LOGINLily dan pengasuhnya memasuki kamar lalu mengunci pintu. Di luar sana. Suara tangis memohon Jesika terdengar seperti melodi yang mengalun indah. Nyonya Lyora berulang kali membela putri semata wayangnya di depan sang suami tapi amarah Tuan Malik tak kunjung padam.
"Mas, sudah! Dia anak kandung kita, Jesika pasti tak sengaja melakukannya." "Tak sengaja? Kalau rencana kerja samaku bersama Tuan Alvian gagal, orang pertama yang akan aku temui adalah anakmu itu, paham!" Jesika menangis tersedu. Di kamarnya Lily duduk anggun menatap pantulan dirinya di depan meja hias. "Nona, bagaimana sekarang?" Perasaan cemas tak terbendung tersirat di wajah tua Bi Inah. Satu-satunya orang yang setia terhadap Lily dan ibunya. Wanita tua itu kini sibuk mengobati luka di kaki Lily yang kembali terbuka. "Nyonya Lyora dan Jesika pasti akan datang menghajar Nona lagi." Lily tersenyum, dia berbalik dan menatap wajah sendu wanita tua itu. "Tidak masalah, Bi. Saat ini aku hanya menunggu bagaimana semesta bekerja. Tuan Alvian pasti kembali, aku sangat yakin." "Lalu, bagaimana jika dia tidak datang, Non?" Sorot mata gadis itu sedikit melemah. "Entahlah, mungkin memang takdirku harus mati seperti bunda." "Non Lily jangan bilang begitu. Saya akan membawa Nona kabur dari rumah ini." Lily menggeleng pelan. "Tidak, Bi. Aku tidak akan lari dari takdir ini. Aku akan bertarung sampai habis." Baru saja Lily terlihat begitu teguh dengan pendiriannya. Derap langkah terburu-buru kini berhenti di depan kamarnya lalu menggedor dengan keras. "Lily sialan! Buka pintunya!" Jesika geram dan akan melampiaskan kekesalannya. Bi Inah tampak waspada tapi Lily justru tersenyum menyambut kedatangan saudara tirinya itu. "Buka nggak, Ly!" "Non, jangan dibuka." Bi Inah menggelengkan kepala. Lily maju dan membuka pintu, dalam sekejap Jesika menerobos masuk dan langsung menjambak rambut panjangnya. "Sialan kamu! Gara-gara kamu, papa sampai marah besar sama aku!" Lily tertawa sambil bertepuk tangan. "Nona Jesika, tolong lepasin Non Lily," mohon Bi Inah. "Diam! Ini semua juga gara-gara Bi Inah! Cewek gila ini sudah dikurung di lantai 2, ngapain Bibi bawa ke taman segala!" "Haha haha!" Tawa Lily terdengar aneh. Jesika kalap dan kini menampar pipi gadis itu seperti saat Papa Malik menampar wajahnya. Plak! "Non, jangan!" Bi Inah histeris. Wanita tua itu kini berlutut di lantai memohon agar Lily di ampuni. Tapi Jesika membawanya ke kamar mandi dan mengisi air di bak. "Non Jesika, sudah Non. Non Lily sedang tidak sehat." "Bodoh amat! Mau dia mati juga aku ngga peduli!" Setengah jam berlalu dan air di bak mulai terisi. Jesika dengan geram mendorong kepala Lily ke bak hingga gadis itu kesulitan untuk bernafas. "Non, jangan! Non Lily bisa mati!" "Aku ngga peduli! Gara-gara dia, papa mukul aku!" Jesika merasa puas, dia terus mengulangi perbuatannya hingga lelah, menceburkan kepala Lily dengan sengaja lalu mengangkatnya saat gadis itu akan kehabisan nafas. Bi Inah tak sanggup lagi, dia keluar untuk mencari bantuan menelpon Tuan Malik yang kini tidak ada di rumah. Nyonya Lyora mendengar keributan yang dilakukan putrinya, namun dengan angkuh wanita itu justru tetap tenang di ruang keluarga sambil menikmati secangkir teh hangat. [Halo Pak, pulanglah. Non Lily akan mati kalau bapak nggak pulang!] Nyonya Lyora tersenyum sinis