Home / Romansa / TETANGGA TAPI PANAS / Bab 4 Kurang hot

Share

Bab 4 Kurang hot

Author: Penulis Hoki
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-27 00:30:00

"Kurang dapet, By. Masih hambar."

Ruby nyaris menjatuhkan ponselnya saat Mbak Tari, editor senior di tempatnya menulis, menggeser tablet dengan raut wajah tidak puas.

"Hambar gimana, Mbak? Itu view-nya paling tinggi di minggu ini, lho," sahut Ruby, mencoba membela diri meski suaranya agak bergetar.

Mbak Tari menghela napas, kacamatanya melorot ke ujung hidung. "Angka memang tinggi karena orang penasaran, tapi eksekusinya nggak sebanding sama tensi yang lo bangun dari awal. Di bab delapan belas ini, lo nulis adegan di meja kerja, kan?"

Ruby menelan ludah. "Iya, Mbak."

"Deskripsinya kayak robot, Ruby. Terlalu teknis," Mbak Tari mengetuk-ngetuk layar. "Gue butuh emosi. Gue butuh pembaca ngerasa kalau mereka itu si kepanasan."

"Mungkin... seleranya emang yang pelan-pelan gitu, Mbak?" gumam Ruby asal.

"Gabisa. Cowok di naskah lo ini tipenya dominan, kan? Dia nggak akan nanya 'boleh nggak aku cium kamu?'. Dia harus langsung hajar," Mbak Tari menatap Ruby tajam. "Lo punya masalah sama riset, ya? Apa lo lagi stuck karena belum pernah ngerasain yang beneran?"

Wajah Ruby seketika terasa seperti dipanggang. Bayangan Reza semalam mendadak terputar ulang di kepalanya. "Nggak kok, Mbak. Aman."

"Beneran? Kalau gitu rombak bagian ini. Bikin lebih dapet strukturnya. Bikin pembaca ngerasa kepanasan. Paham?"

"Paham, Mbak," jawab Ruby lesu.

***

Ruby berjalan keluar dari gedung kantor dengan perasaan campur aduk. Kata-kata Mbak Tari terus terngiang, beradu dengan memori tentang Reza yang kini menjadi sumber inspirasi sekaligus sumber stresnya.

Ia merasa seperti penulis palsu yang baru saja ketahuan bohong.

"Gila, kalau Mbak Tari tahu model aslinya ada di sebelah rumah gue, bisa habis gue," gerutu Ruby.

Di sepanjang perjalanan pulang, Ruby terus merutuki nasibnya. Ia melihat ke arah jalanan Jakarta yang mulai macet, mencoba memikirkan cara agar ia tidak perlu bertemu dengan Reza malam ini.

Cowok itu terlalu berbahaya untuk kewarasannya dan juga untuk keberlangsungan naskahnya.

"Semoga gak ketemu." bisik Ruby pada dirinya sendiri.

Sebelum pulang, Ruby menyempatkan mampir ke minimarket dekat gerbang kompleks. Dia tahu malam ini akan jadi malam yang panjang. Kalau naskahnya nggak beres, Mbak Tari bakal terus-terusan meneror.

Ruby menyambar keranjang belanja dengan kasar. Matanya langsung tertuju pada deretan keripik kentang pedas level maksimal.

"Satu... dua... ah, oke," gumamnya sambil melempar bungkus keripik ke keranjang.

Ruby menambah dua batang cokelat hitam. Dia merasa seperti sedang mempersiapkan stok makanan untuk bunker perlindungan kiamat.

"Ada lagi, Kak?" tanya kasir sambil memindai keripik kedua.

Begitu keluar dari minimarket dengan kantong plastik yang beratnya lumayan, Ruby kembali memasang mode waspada. Dia memesan ojek online, tapi sengaja minta turun agak jauh dari blok rumahnya. Dia nggak mau suara motor ojek itu memicu insting "predator" tetangga sebelahnya.

Ruby berjalan pelan menyusuri trotoar yang remang. Syalnya ia tarik hingga menutupi separuh wajah. Kantong plastik belanjaannya ia dekap erat agar suaranya tidak terlalu berisik saat bergesekan.

"Aman, Ruby. Rumah nomor sepuluh lampunya mati. Rumah nomor sebelas…”

Ruby buru-buru bersembunyi di balik pohon palem besar saat melihat siluet di teras rumah Reza. Dadanya bergemuruh.

Setelah kejadian ponsel tertukar dan insiden semalam, bertemu Reza adalah hal terakhir yang ia inginkan di dunia ini.

Ia menunggu sekitar lima menit sampai siluet itu masuk ke dalam rumah. Begitu pintu depan rumah Reza tertutup, Ruby langsung mengambil langkah seribu. Dia berjalan berjinjit, melintasi taman kecil di antara rumah mereka.

“Aman lah ya harusnya," bisiknya.

