LOGIN
Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair.
Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena mencoba menyelamatkan seekor kucing kampung yang bahkan tidak menoleh saat aku meregang nyawa sungguh ironis. Namun, kegelapan abadi yang kubayangkan ternyata tidak kunjung datang. Alih-alih cahaya putih atau gerbang neraka, sebuah suara mekanik yang dingin dan statis justru bergema di dalam kepalaku, terdengar seperti asisten digital dari masa depan. [Sinkronisasi Jiwa: 100%] [Selamat Datang, Host Celestine. Memulai Integrasi ke dalam Dunia Novel: "The Duke’s Obsession".] [Peran: Lavinia Whitmore — Status: Villainess Utama.] "Apa...?" Aku mencoba bersuara, tapi tenggorokanku terasa kering. Tiba-tiba, gelombang ingatan yang bukan milikku menghantam. Ingatan tentang seorang wanita bernama Lavinia Whitmore — seorang bangsawan sombong, pemarah, dan terobsesi secara gila pada seorang pria yang tidak pernah mencintainya. Di akhir cerita novel ini, kepala Lavinia akan dipenggal oleh pedang pria yang ia puja di depan rakyat banyak. Saat aku membuka mata, aku tidak lagi berada di jalanan beton yang berlumuran darah. Aku berada di depan sebuah cermin rias raksasa yang terbuat dari emas murni. Di sana, seorang wanita menatapku balik. Rambut merah muda yang membara, kulit seputih porselen, dan mata merah yang tajam namun penuh gairah. Gaun hitam-merah dengan potongan rendah yang mengekspos bahu itu melekat sempurna di tubuh yang sangat seksi. "Wah... ini gila," bisikku sambil menyentuh pipiku. Suaraku tidak lagi berat karena lelah bekerja, melainkan lembut, merdu, dan ada nada centil yang secara alami keluar dari bibir merah ini. "Aku jadi secantik ini? Truk itu ternyata melakukan operasi plastik paling sukses dalam sejarah!" Aku mulai berpose di depan cermin, mengagumi tubuh baruku. Lupakan sejenak tentang eksekusi mati. Jika aku punya wajah selevel dewi ini, hidup sebagai villainess sepertinya tidak buruk juga. Aku bisa menjadi pusat perhatian ke mana pun aku pergi. BRAKK! Pintu kamar terbanting terbuka dengan keras hingga menghantam dinding. Aku tersentak, hampir saja menjatuhkan parfum kristal di atas meja. Di ambang pintu, berdirilah seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap. Ia mengenakan seragam militer hitam dengan lencana emas yang berkilau. Duke Alaric Montague. Pria yang di dalam novel aslinya sangat membenci Lavinia. Wajahnya luar biasa tampan, tapi ekspresinya seolah-olah ia baru saja melihat kotoran di sepatu botnya. "Lavinia!" geramnya, suaranya rendah dan penuh ancaman. "Berhenti menggunakan trik murahanmu untuk menarik perhatianku. Meskipun kamu pura-pura pingsan atau bahkan mencoba mati sekalipun, aku tidak akan pernah sudi melihatmu. Hatiku hanya milik Clarissa!" Jika ini adalah Lavinia yang asli, dia pasti sudah menjerit histeris, menangis, atau melempar barang-barang mewahnya sambil memaki nama Clarissa Beaumont. Tapi aku? Celestine yang sekarang mendiami tubuh ini, merasa Duke ini Sedikit... berlebihan. Lucu sekali melihat pria setampan ini marah-marah seperti anak kecil yang direbut mainannya. Aku tidak menangis. Sebaliknya, aku berjalan mendekat dengan langkah pelan yang sengaja kubuat sedikit goyah, memberiku kesan manja. Aku berhenti tepat di depan dadanya yang bidang, mendongak, dan memberikan senyuman paling manis sedikit nakal yang pernah ada. "Aduh, Duke sayang..." aku mengelus kerah bajunya dengan ujung jariku yang lentik. "Baru bangun tidur sudah teriak-teriak begitu. Apa kamu sebegitu rindunya padaku sampai harus mendobrak pintu?" Alaric mematung. Matanya yang dingin membelalak karena terkejut. Dia mengharapkan amarah, bukan godaan. "Apa yang kau..." "Ssst," aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya, membuat napasnya tertahan. "Kalau mau perhatian, bilang saja. Tidak perlu bawa-bawa nama Clarissa yang membosankan itu. Lihat aku, Alaric. Apa menurutmu Clarissa punya senyum semanis ini?" Aku mengedipkan sebelah mataku dengan gaya yang sangat centil. Wajah Alaric yang tadinya pucat karena marah kini sedikit memerah karena bingung dan mungkin sedikit