MasukAlvian mematung untuk beberapa detik. Pelukannya pada tubuh lemas gadis itu tidak melonggar sedikit pun. Ucapan lirih Lily tepat sebelum kehilangan kesadaran tadi benar-benar bergema di kepalanya, memicu tanda tanya besar yang menuntut jawaban.
“Jesika ingin membunuhku, bawa aku pergi dari sini." Alvian berpikir keras. Sorot mata liar penuh ketakutan yang kemarin dia lihat di taman, apa itu bentuk ancaman dari keluarga Lily yang begitu kejam? "Tuan Alvian, berikan Lily pada saya." Suara Tuan Malik memecah keheningan. Lelaki paruh baya itu melangkah maju, mengulurkan kedua tangannya hendak menggapai dan merebut tubuh putrinya. Namun, belum sempat jemari Malik menyentuh helai pakaian Lily, Alvian secara spontan melangkah mundur. Dia memutar tubuhnya, memblokade akses Malik dan melindungi gadis itu dalam dekapannya secara protektif. Jesika yang menyaksikan pemandangan itu seketika dibakar api cemburu. Bagaimana bisa seorang Alvian Adhitama, pria yang begitu dia puja dan incar para wanita, justru memeluk si anak gila itu dengan begitu erat di depan umum? Tanpa sadar, cengkeraman tangan Jesika mengencang pada lengan ibunya. "Auw! Jesika, kamu apa-apaan sih?!" ringis Nyonya Lyora refleks menepis tangan putrinya. Jesika tidak memedulikan teguran ibunya. Sepasang matanya menatap tajam ke arah Lily, memancarkan kilat kebencian yang begitu pekat, seolah dia siap maju dan menjambak kasar rambut panjang saudara tirinya itu detik ini juga. "Tuan Alvian, tolong kembalikan putri saya. Ini adalah urusan internal keluarga kami," tekan Tuan Malik lagi, mencoba menahan amarahnya karena sadar mereka sedang berada di tempat umum. Bi Inah yang berdiri tidak jauh dari sana hanya bisa terpaku bimbang. Wanita tua itu menatap iba pada Lily yang pingsan, namun di sisi lain, dia juga didera rasa khawatir yang besar terhadap ancaman Tuan Malik. "Bi Inah! Cepat ambil Lily dan bawa dia masuk bersama kita ke ruang sidang!" perintah Tuan Malik, memanfaatkan kepatuhan pelayan tuanya. "Tidak!" potong Alvian tegas. Ucapannya menghentikan pergerakan Bi Inah hingga wanita itu kembali membeku. Alvian menatap tajam pada Tuan Malik dengan kilat mata yang tak terbantahkan. "Tuan Malik, jangan paksa aku untuk mengambil keputusan yang tidak akan pernah kamu sukai." Alvian sama sekali tidak peduli lagi dengan formalitas. Tanpa membuang waktu, dia langsung mengangkat tubuh Lily ke dalam gendongannya dan berbalik, berniat membawanya keluar dari gedung pengadilan. "Tuan Alvian!" bentak Tuan Malik, beringas karena harga dirinya diinjak-injak di depan tim hukumnya. "Jaga batasan Anda! Saya ini ayah kandungnya! Secara hukum, saya memiliki hak penuh atas putri saya!" Langkah kaki Alvian seketika terhenti mendengar gertakan itu. Suasana di koridor pengadilan mendadak senyap, seolah pasokan oksigen di sekitar mereka tersedot habis. Perlahan, Alvian membalikkan tubuhnya. Dia menatap Tuan Malik dengan tatapan sinis yang teramat dingin, seolah sedang melihat seekor serangga kecil yang mengganggu jalannya. "Kau lupa, Tuan Malik?" Alvian menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan menyiksa lawan bicaranya. "Masa depan perusahaanmu dan seluruh aliran dana investasi itu bergantung penuh pada satu tanda tanganku. Dan sebenarnya... orang penting yang harus kami hubungi untuk urusan bisnis