mendengar Bi Inah mengadu pada suaminya. [Non Jesika menceburkan Non Lily di bak mandi, Pak.] Sedetik kemudian panggilan terputus. Bi Inah yang cemas setengah mati meletakkan teleponnya kembali dan akan segera naik ke lantai dua. "Bibi!" Panggilan Nyonya Lyora menghentikan langkahnya. "Iya, Nyonya." Wanita tua itu menundukkan kepala menatap segan. "Sudah berapa lama bibi kerja sama kami?" Bi Inah terdiam. "Bibi ini selalu ikut campur dalam masalah keluarga kami, kalau bibi terus begini, jangan salahin saya kalau mecat Bibi dan pulangin Bibi ke kampung." "Jangan Nyonya, saya minta maaf jika saya salah. Saya hanya khawatir sama Non Lily, Non Jesika tidak mau berhenti sejak tadi." "Terserah anak saya dong, toh Lily juga ngga mati, kan?" Bi Inah menutup mulutnya, sungguh kata-kata itu begitu menyakiti hatinya. "Jadi pelayan jangan sok sibuk deh, Bi. Walau Bibi orang lama, saya bisa dengan mudah menyingkirkan Bibi dari rumah ini." "Ampun, Nyonya." Dengan tangan gemetar Bi Inah menangkupkan tangan dengan gelisah, Nyonya Lyora yang angkuh lantas bangkit dan pergi memeriksa apa yang terjadi. Suara Jesika masih menggema di kamar mandi, tepat saat dia merasa sudah puas menuntaskan kekesalannya. Rencana Lily yang sebenarnya pun beraksi. "Beruntung karena aku capek, kalau nggak!" Lily menarik tangan Jesika dan menempelkan ke kepalanya. "Kamu ngapain? Hah!" Tepat saat itu, Lily menceburkan dirinya di bak. Sambil menahan tangan Jesika. Saudari tirinya itu berusaha melepaskan diri. "Dasar gila!?" "Lepas nggak?!" Jesika memekik panik, wajahnya yang semula penuh kemenangan kini memucat seketika. Dia menarik paksa tangannya dengan sekuat tenaga, namun cengkeraman tangan Lily juga tak kalah kuat. Lily sengaja tak menahan napasnya di dalam air, membiarkan tubuhnya lemas dan tak berdaya, tenggelam di dasar dengan pikiran ini adalah rencana cadangannya. Dia sedang bertaruh dengan maut. Lily tak bisa hanya mengandalkan Alvin saja, dia harus berhasil dalam misinya atau kehilangan segalanya. Di luar rumah, suara rem mobil yang berdecit nyaring terdengar membelah keheningan malam, disusul suara bantingan pintu mobil yang sangat keras. Tuan Malik baru saja tiba. Nyonya Lyora yang menapakkan kakinya di anak tangga teratas seketika menegang. Matanya membulat saat menyadari derap langkah kaki suaminya yang bergemuruh masuk ke dalam rumah dengan amarah yang meledak. "Jesika! Lyora! Di mana kalian?!" teriakan Tuan Malik menggema dari lantai bawah. Semua orang tahu. Jika sesuatu terjadi pada Lily maka dokumen di pengadilan besok pagi bisa jadi berubah status menjadi cacat hukum, dan investasi dari Alvian Adhitama akan melayang. Mendengar suara ayahnya, Jesika semakin kalut. Dengan satu sentakan kasar, dia akhirnya berhasil melepaskan tangannya dari cengkeraman Lily. Tepat pada detik itu, tubuh Lily merosot pasrah ke dasar bak mandi, matanya terpejam rapat, dan rambut panjangnya mengapung dipermukaan air. Brak! Pintu kamar mandi terbuka kasar, hingga hentakannya membuat daun pintu terpanting di dinding. Tuan Malik terkesiap berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, wajahnya merah padam menatap penuh amarah. "Non Lily! Nona!" Bi Inah histeris menerobos masuk, wanita tua itu gemetar melihat majikannya sudah terkulai tak berdaya. "Nona, bertahanlah." Tuan Malik dan Bi Inah mengeluarkan