LOGINAudrey felt her world crumble to nothing when she arrives back in New York to see that Cater was now living a new life with Chloe and her daughter. While her life is at risk with the mastermind pointing a gun at her, Audrey is determined to take revenge on those who shattered her life six years ago. But Carter doesn't seem to want to let go, for him, she is a drug he was addicted to.
View More[Ciee, suamimu romantis banget ya, Sil? Kayak pengantin baru aja.] Kubaca pesan dari Nana, temanku.
[Sil, kamu bajak hp Reno, ya?] Pesan masuk lagi dari Indira sepupu jauh Reno, suamiku.
Berikutnya beberapa pesan yang berkomentar tentang suamiku pun menyusul masuk. Aku jadi bingung. Ada apa dengan Mas Reno?
Aku memilih membalas pesan dari Indira. [Emang hp Mas Reno kenapa, In?]
Sejurus kemudian balasan dari Indira kuterima. Dikirimnya foto status WA Mas Reno.
Kedua alisku saling bertaut melihat foto itu. Terlihat di status WA Mas Reno, sepasang tangan berbeda jenis dilihat dari bentuk dan ukurannya saling menggenggam, dengan caption, "Terima kasih untuk hadiah terindah ini. Percayalah, akan kujaga sepenuh jiwa. Bertahanlah bersamaku!"
Segera kucari status itu di WAku. Aneh, aku tak menemukannya. Selama ini memang Mas Reno tidak pernah kulihat membuat status. Apalagi selebay itu. Lalu kenapa orang lain bisa melihatnya? Ada apa sebenarnya?
Perasaanku jadi tidak enak. Laptop yang sedang memutar drama korea pun akhirnya kumatikan. Aku jadi tidak fokus menonton drama yang sedang on going itu.
Apa mungkin Mas Reno selingkuh?
Namun, selama ini semuanya terlihat biasa saja. Tak ada yang aneh. Dia tetap bersikap manis di pernikahan kami yang sudah memasuki tahun ke delapan. Meskipun kami belum dipercaya memiliki momongan pun, ia tak pernah menuntut. Semua baik-baik saja. Lalau apa mungkin dia curang di belakangku?
Jarum jam rasanya begitu lambat berputar. Aku tak sabar menunggu Mas Reno pulang. Meskipun aku belum tahu harus bagaimana menanyakan perihal ini kepadanya, tetapi setidaknya aku ingin dia segera pulang.
Kualihkan perhatianku dengan membereskan rumah yang sebenarnya masih rapi. Aku menyapu, mengepel, mencuci baju tanpa mesin cuci. Agar ragaku lelah dan tak punya tenaga lagi untuk berpikir buruk pada Mas Reno.
Aku merasa tidak siap jika sampai Mas Reno mengkhianatiku. Aku harus bertindak seperti apa? Haruskah bercerai? Haruskah? Sedang aku sangat mencintainya. Selama ini pusat hidupku adalah dia. Bagaimana bisa semudah itu aku melepasnya?
Namun, jika benar Mas Reno berselingkuh, bisakah aku memaafkannya? Menerima dia yang sudah berdusta? Masihkah aku bisa percaya kepadanya? Lalu pernikahan seperti apa yang akan kami jalani kedepannya?
"Mas Reno, aku harus bagaimana?"
Tubuhku luruh, ikut berendam bersama selimut yang sedang kucuci. Aku tergugu sendiri di kamar mandi. Rasanya hatiku pedih sekali.
Setelah puas menangis, kulanjutkan aktifitas mencuci. Kemudian mandi. Saat aku mengambil baju ganti di lemari, aku terkejut melihat Mas Reno memasuki kamar.
"Loh, Mas sudah pulang?" tanyaku.
"Sudah, Dek. Tadi aku ketuk-ketuk pintu Adek enggak dengar, ya? Untung aku bawa kunci," jelasnya sambil berjalan mendekatiku. Diciumnya puncak kepalaku. Mas Reno semanis itu, bagaimana mungkin dia curang di belakangku?
"Tumben jam segini Adek baru mandi?" komentarnya.
"Iya, Mas. Tadi aku bersih-bersih rumah dulu. Terus nyuci selimut juga," jelasku.
"Oh," sahutnya.
Lelaki itu berdiri di sisiku. Membuka dasi dan kemeja kerjanya. Aku menatapnya di pantulan cermin lemari.