ini adalah Nona Lily Sophia, bukan dirimu, Tuan Malik yang terhormat." Skakmat. Kalimat Alvian bagaikan hantaman gada berat yang meruntuhkan pertahanan Tuan Malik. Wajah lelaki itu seketika pias, memucat tanpa darah. Bagaimana Alvian bisa tahu nama lengkap Lily beserta nama mendiang ibunya? Bagaimana pria itu bisa tahu bahwa hak milik atas aset perusahaan itu sebenarnya masih tertahan atas nama mendiang Sophia? Bi Inah yang mendengar hal itu langsung terpaku di tempatnya, menatap Alvian dengan binar harapan yang baru. Alvian kemudian menoleh sedikit, menyerahkan tubuh lemas Lily secara hati-hati kepada salah satu pengawal pribadinya yang bertubuh kekar. "Bawa dia ke mobil. Pastikan dokter pribadiku langsung menanganinya," perintahnya diangguki cepat oleh sang pengawal. "Baik, Tuan." Setelah Lily dibawa menjauh, Alvian tidak langsung pergi. Dia justru kembali membalikkan badan dan berjalan mendekati Tuan Malik. Langkah kakinya yang tegap dan dominan membuat Tuan Malik secara spontan melangkah mundur beberapa senti, merasa terintimidasi oleh aura mencekam yang dipancarkan pemuda di depannya. Alvian menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di hadapan Malik. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit, lalu berbisik dengan nada rendah yang penuh penekanan. "Lagipula, putrimu itu... harus bertanggung jawab kepadaku atas kekacauan yang dia buat kemarin." Tuan Malik mengerutkan keningnya dalam-dalam. Jantungnya bertalu hebat, didera rasa bingung sekaligus takut yang teramat sangat. Dia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari perkataan pemuda berkuasa di hadapannya ini. Tanggung jawab apa yang dimaksud? Apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Lily di belakangnya? Sebelum Malik sempat menyuarakan pertanyaannya, Alvian sudah berbalik pergi dengan angkuh, meninggalkan keluarga Malik yang kini membeku di koridor pengadilan dengan rencana yang mulai hancur berantakan. "Hah sial!" Lyora dan Jesika panik, mereka bergegas menghampiri Malik yang meremas rambutnya yang tidak gatal. "Pa! Kenapa papa biarin Alvian bawa Lily pergi?" "Mas, kamu udah gila ya? Bagaimana dengan sidangnya jika anak itu dibawa sama Tuan Alvian?" "DIAM!!" Pertanyaan beruntun itu membuat Tuan Malik semakin geram. Dia menatap pada Bi Inah, sorot matanya terlihat sangat murkah. "Bi, ikuti Lily dan selalu berkabar padaku. Pastikan Alvian tidak membawanya keluar kota." "Baik, Tuan." Bi Inah lega dan segera mengejar langkah rombongan Alvian, tepat saat Lily dibawa masuk ke kursi mobil. Wanita tua itu tiba dan bersujud di kaki Alvian. "Tuan tolong, bawa saya juga." Bi Inah menyentuh dadanya dan menjelaskan siapa dirinya. "Saya pengasuh Non Lily sejak kecil, setelah dia sadar, dia akan mencari saya. Tolong bawa saya juga, Tuan." Alvian menatapnya dingin. "Saya di pekerjakan oleh almarhumah Nyonya Shopia, saya bisa di percaya." "Baiklah, masuk." "T-terimakasih, Tuan." Bi Inah segera masuk dan mengambil alih tubuh Lily, dia menyandarkan tubuh Nonanya di dadanya sama seperti saat Lily sakit. "Non, kita keluar. Kita tak lagi berada di rumah itu." Alvian memutuskan untuk satu mobil dengan mereka. Melihat Bi Inah begitu menyayangi Lily, pemuda itu pun menurunkan kewaspadaannya. "Kita ke rumah sakit," ucap Alvian pada sang supir. "Jangan!" ucap Bi Inah