LOGINLiberty Hope has just one goal in life despite being born into a world in which vampires control most of North America: she wants to win her freedom and be taken to the final free zone. A safe haven where people don't have to worry about being dragged out of their homes while they sleep so they can get a good night's rest. Aric despises himself because of who he is and what he does; he is a vampire, a monster, and a killer. The last pet he had passed away of her own volition because she could not face her future. Even if he doesn't want another one, fate has decreed that he would get one nonetheless.
View More"Luna," gumaman dari suara barito itu mengisi keheningan ruangan, "aku tahu kamu belum tidur."
Aku masih diam mendengar suaranya dan tidak ada niatan untuk terjaga meski tahu tindakan yang kulakukan tidak sopan. Aku tetap terpejam nyaman di ranjang rumah sakit.Dia itu suamiku, itu yang suster katakan saat aku sadar dari koma karena kecelakaan. Yang meski aku coba untuk mengingat sekuat tenaga tetap saja tidak ada sedikit pun kenangan yang muncul."Kita bakal pulang besok sehabis makan siang. Tadi dokter ke sini ngasih tahu pas kamu ke toilet." Tama melanjutkan kalimatnya.Rumah? Aku mencoba mencari di dalam ingatanku tapi tidak ada yang kutemui soal rumah yang dia sebut. Tempat macam apa itu? Dan bagaimana nasibku di rumah itu esok?Mereka bilang karena aku amnesia jadi wajar jika aku tidak bisa mengingat apa pun. Sejak tersadar dua minggu yang lalu dengan pergelangan tangan kananku yang patah, aku memang melupakan semuanya. Satu pun tidak ada yang aku ingat. Mereka bahkan memberi tahu siapa aku. Aku Deftia Aluna Irfandi.Saat aku membuka mata tatapan tajam dari bola mata cokelat itu menghunus kearahku tanpa henti. Dia bagai elang yang mengawasi mangsanya agar tidak kabur dari jarak pandangnya. Dan dia adalah Dytama Caka Irfandi, suamiku.Sebenarnya aku tidak percaya jika aku sudah menikah. Mereka tidak berusaha menjelaskan apa pun padaku hanya memberitahu apa yang terjadi dan berharap aku mempercayai kalimat mereka. Dan Tama sendiri tidak terlihat seperti selayaknya suami. Dia memang mengurusku, mempersiapkan segala sesuatu yang aku butuhkan tapi sorot matanya tidak ada kehangatan sama sekali. Aura yang dia miliki teramat gelap.Aku mengetahui jika dia seorang pengusaha dua minggu setelah aku sadar. Beberapa kali dia izin keluar untuk menyelesaikan pekerjaanya dan lebih seringnya dia membawa kliennya untuk meeting di sini dengan dalih sekalian menjengukku.
Melihat bagaimana kepribadian Tama yang dalam sehari mengajakku mengobrol saja bisa dihitung jari membuatku memutar otak cepat. Bagaimana bisa kami menjadi suami istri? Tidak ada sisi lembut darinya yang membuatku jatuh cinta karena dia tidak lembut sama sekali. Dan memikirkan soal akan kembali ke rumah membuatku merinding seketika. Aku tidak mungkin tahan hidup berdampingan dengan manusia macam Tama."B-berarti aku tetap harus pulang, kan? Kalau aku nginap di sini buat beberapa hari lagi, boleh?" tatapannya yang intens dan suara nafasnya yang teratur membuatku sesak. Dia seperti memberi tekanan yang tidak terlihat.Tama memperhatikanku dari samping tempat tidur. Dia mengulurkan tangannya untuk membelai lembut rambut cokelatku yang panjang dan membuatku tersentak karena terkejut. Dia mengabaikan tingkahku dan tetap melanjutkan sentuhannya sampai berhenti di tulang selangkaku. Usap lembutnya membuatku bergerak tidak nyaman. Gimana bisa dia bersikap santai saat aku tidak nyaman?Dia menatapku, membuatku menciut seketika."Kita udah terlalu lama di rumah sakit. Dokter kasih saran supaya kamu dirawat di rumah agar kamu cepat pulih dan ingatan kamu cepat kembali. Rumah kita pasti bisa bikin ingatan kamu kembali," nadanya tegas dan datar tanda dia tidak ingin dibantah. Dan aku tanpa daya menatapnya memohon dengan sangat lewat mata, "Ditambah telalu lama di rumah sakit nggak baik buat kesehatan bayinya."