Lily dari bak mandi. Tangan Tuan Malik terulur untuk memeriksa nafas putrinya, tangan lelaki itu gemetar menyadari jika Lily sudah sekarat. "Apa yang kamu lakukan, Jesika?!" raung Malik, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Jesika menggelengkan kepala dengan cepat, gadis itu ketakutan dan mundur hingga punggungnya menempel pada dinding kamar mandi yang dingin. "Bukan aku, Pa! Sumpah, bukan aku! Cewek gila ini... dia sendiri yang menjatuhkan dirinya ke dalam bak! Dia menjebakku, Pa!" "Cukup!" Malik maju satu langkah dan langsung melayangkan tamparan kedua ke pipi Jesika. Plak! "Papa!" Jesika tersungkur ke lantai kamar mandi yang basah, menangis histeris sambil memegangi pipinya. Nyonya Lyora yang baru saja tiba di ambang pintu langsung berteriak tidak terima, "Mas, cukup! Jesika berkata benar! Lily itu gila, dia bisa saja melakukan hal aneh sendiri untuk menyakiti dirinya! Kenapa kamu lebih percaya pada anak gila ini daripada anak kandungmu sendiri?!" Bi Inah menangis tersedu, dia berusaha memberikan pertolongan pertama namun Lily tak kunjung bangun. "Tuan, marahnya nanti saja." Tangis wanita tua itu menggugah hati Tuan Malik. "Nona Lily, selamatkan dia dulu." Tuan Malik mengangkat putrinya keluar dan berusaha memberikan pertolongan pertama. Dia terus menekan dada Lily dan meminta putrinya untuk bangun. "Bangun Ly, Papa di sini." Untuk pertama kalinya, Tuan Malik merasakan cemas yang teramat, sekilas bayangan almarhumah istrinya Shopia terlintas di pelupuk mata. Lyora dan putrinya hanya melihat dari sudut ruangan. Tuan Malik hampir frustasi namun usahanya tidak sia-sia. Di detik-detik terakhir Lily akhirnya terbatuk dan memuntahkan air dari mulutnya. Uhuk.. uhuk ... "Non Lily, akhirnya non sadar juga," Bi Inah tampak lega begitupun dengan Tuan Malik. "Bibi... Lily takut air...Kupu-kupunya tenggelam, Bi..." ucap Lily lemah. "Apa aku sudah sampai di tempat Bunda? Kata Jesi aku akan menyusul bunda." Mendengar racuan Lily, dada Malik bergemuruh. Dia tahu betul apa artinya itu. Jesi baru saja akan membunuh Lily. Jika tim medis atau pihak pengadilan melihat kondisi Lily yang lebam dan hampir tenggelam seperti ini besok pagi, hak wali atas saham itu tidak akan pernah beralih ke tangannya. Malik bisa dituduh melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Malik menatap istrinya dengan pandangan mematikan. "Bawa anakmu keluar dari kamar ini sekarang, Lyora! Dan pastikan dia tidak menyentuh Lily lagi sampai urusan pengadilan besok pagi selesai! Jika sampai rencana besok gagal karena ulah bodoh anakmu... aku sendiri yang akan mendepak kalian berdua dari rumah ini tanpa membawa uang sepeser pun! Paham!!" Nyonya Lyora tercekat. Keangkuhan yang tadi dia pamerkan di depan Bi Inah runtuh seketika. Dengan wajah pucat dan menahan malu yang luar biasa, dia membantu Jesika berdiri dan menyeret putrinya yang terus menangis itu keluar dari kamar Lily. Setelah kamar mandi kembali sepi, Malik menatap Bi Inah yang sedang menyelimuti tubuh Lily dengan handuk kering. "Urus dia, Bi. Pastikan besok pagi dia memakai pakaian yang tertutup untuk menutupi semua lebamnya. Jangan sampai ada orang luar yang curiga," perintah Malik dingin. Bi Inah hanya bisa mengangguk lemah. "Papa, Lily kok ngga lihat Bunda?" Tuan Malik tertegun mendengar ucapan putrinya. "Bunda mana?" "Istirahatlah, Bi Inah akan menjagamu." Tuan Malik bangkit lalu berjalan keluar. Begitu keheningan malam kembali menguasai kamar, suara Isak tangis Bi Inah tak hentinya menitikan airmata. Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Bi Inah. Perlahan, dia bangkit dan memegang dadanya. "Nona, tolong jaga diri non baik-baik. Jangan nekat seperti ini lagi." Lily tahu perasaan Bi Inah tulus kepadanya. Wanita tua itu menyayanginya layaknya seorang ibu. "Bibi, aku tahu apa yang aku lakukan, lagi pula aku juga ingin melihat apa papa masih memiliki sedikit rasa kasihan kepadaku."Pintu lift eksekutif berdenting halus, lalu terbuka memperlihatkan koridor lantai paling atas Adhitama Tower yang terlapisi karpet tebal. Atmosfer di ruang ini terasa begitu mencekam, jauh berbeda dari kebisingan wartawan di lantai dasar tadi.Di ujung lorong, dua pintu kayu mahoni besar menuju Ruang Rapat Utama terbuka lebar. Di dalam sana, puluhan anggota dewan direksi, tim kuasa hukum, serta wajah-wajah tak asing sudah berkumpul.Alvian tidak melepaskan jemari Lily. Pria itu menggenggamnya makin erat, seolah menyalurkan seluruh kekuatannya. Lily melirik genggaman itu sekilas, lalu membuang pandangan ke depan, menegakkan bahunya dan memasang raut wajah dingin tanpa celah.Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruangan, seluruh percakapan terhenti seketika. Puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka berdua.Di ujung meja rapat oval yang panjang, Tuan Adhitama duduk di kursi pimpinan. Wajah wibawanya tampak mengeras, dengan sepasang mata tajam yang menatap putra tunggalnya dan L
Lily terkekeh hampa, menyandarkan separuh tubuhnya pada daun pintu. Tatapannya meneliti wajah Alvian—mencari celah kebohongan di balik sorot mata pria yang tampak lelah namun teramat kaku itu."Ratu?" ulang Lily dengan nada mengejek yang dingin. "Jangan menggunakan istilah manis untuk menutupi kebutuhan strategimu, Alvian. Katakan saja yang sebenarnya: tanpa kehadiranku, postingan buku nikahmu cuma akan dianggap gertakan kosong oleh dewan direksi dan Tuan Adhitama."Alvian mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Rasa bersalah semalam membakar dadanya, namun keteguhan sikap Lily hari ini membuktikan bahwa benteng pertahanan istrinya sudah terkunci dari dalam. Pria itu menahan diri untuk tidak memangkas jarak atau menyentuh jemari Lily yang terkepal di balik gaun tidurnya."Terserah bagaimana kamu menilai niatku, Lily," sahut Alvian dengan suara rendah yang ditahan mati-matian agar tetap stabil. "Tapi di Jakarta, Paman Bregas dan Aluna sudah menyiapkan dokumen pembatalan hak waris atas namam
Mobil rental yang dipesan Lily membelah kegelapan malam pesisir, meninggalkan rumah kolonial yang baru beberapa jam lalu menyandang status sebagai rumah pengantin mereka. Di dalam kabin mobil yang hening, Lily menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Air mata yang sempat dia tahan di hadapan Alvian kini meluncur bebas, membasahi pipinya yang dingin.Setibanya di rumah lamanya, Bi Inah yang kaget melihat kepulangan Lily tanpa Alvian langsung menyambutnya dengan cemas. Namun Lily hanya mengulas senyum tipis yang dipaksakan."Loh Non, kok datangnya sendiri?""Nggak apa-apa, Bi. Aku cuma mau tidur di kamarku sendiri malam ini," bisik Lily parau sebelum melangkah naik ke lantai dua."Non, baik-baik saja?"Lily mengangguk sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.Dia melempar tasnya sembarangan lalu merosot di balik pintu, Lily memeluk kedua lututnya. Ingatannya berputar keras pada ucapan Alvian beberapa bulan lalu di rumah Dokter Wira—kalimat yang terpatri jelas di ingatannya tentang 'pert
