Share

Bab 4

Author: Melisa Satya
last update publish date: 2026-06-09 00:47:05

Sepanjang malam.

Lily terjaga dan mencemaskan hari esok. Apakah Alvian kembali? Ataukah dia hanya bisa bertarung sendirian.

**

Pagi ini.

Suasana di kediaman Tuan Malik begitu riuh. Jesika dan ibunya tampak heboh sekaligus tak sabar karena hari ini impian mereka akan segera terwujud. Rencana sudah tersusun rapi, tinggal selangkah lagi dan semuanya akan berakhir dengan sempurna.

"Ma, setelah hari ini. Aku tidak mau tahu, perempuan gila itu harus kita kirim jauh-jauh dari rumah ini." Jesika menyilangkan tangan di dada, raut wajahnya sedikit cemberut mengingat beberapa kali papanya selalu memarahinya hanya karena Lily.

"Tentu saja, Sayang. Kamu ngga perlu minta itu, papa kamu sendiri yang akan membawa si Lily sialan itu meninggalkan rumah ini. Kita hanya butuh hartanya, setelah itu kamu akan melanjutkan studi keluar negri dan mengembangkan sayap menjadi wanita karir."

"Thank you, Mama. Mama memang paling ngerti aku."

Jesika tersenyum dan memeluk sang ibu.

"Ingat, Jes. Untuk hari ini bersikap baiklah kepada Lily sampai keputusan pengadilan itu sah. Jangan buat masalah baru, mama nggak suka kalau papamu marah-marah lagi."

"Oke, Ma. Tenang aja. Walau rasanya jijik deket-deket ma cewek sinting itu, tapi demi kekayaannya, hari ini aku rela deh, mengalah untuk menang."

Lyora tertawa kecil, dia sungguh sangat bangga dengan putri semata wayangnya.

"Tuan, Tuan!"

Percakapan Jesika dan ibunya terjeda kala Bi Inah berlari turun dari lantai dua menuju ruang keluarga.

"Ngapain lagi sih tuh babu! Heboh banget!" Jesika tampak sebal lalu mencari tahu kenapa Bi Inah begitu berisik.

Wanita tua itu tiba di hadapan Tuan Malik dan menjelaskan dengan cemas.

"Tuan! Kondisi Non Lily memperihatinkan. Dia .... Dia demam tinggi sejak tadi subuh."

Tuan Malik yang sudah rapi dengan setelan jasnya menoleh, dengan langkah cepat dia segera menuju ke kamar Lily di lantai dua. Bukannya menunjukkan rasa cemas seorang ayah, sorot matanya justru memancarkan kepanikan yang egois. Jesika dan ibunya juga datang untuk memastikan situasi.

"Saya sudah kasih obat demam semalam, Tuan. Saya juga sudah mengompresnya agar demamnya sedikit turun tapi sampai sekarang, suhu tubuhnya masih begitu panas. Tuan, sebaiknya sekarang kita bawa Nona Lily ke rumah sakit."

"Bawa ke rumah sakit? Kamu gila, Bi?!" bentak Tuan Malik membuat wanita tua itu tercekat.

"Sidang penetapan hak wali tinggal dua jam lagi! Kalau tim medis memeriksa Lily sekarang dan menemukan bekas lebam serta sisa air di paru-parunya, polisi akan langsung menyelediki semuanya, rencanaku pasti akan kacau!"

"T-tapi j-jikaa Non Lily dibiarkan, dia bisa mati, Tuan!" tangis Bi Inah memelas, menatap Lily yang terpejam dengan bibir pucat dan tarikan napas yang lemah.

"Dia tidak akan mati! Cepat pakaikan dia baju yang tebal dan tutup lehernya agar lebamnya tidak kelihatan. Dia harus tetap ikut ke pengadilan!"

Bi Inah tak tega, dia masih menatap Tuan Malik berharap lelaki itu akan berubah pikiran.

"Tuan."

"Satu lagi, beri dia satu obat demam lagi. Dia pasti sembuh, aku tahu dia kuat." Perintah Tuan Malik sudah final.

Bi Inah tak dapat menawar lagi. Lelaki itu tak memiliki belas kasihan terhadap putrinya.

Tuan Malik berbalik dan pergi begitu saja, mengabaikan nuraninya demi mengamankan harta warisan Sophia.

Jesika dan ibunya semakin senang melihat kondisi Lily yang memprihatinkan. Mereka tak peduli dengan gadis itu. Jesika justru puas karena Papa Malik tak menghiraukan Lily setelah apa yang dia lalui.