cepat. Baik supir maupun Alvian menatapnya dengan seksama. "Tuan Malik dan yang lainnya akan dengan mudah mendatangi Non Lily jika di rumah sakit. Non Lily hampir mati semalam, dia butuh istrahat untuk memulihkan diri sebelum kembali lagi ke rumah itu." Alvian mendengarkan. "Tuan Alvian, bawa saja kami ke suatu tempat dan sediakan dokter untuk menolong nona saya. Kami hanya butuh itu," ucapnya memelas. Melihat ketakutan di wajah wanita tua itu, Alvian pun mengangguk setuju. "Ke vila Puri." "Tapi, Tuan." Sang supir langsung diam dan melaksanakan tugasnya setelah Alvian menatapnya lekat. Bi Inah merasa sangat lega karena akhirnya Lily mendapatkan pertolongan.Tuan Malik mengelus dadanya yang berdebar kencang, lalu mengisyaratkan istri dan anaknya untuk menyusul ke lantai atas dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.Sementara itu, Alvian melangkah mantap menaiki tangga sembari menggenggam erat tangan Lily. Langkah kakinya terasa berat bukan karena lelah, melainkan karena rasa geram yang terus menumpuk di dadanya. Ucapan Lily soal kamar loteng yang penuh tikus tadi terus berputar di kepalanya. Pria itu menatap punggung kecil Lily yang berjalan santai di sampingnya, membayangkan bagaimana gadis ini bertahan hidup di rumah yang begitu besar namun seperti neraka.Lily melihat semuanya, semua tata letak benda dan masuk ke kamarnya.Ruangan itu memang dipoles dengan sangat cantik, dinding bernuansa pastel, kasur berukuran king size dengan sprei sutra, hingga balkon pribadi yang menghadap ke halaman depan. Sangat berbeda jauh dengan loteng kumuh tempat Lily dikurung selama sebelas tahun."Nah, Lily sayang... ini kamar barumu," ujar Lyora yang
Langkah kaki Wira terhenti di ambang pintu. Di dalam kamar, Lily sedang duduk di tepi ranjang. Jemari lentiknya yang biasa melipat origami biru kini bertumpu rapi di atas pangkuannya. "Ehmm, boleh saya masuk?" Lily menoleh menatap Wira. Sorot matanya sama sekali tidak mencerminkan seorang penderita gangguan jiwa."Kamu sengaja melarang Alvian masuk?" tanya Wira seraya menutup pintu rapat-rapat lalu berjalan mendekat dengan tas medisnya.Lily tak langsung menjawab. Dia menatap pintu sejenak, memastikan tidak ada bayangan yang mengintai, sebelum akhirnya berbicara."Alvian terlalu mudah ditebak jika sedang emosi, Dokter. Jika dia ikut masuk, dia pasti akan melarangku pulang ke rumah itu."Wira menghentikan gerakannya yang hendak mengeluarkan stetoskop. Dia menatap Lily lekat-lekat. "Kamu tahu rumah kediaman Malik itu neraka, Lily. Kenapa kamu malah bersikeras masuk kembali ke sarang serigala?""Karena bukti penggelapan harta ibuku dan racun saraf itu ada di brankas ruang kerja ayahku
"Tuan, apa saya tidak salah dengar?" Bu Ratna menatap pilu dengan kepala tertunduk. "Anda akan menyerahkan Nona Lily kepada keluarganya?" "Ya." Alvian tahu, pelan-pelan semua orang di villa itu mulai menyayangi Lily. Meski dia terlihat gila, Lily tak pernah menyakiti siapapun. "Tapi, Tuan!" "Bu Ratna, setelah ku pikir-pikir. Tetap menahan Lily di sini akan membuat ayah atau orang luar berpikiran yang tidak-tidak. Sebelum hal itu terjadi, lebih baik kita cegah saja." "Lalu, bagaimana jika non Lily disiksa lagi?" "Tenang saja, aku akan mengutus seseorang untuk menjaganya." Bu Ratna paham lalu melangkah mundur. Di lantai atas, Bi Inah juga mendengar semuanya. Dia dengan cepat menemui Lily yang sejak tadi melipat kertas origami. "Nona! Nona, aku dengar Tuan Alvian akan memulangkan kita ke rumah Tuan besar." Lily menatapnya tenang. "Nona, bagaimana ini? Kita harus segera kabur!" Lily menggelengkan kepala. "Tidak, Bi. Kita tidak boleh kabur. Aku yang meminta Alvian m
