LOGINRuby mengumpat habis-habisan begitu pintu kamarnya tertutup rapat.
"Gue nggak mau ketemu lo lagi. sama lo, Za!" desisnya sambil mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangan.
Ia melempar bantal ke arah pintu dengan tenaga sisa, seolah bantal itu bisa menembus kayu dan mengenai wajah menyebalkan Reza. Jantungnya masih berdegup gila, seolah-olah Reza masih ada di sana, menghimpitnya hingga napasnya habis.
Namun, sensasi panas dari pagutan Reza tadi masih tertinggal di sana, membekas kuat seperti stempel permanen. Ruby berjalan gontai menuju meja kerjanya, masih berbalut handuk yang kini terasa mulai lembap dan tidak nyaman.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum membuka ponselnya yang tadi sempat dijamah Reza.
Jemari Ruby bergetar saat ia menyentuh trackpad. Ia segera membuka dokumen naskah yang menjadi rahasia terbesarnya selama ini. Matanya dengan cepat memindai baris demi baris kata, sementara ketakutan mulai merayap di dadanya.
"Gila... kalau dia sampe baca semuanya, gue beneran harus pindah rumah," gumam Ruby panik.
Masalahnya bukan cuma karena ini naskah dewasa.
Masalahnya adalah karakter dalam bukunya… adalah Reza.
Mulai dari rahang tegasnya, tatapan matanya yang selalu terlihat lapar, sampai kebiasaan menyebalkan cowok itu saat memiringkan kepala.
"Reza sadar nggak ya, sama ciri - ciri ML di naskah ini mirip dia?"
Ruby menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa baru saja menelanjangi dirinya sendiri di depan orang yang ia tulis. Ia membayangkan Reza membaca deskripsi tentang bagaimana si pria itu mencium dengan penuh dominasi.
Rasa penasaran yang masokis membuat Ruby mulai membaca ulang draf terbarunya. Ia sampai pada sebuah bab yang belum sempat ia unggah, adegan di mana tokoh pria di karakternya perempuan menyudutkan di atas meja kerja.
Ponselnya ia buka, terhenti pada naskah miliknya di bab 12.
Mata Ruby terpaku pada sebuah kalimat, "Ia tidak memberiku ruang untuk melarikan diri, kakinya menyusup di antara pahaku, memaksa lilitan kain itu semakin terbuka. Lenguhanku pecah saat ia memberikan isapan kuat pada titik sensitif di bawah telingaku, sebuah tanda kepemilikan yang akan kusembunyikan di balik kerah bajuku besok pagi. Kau milikku.”
Ruby menelan ludah susah payah saat memori tadi berputar kembali di kepalanya.
Sentuhan tangan Reza di pinggangnya tadi terasa jauh lebih nyata dan membakar daripada ribuan kata yang ia susun. Bayangan tangan besar Reza yang tadi meremas pinggangnya mendadak terasa kembali di bawah handuknya.
Ia lanjut membaca ke paragraf berikutnya, sebuah deskripsi eksplisit tentang bagaimana si ML mulai menanggalkan pakaian si cewek. Ruby merasakan gelombang panas merambat dari leher menuju dadanya, membuat napasnya mulai memberat. Udara di dalam kamar yang dingin karena AC mendadak terasa pengap dan menyesakkan.
"Jemarinya bergerak lihai, memancing lenguhan yang selama ini aku tahan di balik tenggorokan..."
Ruby meremas ujung handuk di dadanya, matanya mulai sayu mengikuti alur ceritanya sendiri.
Ia membayangkan jika yang ada di hadapannya sekarang bukan sekadar karakter fiksi, melainkan Reza yang nyata. Bagaimana jika Reza benar-benar melakukan apa yang tertulis di paragraf selanjutnya?
Pikiran itu membuat bagian bawah perut Ruby berdenyut aneh, sebuah sensasi yang selama ini hanya ia asumsikan lewat riset tulisan.
Ternyata, kenyataan jauh lebih mengintimidasi dan memabukkan. Ruby memejamkan mata sejenak, membayangkan embusan napas Reza yang tadi menerpa telinganya.
“Sial!”