Ia sudah sampai di depan pintu samping rumahnya. Pintunya terbuat dari kayu jati tua yang biasanya mengeluarkan suara decit kalau tidak dibuka dengan perasaan. Ruby memegang gagang pintu dengan tangan yang sedikit berkeringat.

Ia memasukkan kunci ke lubangnya. Pelan-pelan. Sangat pelan.

Klik.

Suara kunci yang terbuka itu terdengar seperti ledakan di telinga Ruby yang sedang panik. Dia segera menahan napas, menunggu beberapa detik untuk memastikan tidak ada yang mendengar.

Baru saja Ruby hendak mendorong pintu dan menghilang ke dalam keamanan rumahnya, sebuah bayangan panjang jatuh menutupi tubuhnya dari belakang. Bayangan itu sangat tinggi, sangat lebar, dan sangat familiar.

Ruby mematung. Dingin menjalar dari ujung kakinya. Bau parfum yang tajam mulai merayap masuk ke hidungnya.

Suara berat dan serak itu terdengar sangat dekat di telinganya, membuat Ruby melonjak kaget hingga kuncinya terjatuh ke lantai. Ia berbalik dengan jantung yang berdegup kencang, hanya untuk menemukan dada bidang yang terbalut kaus hitam ketat tepat di depan matanya.

“Lagi ngapain?”

********

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 110 Sabotase

    Setiap kali kaki Ruby ragu untuk memijak anak tangga, Reza akan menahannya dengan sabar, memberikan kode berupa remasan lembut di telapak tangannya agar istrinya itu tetap tenang. Pria itu bergerak menuruni tangga dengan kelincahan dan kesunyian yang tidak wajar untuk ukuran seorang mekanik bengkel biasa. Langkah kakinya seringan kucing, napasnya teratur tanpa suara, seolah kegelapan adalah teman lama yang sangat ia kenal.Ruby terus mengikuti langkah suaminya dalam diam. Adrenalin yang sejak tadi membakar urat nadinya kini mulai bercampur dengan rasa lelah yang luar biasa. Namun, genggaman tangan Reza yang hangat dan kokoh menjadi satu-satunya jangkar kewarasannya saat ini. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepala Ruby.Bagaimana Reza bisa mendapatkan kemampuan bergerak layaknya seorang agen operasi khusus? Namun, Ruby menelan semua pertanyaan itu. Ia tahu ini bukan saatnya menuntut penjelasan.Setelah menuruni entah berapa puluh anak tangga dalam keheningan yang menegangkan, la

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 109 Lorong sempit

    "Reza?" panggil Ruby dengan suara bergetar, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.Sebuah helaan napas lega terdengar dari sosok di depannya. Kedua lengan kokoh itu kemudian merengkuh tubuh mungil Ruby, menariknya ke dalam pelukan yang luar biasa hangat dan protektif. Wajah pria itu tenggelam di ceruk leher Ruby, mengecupnya berkali-kali dengan penuh kerinduan dan rasa syukur."Iya, ini aku, By. Maaf aku bikin kamu ketakutan setengah mati. Aku harus bergerak cepat dan tanpa suara supaya keparat di atas sana tidak menyadari keberadaanku," ucap Reza, suaranya terdengar sedikit serak menahan emosi.Tangis Ruby akhirnya pecah. Ia membalas pelukan suaminya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reza. Tangannya meremas kemeja flanel yang dikenakan pria itu seolah takut Reza akan menghilang jika ia melepaskannya. Seluruh rasa takut, teror, dan keputusasaan yang menyiksanya sejak sore tadi menguap begitu saja digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Su

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 108 Tenang sayang

    Kembali ke ruang tangga yang gelap gulita. Ketegangan antara dua saudara beda ibu yang saling membenci itu terasa sangat mematikan. Umpatan anak haram dari mulut Vico tidak membuat genggaman Dimas mengendur, justru sebaliknya. Cengkeraman tangan Dimas di pergelangan Vico semakin menguat hingga terdengar bunyi retakan kecil dari tulang sendi pria itu.Vico meringis kesakitan, namun tawanya masih belum berhenti."Kau mencuri ayahku. Kau mencuri posisiku di perusahaan ini. Dan sekarang, kau pikir kau bisa memiliki wanita itu sendirian?" ejek Vico dengan mata yang menyala-nyala di tengah kegelapan, menantang maut yang berada tepat di depan wajahnya. "Aku sudah menyelidikinya, Dimas. Aku tahu Ruby bukan siapa-siapamu. Dia sudah bersuami. Tapi kau sangat terobsesi padanya, bukan? Kau menginginkan wanita itu lebih dari apa pun. Sama seperti ayahmu yang terobsesi pada ibumu."Dimas semakin menekan lengan Vico ke dinding beton. Otot-otot di rahangnya menonjol keras. Ia tidak terpancing untuk m