Baru saja Tuan Malik mengingatkan putrinya, suara bel pintu rumah terdengar nyaring. Ketiga orang itu saling menatap, perasaan khawatir kini bersarang di dada. "Nggak mungkin, itu ngga mungkin orang-orangnya Alvian kan, Pa?" Tuan Malik mematung ditempatnya. Dia dan istrinya tahu betul bagaimana kuasa keluarga Adhitama, mereka tak pernah main-main dalam memberi pelajaran. "Jesika! Kamu benar-benar! Bisa ngga, dalam sehari kamu ngga nyusahin mama dan papamu?" "Ma! Aku mana tahu jika keluarga Alvian sehebat itu." Suara bel semakin bersahutan, mau tak mau pelayan datang membukakan pintu. "Selamat pagi." "Pagi, maaf cari siapa?" Pelayan itu bertanya dengan nada sopan. "Kami di sini untuk bertemu dengan Tuan Malik." Seorang pria berjas rapi mengantarkan sebuah amplop tebal berwarna hitam dengan segel logo firma hukum Adhitama. Penasaran dengan siapa yang datang, Tuan Malik pun keluar diikuti oleh anak dan istrinya. "Saya sendiri, ada apa ya?" Amplop itu di serahkan, Tuan Malik
Malam itu, Lily diam termenung di dalam kamarnya. Semenjak kedatangannya di villa milik Tuan Alvian. Kediaman itu tak lagi tenang. Lily tahu, apa yang terjadi siang tadi tak akan berlalu begitu saja. Jesika tak akan diam dan menerima penghinaan yang dilontarkan Alvian. "Kau belum tidur?" Alvian berdiri di ambang pintu. Menatapnya sejak tadi tanpa disadari oleh Lily. Gadis itu menatapnya sendu. Toples berisi kertas origami itu di simpan di atas meja, begitu dekat dengan tempat Lily berada. "Ada apa? Kenapa belum tidur?" Lily menggeleng pelan. Alvian mendekat, bukan apa-apa. Dia hanya takut jika Lily berulah seperti kemarin malam dan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya. "Tidurlah, tidak akan terjadi apa-apa. Jesika tidak akan bisa masuk seenaknya lagi." Lily tampak sedih, dia pun berbaring di tempat tidurnya menuruti permintaan Alvian. "Jesika akan datang membawaku pergi," ucap Lily pada akhirnya. Tatapannya menerawang jauh. Memperlihatkan sikap layaknya seorang
"Aachh!!! Sialan!" Jesika murkah dan berteriak sarkas di ruang tamu setibanya di rumah. Para pelayan terkesiap, menatap penuh dengan rasa penasaran ke arahnya. "Mama dengar kata Alvian itu kan? Dasar sialan! Dia pikir dia siapa?" Nyonya Lyora merebahkan diri di sofa, kepalanya sungguh pening apalagi Jesika terus saja mengomel sepanjang perjalanan. "Beraninya dia! Mama juga, kenapa mama diam saja saat Alvian mengataiku anak haram! Aku ini anak mama bukan sih?" Kesalnya. "Diam kamu! Semua ini juga gara-gara kamu yang suka bertindak sembrono. Andai saja kita datang bersama papamu, kejadiannya pasti tidak akan berakhir memalukan seperti tadi." Ucapan Lyora membuat putrinya terpaku. "Apa? Jadi, mama nyalahin aku?" Nyonya Lyora mengalami migran yang hebat, kepalanya pusing namun Jesika terus mencari masalah. "Mama serius mau nyalahin aku? Aku di katain dan Mama hanya bisa lepas tangan seperti ini? Mama bahkan ngga menampik ucapan Alvian sialan itu tadi. Mama ngga bela aku sama seka







