LOGIN"Kurang dapet, By. Masih hambar."
Ruby nyaris menjatuhkan ponselnya saat Mbak Tari, editor senior di tempatnya menulis, menggeser tablet dengan raut wajah tidak puas.
"Hambar gimana, Mbak? Itu view-nya paling tinggi di minggu ini, lho," sahut Ruby, mencoba membela diri meski suaranya agak bergetar.
Mbak Tari menghela napas, kacamatanya melorot ke ujung hidung. "Angka memang tinggi karena orang penasaran, tapi eksekusinya nggak sebanding sama tensi yang lo bangun dari awal. Di bab delapan belas ini, lo nulis adegan di meja kerja, kan?"
Ruby menelan ludah. "Iya, Mbak."
"Deskripsinya kayak robot, Ruby. Terlalu teknis," Mbak Tari mengetuk-ngetuk layar. "Gue butuh emosi. Gue butuh pembaca ngerasa kalau mereka itu si kepanasan."
"Mungkin... seleranya emang yang pelan-pelan gitu, Mbak?" gumam Ruby asal.
"Gabisa. Cowok di naskah lo ini tipenya dominan, kan? Dia nggak akan nanya 'boleh nggak aku cium kamu?'. Dia harus langsung hajar," Mbak Tari menatap Ruby tajam. "Lo punya masalah sama riset, ya? Apa lo lagi stuck karena belum pernah ngerasain yang beneran?"
Wajah Ruby seketika terasa seperti dipanggang. Bayangan Reza semalam mendadak terputar ulang di kepalanya. "Nggak kok, Mbak. Aman."
"Beneran? Kalau gitu rombak bagian ini. Bikin lebih dapet strukturnya. Bikin pembaca ngerasa kepanasan. Paham?"
"Paham, Mbak," jawab Ruby lesu.
***
Ruby berjalan keluar dari gedung kantor dengan perasaan campur aduk. Kata-kata Mbak Tari terus terngiang, beradu dengan memori tentang Reza yang kini menjadi sumber inspirasi sekaligus sumber stresnya.
Ia merasa seperti penulis palsu yang baru saja ketahuan bohong.
"Gila, kalau Mbak Tari tahu model aslinya ada di sebelah rumah gue, bisa habis gue," gerutu Ruby.
Di sepanjang perjalanan pulang, Ruby terus merutuki nasibnya. Ia melihat ke arah jalanan Jakarta yang mulai macet, mencoba memikirkan cara agar ia tidak perlu bertemu dengan Reza malam ini.
Cowok itu terlalu berbahaya untuk kewarasannya dan juga untuk keberlangsungan naskahnya.
"Semoga gak ketemu." bisik Ruby pada dirinya sendiri.
Sebelum pulang, Ruby menyempatkan mampir ke minimarket dekat gerbang kompleks. Dia tahu malam ini akan jadi malam yang panjang. Kalau naskahnya nggak beres, Mbak Tari bakal terus-terusan meneror.
Ruby menyambar keranjang belanja dengan kasar. Matanya langsung tertuju pada deretan keripik kentang pedas level maksimal.
"Satu... dua... ah, oke," gumamnya sambil melempar bungkus keripik ke keranjang.
Ruby menambah dua batang cokelat hitam. Dia merasa seperti sedang mempersiapkan stok makanan untuk bunker perlindungan kiamat.
"Ada lagi, Kak?" tanya kasir sambil memindai keripik kedua.
Begitu keluar dari minimarket dengan kantong plastik yang beratnya lumayan, Ruby kembali memasang mode waspada. Dia memesan ojek online, tapi sengaja minta turun agak jauh dari blok rumahnya. Dia nggak mau suara motor ojek itu memicu insting "predator" tetangga sebelahnya.
Ruby berjalan pelan menyusuri trotoar yang remang. Syalnya ia tarik hingga menutupi separuh wajah. Kantong plastik belanjaannya ia dekap erat agar suaranya tidak terlalu berisik saat bergesekan.
"Aman, Ruby. Rumah nomor sepuluh lampunya mati. Rumah nomor sebelas…”
Ruby buru-buru bersembunyi di balik pohon palem besar saat melihat siluet di teras rumah Reza. Dadanya bergemuruh.
Setelah kejadian ponsel tertukar dan insiden semalam, bertemu Reza adalah hal terakhir yang ia inginkan di dunia ini.