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 107 Flashback

    "Dengar baik-baik, Vico," desis Dimas dengan suara yang sangat rendah, berat, dan bergetar karena menahan amarah yang sudah mencapai puncaknya. "Jika kau berani menyentuh Ruby walau hanya seujung rambutnya saja, jika kau sampai membuat satu lecet pun di kulitnya... aku bersumpah atas segala iblis di neraka, aku tidak akan segan-segan untuk membongkar isi perutmu dan menjadikan ususmu sebagai pajangan di lobi gedung ini. Di mana kau menyembunyikan wanitaku?"Mendengar ancaman kejam tersebut, Vico yang sedang terpojok dan kesakitan justru tidak menunjukkan rasa gentar. Alih-alih memohon ampun, bahu Vico perlahan bergetar. Sebuah tawa yang sangat sumbang, parau, dan berlumuran darah keluar dari celah bibirnya yang hancur. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema mengerikan di dalam rongga tangga, seolah mengejek seluruh kekuasaan dan ancaman yang baru saja diucapkan oleh sang CEO.Vico menatap Dimas dengan senyum sinis yang penuh dengan kebencian dan dendam kesumat yang sudah mengak

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 106 Pertarungan

    Kesunyian yang mencekam di dalam ruang tangga darurat itu mendadak pecah. Saat Dimas masih mengarahkan cahaya senternya ke arah bordes atas yang kosong, indra pendengarannya yang tajam menangkap sebuah desiran angin halus tepat dari arah titik buta di belakang tubuhnya. Sebuah pergerakan yang sangat cepat dan mematikan membelah kegelapan.BUGH!Satu hantaman benda tumpul yang luar biasa keras menghantam punggung Dimas, tepat di antara kedua tulang belikatnya. Benturan itu begitu kuat hingga menciptakan gema tumpul yang mengerikan di dinding beton. Dimas mengerang tertahan, suaranya serak menahan rasa sakit yang luar biasa.Tubuhnya yang kokoh dan tegap terdorong paksa ke depan, hampir saja terjerembab menuruni rentetan anak tangga curam di bawahnya. Namun, dengan insting keseimbangan seorang predator, Dimas berhasil mencengkeram erat pegangan tangga besi yang berkarat, menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh terguling.Napas Dimas mendesis melalui sela-sela giginya. Rasa panas menjala

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 105 Hilang

    Cahaya putih dari senter ponsel Dimas menjadi satu-satunya pemandu mereka membelah lautan kegelapan di lorong lantai itu. Mereka berjalan perlahan dengan langkah yang terukur dan berhati-hati. Dimas berada di depan, bahu lebarnya seolah menjadi tameng pelindung bagi Ruby yang mengekor rapat di belakangnya. Suasana sunyi yang mencekam di dalam gedung pencakar langit itu membuat suara gesekan sol sepatu mereka di atas karpet lantai terdengar sangat keras dan bergema.Tepat ketika mereka hampir mencapai persimpangan lorong yang mengarah ke pintu darurat bercat merah pudar, ujung cahaya senter Dimas menangkap sebuah pergerakan yang sangat cepat. Sesosok bayangan hitam yang cukup besar berkelebat menyeberangi ujung lorong, menghilang dengan mulus di balik tikungan menuju area toilet tamu.Napas Ruby seketika tertahan di tenggorokan. Kakinya berhenti melangkah secara refleks. Sebagai seorang penulis novel fiksi yang imajinasinya selalu bekerja lebih cepat dari realita, pikiran Ruby langsung

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 101 Blokir

    Reza memejamkan matanya rapat-rapat, mengatur ritme napasnya agar terdengar sehalus dan seatur mungkin, persis seperti orang yang sudah terlelap ke dalam tidur yang nyenyak. Namun, di balik kelopak mata yang tertutup itu, otak Reza sedang bekerja dengan kecepatan penuh, berputar dengan sangat liar.

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 67 Otak kriminal

    Jantung Reza berdenyut kencang. Kalimat itu langsung menyambungkan titik-titik teka-teki yang membingungkan kepalanya sejak kemarin. Ia teringat cerita salah satu mekanik di bengkelnya, yang istrinya bekerja sebagai jurnalis media massa.Temannya itu pernah bercerita bahwa Genta Pustaka telah dibel

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 65 Perih

    Aroma aspal basah yang menguap setelah hujan mendadak kalah oleh bau anyir yang pekat. Ruby berdiri dengan lutut gemetar di atas rumput taman lobi yang basah. Matanya melebar, terkunci pada sosok Dimas yang terkapar beberapa meter di depannya. Kemeja putih yang beberapa puluh menit lalu diganti Dim

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 61 Setuju

    Cahaya kelabu fajar mulai merembes masuk melalui celah gorden, namun hawa dingin di dalam rumah itu bukan berasal dari sisa hujan semalam, melainkan dari keheningan yang membeku di antara penghuninya. Ruby terbangun dengan perasaan berat. Kepalanya berdenyut, dan rasa mual yang kini menjadi teman s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status