********
Kebingungan di mata Ruby terlihat begitu murni, begitu tak berdosa. Raut wajah polos tanpa cacat itu seolah menjeritkan ketidaktahuannya akan apa yang tengah terjadi. Namun bagi Reza, ketidaktahuan itu justru terasa seperti racun yang menyiksa. Di dalam kepalanya, memori visual tentang video ciuman di dalam mobil dan deretan foto keintiman istrinya bersama Dimas berputar terus di otaknya.Ia tidak bisa berlama-lama di sini. Dinding-dinding pertahanan psikologis yang ia bangun mulai retak saat melihat bulir air mata jatuh melintasi pipi pucat Ruby. Ada satu bagian dalam jiwanya yang meronta, bagian yang ingin mempercayai wanita di depannya, bagian yang berbisik bahwa ia sanggup memaafkan segalanya—bahkan jika harus berlutut di depan kaki Ruby, memeluk lutut istrinya, dan berderai air mata memohon agar wanita itu mau menggugurkan janin di dalam kandungannya demi memulai segalanya dari nol.Ketakutan akan kelumpuhan emosional itu memicu insting bertahan hidup terdasar dalam diri Reza. Ia
Suasana di lantai bawah rumah persembunyian itu kini tidak lagi terasa seperti tempat perlindungan. Ruangan itu telah berubah menjadi ruangan kedap udara yang menyesakkan, tempat di mana sisa-sisa kepercayaan seorang Reza dihancurkan hingga menjadi kepingan debu.Reza bangkit dari lantai kayu. Wajahnya yang beberapa menit lalu hancur oleh air mata dan keputusasaan, kini telah berubah mengeras, sedingin bongkahan es di kutub terdalam. Segala rasa cinta, kelembutan, dan insting melindunginya telah mati rasa, tergantikan oleh kekosongan yang mengerikan.Dengan gerakan mekanis dan rahang terkatup rapat, Reza berjalan menuju tas ransel taktis hitamnya. Ia mulai memasukkan barang-barangnya. Ia hanya mengambil barang-barang yang benar-benar miliknya. Reza bahkan sengaja mengeluarkan sebuah kemeja flanel pemberian Ruby dari dalam tas itu, membuangnya ke lantai seolah kemeja itu dipenuhi oleh bisa racun yang mematikan.Ia tidak akan membalas dendam pada Ruby. Ia tidak akan menyakiti wanita itu
Mata Reza terbelalak lebar. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Oksigen di ruang tengah itu seolah tersedot habis.Anakku... yang tengah Ruby kandung saat ini.Otak Reza langsung memutar kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Mual yang sangat tiba-tiba. Penolakan ekstrem terhadap bau badan. Tubuh yang lemas tanpa sebab yang jelas. Itu bukan sekadar stres lambung. Itu adalah morning sickness. Ruby sedang hamil.Tapi yang membuat dada Reza terasa seperti ditikam menggunakan pisau berkarat adalah klaim Dimas. Pewarisku."Brengsek..." desis Reza, tangannya gemetar memegang ponsel. Ia berusaha menggunakan logika intelijennya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah manipulasi Dimas, taktik kotor untuk menghancurkan mentalnya.Namun, sebelum Reza bisa merasionalkan pikirannya, dua buah pesan lanjutan masuk secara berurutan. Kali ini bukan berupa teks, melainkan lampiran berkas multimedia. Sebuah video dan sederet tautan foto.Dengan napas yang mulai memburu
Setelah tombol Kirim ditekan dan surel pengunduran diri itu melesat membelah jaringan maya menuju kotak masuk Genta Pustaka, keheningan yang tersisa di ruang tengah rumah persembunyian itu terasa berbeda. Ada beban berat yang seolah baru saja terangkat dari pundak Ruby. Rantai kasat mata yang selama ini mengikat lehernya perlahan melonggar.Ruby menghela napas panjang, menutup layar laptopnya, dan menyandarkan punggungnya ke sofa. Reza, yang sejak tadi duduk bersila di sampingnya, meraih laptop itu dan meletakkannya di atas meja. Pria itu kemudian beringsut mendekat, menarik tubuh mungil istrinya ke dalam pelukannya."Sudah selesai," bisik Reza lembut, mengecup puncak kepala Ruby berulang kali. "Kamu bebas sekarang, By."Ruby mengangguk pelan di ceruk leher suaminya. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Reza—selalu berhasil menjadi penenang terbaik bagi Ruby. Di tengah segala kekacauan dan pelarian ini, pelukan Reza adalah satu-satunya tempat di mana Ruby merasa dunia kembali normal