malu. Ia menyentakkan tanganku dan mundur satu langkah, seolah-olah aku adalah api yang baru saja membakarnya. "Kau... kau benar-benar sudah gila, Lavinia!" desisnya sebelum berbalik dan pergi dengan langkah seribu, meninggalkan kamarku secepat mungkin. Aku tertawa kecil melihat punggungnya yang menjauh. Menghadapi pria kaku seperti dia ternyata cukup menghibur. Namun, tawaku terhenti saat sebuah panel transparan kembali muncul di depan mataku. [Peringatan Sistem: Misi Utama - Bertahan Hidup.] [Kondisi Tubuh: Kutukan Darah Whitmore Terdeteksi.] [Status: Aktif dalam 30 hari (Tepat di Ulang Tahun ke-18) [Efek: Nafsu gairah yang tak tertahankan dan kehilangan kesadaran diri tanpa sentuhan lawan jenis.] Senyumku langsung luntur. "Tunggu... kutukan apa?" Ingatan tambahan muncul. Keluarga Whitmore memiliki kutukan rahasia. Itulah alasan kenapa banyak keturunan wanita mereka dicap sebagai 'piala bergilir' karena sifat mereka yang mendadak berubah menjadi penggoda gila saat menginjak usia dewasa. Padahal, itu adalah cara tubuh mereka bertahan hidup dari rasa sakit kutukan tersebut. "Jadi, kalau aku tidak menemukan pria untuk... 'membantu' meredakan kutukan ini dalam 30 hari, aku akan kehilangan akal sehat?" Aku menelan ludah, menatap kembali pantulan diriku di cermin. Visual yang kulihat sekarang bukan lagi sekadar keberuntungan reinkarnasi, melainkan kutukan yang mematikan. Aku harus mengubah takdir ini. Duke Alaric yang dingin, Putra Mahkota Adrian yang kekanakan, atau Vincent yang misterius itu. Salah satu dari mereka harus bertekuk lutut padaku sebelum hari ulang tahunku tiba. "Baiklah, Celestine," aku memperbaiki tatanan rambut merah mudaku dan tersenyum licik. "Waktunya menjadi villainess yang paling menggemaskan dan paling berbahaya di kerajaan ini. Clarissa, siapkan dirimu, karena pesona 'polosmu' itu akan segera tenggelam oleh gairah mawar ini." Lavinia Whitmore tidak akan mati di tangan Duke kali ini. Sebaliknya, Duke-lah yang akan memohon untuk berada di pelukannya. *** Jangan lupa like/vote dan komen cerita ini biar author makin semangat nulisnya!Begitu pintu aula agung dibuka, suasana berubah menjadi mencekam. Seluruh bangsawan Kekaisaran Blackwood berdiri di sana, namun atmosfernya seolah membeku saat aku melangkah masuk dengan menggandeng lengan Putra Mahkota. Gaun merah darah yang kukenakan sengaja menyingkap bagian punggung, tempat tato mawar hitam itu berada yang sekarang tampak sedikit bercahaya di bawah kulit porselenku akibat suhu tubuh yang mencapai 38.7°C. Mataku langsung terjatuh pada sosok di sudut aula. Alaric Montague. Ia berdiri kaku, wajahnya yang rupawan tampak hancur saat melihatku. Di sampingnya, berdiri sosok yang membuat sistemku berdenyut aneh. Vincent Valerius. Vincent adalah pria dengan identitas yang rumit. Di mata publik, dia adalah tangan kanan kepercayaan Alaric Montague. Namun, sebagai Lavinia yang didukung sistem dan pernah membaca novelnya, aku tahu kebenaran yang lebih dalam bahwa Vincent adalah ‘Bayangan Kerajaan’ yang merupakan pengawas rahasia yang ditugaskan langsung oleh Kaisar u
Aku tersenyum tipis. Marie masuk dengan langkah ragu, tangannya gemetar saat memegang nampan teh. "Nona... ada banyak kiriman hadiah di bawah. Dan... Duke Montague kembali datang. Beliau terlihat sangat mengerikan." "Biarkan dia menunggu. Kirim dulu surat ini lewat kurir resmi istana agar semua orang tahu bahwa aku, Lavinia Whitmore, yang membuang Duke itu sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata pun," kataku tenang. Setelah membiarkannya menunggu selama dua jam di aula bawah, aku akhirnya turun. Alaric Montague berdiri di sana, masih dengan wajah hancur seperti semalam, namun kali ini ia tampak lebih putus asa. "Lavinia! Aku sudah menerima surat itu dan aku merobeknya!" Alaric melangkah maju, mencoba mencengkeram tanganku, namun aku mundur dengan anggun. "Aku tahu aku telah menjadi bajingan. Aku tahu aku telah menyakitimu demi wanita yang ternyata hanya menggunakan aku. Tapi tolong... beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan mengusir Clarissa, aku akan melakukan apa pun!"
Malam itu benar-benar menjadi titik balik yang tak terelakkan. Di dalam kereta kuda kerajaan yang berlambang singa emas, suasana terasa jauh lebih menyesakkan daripada di aula pesta yang riuh tadi. Bukan karena udara yang sempit, tapi karena aura Putra Mahkota Adrian Blackwood yang duduk di hadapanku terasa begitu mendominasi, seolah-olah ia sedang mengklaim setiap inci oksigen yang aku hirup.Adrian melepaskan kancing teratas seragam militernya dengan kasar, tampak berusaha mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Efek berada di dekatku saat kutukanku sedang aktif ternyata mulai memengaruhi dia juga. Meskipun dia memiliki energi sihir yang kuat, gairah yang terpancar dari mawar hitam di bahuku bukanlah sesuatu yang bisa ditepis dengan mudah oleh logika ksatria mana pun."kamu benar-benar berbahaya, Lavinia," suara Adrian pecah dalam kesunyian kereta yang bergerak dinamis. Mata birunya yang tajam menatapku, seolah sedang menelanjangi semua rencana yang ada di kepala kecilku.
Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut bawahku, sebuah paket misterius tiba di depan pintu kamar.Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah botol kecil berbahan kristal berisi cairan perak yang berkilau seperti serpihan bintang yang dicairkan. Di bawah botol itu, terselip sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas:"Untuk meredam panasmu malam ini, Mawar Kecil. Jangan sampai kamu pingsan sebelum dansa pertama dimulai."Aku menghirup aroma kertasnya. Bau kayu cendana dan sihir yang dingin seperti aroma yang sama dengan yang kuhirup di dalam kereta Adrian kemarin. Aku tersenyum tipis. Ternyata sang Putra Mahkota jauh lebih perhatian, atau mungkin jauh lebih posesif,
Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya."Kamu benar-benar wanita yang merepotkan, Lavinia," gumamnya. "Tapi kurasa, aku mulai menyukai kerepotan ini."Aku tersenyum puas. Satu target sudah masuk perangkap. Sekarang tinggal menunggu ulang tahunku yang ke-18.Rahasia kutukan ini belum sepenuhnya tuntas, dan aku tahu, malam itu akan menjadi malam yang jauh lebih liar dari jamuan makan siang ini.***Kereta kuda Putra Mahkota akhirnya berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Whitmore. Adrian tidak langsung melepaskanku.Ia menatapku lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah harus membiarkanku pergi atau membawaku sekalian ke istananya."Istirahatlah, Lavi
Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar nafsu; ini adalah rasa lapar yang menyakitkan."Lavinia? Hei, jawab aku! Kamu sakit?"Suara Adrian Blackwood terdengar tepat di atas kepalaku. Tangannya yang kuat menahan pinggangku agar tidak merosot ke tanah.Aroma tubuhnya campuran antara sandalwood dan udara musim dingin yang masuk ke indra penciumanku, memberikan kelegaan sesaat yang memabukkan.Aku mendongak pelan. Mata biru laut Adrian tampak sangat jernih di bawah sinar matahari sore. Dia tampan, dengan garis rahang yang tegas namun memiliki ekspresi yang sedikit polos, jika memperhatikannya cukup lama."Yang Mulia..." bisikku, sengaja membiarkan suaraku terdeng







