MasukDORR Kedua mata Naomi terbelalak setelah mendengar suara tembakan yang sangat memekakan telinga. Mata Naomi langsung mencari sumber suara dan berlari kencang saat pikirannya mengarah pada Lian. Langkah Naomi terhenti, kedua tangan menutup mulutnya, dan matanya mendadak memanas saat melihat dari jarak yang cukup jauh, Lian terjatuh dengan kaki yang berlumuran darah. "Mas Lian..." Naomi mematung, diam Naomi melihat apa yang terjadi dengan Lian. Jantung Naomi berdebar kencang. Kedua matanya membasah. Apalagi saat teriakan kesakitan yang terdengar menyayat hati. Satu tembakan tak cukup kala Lian berusaha untuk kabur dari sana. Sampai dimana Lian benar-benar bisa dilumpuhkan oleh polisi. "Ya Tuhan... Mas Lian." Di depan mata, kedua kaki Lian terluka karena tembakan yang polisi arahkan pada pria itu. Sungguh hal ini membuat jantung Naomi mencelos. Apa ini imbalan atas kejahatan yang Lian lakukan pada Brilly? "Lepaskan saya! Saya tidak bersalah!" teriak Lian enggan ditan
Naomi menghela nafas lega mendengar apa yang Ridwan katakan. Ya ampun dia kembali merepotkan temannya. Walaupun Ridwan mengatakan tidak masalah, tetapi tetap saja Naomi tidak enak jadinya. "Kayaknya aku akan merepotkan dia sampai aku mendapatkan ganti tugas bumil. Eh taunya udah melahirkan dong! Aku harus bisa cepat mendapatnya. Kalau tidak, aku yang akan repot nantinya." Naomi pun lanjut menangani pasien. Tak sampai satu jam, ketukan pintu terdengar dan Naomi melihat pintu terbuka. Dia melirik tajam ke arah sana sampai dimana kepala Gwen terlihat dan tak lama pintu pun tertutup lagi. "Cha, tolong kamu lanjutkan ini sebentar! Aku ke depan dulu mau melihat Gwen." "Oh baik, Dok." Naomi pun melepaskan sarung tangannya kemudian mencari keberadaan Gwen yang masih di depan. Terlihat ada Ridwan dan Alif di sana. Gwen tersenyum melihat itu. "Ya ampun... Makasih banyak ya kalian sudah mengantarkan Gwen." Naomi segera meraih tubuh Gwen kemudian mengecup kepala putrinya. Di
"Ya Tuhan... Lalu aku harus bagaimana?" Jawaban dan juga kabar dari Gani sungguh membuat Naomi terkejut, sedih dan juga bingung. Dia tidak tau harus bagaimana sekarang. Ingin pergi menemui Brilly, tetapi dirinya tidak bisa meninggalkan pekerjaan secara mendadak begini karena kebetulan dokter yang membantunya di klinik sedang cuti melahirkan. Begitupun dengan Gwen yang sebentar lagi akan melangsungkan ujian sebelum kenaikan kelas. Naomi memijit pelipisnya. Dia ingin sekali melihat kondisi Brilly dan sangat ingin sekali bertemu dengan Mami. Namun kondisi di sini pun membuatnya tak bisa pergi. Seharian Naomi galau memikirkan itu semua. Hatinya sudah tidak tenang begitu pun dengan pikirannya yang sibuk sekali memikirkan keadaan Brilly juga Mami. "Bagaimana ini?" gumam Naomi bingung tetapi dia tidak mendapatkan solusi apapun. Naomi memejamkan kedua matanya setelah semua terasa tidak mudah. Naomi hanya berharap dan berdoa, Brilly sembuh dari koma dan bisa mendapatkan peruba
"Maaf Nyonya, kenapa Nyonya pucat sekali? Mau saya belikan obat atau panggilkan dokter?" "Nggak usah sok perhatian, Maryam! Saya baik-baik saja," jawab Naomi. Sebenarnya bukan karena sakit, tapi karena Naomi kurang tidur. Semalaman Naomi larut memikirkan Brilly. Andai tidak memikirkan Brilly dan kabar dari pria itu tidak terputus, mungkin Naomi akan baik-baik saja saat ini. "Maaf Nyonya, tapi Tuan Brilly meminta saya untuk menjaga Nyonya. Kalau tidak, nanti saya yang kena hukum, Nyonya." "Kapan dia memintamu begitu?" tanya Naomi seraya mengangkat kedua alisnya. Menyangkut Brilly selalu membuat Naomi penasaran. Itu pun terjadi semenjak pria itu tak ada kabar. "Sebelum Tuan berangkat, Nyonya." "Apa akhir-akhir ini menghubungimu?" "Tidak Nyonya. Terakhir sebelum berangkat. Tuan sempat menghubungi saya melalui handphone milik Nyonya besar." Naomi membuang muka setelah mendengar jawaban dari Maryam. Kalau begitu, berarti kabar Brilly memang benar-benar hilang dan tid