Mendengar penjelasan suaminya yang masuk akal dan merasakan perlindungan posesif yang begitu nyata dari pria itu, pertahanan ego profesional Ruby runtuh. Reza benar. Tidak ada gunanya mempertahankan karier cemerlang jika harus bekerja di bawah tatapan mata seorang predator yang telah menanam kamera di dalam kamar tidurnya sendiri.Ruby mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian, lalu meletakkan kesepuluh jemarinya di atas keyboard.Tanpa ragu lagi, Ruby mulai mengetik. Jari-jarinya menari di atas tuts dengan suara ketukan yang konstan memecah keheningan ruang tengah.Reza memperhatikan setiap kata yang diketik istrinya dalam diam.Yth. Manajemen Genta Pustaka dan Bapak Bramantyo,Menanggapi surel penyesuaian jadwal ini, bersamaan dengan ini saya, Ruby, selaku Penulis Genta Pustaka, menyatakan pengunduran diri saya secara resmi dari perusahaan, terhitung mulai hari ini dan detik ini juga.Keputusan ini saya ambil demi alasan keselamatan dan kesehatan pribad
Mobil SUV hitam pekat itu perlahan mulai bergerak dari bahu jalan. Mesin bertenaga besarnya berputar begitu halus nyaris tanpa getaran, meluncur membelah genangan air hujan di atas aspal dengan senyap. Tidak ada decitan ban, tidak ada lampu sorot yang menyilaukan, dan tidak ada jejak intimidasi yang ditinggalkan di depan pagar kayu rumah persembunyian tersebut.Kendaraan mewah itu melaju perlahan meninggalkan pinggiran kota, berbelok di persimpangan sepi, dan menghilang ke dalam kegelapan malam ibu kota—membawa serta seorang pria yang memilih untuk menyimpan amarahnya di dalam lemari es, mengubah perburuan brutal menjadi sebuah catur psikologis yang lambat, elegan, dan jauh lebih mematikan dari apa pun yang pernah dibayangkan oleh Ruby maupun suaminya.***Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah tirai jendela di lantai dua rumah persembunyian itu, melukis garis-garis keemasan di atas lantai kayu berlapis pelitur. Suasana di kawasan pinggiran kota itu begitu damai, hanya terde
"Kurang dapet, By. Masih hambar."Ruby nyaris menjatuhkan ponselnya saat Mbak Tari, editor senior di tempatnya menulis, menggeser tablet dengan raut wajah tidak puas."Hambar gimana, Mbak? Itu view-nya paling tinggi di minggu ini, lho," sahut Ruby, mencoba membela diri meski suaranya agak bergetar.
"Reza, gue nggak lagi bercanda!" Ruby menjejakkan kakinya ke lantai dengan frustrasi.Ia kembali melompat lebih tinggi, melupakan segala akal sehatnya. Sisa harga dirinya yang tertulis di dalam catatan itu harus diselamatkan. Ruby terus bergerak mencari celah dari pertahanan Reza untuk meraih ponse
"Nyari ini, By?"Bulu kuduk Ruby serentak berdiri mendengar suara berat dan serak itu. Dia berputar cepat, nyaris terpeleset lantai kamar mandi yang masih basah.Di sana, Reza bersandar dengan santai di kusen pintu kamarnya seolah itu markas pribadinya.Tetangga sebelah rumah yang selama ini cuma R
Aroma aspal basah yang menguap setelah hujan mendadak kalah oleh bau anyir yang pekat. Ruby berdiri dengan lutut gemetar di atas rumput taman lobi yang basah. Matanya melebar, terkunci pada sosok Dimas yang terkapar beberapa meter di depannya. Kemeja putih yang beberapa puluh menit lalu diganti Dim







