingga tamparan keras Bella mendarat di pipi Clarisa.

"Aauu! Mama!" pekik Clarisa mengaduh, sementara tangan Lily mendorong lepas tubuh Clarisa.

Bella tersentak karena salah memukul , dan melihat pipi anak kesayangannya memerah, langsung mengeram.

"Kurang ajar!" Bela semakin mendekat dengan tangan yang maju hendak menjabak dan mencakar Lily. Namun, reaksi Lily lebih cepat. Gadis itu menendang kaki Bella dan menangkap tangan Ibu tirinya, memelintirnya dan mendorong hingga tersungkur diatas tubuh Clarissa.

"Anak bangsat!"

Melihat istri dan anaknya yang bertubi-tubi mendapat serangan dari Lily, Lukas meradang. Ia berdiri dan menampar keras wajah putrinya hingga pipinya memerah.

"Kurang ajar!"

Lily yang tak menyangka akan mendapat tamparan dari Lukas. Merasa sangat terluka hatinya, tamparan itu tak hanya melukai wajahnya, tapi juga hati dan harga diri Lily.

"Papa..." Lirih Lily bersuara, menatap pilu papanya dengan hati yang terluka. Lalu lily tersenyum, ia menyadari jika papa Lukas kini tengah berdiri tegak di atas kaki nya sendiri.

"Rupanya begitu?" gumam Lily tersenyum getir.

Menyadari kesalahan fatalnya, wajah Lukas berubah pias.

"Ternyata sakit papa hanyalah sandiwara. Bodohnya aku," gumam Lily sinis. Lalu melangkah meninggalkan.

"Berhenti! Mau kemana kamu Lily! Kau tak boleh pergi! Berhenti."

Tak memperdulikan teriakan sang papa Lily terus melangkah keluar. Tepat di depan pintu utama, di buka dengan kasar dari luar.

BRAK!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TERPAKSA MENIKAHI PRIA KOMA   bab 45

    Waktu bergerak lebih cepat dari yang Lily sadari.Perutnya kini bulat penuh, berat, dan selalu bergerak—tiga kehidupan kecil yang tak pernah benar-benar diam. Kehamilan memasuki bulan kesembilan dengan segala campur aduknya: lelah, bahagia, dan cemas yang kadang datang diam-diam di malam hari.Axelo justru semakin gelisah.“Lily, kamu yakin enggak kontraksi?”“Lily, kamu pusing?”“Lily, tadi bayinya gerak semua, kan?”Lily hanya bisa tersenyum sambil mengelus perutnya.“Axelo… kalau kamu terus tegang begini, yang mau melahirkan kamu atau aku?”Axelo mengusap wajahnya kasar, napasnya berat.“Aku cuma takut. Kamu bawa tiga nyawa sekaligus.”Dan ketakutan itu terbukti ketika suatu malam, Lily meringis sambil memegang perutnya.“Ax… kayaknya… ini bukan cuma kram biasa.”Axelo langsung berdiri. Wajahnya pucat.“Kita ke rumah sakit. Sekarang.”Dokter memutuskan induksi.“Kondisi ibu stabil, tapi kehamilan kembar tiga terlalu lama

  • TERPAKSA MENIKAHI PRIA KOMA   bab 44

    Malam itu, ruang rawat Lily terasa berbeda. Lampu-lampu tampak lebih hangat, bau obat tak lagi menyengat, dan detak jantung Lily seolah berdetak seirama dengan senyum Axelo yang tak kunjung luntur.“Axelo…” panggil Lily pelan, suaranya manja, seperti ketika ia ingin dimanjakan tanpa harus meminta banyak.Axelo yang sejak tadi duduk di sisi ranjang, langsung menoleh. “Kenapa, Sayang? Kamu kenapa? Sakit? Pusing?”Lily tertawa kecil. “Kamu kenapa panik begitu? Aku cuma mau bilang… aku lapar.”Axelo terdiam sepersekian detik, lalu wajahnya berubah cerah. “Lapar? Kamu mau makan apa? Aku panggil perawat sekarang!”“Jangan perawat,” Lily menggeleng lemah. “Aku pengin… sup bening. Tapi yang kamu buat.”Axelo mengerjap. “Aku?”“Iya. Aku mau buatan ayah dari anak-anakku,” ucap Lily sambil tersenyum nakal.Axelo tertawa kecil, lalu berdiri dan mencium kening istrinya penuh cinta. “Baik, Nyonya Whites. Aku akan membuat sup terbaik di dunia.”Beberapa hari kemudian, Lily sudah diizinkan pulang. Ru