"Ayo, Ma. Sidang akan segera dilakukan." Jesika menarik tangan ibunya meninggalkan lantai dua.

Di atas ranjang, di sela-sela kesadaran Lily yang menipis. Gadis itu mendengar semuanya. Sudut bibirnya yang kering melengkung tipis, membentuk senyuman samar yang getir.

'Lihat, Bunda... manusia iblis itu bahkan tidak peduli jika aku mati hari ini,' batinnya lirih.

Bi Inah tak tega memperlakukan Lily seperti itu, dia berusaha menyuapi gadis itu sebelum kembali memberinya obat.

"Non, bertahanlah."

Lily menatap sayup.

"Non, jika saja ibu masih hidup. Nona pasti tidak akan menderita seperti ini."

Lily berusaha tersenyum, sekedar menghibur pengasuhnya. Tapi hati Bi Inah justru semakin pilu.

"Non, jika memang Nona kalah di persidangan. Bibi akan membawa Nona kabur setelah ini. Kita pergi dari rumah ini, kita pulang ke kampung halaman bibi ya Non."

"Tidak, Bi. Dalam persidangan ini aku harus menang," bisik Lily parau.

Kali ini, Bi Inah tak yakin jika nona mudanya itu akan menang. Kondisi Lily sekarang sungguh sangat memperihatinkan.

"Ayo, Bi. Pakaikan bajuku. Aku ingin memakai baju Bunda."

Bi Inah menggelengkan kepala.

"Ayo, Bi. Pakaikan juga jaket itu. Agar papa tidak melihat baju ini sebelum tiba di persidangan. Aku ingin papa sadar, dia tidak melawan ku tapi melawan Bunda, mantan istri yang pernah begitu dicintainya."

"Nona ...." Bi Inah hanya bisa menangis. Wanita tua itu tak kuasa melihat perjuangan Lily yang luar biasa.

***

Dua jam kemudian, di Gedung Pengadilan Negeri. Mobil Lily dan Bi Inah baru saja tiba. Tuan Malik dan keluarganya yang harmonis sangat geram karena mobil Lily terlambat jauh dari waktu yang mereka inginkan.

"Dari mana saja kalian?" Tuan Malik tak bisa menyembunyikan kemarahannya.

"Maaf, Tuan. Non Lily, muntah sepanjang jalan. Saya tidak mau pakainya berantakan dan membuat masalah baru di persidangan."

Mendengar alasan Bi Inah, kemarahan Tuan Malik sedikit berkurang.

"Cepat bawa dia masuk."

"Baik, Tuan."

Suasana koridor pengadilan tampak ramai dan riuh. Bi Inah dengan setia mendampingi Lily, merangkul pundak gadis itu agar tidak terjatuh. Langkah kaki Lily terasa sangat berat, seolah-olah seluruh energinya telah diperas habis.

Kepalanya berdenyut pening, dan pandangannya berkunang-kunang.

Nyonya Lyora dan Jesika berjalan beberapa langkah di depan mereka bersama Tuan Malik dan tim pengacara, bersikap seolah-olah mereka adalah keluarga harmonis yang sedang mengantar anak yang sakit.

Di sudut lain koridor yang sama, sekelompok pria berjas hitam tampak berjalan tegap dan berwibawa.

Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria dengan postur tubuh tinggi berjalan percaya diri.

Alvian Adhitama.

Pria itu berada di pengadilan hari ini murni karena urusan bisnisnya yang lain, sebuah sengketa lahan perusahaan yang harus dia selesaikan bersama tim legalnya. Namun, langkah tegap Alvian mendadak melambat saat netranya menangkap siluet yang tidak asing di ujung koridor.

Langkah Alvian terhenti. Pandangannya terkunci pada sesosok gadis yang sedang berjalan tertatih-tatih, mengenakan pakaian hangat yang longgar dengan syal yang melilit lehernya.

Itu Lily.

Namun, Lily yang dilihatnya hari ini sama sekali berbeda dengan gadis yang kemarin bergelayut manja di lengannya.

Wajah gadis itu seputih kertas. Bibirnya yang biasa merah muda kini mengering dan pucat pasi. Langkahnya terseret-seret, dan kedua matanya terpejam rapat seolah menahan rasa sakit yang luar biasa.

"Nona, bertahanlah sedikit lagi... Kita sudah mau sampai di ruang sidang," bisik Bi Inah dengan suara bergetar.

Lily tidak menjawab. Kesadarannya benar-benar berada di ambang batas. Rasa panas yang membakar tubuhnya membuat keseimbangannya hilang. Detik itu juga, lutut Lily melemas. Tubuhnya yang lunglai langsung merebahkan diri, terkulai lemas ke arah pundak Bi Inah.