Ia menunggu sekitar lima menit sampai siluet itu masuk ke dalam rumah. Begitu pintu depan rumah Reza tertutup, Ruby langsung mengambil langkah seribu. Dia berjalan berjinjit, melintasi taman kecil di antara rumah mereka.
“Aman lah ya harusnya," bisiknya.
Ia sudah sampai di depan pintu samping rumahnya. Pintunya terbuat dari kayu jati tua yang biasanya mengeluarkan suara decit kalau tidak dibuka dengan perasaan. Ruby memegang gagang pintu dengan tangan yang sedikit berkeringat.
Ia memasukkan kunci ke lubangnya. Pelan-pelan. Sangat pelan.
Klik.
Suara kunci yang terbuka itu terdengar seperti ledakan di telinga Ruby yang sedang panik. Dia segera menahan napas, menunggu beberapa detik untuk memastikan tidak ada yang mendengar.
Baru saja Ruby hendak mendorong pintu dan menghilang ke dalam keamanan rumahnya, sebuah bayangan panjang jatuh menutupi tubuhnya dari belakang. Bayangan itu sangat tinggi, sangat lebar, dan sangat familiar.
Ruby mematung. Dingin menjalar dari ujung kakinya. Bau parfum yang tajam mulai merayap masuk ke hidungnya.
Suara berat dan serak itu terdengar sangat dekat di telinganya, membuat Ruby melonjak kaget hingga kuncinya terjatuh ke lantai. Ia berbalik dengan jantung yang berdegup kencang, hanya untuk menemukan dada bidang yang terbalut kaus hitam ketat tepat di depan matanya.
“Lagi ngapain?”
********
Suasana di lorong sempit itu mendadak jauh lebih berbahaya daripada ancaman satpam di luar sana. Cahaya senter tetangga akhirnya menjauh, diikuti suara gerutu dan pintu yang dibanting menutup. Keheningan malam kembali turun, namun napas mereka berdua justru semakin menderu.Reza tidak segera melepaskan tangannya. Ia justru menurunkan telapak tangannya perlahan, membiarkan jemarinya mengusap dagu Ruby hingga berhenti di leher gadis itu yang berdenyut kencang.Dalam jarak nol milimeter, Ruby bisa merasakan sesuatu yang keras dan tegang menekan pangkal paha bawahnya. Mata Ruby membelalak, menyadari bahwa apa yang baru saja mereka tonton memberikan efek yang sangat nyata pada tubuh pria di depannya.Reza terkekeh rendah, suara seraknya bergetar langsung di dada Ruby. Ia sengaja sedikit menggerakkan pinggulnya, mempertegas tekanan yang membuat Ruby nyaris kehilangan napas."Gimana, By?" bisik Reza, bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Ruby yang sudah panas membara. "Lebih besar yang mana
"Ahhh... Mmmhh..."Suara desahan panjang, serak, dan sangat sensual itu kembali terdengar. "Ah....""Ah...."Jelas sekali. Tapi kali ini, suaranya bukan berasal dari dalam rumah Reza yang gelap.Keduanya tersentak. Reza dan Ruby serentak menoleh ke arah yang sama. Bukan menatap dinding pembatas di antara rumah mereka, melainkan ke arah tembok belakang yang berbatasan langsung dengan paviliun tetangga blok sebelah.Tangan Ruby yang tadi menunjuk dada Reza perlahan turun. Wajahnya yang semula merah karena amarah, kini berubah pias karena kebingungan."Itu... bukan dari rumah lo?" cicit Ruby, suaranya nyaris hilang ditiup angin malam.Reza menaikkan sebelah alisnya, senyum miringnya semakin tercetak jelas. "Gue bilang juga apa. Imajinasi lo terlalu jauh mikirin gue, Bi."Tanpa banyak bicara, Reza tiba-tiba meraih pergelangan tangan Ruby. Bukannya marah, pria itu justru menarik Ruby untuk melangkah mengendap-ngendap menuju area belakang rumahnya, menyusuri lorong taman kecil yang membat