  • TERPAKSA MENIKAHI PRIA KOMA   bab 43

    "Keluarga Nyonya Lilyana whites." Axelo segera berlari mendekat, dengan tatapan penuh harap untuk istrinya baik-baik saja. "Saya suaminya." "Pasien tidak mengalami luka dalam, Tuan. Beberapa luka luar pasien juga sudah ditangani. Kami juga melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada pasien dan semua organ normal tanpa gangguan," terang dokter. "Syukurlah! Itu artinya, Istriku baik-baik saja, kan, dok?" Dokter mengangguk sembari mengulas senyum. "Benar, Tuan. Dan dari hasil pemeriksaan ... kami menemukan sesuatu," ungkap sang dokter. "M-menemukan apa?" "Ada janin di rahim pasien, Tuan. Pasien tengah mengandung," ujar dokter membuat Axelo terdiam seketika. "A-apa?" "Pasien hamil, Tuan!" axelo diam seribu bahasa. Ia benar-benar tak menyangka akan mendapatkan kabar mengejutkan ini setelah dibuat geger ole

  • TERPAKSA MENIKAHI PRIA KOMA   bab 42

    "Apa mau mu, Russell?" Russell menyeringai, "Mau ku? Tembak kepalamu sendiri, Axelo!" Hening, Axelo masih menggeretakkan giginya saling beradu. Ia sangat tau Russell memang membencinya, sejak dulu Russell memang selalu berusaha mengambil apapun yang menjadi haknya. Bahkan, Angelica pun tak luput dari Russell. Sayangnya, Angelica memang wanita jallang yang mudah tergoda. Axelo tidak mempermasalahkan karena memang ia tak segila itu mempertahankan wanita yang dengan suka rela menyerahkan tubuhnya pada pria lain. Tapi, Lily berbeda, wanita yang satu ini berperan besar dalam mengumpulkan bukti kejahatan Camelia dan Elvan. Dia juga menjaga diri dari bujuk rayu Russell sampai mendapatkan pelecehan dari sepupunya. "Ayo! Kenapa ragu? Atau kau lebih suka melihat kepala wanitamu menyentuh aspal dengan keras?" Russell sedikit mengangkat kakinya yang berpijak pada tali yang menggantung tubuh Lily. Karena berat badan Lily, otomatis tubuh Lily yang meng

  • TERPAKSA MENIKAHI PRIA KOMA   bab 41

    Lily membuka matanya, ruang remang dan berbau pengap. Kepalanya terasa sangat pusing, Lily terus mencoba mengumpulkan kesadarannya. Melihat lebih jelas meski sulit untuk melihat dalam ruangan yang minim pencahayaan itu. Lily menyadari gerak tubuhnya terbatas, merasakan ikatan yang kuat di tangan dan tubuhnya. Rasa cemas dan gelisah menghinggapi nya seketika, saat ingatan akan pertemuan dengan Russel. Masih lekat dalam ingatannya, tentang pelecehan yang Russell lakukan padanya. Tubuh Lily menggigil seketika, matanya berkeliaran mencari pria yang sudah menculiknya kali ini. Lily takut, tapi, meski berteriak meminta tolong, tak akan ada yang datang karena ia yakin, Russel bukan pria bodoh yang menyekap tawanannya di tengah kota. Saat ini Lily hanya berharap, Axelo akan datang menolongnya. Segaris cahaya terlihat menyinari ruangan yang perlahan melebar sebesar pintu. Pertanda, seseorang memasuki ruang remang itu. Lily menajamkan penglihatan, sosok yang tamp

  • TERPAKSA MENIKAHI PRIA KOMA   bab 40

    "Apa kamu bilang? Russell kabur?" Suara kakek Douglas menggema di seluruh ruangan. Ada gelisah yang tersisip amarah. Amarah untuk para penjaga yang teledor hingga Russell sampai lolos dari pulau pengasingan, dan rasa gelisah jika sampai Axelo tau, sudah pasti dia tak akan melepaskan Russell. Mengingat Axelo seorang pendendam. "Russell, jangan sampai kau mendkati Lily lagi. Kakek tak bisa melindungi mu jika kau sampai nekat." Gumam tuan Douglas. Mau semarah apapun tuan Douglas, dan seburuk apapun Russell, tetaplah cucu. Darah daging tuan Douglas juga. Ia tak akan Setega itu jika sampai Russel membuat ulah dan Axelo sampai melewati batasnya. Tuan Douglas memijit pelipisnya, sangat mudah menangani orang lain. Tinggal buang dan hancurkan, tapi Russell keluarga nya. Tak mungkin juga ia akan berlaku sama. "Temukan Russel sebelum Axelo mendengar kabar tentang bocah yang kabur itu." Perintah kakek Douglas tegas dengan sorot mata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status