Ingin kutanyakan mengenai status WAnya, tetapi bagaimana aku menanyakannya? Kalimat seperti apa yang paling tepat? Dan yang paling penting bisa membuatnya mengatakan yang sebenarnya.
"Mas!" panggilku.
"Iya, Dek. Kenapa?" Dia menatapku sambil tersenyum manis melalui pantulan cermin di depan kami.
Tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata. Akhirnya aku hanya menunduk tak jadi bertanya.
Nanti saja, Sil! Sekarang Mas Reno baru sampai rumah. Dia masih cape. Nanti dia bisa emosi dan kalian bertengkar. Tak ada kebaikan yang akan kamu dapat. Sabar, Sil!
"Kamu mandi dulu, gih!" Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutku.
"Siap, Nyonya!" sahutnya masih sambil tersenyum manis. Sebelum berlalu menuju kamar mandi, sekali lagi dia mengecup puncak kepalaku.
Mencium puncakku sudah menjadi kebiasaan yang sangat suka ia lakukan. Apapun yang sedang aku lakukan. Bahkan kadang di tempat umum pun ia tidak segan. Dengan sikap semanis itu, mungkinkah sebenarnya ia curang?
Aku menatap punggung Mas Reno dengan mata berkaca-kaca.
Benarkah kamu mengkhianatiku, Mas? Tegakah kamu melakukan itu kepadaku?
Aku menghela nafas panjang. Berusaha meredam sesak yang membuat dadaku nyeri. Kuambil daster dan memakainya. Melihat kemeja dan celana Mas Reno yang teronggok di lantai, membuatku ingin melihat ponselnya.
Kupandangi pintu kamar mandi sekejap, lalu berjongkok, mencari ponsel itu di saku celananya. Tanganku gemetar memegang ponsel itu. Aku takut. Sangat takut. Aku takut menemukan apa yang tidak ingin aku lihat.
Kupejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Aku harus melihatnya.
Kuusap layar ponsel Mas Reno. Tak ada sandi atau apapun. Mungkinkah Mas Reno selingkuh?
Hal pertama yang kulihat adalah status WAnya. Kosong. Tak ada status apa-apa. Lalu pengaturan privasi statusnya. Nihil. Aku tak menemukan apapun. Pasti Mas Reno sudah menghapusnya sebelum pulang.
Berikutnya, aku melihat orang-orang yang berkirim pesan dengan Mas Reno. Tak ada pesan aneh. Hanya menyangkut pekerjaan, bercanda dengan teman, dan pesan dari keluarga serta saudaranya.
Tak puas disitu, aku melihat daftar kontaknya. Adakah nama yang aneh, atau nama wanita yang tidak aku kenal di kontaknya? Sedang lingkaran pertemanan kami selama ini kebanyakan sama. Karena kami pacaran sejak SMA, meski dulu putus nyambung. Bahkan kuliah pun di kampus dan jurusan yang sama. Rekan kerja Mas Reno pun aku hampir kenal semuanya, berikut istri ataupun suaminya. Namun, lagi-lagi aku tak menemukan nama yang asing.
"Lagi liat-liat apa, sih, Sayang?"
Aku terkejut saat mendengar suara Mas Reno tepat di sampingku. Saking fokusnya, sampai aku tidak menyadari kalau dia sudah selesai mandi.
"Oh, eh, ini, Mas. Aku-aku lagi cari nomor Vita," dustaku.
Mas Reno pasti tahu kalau aku berbohong. Biarlah.
"Oh," sahutnya. Kemudian berdiri dari posisi jongkoknya.
Aku sendiri masih terpekur memandangi ponsel Mas Reno. Aku merasa tidak enak hati sudah kepergok membuka ponselnya. Meskipun selama ini aku terbiasa membuka-buka ponselnya, tetapi itu kulakukan di depan Mas Reno.
"Dek, baju Mas mana?" tanyanya.
Astaga! Aku sampai lupa tak menyiapkan pakaian gantinya.
"Oh, iya, sebentar, Mas."
Bergegas aku membuka lemari mengambil baju santai untuk Mas Reno. Aku jadi salah tingkah.
"Terima kasih, Dek," ucapnya sambil mengambil kaos yang kupilihkan dari tanganku.
Setelah mengenakan kaos dan celana pendek, Mas Reno menyisir rambutnya dan memakai minyak wangi. Mas Reno memang selalu rapi dan wangi. Walaupun cuma berada di rumah.
