Share

Bab 3 Ahh...

Author: Penulis Hoki
last update publish date: 2026-02-27 00:12:28

Ruby mengumpat habis-habisan begitu pintu kamarnya tertutup rapat.

"Gue nggak mau ketemu lo lagi. sama lo, Za!" desisnya sambil mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangan.

Ia melempar bantal ke arah pintu dengan tenaga sisa, seolah bantal itu bisa menembus kayu dan mengenai wajah menyebalkan Reza. Jantungnya masih berdegup gila, seolah-olah Reza masih ada di sana, menghimpitnya hingga napasnya habis.

Namun, sensasi panas dari pagutan Reza tadi masih tertinggal di sana, membekas kuat seperti stempel permanen. Ruby berjalan gontai menuju meja kerjanya, masih berbalut handuk yang kini terasa mulai lembap dan tidak nyaman.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum membuka ponselnya yang tadi sempat dijamah Reza.

Jemari Ruby bergetar saat ia menyentuh trackpad. Ia segera membuka dokumen naskah yang menjadi rahasia terbesarnya selama ini. Matanya dengan cepat memindai baris demi baris kata, sementara ketakutan mulai merayap di dadanya.

"Gila... kalau dia sampe baca semuanya, gue beneran harus pindah rumah," gumam Ruby panik.

Masalahnya bukan cuma karena ini naskah dewasa.

Masalahnya adalah karakter dalam bukunya… adalah Reza.

Mulai dari rahang tegasnya, tatapan matanya yang selalu terlihat lapar, sampai kebiasaan menyebalkan cowok itu saat memiringkan kepala.

"Reza sadar nggak ya, sama ciri - ciri ML di naskah ini mirip dia?"

Ruby menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa baru saja menelanjangi dirinya sendiri di depan orang yang ia tulis. Ia membayangkan Reza membaca deskripsi tentang bagaimana si pria itu mencium dengan penuh dominasi.

Rasa penasaran yang masokis membuat Ruby mulai membaca ulang draf terbarunya. Ia sampai pada sebuah bab yang belum sempat ia unggah, adegan di mana tokoh pria di karakternya perempuan menyudutkan di atas meja kerja.

Ponselnya ia buka, terhenti pada naskah miliknya di bab 12.

Mata Ruby terpaku pada sebuah kalimat, "Ia tidak memberiku ruang untuk melarikan diri, kakinya menyusup di antara pahaku, memaksa lilitan kain itu semakin terbuka. Lenguhanku pecah saat ia memberikan isapan kuat pada titik sensitif di bawah telingaku, sebuah tanda kepemilikan yang akan kusembunyikan di balik kerah bajuku besok pagi. Kau milikku.”

Ruby menelan ludah susah payah saat memori tadi  berputar kembali di kepalanya.

Sentuhan tangan Reza di pinggangnya tadi terasa jauh lebih nyata dan membakar daripada ribuan kata yang ia susun. Bayangan tangan besar Reza yang tadi meremas pinggangnya mendadak terasa kembali di bawah handuknya.

Ia lanjut membaca ke paragraf berikutnya, sebuah deskripsi eksplisit tentang bagaimana si ML mulai menanggalkan pakaian si cewek. Ruby merasakan gelombang panas merambat dari leher menuju dadanya, membuat napasnya mulai memberat. Udara di dalam kamar yang dingin karena AC mendadak terasa pengap dan menyesakkan.

"Jemarinya bergerak lihai, memancing lenguhan yang selama ini aku tahan di balik tenggorokan..."

Ruby meremas ujung handuk di dadanya, matanya mulai sayu mengikuti alur ceritanya sendiri.

Ia membayangkan jika yang ada di hadapannya sekarang bukan sekadar karakter fiksi, melainkan Reza yang nyata. Bagaimana jika Reza benar-benar melakukan apa yang tertulis di paragraf selanjutnya?

Pikiran itu membuat bagian bawah perut Ruby berdenyut aneh, sebuah sensasi yang selama ini hanya ia asumsikan lewat riset tulisan.

Ternyata, kenyataan jauh lebih mengintimidasi dan memabukkan. Ruby memejamkan mata sejenak, membayangkan embusan napas Reza yang tadi menerpa telinganya.

“Sial!”

********

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 97 Dua iblis

    Pagi itu, cuaca Jakarta di luar jendela kaca gedung perkantoran mewah tempat Ruby bekerja tampak cerah, berbanding terbalik dengan awan badai yang menggelayut pekat di dalam hati wanita itu. Tubuh Ruby terasa remuk redam. Sisa pergumulan panjangnya dengan Reza semalam suntuk masih meninggalkan pegal yang luar biasa di setiap persendiannya. Namun, rasa lelah fisik itu tidak seberapa dibandingkan dengan tekanan psikologis yang harus ia hadapi begitu kakinya menginjak lantai marmer di lobi kantor.Sejak awal jam kerja, Ruby sudah merasakan firasat buruk. Dan benar saja, belum genap dua jam ia duduk di kubikelnya, interkom di mejanya berbunyi. Suara dingin Dimas Adiwijaya memerintahkannya untuk segera membawa dokumen laporan bulanan ke mejanya. Dengan langkah gontai dan jantung yang berdebar tak karuan, Ruby merapikan kerah kemejanya berulang kali, memastikan tidak ada memar atau tanda sekecil apa pun dari semalam yang terekspos. Begitu ia melangkah mendekati meja dimas. Dimas sedang ber

