Se connecterEven though she was born into a rich family and was the only daughter. Her lifestyle was simple. Mitch Alcantara wanted a peaceful life. Until one day she met the most unpredictable and hot-tempered man. And to her surprise, this man is her fiancé. Can she escape her fate?
Voir plus“Ah ...”
Sebuah suara aneh tiba-tiba terdengar oleh Widuri yang saat itu sedang turun ke lantai satu untuk mengambil minum. Suara siapa? Bukannya biasanya Emran, suaminya, sudah tertidur pulas di jam-jam larut seperti ini?
Widuri mengedarkan matanya ke depan, sembari menegakkan telinga untuk melihat ke arah ruang tengah yang temaram.
“Nggh …”
Suara yang Widuri yakini sebagai erangan seorang wanita itu justru semakin terdengar di telinganya.
Tak hanya sekali, namun berkali-kali, suara desahan dan juga deruan napas itu terus mengganggunya. Yang membuat Widuri terheran, adalah suara itu bukan terdengar dari kamar tidur, namun ruang tamu.
Seketika, Widuri tersadar, siapa pemilik suara rintihan tersebut. Suara siapa lagi kalau bukan suara Mawar Rosdiana. Detik itu juga, Widuri semakin sadar akan posisinya di rumah milik sang suami. Dia lupa, bahwa sang suami kini sudah memiliki istri lain yang lebih dicintai olehnya.
Mawar adalah istri kedua Emran yang ia nikahi satu bulan setelah ia menikah dengan Widuri. Ya, Widuri kini terjebak dalam kehidupan pernikahan poligami yang tidak dia inginkan. Andai saja dia tahu akan berakhir seperti ini, pasti Widuri tidak akan mau menerima perjodohan yang diajukan kedua orang tuanya saat itu.
Kedua orang tua Emran dan Widuri yang membuat perjanjian aneh sehingga menyebabkan putra putri mereka diikat dalam pernikahan. Widuri yang polos saat itu mengiyakan saja permintaan orang tuanya sebagai bukti baktinya. Dia tidak tahu jika Emran dan Mawar sudah berpacaran lama serta merancang pernikahan. Dia yang menjadi orang ketiga di hubungan mereka, dia yang seharusnya tidak berada di sini dan Widuri sangat menyesal. Widuri menarik napas panjang sambil menggelengkan kepala mencoba menghalau beberapa ingatan di benaknya.
“Untuk apa juga aku di sini. Aku balik kamar saja,” lirih Widuri, mencoba tak peduli. Namun, wanita itu jelas tahu, bahwa dia hanya mencoba membohongi dirinya sendiri.
Siapa yang tak merasakan perih di hatinya ketika melihat sang suami bergumul dengan wanita lain di depan matanya? Terlebih ketika Widuri sendiri bahkan tak pernah terlelap di ruangan yang sama dengan Emran.
Baru saja ia hendak membalikkan badan kembali ke kamarnya di lantai dua. Tiba-tiba lampu di ruang tengah menyala dan Widuri sontak menyembunyikan tubuhnya di belakang lemari es.
“Mas Emran memang hebat. Aku sampai kewalahan,” ujar Mawar dengan suara manjanya. Mawar memang seorang wanita cantik, berambut panjang dengan paras ayu dan suara lembut nan manja.
Siapa saja yang melihat Mawar pasti akan terpesona dengan visualnya. Mungkin itu juga yang membuat Emran begitu mencintainya. Beda dengan Widuri. Dia bahkan tidak pandai merawat diri. Kulitnya sawo matang tidak seputih Mawar, belum lagi banyak jerawat tumbuh menghiasi wajahnya. Widuri sendiri juga tidak tahu mengapa wajahnya selalu berjerawat. Padahal dia sudah sering menghabiskan waktu ke salon kecantikan.
“Hmm ... kamu juga hebat, Sayang. Jadi besok mau gaya apa lagi?” Kini terdengar suara Emran menyahut.
Widuri hanya diam sambil mencoba menutup telinganya. Dia tidak mau iri, tapi kalau mau jujur dia merasa dianaktirikan oleh Emran. Bahkan hingga sekarang, Emran tidak pernah menyentuhnya. Saat malam pertama dulu, mereka langsung tidur saling memunggungi dan tanpa berkata sepatah kata pun.
“Kamu tuh, Mas. Gak capek apa minta tiap hari.”