Beberapa minggu belakangan ini, Naomi merasa jauh sekali dengan Brilly. Tidak ada kabar dari pria itu yang datang padanya. Jangankan kabar, Naomi mencoba menghubungi Mami dan Daddy saja sulit. Sengaja Naomi datang ke kantor Brilly untuk bertemu dengan Gani demi ingin menanyakan tentang keluarga mantan suaminya tetapi sama sekali tidak Naomi temukan Gani di kantor. "Pak Gani sedang meeting di luar, Bu. Kalau sekiranya penting, bisa meninggalkan pesan di sini." Naomi menarik nafas dalam mendengar itu. Padahal ini masih pagi sekali. Biasanya Brilly baru datang kalau jam segini tetapi dia sudah kehilangan jejak Gani. Apa serajin itu? Naomi gemas sekali rasanya dengan keadaan ini. Belum lagi Gwen yang menanyakan dan ingin sekali mendengar suara Brilly. "Nggak dech, Mbak. Ya sudah saya pamit dulu. Permisi." Naomi jadi bingung harus menghubungi siapa, meminta tolong pada siapa, dan menanyakan pada siapa tentang kabar Brilly. Apa dia harus datang ke sana? Gwen masih harus
Dengan girang Gwen keluar dari toko. Naomi sudah membelikan makanan yang Gwen inginkan. Ada roti, es krim dan juga menu makan siang. Keduanya pun kembali menuju mobil tetapi Gwen tak lupa untuk memberikan roti yang tadi sudah dibeli pada orang yang masih diam dengan kepala tertunduk dan membuka kedua tangan meminta uang belas kasih dari pengguna jalan. "Mi ayo!" "Iya sebentar, pelan-pelan jalannya, Nak!" kata Naomi kemudian mengantar Gwen untuk mendekati pria itu. Naomi menggenggam tangan Gwen saat putrinya hendak memberikan bungkusan roti. Naomi tetap waspada dan tidak melepaskan Gwen begitu saja. "Ini buat Om," kata Gwen sontak membuat tubuh pria itu menegang. Kedua mata Naomi pun menukik melihat reaksi dari pria itu. Sementara Gwen kemudian tersenyum dan berjongkok di hadapan orang tersebut untuk memberikan rotinya. "Ambil, Om!" Pria itu pun menganggukkan kepala kemudian mengambil roti dari tangan Gwen. Pria itu sama sekali tidak mengatakan terimakasih sampai
"Kamu bisa memerintah tetapi kamu sendiri tidak menghabiskan makananmu. Dimana letak contohnya?" Itulah bisikan dari Brilly yang membuat Naomi tadi sampai malu. Naomi kira hendak menciumnya ternyata menegur karena apa yang dia katakan pada Gwen tadi. "Aku mau ke kamar, Kak. Nanti... Nanti Mar
Naomi meletakkan makanan yang Brilly tunjuk tadi di atas piring milik pria itu. Dia melirik Brilly yang kemudian menarik piring tersebut agar lebih dekat dan segera menikmati makanan itu tadi. Naomi meringis setelahnya kemudian menunduk seraya menarik nafas berulang kali dan membuangnya perlahan
"Kak aku ke kamar dulu!" kata Naomi dengan suara terbata dan Brilly tidak menjawab, hanya diam memperhatikan hingga Naomi memutuskan untuk bergegas beranjak dari sana dan membiarkan Gwen bersama Brilly dulu. Naomi mendadak gerah sekali. Apalagi mendengar apa yang Brilly katakan tadi. Kok ya menda
"Sssttt.... Belum mau sudah." "Tapi aku sudah harus pulang, Baby! Jangan tahan aku lagi! Apa kurang sejak kemarin malam kita bercinta, hhm? Sekarang pun aku sudah membuatmu menggeliat berulang kali. Aku kasih satu kali lagi tapi setelah itu kita pulang ya." "Nggak mau! Kamu tuh gitu! Janjinya s