Bayi?Konspirasi alam macam apa ini? Aku terbangun di rumah sakit dalam kondisi amnesia. Tidak mengenal siapa pun dan hanya dipaksa untuk percaya jika aku sudah menikah dan memiliki suami. Lantas sekarang tambahan informasi barusan soal aku yang tengah mengandung?
Rasa khawatirku semakin bertambah. Jika seperti ini bagaimana caranya aku bisa terbebas dari seorang Dytama?***Aku melihat wajahnya dan seperti biasa dia tidak memiliki emosi yang dia perlihatkan pada orang lain. Dia masih menatapku datar seperti tidak terjadi apa pun."Kamu tahu soal bayi ini dari sebelum kecelakaan?"Matanya berkedip, "aku juga baru tahu kemarin setelah kamu sampai di sini."Dia tidak menjelaskan lagi. Selalu seperti itu tidak pernah dan tidak akan ada penjelasan lebih lanjut seperti yang aku harapkan. Jawaban singkatnya malah membuatku semakin resah.Mengetahui ada nyawa lain yang hidup di perutku membuat perasaanku menghangat seketika. Setidaknya aku tidak sendirian ada dia yang menemaniku. Dan sepertinya kehadiran bayi ini tidak mengusik Tama sama sekali karena dia tidak bicara macam-macam soal kelanjutan nasib bayi ini."Apa kita ada rencana punya anak?" Aku bertanya. Memastikan jika hal-hal buruk tidak akan terjadi untuk kedepannya. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa masalah."Karena kamu sudah susah payah mempertahakan bayi ini. Jadi aku bakal ngehargain usaha kamu."Jawaban macam apa itu? Aku tidak berharap dia juga senang dengan kehadiran bayi ini tapi bukan itu juga jawaban yang ingin aku dengar.Tama mulai menyiapkan makananku dan meyakinkaku untuk menghabiskan menu yang tersedia. Hari terakhir dan makanan terakhir sebelum aku kembali ke tempat yang katanya rumah."Habis makan kita langsung pulang. Kamu ganti baju dulu nanti aku tunggu di luar."Suara ketukan pintu membuat aku dan Tama menoleh. Supir pribadi Tama datang dengan membawa koper. Membuatku mengerutkan kening heran, "Cuma ganti baju kenapa harus bawa koper? Satu baju aja kan cukup?"Tama menatap aneh kearahku, "Kamu paling nggak suka kalau baju kamu dipilihin orang lain. Kamu punya style tersendiri katamu." Tama mengucapkan kalimat tersebut tapi dengan kesan mencemooh. Tangannya memberi isyarat agar koper yang dibawa segera di dekatkan kepadaku."Kemarin waktu pemeriksaan, penyidik menemukan makanan thailand di mobil kamu," ujarnya."Pas kecelakaan?" Aku menatap kearahnya, "memang aku pergi ke tempat yang jauh ya?" tanyaku."Kamu?" Dia balik bertanya dengan tatapan tidak terbaca. Kenapa selalu seperti itu. Memang apa sulitnya sih menjawab pertanyaanku yang simpel dan tidak bermutu ini?Tama menarik koper tadi mendekat ke arahku, "Cepat ganti baju. Kita harus pergi dari sini satu jam lagi," nada suaranya terdengar dingin. Meski tidak pernah bersahabat tapi kali ini terdengar seperti dia amat menjaga jarak.Untuk beberapa alasan aku sangat antusias untuk membuka koper itu. Aku ingin tahu bagaimana aku yang sesungguhnya meski lewat pakaian yang ada, setidaknya aku punya sedikit informasi. Tapi yang membuatku bingung adalah semua pakaian yang ada di dalam koper sama sekali aneh. Baju satin dengan potongan pendek atau bisa disebut lingerie? Entahlah. Semuanya hanya baju dengan bahan yang amat kurang untuk digunakan. Tidak menarik untuk dikenakan meski keluaran dari brand ternama."Apa ini?" Aku mengangkat salah satu dress teratas. Kemudian melemparkannya kembali saat tahu dress macam apa itu."Bajumu," ujar Tama melirik kearahku.Aku pakai baju model begini?Kepalaku sakit saat aku mulai membongkar koper. Lima pasang heels dengan hak lancip yang tingginya lebih dari 3 cm, blouse dengan potongan dada yang rendah, serta rok jins mini, dan beberapa gaun pesta. Meski penuh tapi tidak ada yang bisa digunakan."Kamu yakin ini punya aku?" tanyaku frustasi.Tama hanya menatapku dengan raut wajah tidak terbaca, "Cepat ganti. Aku tunggu di luar," katanya tanpa menggubris protesanku. Sebenarnya aku ini orang yang seperti apa?The following morning, Liberty's mother came. She was saddened by the little details she knew about her daughter's ordeals, but overjoyed to learn that she was still alive. She embraced her daughter and her new husband, albeit with some reluctance.The newlywed couple's private apartment, located in a brand-new structure that Aric had selected as his seat of power, served as the setting for the day's festivities honoring them.The tower of suffering built by his father was going to be dismantled and lowered to the ground since this was already in the planning stages.Henry was given permission to transform Alfie, and a ceremony was arranged for them not long after his love awoke into his new existence not long after the ceremony was held for them.Two days after their hasty wedding ceremony, an announcement was made publically declaring the new Lord and Lady of the Northwest Territory. This notification was sent out by the law.Even though many of the lesser lords agreed with Lady Lea