Terdengar tawa renyah Emran. Tanpa disadari Widuri sangat suka tawanya. Sayangnya Emran tidak pernah memperlihatkan tawa itu saat bersama dengan Widuri. Emran selalu menjadi pendiam dan bersikap dingin pada Widuri berbanding terbalik saat bersama Mawar.
“Yang pasti kalau mau begituan jangan di sini, Mas. Di kamar saja, kalau Widuri lihat, gimana?”
“Alah ... dia sudah tidur gak bakal bangun. Kalau lagi sama aku, kamu gak perlu memikirkan tentang Widuri. Fokus saja ke aku, Mawar.”
Terdengar decakan keluar dari bibir Mawar.
“Mas ... kamu gak boleh gitu. Bagaimanapun Widuri juga istrimu. Bukankah kamu sudah janji padaku akan berlaku adil pada kami berdua. Kenapa sekarang kamu seakan tidak memenuhi janjimu itu?”
Widuri terdiam, tanpa disadari tubuhnya sudah merosot dan duduk di lantai. Sepertinya Emran dan Mawar sedang membicarakan dirinya. Widuri pikir Mawar selama ini yang memonopoli Emran, ternyata tebakannya salah.
“Iya, Sayang. Aku minta maaf.”
“Janji besok kamu juga akan berlaku manis ke Widuri?” Emran tidak menjawab hanya menganggukkan kepala.
Sayangnya gestur tubuh Emran tidak bisa dilihat Widuri. Gadis berwajah manis itu tampak terpekur sambil memeluk lutut melihat pantulan wajahnya di lantai. Kenapa juga mereka terus membahas tentang dirinya? Apa mereka tahu yang sedang dirasakan Widuri saat ini?
Tak lama Widuri mendengar suara langkah menjauh bersamaan bunyi suara pintu kamar terbuka kemudian tertutup. Widuri menghela napas lega sambil perlahan mengangkat kepala
“Sepertinya mereka sudah masuk kamar. Ya Tuhan ... kenapa juga tadi aku turun? Kenapa juga aku haus? Kalau harus mendengar semua ini.”
Widuri bersiap bangkit dan hendak kembali ke kamar saja. Cukup sakit hatinya melihat sekaligus mendengar interaksi mesra suaminya. Ia tidak mau membuat hatinya semakin terluka. Widuri perlahan bangkit dan membalikkan badan hendak ke kamar.
Namun, langkahnya segera terhenti dan mematung di tempatnya saat melihat Emran sedang berdiri bertelanjang dada di depannya. Widuri pikir Emran sudah masuk kamar, ternyata dia masih di sana dan kini hendak mengambil minum di kulkas.
Widuri bergeming di tempatnya sambil menatap Emran. Dia tidak pernah melihat suaminya bertelanjang dada di depannya. Widuri juga baru tahu jika tubuh suaminya sangat indah. Dada bidang, bahu lebar dengan jajaran roti sobek menghias perutnya. Tanpa sadar, Widuri menelan ludah mencoba menahan sebuah rasa aneh yang tiba-tiba merasuki tubuhnya.
Emran malah menatapnya dengan tatapan setajam pisau dan wajah yang tegang. Widuri merasa kalau suaminya saat ini sedang marah. Dia menyesali kebodohannya kali ini. Lalu tanpa diminta suara tanya yang menyakitkan telinga terlontar dari mulut Emran.
“Ngapain kamu di sini? Ngintip aku?”