“Bukan urusan lo!” ujarnya ketus.Reza membalas dengan senyum miring yang selalu berhasil membuat Ruby emosi.Tatapan Reza yang mengunci gerakannya membuat lidahnya mendadak kelu. Ia merasa seperti buronan yang tertangkap basah, padahal ini adalah pintu rumahnya sendiri."Lo ngagetin tau nggak! Lagian ngapain lo di sini malam-malam?!" Ruby mencoba mengatur napasnya, meskipun aroma mint dari tubuh Reza mulai mengacaukan fokusnya.Reza tidak bergerak mundur, ia justru semakin mencondongkan tubuhnya, memaksa Ruby kembali mepet ke pintu kayu di belakangnya. “Terus kenapa lo tadi lari-lari?”"Bukan urusan lo! Udah ah, minggir! Gue mau masuk!" Ruby mencoba mendorong dada Reza, tapi cowok itu tetap kokoh seperti batu karang."Bentar, By. Kayaknya ada yang beda sama lo hari ini," bisik Reza, matanya mulai menelusuri wajah Ruby yang memerah di bawah lampu teras yang temaram."Gak ada yang beda! Minggir nggak! Gue banyak kerjaan!" Ruby menarik baju Reza dengan paksa agar Reza menyingkir, lalu d
"Kurang dapet, By. Masih hambar."Ruby nyaris menjatuhkan ponselnya saat Mbak Tari, editor senior di tempatnya menulis, menggeser tablet dengan raut wajah tidak puas."Hambar gimana, Mbak? Itu view-nya paling tinggi di minggu ini, lho," sahut Ruby, mencoba membela diri meski suaranya agak bergetar.Mbak Tari menghela napas, kacamatanya melorot ke ujung hidung. "Angka memang tinggi karena orang penasaran, tapi eksekusinya nggak sebanding sama tensi yang lo bangun dari awal. Di bab delapan belas ini, lo nulis adegan di meja kerja, kan?"Ruby menelan ludah. "Iya, Mbak.""Deskripsinya kayak robot, Ruby. Terlalu teknis," Mbak Tari mengetuk-ngetuk layar. "Gue butuh emosi. Gue butuh pembaca ngerasa kalau mereka itu si kepanasan.""Mungkin... seleranya emang yang pelan-pelan gitu, Mbak?" gumam Ruby asal."Gabisa. Cowok di naskah lo ini tipenya dominan, kan? Dia nggak akan nanya 'boleh nggak aku cium kamu?'. Dia harus langsung hajar," Mbak Tari menatap Ruby tajam. "Lo punya masalah sama riset,
Ruby mengumpat habis-habisan begitu pintu kamarnya tertutup rapat."Gue nggak mau ketemu lo lagi. sama lo, Za!" desisnya sambil mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangan.Ia melempar bantal ke arah pintu dengan tenaga sisa, seolah bantal itu bisa menembus kayu dan mengenai wajah menyebalkan Reza. Jantungnya masih berdegup gila, seolah-olah Reza masih ada di sana, menghimpitnya hingga napasnya habis.Namun, sensasi panas dari pagutan Reza tadi masih tertinggal di sana, membekas kuat seperti stempel permanen. Ruby berjalan gontai menuju meja kerjanya, masih berbalut handuk yang kini terasa mulai lembap dan tidak nyaman.Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum membuka ponselnya yang tadi sempat dijamah Reza.Jemari Ruby bergetar saat ia menyentuh trackpad. Ia segera membuka dokumen naskah yang menjadi rahasia terbesarnya selama ini. Matanya dengan cepat memindai baris demi baris kata, sementara ketakutan mulai merayap di dadanya."Gila... kalau dia sampe baca semu
"Reza, gue nggak lagi bercanda!" Ruby menjejakkan kakinya ke lantai dengan frustrasi.Ia kembali melompat lebih tinggi, melupakan segala akal sehatnya. Sisa harga dirinya yang tertulis di dalam catatan itu harus diselamatkan. Ruby terus bergerak mencari celah dari pertahanan Reza untuk meraih ponselnya.Cowok itu hanya tertawa pelan, menikmati kekacauan Ruby. Sangat mudah rupanya membuat gadis yang biasanya tak tersentuh itu kini kehilangan ketenangannya.“Ya jelasin lah apanya yang besar?”"Lo kalau lagi marah gini ternyata lucu juga ya, Bi," komentar Reza seenaknya. Tubuhnya condong ke belakang untuk menghindari terjangan Ruby dengan mudah."Diam lo! Sini!"Ruby membuat lompatan terakhir, mengerahkan seluruh tenaga sambil berjinjit. Jari-jarinya hampir menyentuh ujung ponselnya. Namun, ia melupakan satu detail krusial—ia hanya memakai sehelai handuk.Gerakan tiba-tiba itu membuat lilitan handuk di atas dadanya kehilangan pegangan. Dalam satu detik yang terasa melambat, Ruby merasaka