"Makan, yuk, Dek! Mas Lapar!" ajaknya. Kemudian merangkul bahuku.
Usai makan, kami memilih menonton televisi di kamar. Meskipun seringnya televisi yang menonton kami. Karena kami selalu asyik berbincang membahas apapun. Mulai dari pekerjaan Mas Reno sampai gosip yang kudapat dari ibu-ibu.
Kali ini suasananya lain. Aku masih canggung setelah kepergok membuka ponselnya sembunyi-sembunyi. Apalagi pikiranku masih kusut oleh pesan yang Indira kirim.
Disela-sela Mas Reno bercerita tentang Tedi yang baru saja punya anak, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu ingin punya anak juga, Mas?" tanyaku.
Biasanya ia akan menjawab, "punya kamu aja aku sudah sangat bersyukur, Dek." Namun, kali ini ia diam sambil menatapku dalam. Aku jadi merasa gelisah.
"Dek?" panggilnya.
"Hem?" sahutku.
"Kamu mau janji?" tanyanya.
"Apa?" Perasaanku semakin tidak enak.
"Kamu janji ya, apapun yang terjadi kamu tetap di sisiku! Jadi istriku!" pintanya.
"Kenapa aku harus janji?" Aku tak mau terjebak.
"Karena aku ingin selamanya bersama kamu. Bagaimanapun ujian yang menerpa rumah tangga kita."
Aku hanya diam tak tahu harus menimpali apa. Kerena aku perasaanku masih tidak enak. Pikiranku masih tentang status WAnya.
"Kok, diam sih, Dek?" protesnya. "Janji, ya!"
Aku hanya mengangguk. Mas Reno meraih jemariku. Menggenggamnya erat kemudian dicium dengan mesra.
"Dek, beberapa bulan lalu aku ketemu Bulan," akunya. Bulan merupakan mantan pacar Mas Reno saat kami kuliah. Waktu itu kami sempat putus. Aku pacaran dengan orang lain begitupun Mas Reno. Ia pacaran dengan Bulan. Kemudian kami nyambung lagi setelah Bulan pindah ke luar kota dan aku putus dengan Andika.
Mendengar itu dadaku berdenyut nyeri. Mataku mendadak panas dan berembun.
Bulankah yang dimaksud Mas Reno dalam statusnya?
"Lalu?" tanyaku.
"Dia kasian sekali, Dek."
"Kenapa?"
"Suaminya selingkuh dan suka main tangan. Anaknya sampai meninggal saat mereka bertengkar di jalan dan mobil mereka kecelakaan," kisah Mas Reno.
Mas Reno tahu sedetail itu, itu artinya mereka selama ini berhubungan cukup dekat. Aku jadi kembali teringat status WA Mas Reno. "Terima kasih untuk hadiah terindah ini. Percayalah, akan kujaga sepenuh jiwa. Bertahanlah bersamaku!"
Apa Bulan memberinya hadiah? Hadiah apa? Lalu mungkinkah Mas Reno akan melindungi Bulan dari suami jahatnya? Itukah maksud status Mas Reno? Atau lebih dari itu?
"Lalu?" Aku tak kuasa berkomentar panjang.
"Setelah peristiwa kecelakaan itu, suaminya pergi tanpa kabar. Akhirnya Bulan menggugat cerai."
"Oh, jadi Bulan sudah janda," sahutku. Aku cemburu. Tak suka Mas Reno membahasnya seperti ini.
Mas Reno diam beberapa saat. Mengeratkan genggaman tangannya. "Suaminya enggak terima Bulan menggugat cerai, Dek. Meskipun hakim sudah memutuskan. Karena suaminya sudah pergi lebih dari tiga tahun tanpa kabar apalagi nafkah."
"Kok gitu?"
"Iya, akhirnya bulan dan keluarganya melarikan diri ke kota ini. Karena suaminya selalu mengancam dan menyakiti dia."
"Kenapa enggak lapor polisi aja?" usulku. Lebih baik polisi yang melindungi Bulan daripada suamiku. Aku tak mau cinta lama mereka bersemi kembali.
"Orang tua mantan suaminya pejabat yang punya pengaruh, Dek. Dulu Bulan pernah lapor untuk kasus KDRT yang dialaminya, tetapi enggak ditindak," jelas Mas Reno.
"Kok kamu tahu detail sekali, Mas?" tanyaku tak suka.
"Maaf, Dek," ucapnya. Mas Reno terdengar menghela nafas panjang. "Kami sudah menikah dan Bulan sedang hamil."
