MasukSepanjang malam.
Lily terjaga dan mencemaskan hari esok. Apakah Alvian kembali? Ataukah dia hanya bisa bertarung sendirian. ** Pagi ini. Suasana di kediaman Tuan Malik begitu riuh. Jesika dan ibunya tampak heboh sekaligus tak sabar karena hari ini impian mereka akan segera terwujud. Rencana sudah tersusun rapi, tinggal selangkah lagi dan semuanya akan berakhir dengan sempurna. "Ma, setelah hari ini. Aku tidak mau tahu, perempuan gila itu harus kita kirim jauh-jauh dari rumah ini." Jesika menyilangkan tangan di dada, raut wajahnya sedikit cemberut mengingat beberapa kali papanya selalu memarahinya hanya karena Lily. "Tentu saja, Sayang. Kamu ngga perlu minta itu, papa kamu sendiri yang akan membawa si Lily sialan itu meninggalkan rumah ini. Kita hanya butuh hartanya, setelah itu kamu akan melanjutkan studi keluar negri dan mengembangkan sayap menjadi wanita karir." "Thank you, Mama. Mama memang paling ngerti aku." Jesika tersenyum dan memeluk sang ibu. "Ingat, Jes. Untuk hari ini bersikap baiklah kepada Lily sampai keputusan pengadilan itu sah. Jangan buat masalah baru, mama nggak suka kalau papamu marah-marah lagi." "Oke, Ma. Tenang aja. Walau rasanya jijik deket-deket ma cewek sinting itu, tapi demi kekayaannya, hari ini aku rela deh, mengalah untuk menang." Lyora tertawa kecil, dia sungguh sangat bangga dengan putri semata wayangnya. "Tuan, Tuan!" Percakapan Jesika dan ibunya terjeda kala Bi Inah berlari turun dari lantai dua menuju ruang keluarga. "Ngapain lagi sih tuh babu! Heboh banget!" Jesika tampak sebal lalu mencari tahu kenapa Bi Inah begitu berisik. Wanita tua itu tiba di hadapan Tuan Malik dan menjelaskan dengan cemas. "Tuan! Kondisi Non Lily memperihatinkan. Dia .... Dia demam tinggi sejak tadi subuh." Tuan Malik yang sudah rapi dengan setelan jasnya menoleh, dengan langkah cepat dia segera menuju ke kamar Lily di lantai dua. Bukannya menunjukkan rasa cemas seorang ayah, sorot matanya justru memancarkan kepanikan yang egois. Jesika dan ibunya juga datang untuk memastikan situasi. "Saya sudah kasih obat demam semalam, Tuan. Saya juga sudah mengompresnya agar demamnya sedikit turun tapi sampai sekarang, suhu tubuhnya masih begitu panas. Tuan, sebaiknya sekarang kita bawa Nona Lily ke rumah sakit." "Bawa ke rumah sakit? Kamu gila, Bi?!" bentak Tuan Malik membuat wanita tua itu tercekat. "Sidang penetapan hak wali tinggal dua jam lagi! Kalau tim medis memeriksa Lily sekarang dan menemukan bekas lebam serta sisa air di paru-parunya, polisi akan langsung menyelediki semuanya, rencanaku pasti akan kacau!" "T-tapi j-jikaa Non Lily dibiarkan, dia bisa mati, Tuan!" tangis Bi Inah memelas, menatap Lily yang terpejam dengan bibir pucat dan tarikan napas yang lemah. "Dia tidak akan mati! Cepat pakaikan dia baju yang tebal dan tutup lehernya agar lebamnya tidak kelihatan. Dia harus tetap ikut ke pengadilan!" Bi Inah tak tega, dia masih menatap Tuan Malik berharap lelaki itu akan berubah pikiran. "Tuan." "Satu lagi, beri dia satu obat demam lagi. Dia pasti sembuh, aku tahu dia kuat." Perintah Tuan Malik sudah final. Bi Inah tak dapat menawar lagi. Lelaki itu tak memiliki belas kasihan terhadap putrinya. Tuan Malik berbalik dan pergi begitu saja, mengabaikan nuraninya demi mengamankan harta warisan Sophia. Jesika dan ibunya semakin senang melihat kondisi Lily yang memprihatinkan. Mereka tak peduli dengan gadis itu. Jesika justru puas karena Papa Malik tak menghiraukan Lily setelah apa yang dia lalui. "Ayo, Ma. Sidang akan segera dilakukan." Jesika menarik tangan ibunya meninggalkan lantai dua. Di atas ranjang, di sela-sela kesadaran Lily yang menipis. Gadis itu mendengar semuanya. Sudut bibirnya yang kering melengkung tipis, membentuk senyuman samar yang getir. 'Lihat, Bunda... manusia iblis itu bahkan tidak peduli jika aku mati hari ini,' batinnya lirih. Bi Inah tak tega memperlakukan Lily seperti itu, dia berusaha menyuapi gadis itu sebelum kembali memberinya obat. "Non, bertahanlah." Lily menatap sayup. "Non, jika saja ibu masih hidup. Nona pasti tidak akan menderita seperti ini." Lily berusaha tersenyum, sekedar menghibur pengasuhnya. Tapi hati Bi Inah justru semakin pilu. "Non, jika memang Nona kalah di persidangan. Bibi akan membawa Nona kabur setelah ini. Kita pergi dari rumah ini, kita pulang ke kampung halaman bibi ya Non." "Tidak, Bi. Dalam persidangan ini aku harus menang," bisik Lily parau. Kali ini, Bi Inah tak yakin jika nona mudanya itu akan menang. Kondisi Lily sekarang sungguh sangat memperihatinkan. "Ayo, Bi. Pakaikan bajuku. Aku ingin memakai baju Bunda." Bi Inah menggelengkan kepala. "Ayo, Bi. Pakaikan juga jaket itu. Agar papa tidak melihat baju ini sebelum tiba di persidangan. Aku ingin papa sadar, dia tidak melawan ku tapi melawan Bunda, mantan istri yang pernah begitu dicintainya." "Nona ...." Bi Inah hanya bisa menangis. Wanita tua itu tak kuasa melihat perjuangan Lily yang luar biasa. *** Dua jam kemudian, di Gedung Pengadilan Negeri. Mobil Lily dan Bi Inah baru saja tiba. Tuan Malik dan keluarganya yang harmonis sangat geram karena mobil Lily terlambat jauh dari waktu yang mereka inginkan. "Dari mana saja kalian?" Tuan Malik tak bisa menyembunyikan kemarahannya. "Maaf, Tuan. Non Lily, muntah sepanjang jalan. Saya tidak mau pakainya berantakan dan membuat masalah baru di persidangan." Mendengar alasan Bi Inah, kemarahan Tuan Malik sedikit berkurang. "Cepat bawa dia masuk." "Baik, Tuan." Suasana koridor pengadilan tampak ramai dan riuh. Bi Inah dengan setia mendampingi Lily, merangkul pundak gadis itu agar tidak terjatuh. Langkah kaki Lily terasa sangat berat, seolah-olah seluruh energinya telah diperas habis. Kepalanya berdenyut pening, dan pandangannya berkunang-kunang. Nyonya Lyora dan Jesika berjalan beberapa langkah di depan mereka bersama Tuan Malik dan tim pengacara, bersikap seolah-olah mereka adalah keluarga harmonis yang sedang mengantar anak yang sakit. Di sudut lain koridor yang sama, sekelompok pria berjas hitam tampak berjalan tegap dan berwibawa. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria dengan postur tubuh tinggi berjalan percaya diri. Alvian Adhitama. Pria itu berada di pengadilan hari ini murni karena urusan bisnisnya yang lain, sebuah sengketa lahan perusahaan yang harus dia selesaikan bersama tim legalnya. Namun, langkah tegap Alvian mendadak melambat saat netranya menangkap siluet yang tidak asing di ujung koridor. Langkah Alvian terhenti. Pandangannya terkunci pada sesosok gadis yang sedang berjalan tertatih-tatih, mengenakan pakaian hangat yang longgar dengan syal yang melilit lehernya. Itu Lily. Namun, Lily yang dilihatnya hari ini sama sekali berbeda dengan gadis yang kemarin bergelayut manja di lengannya. Wajah gadis itu seputih kertas. Bibirnya yang biasa merah muda kini mengering dan pucat pasi. Langkahnya terseret-seret, dan kedua matanya terpejam rapat seolah menahan rasa sakit yang luar biasa. "Nona, bertahanlah sedikit lagi... Kita sudah mau sampai di ruang sidang," bisik Bi Inah dengan suara bergetar. Lily tidak menjawab. Kesadarannya benar-benar berada di ambang batas. Rasa panas yang membakar tubuhnya membuat keseimbangannya hilang. Detik itu juga, lutut Lily melemas. Tubuhnya yang lunglai langsung merebahkan diri, terkulai lemas ke arah pundak Bi Inah. "Ya Tuhan, Non Lily!" Bi Inah terpekik panik saat merasakan tubuh Lily mendadak