"Ya Tuhan, Non Lily!" Bi Inah terpekik panik saat merasakan tubuh Lily mendadak menjadi sangat berat dan panas seperti bara api.

Sebelum tubuh kurus itu merosot jatuh ke lantai koridor yang dingin, sebuah lengan kekar dan kokoh bergerak lebih cepat dari embusan angin. Dengan sigap, lengan itu menangkap pinggang Lily, menahan tubuh lemas sang gadis dan langsung mendekapnya erat ke dalam dada bidangnya yang hangat.

Aroma maskulin yang familier, wangi khas lelaki itu seketika menyeruak di indra penciuman Lily yang melemah.

Bi Inah terkesiap dan langsung mendongak, matanya membelah kepanikan saat melihat siapa pria yang kini tengah mendekap erat anak asuhnya.

Alvian Adhitama berdiri di sana, mengabaikan jajaran direksi dan pengacaranya yang kebingungan. Rahang pria itu mengeras seketika saat telapak tangannya menyentuh punggung Lily yang terasa sangat panas. Sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah wajah pucat Lily yang kini bersandar pasrah di dadanya, lalu beralih menatap Tuan Malik yang baru saja berbalik badan dengan wajah pias karena terkejut.

"Apa yang kalian lakukan pada gadis ini?" tanya Alvian. Suaranya rendah, dingin, namun sarat akan ancaman.

"Tuan Malik, dia sedang sakit. Anda tega!"

"Kakak ganteng, tolong aku. Jesika hampir membunuhku semalam," bisik Lily. Gadis itu menatap Alvian lirih.

"Tolong aku, bawa aku pergi dari sini." Tubuhnya sepenuhnya melemah dan dia jatuh pingsan tak sadarkan diri di dalam pelukan hangat Alvian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 53 mengambil kembali semuanya

    Pintu lift eksekutif berdenting halus, lalu terbuka memperlihatkan koridor lantai paling atas Adhitama Tower yang terlapisi karpet tebal. Atmosfer di ruang ini terasa begitu mencekam, jauh berbeda dari kebisingan wartawan di lantai dasar tadi.Di ujung lorong, dua pintu kayu mahoni besar menuju Ruang Rapat Utama terbuka lebar. Di dalam sana, puluhan anggota dewan direksi, tim kuasa hukum, serta wajah-wajah tak asing sudah berkumpul.Alvian tidak melepaskan jemari Lily. Pria itu menggenggamnya makin erat, seolah menyalurkan seluruh kekuatannya. Lily melirik genggaman itu sekilas, lalu membuang pandangan ke depan, menegakkan bahunya dan memasang raut wajah dingin tanpa celah.Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruangan, seluruh percakapan terhenti seketika. Puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka berdua.Di ujung meja rapat oval yang panjang, Tuan Adhitama duduk di kursi pimpinan. Wajah wibawanya tampak mengeras, dengan sepasang mata tajam yang menatap putra tunggalnya dan L

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 52

    Lily terkekeh hampa, menyandarkan separuh tubuhnya pada daun pintu. Tatapannya meneliti wajah Alvian—mencari celah kebohongan di balik sorot mata pria yang tampak lelah namun teramat kaku itu."Ratu?" ulang Lily dengan nada mengejek yang dingin. "Jangan menggunakan istilah manis untuk menutupi kebutuhan strategimu, Alvian. Katakan saja yang sebenarnya: tanpa kehadiranku, postingan buku nikahmu cuma akan dianggap gertakan kosong oleh dewan direksi dan Tuan Adhitama."Alvian mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Rasa bersalah semalam membakar dadanya, namun keteguhan sikap Lily hari ini membuktikan bahwa benteng pertahanan istrinya sudah terkunci dari dalam. Pria itu menahan diri untuk tidak memangkas jarak atau menyentuh jemari Lily yang terkepal di balik gaun tidurnya."Terserah bagaimana kamu menilai niatku, Lily," sahut Alvian dengan suara rendah yang ditahan mati-matian agar tetap stabil. "Tapi di Jakarta, Paman Bregas dan Aluna sudah menyiapkan dokumen pembatalan hak waris atas namam