A cozy café where Mitch, Luke, their mothers, and Freya are discussing the wedding plans over coffee. Luke, as usual, is impatient, while Mitch tries to keep her cool.Si Mitch, ay nakikipag tulungan sa pagpa-plano. Si Luke naman, obvious na hindi interested at naka-cross arms habang nakasandal sa upuan.“We have exactly one month to prepare. We need to finalize the venue first—“ ngunit pinutol ni Luke ang sasabihin niya.“Kailangan ba talagang pag-usapan lahat ‘to ngayon? Bakit hindi na lang tayo kumuha ng wedding planner?´sabi niya habang nakakunot ang noo.Sumingit sa usapan si Donya Isabella habang nakataas ang mga kilay. “Luke, ang kasal hindi basta-basta lang. Kailangan ‘to ng maayos na plano.”“Yeah, yeah. But do we have to sit here for hours just to pick flowers and tablecloths?” pahayag niya habang minamasahe ang kanyang noo.“Luke, this is our wedding. Could you at least try to be involved?” na pabuntong-hininga na lang si Mitch.“Hinay-hinay lang Mitch. He might flip the ta
Masaya at makulay ang engagement party, puno ng tawanan at halakhakan mula sa mga bisitang nagdiriwang kasama ang dalawang pamilyang Alcantara at San Agustin. Ang buong venue ay nababalot ng engrandeng dekorasyon—mga luntiang halaman, puting bulaklak na nakalinya sa bawat mesa, at mga gintong ilaw na nagbibigay ng romantikong ambiance. Sa gitna ng selebrasyon, ang mga magulang ng bride at groom-to-be ay abala sa pakikipag-usap sa kanilang mga bisita, puno ng sigla at kasiyahan sa kanilang mga mata.Samantala, ang magkasintahan—na hindi tunay na nagmamahalan—ay tahimik na nakaupo sa isang mesa, kapwa nagpapanggap na masaya sa harap ng maraming mata. Magalang silang nagpapalitan ng mga salita, pero may namumuong tensyon sa pagitan nila na hindi halata sa iba.“Smile,”
MATAPOS ang matinding pagbili ng engagement outfits, nagpasya sina Mitch at Luke na dumaan muna sa isang restaurant bago umuwi. Hindi ito romantic dinner—at least, hindi sa pananaw ni Mitch—kundi isang practical na desisyon para lang hindi sila parehong magutom matapos ang nakakapagod na araw.Pagkaupo nila sa isang pribadong booth, napatingin si Mitch sa menu at nagtanong, "Ano kayang masarap dito?""Steak," sagot ni Luke nang hindi man lang nag-aalinlangan.Napataas ang kilay ni Mitch. "Wow, hindi ka man lang nag-isip?""Kasi alam kong steak ang best seller nila," sagot nito, saka ibinalik ang atensyon sa menu."Eh paano kung gusto ko ng pasta?" tanong niya, sinusubukan siyang asarin.Hindi siya nilingon ni Luke, pero sumagot ito nang walang pag-aalinlangan, "Then, order pasta."Napasimangot si Mitch. Bakit parang hindi naaapektuhan si Luke ngayon?"Ikaw? A
HABANG nasa loob ng fitting room, napatingin si Mitch sa repleksyon niya sa salamin. Hawak niya ang red gown na napili niya—eleganteng pulang tela na dumadaloy nang perpekto, may high slit na tamang-tama lang para ipakita ang kanyang confidence."Perfect," bulong niya sa sarili, saka mabilis na isinuot ang gown.Pagkatapos niyang ayusin ang sarili, huminga siya nang malalim at lumabas ng fitting room.Sa kabilang side naman, nakatayo si Luke sa harap ng mirror, suot ang dark gray na suit na napili niya para sa engagement party. Matikas itong nakadisenyo, bumagay sa broad shoulders niya at mas nagpalalim sa kanyang intimidating presence. Kahit seryoso ang mukha niya, halatang kontento siya sa itsura niya.Nang marinig niya ang pagbukas ng pinto mula sa fitting room ni Mitch, automatic siyang napatingin.At doon siya natulala.Dahan-dahang lumakad si Mitch palabas, ang bawat hakbang ay parang sa isang runway model. Ang red gown
Habang nasa loob ng sasakyan, tahimik si Mitch. Hindi niya gusto ang idea na sumama kay Luke, pero wala rin siyang choice. Nang bumaba sila sa isang high-end na boutique, napataas ang kilay niya, agad na napansin niya ang mamahaling interior—mula sa chandeliers hanggang sa eleganteng display ng d
Sa malawak nilang garden—ang magkaibigan Mitch at Freya, nagkayayaan magpalipas ng oras doon.Hindi niya maiwasan ang nangyari kahapon, hindi mapakali si Mitch. Wala siyang narinig tungkol kay Luke. "So, ganun na lang? Parang walang nangyari?" inis niyang sabi habang iniikot
BANDANG tanghali, tumawag si Freya kay Mitch habang nakaupo ito sa isang coffee shop, malungkot na iniikot ang kutsarita sa kanyang tasa ng kape."Kamusta? Nakapag-usap na ba kayo ni Luke?" tanong ni Freya sa kabilang linya.Napabuntong-hininga si Mitch bago sumagot. "Wala namang nangyari. Parang a
Nanatiling tahimik si Mitch habang nakatitig kay Luke. Hindi niya alam kung dapat ba siyang matakot, magalit, o matuwa. Hindi pa rin siya makapaniwala—isang linggo na lang at magiging opisyal na ang engagement nila.Napatingin siya kay Luke, na kasalukuyang nakahalukipkip. Matalim ang titig nito, p






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.