menjadi sangat berat dan panas seperti bara api. Sebelum tubuh kurus itu merosot jatuh ke lantai koridor yang dingin, sebuah lengan kekar dan kokoh bergerak lebih cepat dari embusan angin. Dengan sigap, lengan itu menangkap pinggang Lily, menahan tubuh lemas sang gadis dan langsung mendekapnya erat ke dalam dada bidangnya yang hangat. Aroma maskulin yang familier, wangi khas lelaki itu seketika menyeruak di indra penciuman Lily yang melemah. Bi Inah terkesiap dan langsung mendongak, matanya membelah kepanikan saat melihat siapa pria yang kini tengah mendekap erat anak asuhnya. Alvian Adhitama berdiri di sana, mengabaikan jajaran direksi dan pengacaranya yang kebingungan. Rahang pria itu mengeras seketika saat telapak tangannya menyentuh punggung Lily yang terasa sangat panas. Sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah wajah pucat Lily yang kini bersandar pasrah di dadanya, lalu beralih menatap Tuan Malik yang baru saja berbalik badan dengan wajah pias karena terkejut. "Apa yang kalian lakukan pada gadis ini?" tanya Alvian. Suaranya rendah, dingin, namun sarat akan ancaman. "Tuan Malik, dia sedang sakit. Anda tega!" "Kakak ganteng, tolong aku. Jesika hampir membunuhku semalam," bisik Lily. Gadis itu menatap Alvian lirih. "Tolong aku, bawa aku pergi dari sini." Tubuhnya sepenuhnya melemah dan dia jatuh pingsan tak sadarkan diri di dalam pelukan hangat Alvian.Tuan Malik mengelus dadanya yang berdebar kencang, lalu mengisyaratkan istri dan anaknya untuk menyusul ke lantai atas dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.Sementara itu, Alvian melangkah mantap menaiki tangga sembari menggenggam erat tangan Lily. Langkah kakinya terasa berat bukan karena lelah, melainkan karena rasa geram yang terus menumpuk di dadanya. Ucapan Lily soal kamar loteng yang penuh tikus tadi terus berputar di kepalanya. Pria itu menatap punggung kecil Lily yang berjalan santai di sampingnya, membayangkan bagaimana gadis ini bertahan hidup di rumah yang begitu besar namun seperti neraka.Lily melihat semuanya, semua tata letak benda dan masuk ke kamarnya.Ruangan itu memang dipoles dengan sangat cantik, dinding bernuansa pastel, kasur berukuran king size dengan sprei sutra, hingga balkon pribadi yang menghadap ke halaman depan. Sangat berbeda jauh dengan loteng kumuh tempat Lily dikurung selama sebelas tahun."Nah, Lily sayang... ini kamar barumu," ujar Lyora yang
Langkah kaki Wira terhenti di ambang pintu. Di dalam kamar, Lily sedang duduk di tepi ranjang. Jemari lentiknya yang biasa melipat origami biru kini bertumpu rapi di atas pangkuannya. "Ehmm, boleh saya masuk?" Lily menoleh menatap Wira. Sorot matanya sama sekali tidak mencerminkan seorang penderita gangguan jiwa."Kamu sengaja melarang Alvian masuk?" tanya Wira seraya menutup pintu rapat-rapat lalu berjalan mendekat dengan tas medisnya.Lily tak langsung menjawab. Dia menatap pintu sejenak, memastikan tidak ada bayangan yang mengintai, sebelum akhirnya berbicara."Alvian terlalu mudah ditebak jika sedang emosi, Dokter. Jika dia ikut masuk, dia pasti akan melarangku pulang ke rumah itu."Wira menghentikan gerakannya yang hendak mengeluarkan stetoskop. Dia menatap Lily lekat-lekat. "Kamu tahu rumah kediaman Malik itu neraka, Lily. Kenapa kamu malah bersikeras masuk kembali ke sarang serigala?""Karena bukti penggelapan harta ibuku dan racun saraf itu ada di brankas ruang kerja ayahku