Audrey hurried out of the company before she was seen by anyone, and once she was inside her car, she broke down in tears. The car suddenly opened as James stepped in and took the seat next to her. “ Why did you come if you didn't dare to tell him? ”. James asked, his gaze fixed on his front. “ James? What are you doing? ”.“ I just wanted to know how you were feeling and I was right, not doing here”.“ How is Mona, did she say anything last night, was she angry”.“ She wasn't angry, she was sad because she thought that you wouldn't want to see her again since you are having your child, you just have to let her know that she will always be your little girl”.Audrey nodded her head as she slowly wiped the tears that filled her face. “ Thank you so much James, I guess you are the only person who doesn't hate me”.“ Why will I hate you, you did nothing wrong, we all know that this child doesn't belong to Oliver, you hate his guts so much to even let him touch you”.“ Thanks, James, I
With silent music and words not said, Carter sat on the balcony with a bottle of whiskey, on the floor were empty bottles he had consumed through the night. His eyes were red from tears that wouldn't flow, his heart choking with pain, for him, this felt more painful than when she left. When she left him years ago, somehow, he just knew that she would come back but this time she was pregnant with another man and was getting married to him, there was no way she was ever going to be his again. As he drank constantly hoping that it Would fill the empty nest he felt, nothing reversed, he felt so miserable that it made him drink more. He was in pain, so much pain that he couldn't let out, but he knew that someone had to pay for the pain he felt. **** Audrey held onto her blanket after throwing up consistently, she was alone and sad under the cold night, she could recall vividly when she was in her first trimester with Mona, Carter made sure she was comfortable in the discomfort of th
The funeral ceremony of grandma Nana was a quiet ones with just family and close friends. Audrey was not allowed to the funeral so she did not make a fuss about it and left quietly. The laughing of Mona collection was supposed to be a happy and memorable day for Audrey, but while she got dressed, she was so pissed of about announcing the engagement. “ How is everything going? ”. Kyle asked as he stepped into the dressing room wearing a black tux suit. Audrey was slammed in a red flowery corset gown, it was meant to be as fitted as possible, but she had added a few pounds and didn't want to go to that length just to look good. Despite how good and shiny her makeup was, she still wore a frown on her face. “ Why do you have this look, today is suppose to be a nice day”.“ A nice day where I am forced into a marriage with the man I despise so much ”.Kyle slipped a glance at the make up artist, she understood immediately and excuse them. “ Look Audrey, you do not have to show them
After consistently trying to sleep, it seems to be proving difficult for Audrey, there was for. Her head was spinning and so was her stomach saying otherwise, unable to bear it any longer, she scurried to the bathroom and began to throw up. After several minutes of throwing up, She was convinced that she was feeling much better but as she ambled back to the door It was building up again, she rushed back to the bathroom again and could not stop throwing up. When she finally got a break, she was feeling dizzy. She came back home because she was having a migraine from people constantly trying to destroy her life, but seeing how weak she was, she knew that she was sick. Audrey picked up her phone and called Emma. “ Emma hi! ”.“ Audrey how are you doing, you don't sound okay, are you at the office? ”.“ No, I was very sick, so I had to leave, are you at work Emma? ”.“ No, I am on maternity leave now, is there a problem? ”.“ I need some drugs, but I wouldn't want others to know tha
Striding out of the bathroom, Audrey had just finished freshening up when her phone rang, She hurried over to it hoping that it was Oliver, but it seemed to be Kyle. “ Kyle, hi ” Audrey! Where the hell are you? ”.“ Calm down, Carter arrived at the hotel and took me out of there through the backdoor”
Carter had just arrived at his office early in the morning when Liam scurried in without bothering to knock. “ Liam, don't you think that it is too early to be rude”. Carter spoke with a nonchalant attitude, his eyes fixed on his computer. “ You have to see this! ”. Carter finally held up his eyes a
By 8:30 pm, Audrey Jayden glammed up in the ball gown Oliver had gifted her, she applied some makeup on her face and oiled her hair before styling it. When she was satisfied with the result, she got on her feet and stared at herself in the mirror on her dresser. The gown was stunning, it was straple
He was the one friend she thought she could rely on that had betrayed her and gritted his teeth about it. Oliver walks calmly over to their table, both his hands in his blue jean trousers that he wore over a white shirt, he seemed calm, but Audrey could see the smirk on his face, making her bare her
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews