Share

THE VILLAINESS FINAL EMBRACE
THE VILLAINESS FINAL EMBRACE
Author: Dinwa

Prolog

Author: Dinwa
last update publish date: 2026-04-26 20:55:45

Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair.

Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi.

Aku mati di usia 24 tahun hanya karena mencoba menyelamatkan seekor kucing kampung yang bahkan tidak menoleh saat aku meregang nyawa sungguh ironis.

​Namun, kegelapan abadi yang kubayangkan ternyata tidak kunjung datang. Alih-alih cahaya putih atau gerbang neraka, sebuah suara mekanik yang dingin dan statis justru bergema di dalam kepalaku, terdengar seperti asisten digital dari masa depan.

​[Sinkronisasi Jiwa: 100%]

[Selamat Datang, Host Celestine. Memulai Integrasi ke dalam Dunia Novel: "The Duke’s Obsession".]

[Peran: Lavinia Whitmore — Status: Villainess Utama.]

​"Apa...?" Aku mencoba bersuara, tapi tenggorokanku terasa kering.

​Tiba-tiba, gelombang ingatan yang bukan milikku menghantam. Ingatan tentang seorang wanita bernama Lavinia Whitmore — seorang bangsawan sombong, pemarah, dan terobsesi secara gila pada seorang pria yang tidak pernah mencintainya.

Di akhir cerita novel ini, kepala Lavinia akan dipenggal oleh pedang pria yang ia puja di depan rakyat banyak.

​Saat aku membuka mata, aku tidak lagi berada di jalanan beton yang berlumuran darah.

Aku berada di depan sebuah cermin rias raksasa yang terbuat dari emas murni. Di sana, seorang wanita menatapku balik.

Rambut merah muda yang membara, kulit seputih porselen, dan mata merah yang tajam namun penuh gairah.

Gaun hitam-merah dengan potongan rendah yang mengekspos bahu itu melekat sempurna di tubuh yang sangat seksi.

​"Wah... ini gila," bisikku sambil menyentuh pipiku. Suaraku tidak lagi berat karena lelah bekerja, melainkan lembut, merdu, dan ada nada centil yang secara alami keluar dari bibir merah ini.

"Aku jadi secantik ini? Truk itu ternyata melakukan operasi plastik paling sukses dalam sejarah!"

​Aku mulai berpose di depan cermin, mengagumi tubuh baruku. Lupakan sejenak tentang eksekusi mati. Jika aku punya wajah selevel dewi ini, hidup sebagai villainess sepertinya tidak buruk juga. Aku bisa menjadi pusat perhatian ke mana pun aku pergi.

​BRAKK!

​Pintu kamar terbanting terbuka dengan keras hingga menghantam dinding. Aku tersentak, hampir saja menjatuhkan parfum kristal di atas meja.

Di ambang pintu, berdirilah seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap. Ia mengenakan seragam militer hitam dengan lencana emas yang berkilau.

Duke Alaric Montague. Pria yang di dalam novel aslinya sangat membenci Lavinia.

​Wajahnya luar biasa tampan, tapi ekspresinya seolah-olah ia baru saja melihat kotoran di sepatu botnya.

​"Lavinia!" geramnya, suaranya rendah dan penuh ancaman. "Berhenti menggunakan trik murahanmu untuk menarik perhatianku. Meskipun kamu pura-pura pingsan atau bahkan mencoba mati sekalipun, aku tidak akan pernah sudi melihatmu. Hatiku hanya milik Clarissa!"

​Jika ini adalah Lavinia yang asli, dia pasti sudah menjerit histeris, menangis, atau melempar barang-barang mewahnya sambil memaki nama Clarissa Beaumont.

Tapi aku? Celestine yang sekarang mendiami tubuh ini, merasa Duke ini Sedikit... berlebihan. Lucu sekali melihat pria setampan ini marah-marah seperti anak kecil yang direbut mainannya.

​Aku tidak menangis. Sebaliknya, aku berjalan mendekat dengan langkah pelan yang sengaja kubuat sedikit goyah, memberiku kesan manja.

Aku berhenti tepat di depan dadanya yang bidang, mendongak, dan memberikan senyuman paling manis sedikit nakal yang pernah ada.

​"Aduh, Duke sayang..." aku mengelus kerah bajunya dengan ujung jariku yang lentik. "Baru bangun tidur sudah teriak-teriak begitu. Apa kamu sebegitu rindunya padaku sampai harus mendobrak pintu?"

​Alaric mematung. Matanya yang dingin membelalak karena terkejut. Dia mengharapkan amarah, bukan godaan.

​"Apa yang kau..."

​"Ssst," aku meletakkan jari telunjukku di bibirnya, membuat napasnya tertahan. "Kalau mau perhatian, bilang saja. Tidak perlu bawa-bawa nama Clarissa yang membosankan itu. Lihat aku, Alaric. Apa menurutmu Clarissa punya senyum semanis ini?"

Aku mengedipkan sebelah mataku dengan gaya yang sangat centil.

​Wajah Alaric yang tadinya pucat karena marah kini sedikit memerah karena bingung dan mungkin sedikit malu.

Ia menyentakkan tanganku dan mundur satu langkah, seolah-olah aku adalah api yang baru saja membakarnya.

​"Kau... kau benar-benar sudah gila, Lavinia!" desisnya sebelum berbalik dan pergi dengan langkah seribu, meninggalkan kamarku secepat mungkin.

​Aku tertawa kecil melihat punggungnya yang menjauh. Menghadapi pria kaku seperti dia ternyata cukup menghibur.

Namun, tawaku terhenti saat sebuah panel transparan kembali muncul di depan mataku.

​[Peringatan Sistem: Misi Utama - Bertahan Hidup.]

[Kondisi Tubuh: Kutukan Darah Whitmore Terdeteksi.]

[Status: Aktif dalam 30 hari (Tepat di Ulang Tahun ke-18)

[Efek: Nafsu gairah yang tak tertahankan dan kehilangan kesadaran diri tanpa sentuhan lawan jenis.]

​Senyumku langsung luntur. "Tunggu... kutukan apa?"

​Ingatan tambahan muncul. Keluarga Whitmore memiliki kutukan rahasia. Itulah alasan kenapa banyak keturunan wanita mereka dicap sebagai 'piala bergilir' karena sifat mereka yang mendadak berubah menjadi penggoda gila saat menginjak usia dewasa.

Padahal, itu adalah cara tubuh mereka bertahan hidup dari rasa sakit kutukan tersebut.

​"Jadi, kalau aku tidak menemukan pria untuk... 'membantu' meredakan kutukan ini dalam 30 hari, aku akan kehilangan akal sehat?"

Aku menelan ludah, menatap kembali pantulan diriku di cermin. ​Visual yang kulihat sekarang bukan lagi sekadar keberuntungan reinkarnasi, melainkan kutukan yang mematikan.

Aku harus mengubah takdir ini. Duke Alaric yang dingin, Putra Mahkota Adrian yang kekanakan, atau Vincent yang misterius itu. Salah satu dari mereka harus bertekuk lutut padaku sebelum hari ulang tahunku tiba.

​"Baiklah, Celestine," aku memperbaiki tatanan rambut merah mudaku dan tersenyum licik.

"Waktunya menjadi villainess yang paling menggemaskan dan paling berbahaya di kerajaan ini. Clarissa, siapkan dirimu, karena pesona 'polosmu' itu akan segera tenggelam oleh gairah mawar ini."

​Lavinia Whitmore tidak akan mati di tangan Duke kali ini. Sebaliknya, Duke-lah yang akan memohon untuk berada di pelukannya.

***

Halo semuanya! ❤️

Kalau kalian datang dari novelku sebelumnya, terima kasih sudah kembali menemani perjalanan yang baru ini 🥹✨

Dan untuk pembaca baru, selamat datang!

Semoga kalian bisa menikmati cerita ini sebagaimana aku menikmati proses menulisnya.

Jangan ragu meninggalkan like, komentar, atau teori kalian setelah membaca. Dukungan sekecil apa pun selalu berarti untukku.

Selamat membaca dan semoga betah di sini 💖

— Dinwa

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 84 End

    ​Lavinia merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di hatinya. Kekaisaran Blackwood saat ini sedang berada dalam masa kejayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Stabilitas politik daratan terjaga sempurna berkat penyatuan elemen mereka berempat. Namun di luar sana, dalam buku-buku sejarah kuno yang kaku, mereka mungkin akan diingat sebagai para penguasa yang tidak konvensional karena tidak memiliki selir asing, yang menikah dalam upacara melingkar kontroversial, dan yang memilih hidup di pengasingan mewah. ​Tapi bagi Lavinia, ini adalah kemenangan mutlak atas hidupnya. Ia tidak lagi menjadi subjek dari program Sistem mekanis yang dingin. Ia adalah tokoh utama dari jalan hidupnya sendiri. ​Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu ruang makan. Itu adalah pelayan pribadi yang paling mereka percaya, tampak sedikit ragu menghadapi atmosfer intim para tuannya. "Yang Mulia... ada p

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 83

    Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama Sanctum Blackwood. Ruangan itu besar, hangat, dan dipenuhi dengan aroma kayu gaharu yang menenangkan sangat kontras dengan suasana kastel utama yang dingin dan penuh intrik politik. ​Di atas ranjang berukuran raksasa, Lavinia berbaring dalam posisi yang sekali lagi sangat mustahil. Kepalanya berada di pangkuan Adrian, kakinya tersampir di atas dada Alaric, dan lengannya melingkar di leher Vincent yang masih terlelap dengan seringai tipis di wajah tampannya. ​Tubuhnya terasa remuk, sebuah sensasi dari ‘audit’ yang sangat teliti, mendalam, dan tanpa ampun dari ketiga suaminya semalam suntuk di tempat peraduan yang baru. Namun, alih-alih merasa lelah, Lavinia justru merasa sangat hidup. Setiap jengkal kulitnya seolah memiliki memori rekaman tak kasat mata tentang bagaimana Adrian mencintainya dengan kobaran api naga, bagaimana Alaric memujanya dengan cahaya kesucian