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 96 Penonton

    Kesabaran Reza telah menguap sepenuhnya. Pria itu tidak lagi memberikan waktu bagi Ruby untuk memproses ketakutannya. Reza langsung meraup bibir istrinya, memulai ciuman yang sangat brutal dan menuntut. Tidak ada kelembutan di sana. Ia melumat, menyesap, dan menggigit bibir Ruby dengan beringas, memaksa wanita itu untuk membuka mulut dan menerima invasi lidahnya.Ruby merintih tertahan, kedua tangannya meremas seprai kuat-kuat. Ciuman Reza benar-benar mendominasi, merampas seluruh pasokan oksigen dari paru-parunya.Setelah puas meluluhlantakkan bibir istrinya, wajah Reza turun menyusuri rahang. Ia menciumi leher Ruby, memberikan hisapan-hisapan kecil di atas kulit yang masih mulus—sengaja menghindari area yang membengkak.Tangan Reza tidak tinggal diam. Ia menyingkap bodysuit kulit sintetis itu, mengekspos payudara Ruby yang sedari tadi terkungkung rapat. Reza menghisap dan mempermainkan kedua puncak dada Ruby secara bergantian, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang kontras dengan k

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 95 Takut?

    Suara putaran engsel pintu kamar mandi yang terbuka terdengar sangat nyaring di telinga Ruby, seolah-olah itu adalah gerbang menuju arena eksekusi. Uap hangat sisa air dari wastafel mengepul tipis, mengiringi langkah ragu-ragu dari kaki jenjangnya yang kini terbalut stocking jaring-jaring hitam.Ruby melangkah keluar dengan kepala tertunduk. Wajahnya merah padam, menahan rasa malu yang luar biasa hingga ke ubun-ubun. Kedua tangannya bersilang di depan tubuh, berusaha mati-matian menutupi area dada dari bodysuit kulit sintetis yang potongannya terlalu rendah dan mengekspos belahannya dengan sangat eksplisit.Bando dengan dua telinga kelinci panjang yang bertengger di kepalanya terasa sangat konyol, dan jepitan garter di pahanya terasa dingin menyentuh kulit. Ia merasa seperti boneka mainan murahan, jauh dari kesan elegan yang biasa ia tampilkan.Begitu Ruby mengangkat wajahnya, napasnya seketika tercekat.Di ujung ranjang, Reza sudah duduk menunggunya. Pria itu telah menanggalkan selur

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 94 Dua pilihan

    Harapan tentang momongan itu adalah doa tulusnya untuk menyembuhkan luka akibat keguguran beberapa waktu lalu, sekaligus menjadi jangkar terkuat agar Reza tidak pernah berpaling darinya.Setelah doanya selesai dipanjatkan, Ruby membuka matanya, menatap Reza penuh cinta, lalu meniup lilin-lilin itu hingga padam."Yeeey!" Reza bersorak kecil, segera meletakkan kue itu di atas nakas di sebelah lampu tidur. Tanpa membuang waktu, pria itu langsung merengkuh tubuh Ruby ke dalam pelukan yang sangat erat dan hangat. Reza mencium puncak kepala istrinya bertubi-tubi, menghirup aroma lavender yang selalu menenangkan jiwanya."Terima kasih, Za," bisik Ruby di pelukan suaminya, merasa bahwa malam ini, ia telah memenangkan kembali dunianya.Setelah sesi pelukan yang emosional itu, Reza melepaskan dekapannya. Seringai jahil yang menjadi ciri khasnya perlahan mulai terbentuk di sudut bibirnya. Tatapan matanya yang semula penuh haru kini berubah menjadi kilat nakal yang sangat familier bagi Ruby."Jan

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 93 Make a wish

    Perjalanan pulang dari kantor menuju rumah malam itu terasa seperti lintasan waktu yang berjalan dengan kecepatan siput. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Ruby lebih banyak diam, memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap kosong pada kerlip lampu jalanan ibu kota yang berbaris membelah kemacetan. Di sebelahnya, Reza menyetir dengan tenang, sesekali bersenandung kecil mengikuti alunan lagu dari radio mobil, seolah sama sekali tidak ada hal istimewa yang terjadi hari ini.Hati Ruby berkecamuk hebat. Sepanjang hari, fokusnya telah diobrak-abrik oleh manuver psikologis Dimas Adiwijaya yang memberinya hadiah jam wecker sialan itu, sekaligus menyodorkan fakta menyakitkan bahwa suaminya sendiri melupakan hari ulang tahunnya.Setibanya di rumah, Ruby masih menyimpan setitik harapan. Mungkin Reza sedang menyiapkan kejutan. Mungkin di balik pintu rumah mereka yang gelap, akan ada taburan kelopak mawar atau teriakan 'surprise' yang akan mengusir semua pikiran kotor tentang Dimas. Namun, sa

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 92 Jam wecker

    Pagi itu, sinar matahari Jakarta menembus celah-celah kaca gedung Genta Pustaka dengan kejam, seolah menelanjangi setiap kegelisahan yang berkecamuk di dalam dada Ruby. Langkah kakinya terasa berat saat menyusuri koridor lantai redaksi. Semalam ia nyaris tidak tidur; tubuhnya masih terasa remuk redam akibat hukuman bertubi-tubi dari Reza, sementara otaknya terus bekerja merumuskan strategi gila untuk menghadapi Dimas Adiwijaya.“Ingat rencanamu, Ruby. Jangan menangis, jangan meronta. Menolak dia justru bikin dia makin napsu. Kamu harus jadi mangsa yang gampangan biar dia ilfeel dan pergi,” mantra itu terus digaungkan Ruby di dalam hatinya seperti sebuah kata penyelamat.Begitu sampai di depan pintu ruangan Dimas, Ruby menarik napas dalam-dalam, memoles wajahnya dengan ekspresi sedatar mungkin, lalu memutar knop pintu.Cklek.Belum sempat Ruby melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan, sebuah pergerakan cepat dan tak terduga menyergapnya. Sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status