Alvian mengusap puncak kepala Lily dengan lembut, menikmati raut kebingungan yang bercampur haru di wajah istrinya."Alvian, kamu tidak perlu melakukan ini. Aku tidak kekurangan apapun.""Aku tahu, rumah ini bentuk pertanggungjawabanku sebagai suamimu, meski dalam ikatan yang kita sebut sebagai kerja sama ini, aku tetap ingin memberikannya."Lily menatap lembaran sertifikat itu dengan dada yang berdesir. Mata indahnya berkaca-kaca, memandang Alvian yang kini tak hentinya menatap wajahnya."Ada apa?"Alvian menggeleng sendu."Tidak ada, ayo masuk."Lily patuh, dia mengikuti kemana Alvian pergi. "Mari, Nyonya, Tuan. Saya siapkan teh hangat dan camilan sore dulu," pamit seorang pelayan menatap hormat.Alvian mengangguk. Dan mereka langsung naik ke lantai dua.Alvian terus berada di sisinya seolah takut jauh dari Lily."Dalam ikatan yang kamu sebutkan sebagai sandiwara ini, apakah ada yang ingin kamu perjelas?" tanya Lily."Ya, aku ingin selama kontrak kita kamu menjadi dirimu sendiri."
Lily menatap Alvian dengan mata membelalak penuh kejutan. Seluruh ketenangan yang dia pertahankan sejak tadi runtuh seketika, berganti dengan kilat panik dan canggung yang membuat pipinya kian memerah hangat."A-apa? Kamu tadi panggil aku, apa?" bisik Lily terbata-bata, dia reflek melangkah mundur satu tapak.Alvian justru terkekeh pelan. Senyum jahil yang sudah sangat lama tak terlihat di wajahnya kini kembali terbit dengan begitu menawan. Pria itu memangkas jarak, meraih jemari Lily yang bergetar halus lalu menyatukannya dengan genggaman tangannya."Kenapa? Kita kan sudah resmi menikah," ujar Alvian dengan nada santai namun terdengar begitu manis di telinga. "Di depan umum, kita harus membiasakan diri. Paman Bregas dan Aluna punya mata-mata di mana-mana. Kalau kita masih bersikap kaku seperti rekan bisnis, mereka bisa curiga."Bi Inah yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menutup mulutnya, menahan tawa haru melihat kepolosan Lily dan kejahilan Alvian yang terasa begitu alami
Alvian menghela napas lega lalu berdiri mengibaskan celananya. Dia menarik kursi di hadapan Lily dan duduk kembali, memajukan tubuhnya ke meja kayu dengan sorot mata yang penuh keseriusan."Katakan, Lily. Apa pun syarat yang kamu inginkan, aku akan menyetujuinya," ujar Alvian tanpa ragu.Lily menopang dagunya, menatap Alvian dengan pandangan matang dan lugas."Pertama, pernikahan ini murni kesepakatan strategi," tegas Lily pasti. "Hanya ada surat perjanjian di atas kertas yang disahkan oleh Bima secara rahasia. Tidak ada pesta besar-besaran, tidak ada ekspos media yang berlebihan, dan tidak ada tuntutan hak kewajiban suami istri dalam kehidupan pribadi kita."Alvian diam sejenak, sorot matanya terlihat berbeda lalu mengangguk mantap. "Disetujui. Aku menghormati ruang pribadimu sepenuhnya.""Kedua," lanjut Lily, jarinya mengetuk permukaan meja pelan, "Setelah Paman Bregas dan Aluna hancur secara hukum di pengadilan, serta seluruh sisa hak milik ibuku bersih tanpa celah, kita harus lan