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 82

    ​Resepsi pernikahan setelahnya adalah puncak dari kemegahan dinasti. Aula perjamuan istana didekorasi dengan ribuan kristal yang memantulkan cahaya lilin. Hidangan-hidangan paling langka disajikan, dan musik berdansa tidak pernah berhenti sepanjang malam. Lavinia berdansa dengan Adrian, lalu berganti dengan Alaric, dan terakhir dengan Vincent, sementara tatapan posesif dan berahi tersembunyi dari ketiga pria itu tidak pernah lepas dari raga porselennya setiap detik. ​Di balik meja utama, Kaisar tertawa terbahak-bahak melihat ketiga pria pilar itu terus-menerus menempel ketat pada Lavinia setiap kali ada bangsawan muda yang mencoba mengajak wanita itu berdansa. ​"Kau punya tangan yang penuh dengan mereka, Lavinia," ujar Kaisar Alexander sambil menyesap anggur mahalnya dengan tatapan penuh konspirasi. "Tapi kulihat kau menikmati kendali atas mereka." ​"Mereka memang merepotkan dan terlalu protektif, Yang Mulia," jawab Lavini

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 81

    Lonceng Katedral Agung Blackwood berdenting merdu, membelah keheningan pagi yang berkabut dengan dentuman yang terasa hingga ke akar-akar pohon di seluruh ibu kota. Hari ini adalah hari yang akan dicatat dalam tinta emas oleh para sejarawan selama seribu tahun ke depan. Hari di mana tiga pilar utama kekaisaran dari Putra Mahkota, Ksatria Suci, dan Pemimpin Orde Bayangan secara resmi mengikat diri pada satu wanita yang sama: Lavinia. ​Di dalam ruang ganti pribadi yang kini dipenuhi oleh wangi bunga lili dan dupa mahal, Lavinia berdiri tegak di depan cermin raksasa. Ia mengenakan gaun pengantin yang merupakan mahakarya perpaduan dari tiga visi yang berbeda. Bagian bodinya dibuat dari sutra putih murni yang melambangkan kesucian, sementara di sepanjang pinggang hingga menjuntai ke lantai, terdapat bordir sisik naga emas yang tampak hidup, seolah-olah naga api milik Adrian sedang melingkar memeluk raga porselennya. ​Di bagian

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 80

    ​Lavinia ternganga, sisi humoris dan budak korporatnya berteriak konyol. Ia tidak percaya naga jantan yang perkasa ini benar-benar membahas urusan menggendong saat mereka sedang dalam suasana yang begitu manis dan puitis. Vincent langsung terpingkal-pingkal meremehkan, sementara Alaric memutar bola matanya dengan dramatis. ​"Menggendong? Benar-benar?" tanya Vincent sambil tertawa rendah yang sangat seksi. "Apa kita sekarang sedang berada di dalam sebuah drama romansa murahan kelas bawah? Kamu ingin menggendongnya seperti pangeran yang menyelamatkan putri dari menara tinggi?" ​"Setidaknya aku punya fisik yang mampu melakukannya tanpa lelah!" balas Adrian tak terima, memompa hawa panasnya untuk menegaskan kekuatannya. "Lagipula, itu adalah hak prerogatifku sebagai pewaris sah takhta kekaisaran!" ​"Hak prerogatif?" Alaric ikut tersenyum tipis, tapi ada nada menantang dan dominan dalam suaranya yang tenang. "Jika kita bicara t

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 79

    Malam itu, langit di atas Kastel Whitmore tidak lagi berwarna hitam pekat, melainkan diselimuti oleh rona ungu kemerahan yang misterius seolah-olah alam semesta sendiri sedang merayakan ketegangan yang menggantung di udara. ​Di balkon utama yang menghadap langsung ke arah ibu kota Blackwood, Lavinia berdiri mematung. Angin malam yang dingin membelai kulitnya, namun ia sama sekali tidak merasa kedinginan. Ada kehangatan magis yang melingkupi jiwanya, sebuah ketenangan yang selama ini selalu terasa semu, kini menjadi nyata dan tak tergoyahkan setelah asimilasi energi tiga darah mengunci takdirnya. ​Di balik gaun sutra yang lembut, Lavinia merasakan detak jantungnya berirama selaras dengan detak dunia di bawah sana. Ia menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan, menyadari bahwa besok, ia tidak lagi akan dikenal sebagai Lavinia sang villainess atau Lavinia sang Countess yang penuh misteri. Besok, ia akan menjadi pusat dari selu

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 3

    Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."​Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya.​"Kamu benar-be

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 2

    Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar n

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 1

    Sinar matahari pagi menembus jendela kaca patri kediaman Whitmore, memantulkan warna-warna pelangi di atas meja rias kayuku yang mahal. Aku sudah duduk di sini selama hampir dua jam. Jika di kehidupan nyataku sebagai Celestine aku hanya punya waktu lima menit untuk memakai pelembap sebelum lari me

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 4

    Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status