When Aric's mother glanced at her son, completely disregarding my presence in the room, I couldn't help but nibble the inside of my lip nervously.Aric began by giving my hand a firm squeeze before rising to his knees and bending over his mother. "Mother," he said, "You did come to me earlier and tell me that Liberty was concerned that I might become like my father, did you not?""Well," Lady Leanor started, no indication that she was ashamed or trying to be deceptive, "sure I did since that's what she said."Aric continued, his tone becoming increasingly agitated as he vented his frustration, "You also insinuated that she had merely been using me until she could find someone with more authority to go on to.""What?"Emily inquired as she abruptly jerked herself upright, interrupting the conversation as her eyes swept over her mother, her brother, and me."Because she did," Leanor yelled at me while directing her murderous glare in my direction. "She leaped at the chance to abandon y
Aric took Liberty in his arms and led the way back to the chamber that he had staked a claim as their own.After temporarily leaving her to make arrangements for her mother's arrival, he returned to find Liberty standing naked under the stream of hot water coming from the showerhead.When he saw the scars that disfigured the previously smooth surface of her back, he couldn't believe that he had ever had any reason to distrust her.He undressed and joined her, then let his fingertips run over the scars his father had left in her flesh.While his arms were wrapped around her waist, he whispered into her ear, "For each and every one of these, I guarantee you a million wonderful moments."Liberty let out a contented sigh as she lay her back against his chest. She cherished the sensation of his strong arms surrounding her and protecting her at that very moment."Well," she continued with an invisible smile that suggested she was being playful, "you have eternity to do the work."Aric renew
When Aric looked down into my eyes, he muttered, "I know you worry, and I promise that with you by my side, I can cope with everything."I drew his lips back to mine and whispered the words, "I love you."I needed to feel him against me now more than ever. As I reached up, I fumbled around frantically, trying to undo the buttons on his shirt, and I was almost in tears since it felt like such a challenge.At long last, I could get it out of the way and get a feel for the velvety smoothness of his chest beneath my palms.Aric's hands were fumbling at the hem of my own shirt, pushing it up and over my head as I heaved a sigh of relief.After he freed his lips from the cloth, he kissed a path down my chin, going agonizingly down my neck and finally latching on to my nipple after pressing the cup of my bra down.I couldn't help but sigh in contentment as I ran my hands through his thick hair and gently cradled his head in my arms.I murmured, "Aric," with a longing for buildup buried deep
Liberty followed Lady Leanor into a cozy sitting area close to the office where Aric was working.Leanor stayed standing as she gazed down on the younger woman who had been chosen as the companion for her son and gestured for her to sit down."Are you hungry?"she enquired, noticing that she was beginn
Aric's dispute with his mother continued until he discovered that Liberty was no longer in the area.As he looked around the room, he noticed that she was nowhere to be found at that point."Mother," he replied, holding out his hand to prevent her from offering yet another scathing response, "I am goi
"Liberty," a voice I was unfamiliar with, spoke to me, its tones rich and powerful despite having a strange accent.While floating in total darkness, I could not discern who had just spoken."Liberty," the voice repeatedly said as it reverberated in every direction.I yelled to locate the voice's origi
I was acutely aware of the rapid beating of my heart. After that, there will be two beats. I could sense that the process was drawing to an end. Even if this liberation meant I would never see Aric again, I would be free of all the physical and emotional misery plaguing me.Oh, for the chance to spen
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews