分享

Bab 33

作者: Dinwa
last update publish date: 2026-07-18 20:15:14

Ketenangan di Paviliun Mawar terusik oleh sebuah surat resmi dengan segel lilin perak berbentuk lambang keluarga Whitmore. Count Richard Whitmore, ayah kandungku, menuntut kehadiranku di aula utama paviliun untuk sebuah ‘pertemuan keluarga’ mendadak.

​Aku duduk di kursi kebesaran, masih merasakan pegal di otot paha akibat latihan sinkronisasi gila bersama ketiga pria itu kemarin.

Di depanku, berdiri seorang pria paruh baya dengan kumis yang dipangkas
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 84 End

    ​Lavinia merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di hatinya. Kekaisaran Blackwood saat ini sedang berada dalam masa kejayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Stabilitas politik daratan terjaga sempurna berkat penyatuan elemen mereka berempat. Namun di luar sana, dalam buku-buku sejarah kuno yang kaku, mereka mungkin akan diingat sebagai para penguasa yang tidak konvensional karena tidak memiliki selir asing, yang menikah dalam upacara melingkar kontroversial, dan yang memilih hidup di pengasingan mewah. ​Tapi bagi Lavinia, ini adalah kemenangan mutlak atas hidupnya. Ia tidak lagi menjadi subjek dari program Sistem mekanis yang dingin. Ia adalah tokoh utama dari jalan hidupnya sendiri. ​Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu ruang makan. Itu adalah pelayan pribadi yang paling mereka percaya, tampak sedikit ragu menghadapi atmosfer intim para tuannya. "Yang Mulia... ada p

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 83

    Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama Sanctum Blackwood. Ruangan itu besar, hangat, dan dipenuhi dengan aroma kayu gaharu yang menenangkan sangat kontras dengan suasana kastel utama yang dingin dan penuh intrik politik. ​Di atas ranjang berukuran raksasa, Lavinia berbaring dalam posisi yang sekali lagi sangat mustahil. Kepalanya berada di pangkuan Adrian, kakinya tersampir di atas dada Alaric, dan lengannya melingkar di leher Vincent yang masih terlelap dengan seringai tipis di wajah tampannya. ​Tubuhnya terasa remuk, sebuah sensasi dari ‘audit’ yang sangat teliti, mendalam, dan tanpa ampun dari ketiga suaminya semalam suntuk di tempat peraduan yang baru. Namun, alih-alih merasa lelah, Lavinia justru merasa sangat hidup. Setiap jengkal kulitnya seolah memiliki memori rekaman tak kasat mata tentang bagaimana Adrian mencintainya dengan kobaran api naga, bagaimana Alaric memujanya dengan cahaya kesucian

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 82

    ​Resepsi pernikahan setelahnya adalah puncak dari kemegahan dinasti. Aula perjamuan istana didekorasi dengan ribuan kristal yang memantulkan cahaya lilin. Hidangan-hidangan paling langka disajikan, dan musik berdansa tidak pernah berhenti sepanjang malam. Lavinia berdansa dengan Adrian, lalu berganti dengan Alaric, dan terakhir dengan Vincent, sementara tatapan posesif dan berahi tersembunyi dari ketiga pria itu tidak pernah lepas dari raga porselennya setiap detik. ​Di balik meja utama, Kaisar tertawa terbahak-bahak melihat ketiga pria pilar itu terus-menerus menempel ketat pada Lavinia setiap kali ada bangsawan muda yang mencoba mengajak wanita itu berdansa. ​"Kau punya tangan yang penuh dengan mereka, Lavinia," ujar Kaisar Alexander sambil menyesap anggur mahalnya dengan tatapan penuh konspirasi. "Tapi kulihat kau menikmati kendali atas mereka." ​"Mereka memang merepotkan dan terlalu protektif, Yang Mulia," jawab Lavini

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 81

    Lonceng Katedral Agung Blackwood berdenting merdu, membelah keheningan pagi yang berkabut dengan dentuman yang terasa hingga ke akar-akar pohon di seluruh ibu kota. Hari ini adalah hari yang akan dicatat dalam tinta emas oleh para sejarawan selama seribu tahun ke depan. Hari di mana tiga pilar utama kekaisaran dari Putra Mahkota, Ksatria Suci, dan Pemimpin Orde Bayangan secara resmi mengikat diri pada satu wanita yang sama: Lavinia. ​Di dalam ruang ganti pribadi yang kini dipenuhi oleh wangi bunga lili dan dupa mahal, Lavinia berdiri tegak di depan cermin raksasa. Ia mengenakan gaun pengantin yang merupakan mahakarya perpaduan dari tiga visi yang berbeda. Bagian bodinya dibuat dari sutra putih murni yang melambangkan kesucian, sementara di sepanjang pinggang hingga menjuntai ke lantai, terdapat bordir sisik naga emas yang tampak hidup, seolah-olah naga api milik Adrian sedang melingkar memeluk raga porselennya. ​Di bagian

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 80

    ​Lavinia ternganga, sisi humoris dan budak korporatnya berteriak konyol. Ia tidak percaya naga jantan yang perkasa ini benar-benar membahas urusan menggendong saat mereka sedang dalam suasana yang begitu manis dan puitis. Vincent langsung terpingkal-pingkal meremehkan, sementara Alaric memutar bola matanya dengan dramatis. ​"Menggendong? Benar-benar?" tanya Vincent sambil tertawa rendah yang sangat seksi. "Apa kita sekarang sedang berada di dalam sebuah drama romansa murahan kelas bawah? Kamu ingin menggendongnya seperti pangeran yang menyelamatkan putri dari menara tinggi?" ​"Setidaknya aku punya fisik yang mampu melakukannya tanpa lelah!" balas Adrian tak terima, memompa hawa panasnya untuk menegaskan kekuatannya. "Lagipula, itu adalah hak prerogatifku sebagai pewaris sah takhta kekaisaran!" ​"Hak prerogatif?" Alaric ikut tersenyum tipis, tapi ada nada menantang dan dominan dalam suaranya yang tenang. "Jika kita bicara t

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 79

    Malam itu, langit di atas Kastel Whitmore tidak lagi berwarna hitam pekat, melainkan diselimuti oleh rona ungu kemerahan yang misterius seolah-olah alam semesta sendiri sedang merayakan ketegangan yang menggantung di udara. ​Di balkon utama yang menghadap langsung ke arah ibu kota Blackwood, Lavinia berdiri mematung. Angin malam yang dingin membelai kulitnya, namun ia sama sekali tidak merasa kedinginan. Ada kehangatan magis yang melingkupi jiwanya, sebuah ketenangan yang selama ini selalu terasa semu, kini menjadi nyata dan tak tergoyahkan setelah asimilasi energi tiga darah mengunci takdirnya. ​Di balik gaun sutra yang lembut, Lavinia merasakan detak jantungnya berirama selaras dengan detak dunia di bawah sana. Ia menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan, menyadari bahwa besok, ia tidak lagi akan dikenal sebagai Lavinia sang villainess atau Lavinia sang Countess yang penuh misteri. Besok, ia akan menjadi pusat dari selu

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 1

    Sinar matahari pagi menembus jendela kaca patri kediaman Whitmore, memantulkan warna-warna pelangi di atas meja rias kayuku yang mahal. Aku sudah duduk di sini selama hampir dua jam. Jika di kehidupan nyataku sebagai Celestine aku hanya punya waktu lima menit untuk memakai pelembap sebelum lari me

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Prolog

    Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair. Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena m

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 4

    Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut ba

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 3

    Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."​Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya.​"Kamu benar-be

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status