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 51

    Mobil rental yang dipesan Lily membelah kegelapan malam pesisir, meninggalkan rumah kolonial yang baru beberapa jam lalu menyandang status sebagai rumah pengantin mereka. Di dalam kabin mobil yang hening, Lily menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Air mata yang sempat dia tahan di hadapan Alvian kini meluncur bebas, membasahi pipinya yang dingin.Setibanya di rumah lamanya, Bi Inah yang kaget melihat kepulangan Lily tanpa Alvian langsung menyambutnya dengan cemas. Namun Lily hanya mengulas senyum tipis yang dipaksakan."Loh Non, kok datangnya sendiri?""Nggak apa-apa, Bi. Aku cuma mau tidur di kamarku sendiri malam ini," bisik Lily parau sebelum melangkah naik ke lantai dua."Non, baik-baik saja?"Lily mengangguk sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.Dia melempar tasnya sembarangan lalu merosot di balik pintu, Lily memeluk kedua lututnya. Ingatannya berputar keras pada ucapan Alvian beberapa bulan lalu di rumah Dokter Wira—kalimat yang terpatri jelas di ingatannya tentang 'pert

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 50 dilema cinta Alvian

    Alvian mengusap puncak kepala Lily dengan lembut, menikmati raut kebingungan yang bercampur haru di wajah istrinya."Alvian, kamu tidak perlu melakukan ini. Aku tidak kekurangan apapun.""Aku tahu, rumah ini bentuk pertanggungjawabanku sebagai suamimu, meski dalam ikatan yang kita sebut sebagai kerja sama ini, aku tetap ingin memberikannya."Lily menatap lembaran sertifikat itu dengan dada yang berdesir. Mata indahnya berkaca-kaca, memandang Alvian yang kini tak hentinya menatap wajahnya."Ada apa?"Alvian menggeleng sendu."Tidak ada, ayo masuk."Lily patuh, dia mengikuti kemana Alvian pergi. "Mari, Nyonya, Tuan. Saya siapkan teh hangat dan camilan sore dulu," pamit seorang pelayan menatap hormat.Alvian mengangguk. Dan mereka langsung naik ke lantai dua.Alvian terus berada di sisinya seolah takut jauh dari Lily."Dalam ikatan yang kamu sebutkan sebagai sandiwara ini, apakah ada yang ingin kamu perjelas?" tanya Lily."Ya, aku ingin selama kontrak kita kamu menjadi dirimu sendiri."

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 49 pulang ke rumah

    Lily menatap Alvian dengan mata membelalak penuh kejutan. Seluruh ketenangan yang dia pertahankan sejak tadi runtuh seketika, berganti dengan kilat panik dan canggung yang membuat pipinya kian memerah hangat."A-apa? Kamu tadi panggil aku, apa?" bisik Lily terbata-bata, dia reflek melangkah mundur satu tapak.Alvian justru terkekeh pelan. Senyum jahil yang sudah sangat lama tak terlihat di wajahnya kini kembali terbit dengan begitu menawan. Pria itu memangkas jarak, meraih jemari Lily yang bergetar halus lalu menyatukannya dengan genggaman tangannya."Kenapa? Kita kan sudah resmi menikah," ujar Alvian dengan nada santai namun terdengar begitu manis di telinga. "Di depan umum, kita harus membiasakan diri. Paman Bregas dan Aluna punya mata-mata di mana-mana. Kalau kita masih bersikap kaku seperti rekan bisnis, mereka bisa curiga."Bi Inah yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menutup mulutnya, menahan tawa haru melihat kepolosan Lily dan kejahilan Alvian yang terasa begitu alami

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 48 Pernikahan kontrak

    Alvian menghela napas lega lalu berdiri mengibaskan celananya. Dia menarik kursi di hadapan Lily dan duduk kembali, memajukan tubuhnya ke meja kayu dengan sorot mata yang penuh keseriusan."Katakan, Lily. Apa pun syarat yang kamu inginkan, aku akan menyetujuinya," ujar Alvian tanpa ragu.Lily menopang dagunya, menatap Alvian dengan pandangan matang dan lugas."Pertama, pernikahan ini murni kesepakatan strategi," tegas Lily pasti. "Hanya ada surat perjanjian di atas kertas yang disahkan oleh Bima secara rahasia. Tidak ada pesta besar-besaran, tidak ada ekspos media yang berlebihan, dan tidak ada tuntutan hak kewajiban suami istri dalam kehidupan pribadi kita."Alvian diam sejenak, sorot matanya terlihat berbeda lalu mengangguk mantap. "Disetujui. Aku menghormati ruang pribadimu sepenuhnya.""Kedua," lanjut Lily, jarinya mengetuk permukaan meja pelan, "Setelah Paman Bregas dan Aluna hancur secara hukum di pengadilan, serta seluruh sisa hak milik ibuku bersih tanpa celah, kita harus lan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status