"Tuan, apa saya tidak salah dengar?" Bu Ratna menatap pilu dengan kepala tertunduk. "Anda akan menyerahkan Nona Lily kepada keluarganya?" "Ya." Alvian tahu, pelan-pelan semua orang di villa itu mulai menyayangi Lily. Meski dia terlihat gila, Lily tak pernah menyakiti siapapun. "Tapi, Tuan!" "Bu Ratna, setelah ku pikir-pikir. Tetap menahan Lily di sini akan membuat ayah atau orang luar berpikiran yang tidak-tidak. Sebelum hal itu terjadi, lebih baik kita cegah saja." "Lalu, bagaimana jika non Lily disiksa lagi?" "Tenang saja, aku akan mengutus seseorang untuk menjaganya." Bu Ratna paham lalu melangkah mundur. Di lantai atas, Bi Inah juga mendengar semuanya. Dia dengan cepat menemui Lily yang sejak tadi melipat kertas origami. "Nona! Nona, aku dengar Tuan Alvian akan memulangkan kita ke rumah Tuan besar." Lily menatapnya tenang. "Nona, bagaimana ini? Kita harus segera kabur!" Lily menggelengkan kepala. "Tidak, Bi. Kita tidak boleh kabur. Aku yang meminta Alvian m
Baru saja Tuan Malik mengingatkan putrinya, suara bel pintu rumah terdengar nyaring. Ketiga orang itu saling menatap, perasaan khawatir kini bersarang di dada. "Nggak mungkin, itu ngga mungkin orang-orangnya Alvian kan, Pa?" Tuan Malik mematung ditempatnya. Dia dan istrinya tahu betul bagaimana kuasa keluarga Adhitama, mereka tak pernah main-main dalam memberi pelajaran. "Jesika! Kamu benar-benar! Bisa ngga, dalam sehari kamu ngga nyusahin mama dan papamu?" "Ma! Aku mana tahu jika keluarga Alvian sehebat itu." Suara bel semakin bersahutan, mau tak mau pelayan datang membukakan pintu. "Selamat pagi." "Pagi, maaf cari siapa?" Pelayan itu bertanya dengan nada sopan. "Kami di sini untuk bertemu dengan Tuan Malik." Seorang pria berjas rapi mengantarkan sebuah amplop tebal berwarna hitam dengan segel logo firma hukum Adhitama. Penasaran dengan siapa yang datang, Tuan Malik pun keluar diikuti oleh anak dan istrinya. "Saya sendiri, ada apa ya?" Amplop itu di serahkan, Tuan Malik
Malam itu, Lily diam termenung di dalam kamarnya. Semenjak kedatangannya di villa milik Tuan Alvian. Kediaman itu tak lagi tenang. Lily tahu, apa yang terjadi siang tadi tak akan berlalu begitu saja. Jesika tak akan diam dan menerima penghinaan yang dilontarkan Alvian. "Kau belum tidur?" Alvian berdiri di ambang pintu. Menatapnya sejak tadi tanpa disadari oleh Lily. Gadis itu menatapnya sendu. Toples berisi kertas origami itu di simpan di atas meja, begitu dekat dengan tempat Lily berada. "Ada apa? Kenapa belum tidur?" Lily menggeleng pelan. Alvian mendekat, bukan apa-apa. Dia hanya takut jika Lily berulah seperti kemarin malam dan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya. "Tidurlah, tidak akan terjadi apa-apa. Jesika tidak akan bisa masuk seenaknya lagi." Lily tampak sedih, dia pun berbaring di tempat tidurnya menuruti permintaan Alvian. "Jesika akan datang membawaku pergi," ucap Lily pada akhirnya. Tatapannya menerawang jauh. Memperlihatkan sikap layaknya seorang
"Aachh!!! Sialan!" Jesika murkah dan berteriak sarkas di ruang tamu setibanya di rumah. Para pelayan terkesiap, menatap penuh dengan rasa penasaran ke arahnya. "Mama dengar kata Alvian itu kan? Dasar sialan! Dia pikir dia siapa?" Nyonya Lyora merebahkan diri di sofa, kepalanya sungguh pening apalagi Jesika terus saja mengomel sepanjang perjalanan. "Beraninya dia! Mama juga, kenapa mama diam saja saat Alvian mengataiku anak haram! Aku ini anak mama bukan sih?" Kesalnya. "Diam kamu! Semua ini juga gara-gara kamu yang suka bertindak sembrono. Andai saja kita datang bersama papamu, kejadiannya pasti tidak akan berakhir memalukan seperti tadi." Ucapan Lyora membuat putrinya terpaku. "Apa? Jadi, mama nyalahin aku?" Nyonya Lyora mengalami migran yang hebat, kepalanya pusing namun Jesika terus mencari masalah. "Mama serius mau nyalahin aku? Aku di katain dan Mama hanya bisa lepas tangan seperti ini? Mama bahkan ngga menampik ucapan Alvian sialan itu tadi. Mama ngga bela aku sama seka







