LOGINSetelah perawatan selesai, kedua ibu itu pun keluar dari salon dengan langkah ringan dan hati penuh antusiasme.
“Ber, minggu depan aku ada jadwal arisan di rumah. Bagaimana kalau malam harinya sekalian kita ajak mereka makan malam?” tanya Nyonya Dina saat keduanya sedang menunggu sopir masing-masing. “Itu ide bagus. Aku akan pastikan Marsha luang malam itu,” jawab Nyonya Bertha sambil mengangguk. Keduanya pun berpisah dengan pelukan hangat dan senyum lebar. Langit Jakarta masih cerah saat itu, seakan-akan turut menyambut awal kisah baru yang mungkin akan segera berkembang menjadi cerita cinta antara Arnold Zafazel dan Marsha Livia, dua insan yang belum pernah bertemu, tapi kini tengah dipersatukan oleh harapan tulus dari dua ibu yang saling percaya. Pagi Sabtu yang cerah menyinari langit Jakarta Selatan. Udara terasa segar dengan angin lembut yang mengusap dedaunan. Di kediaman Zafazel yang megah, Arnold baru saja menghabiskan sarapan paginya, diantaranya omelet keju, roti panggang, dan secangkir espresso hangat. Saat ini Arnold mengenakan polo shirt biru dongker dan celana khaki, tampak santai namun tetap elegan. Sepasang sepatu golf putih telah menunggu di dekat pintu. “Tuan Muda Arnold, mobilnya sudah siap,” ujar salah satu staf rumah dengan sopan. “Terima kasih,” jawab Arnold singkat sambil mengenakan jam tangan dan mengambil stik golfnya. Hari ini sang CEO punya janji main golf dengan dua sahabat sekaligus kolega bisnisnya yaitu Joseph dan Farez. Sejak SMA mereka terkenal dengan julukan ARJOFA. Kedua pria itu sudah seperti saudara sendiri. Mereka sama-sama CEO muda yang meniti karier dari bawah, kini memimpin perusahaan masing-masing dengan sukses. Lapangan golf tempat ketiganya bertemu pun bukan sembarangan yaitu sebuah club eksklusif di kawasan elit Jakarta Selatan. Setibanya di lapangan, Arnold disambut hangat oleh Joseph dan Farez. “Bro! Akhirnya Lo muncul juga!” seru Farez sambil menjabat tangan Arnold erat. “He-he-he. Gue kira Lo lupa janji, Nold,” tambah Joseph sambil tertawa pelan. Arnold membalas tawa mereka. “Gue bukan tipe yang suka kabur dari pertandingan, apalagi kalau lawannya dua bapak-bapak muda seperti kalian.” “Makanya Lo buruan menikah biar tahu rasanya menjadi bapak-bapak muda!” timpal Farez. “Ha-ha-ha!” Mereka pun tertawa bersama, lalu bersiap memulai permainan. Satu per satu, ketiganya mengayunkan stik dengan penuh percaya diri. Bola putih meluncur mulus menembus angin, mendarat sempurna di atas rumput hijau yang terawat. Arnold, seperti biasa, tampil presisi. Joseph menunjukkan teknik yang stabil, sementara Farez tampil agresif namun akurat. “Lo masih jago aja, Nold,” komentar Joseph sambil mengangguk kagum setelah melihat Arnold berhasil memasukkan bola dalam satu pukulan dari jarak jauh. “Ha-ha-ha. Kebanyakan latihan karena nggak ada pacar, ya?” celetuk Farez sambil tertawa. Arnold hanya mengangkat alis dan tersenyum tipis. Setelah sekitar dua jam bermain, mereka pun duduk santai di kursi kayu rotan yang menghadap ke danau kecil di tengah lapangan. Pelayan datang menyuguhkan air kelapa dingin dan sandwich sebagai camilan ringan. “Jadi gimana, Nold, Lo sekarang lagi ngurusin proyek ekspansi ke Singapura, ya?” tanya Joseph sambil menyeruput minumannya. “Iya, masih tahap survei lahan dan negosiasi vendor. Targetnya kuartal ketiga tahun ini udah mulai operasional,” jawab Arnold serius. “Keren. Lo satu-satunya dari kita yang berani buka cabang di luar negeri duluan,” tambah Farez bangga. “Gue sama Joseph masih fokus di dalam negeri dulu.” “Peluang di sana cukup terbuka sih,” balas Arnold. “Tapi tantangannya juga nggak main-main.” Obrolan tentang bisnis mengalir lancar selama beberapa menit, sebelum Joseph menatap Arnold dengan senyum menggoda. “Tapi Nold, ngomong-ngomong soal tantangan, kapan Lo mau menantang diri lo buat nikah?” Farez langsung tertawa. “Ha-ha-ha. Nah! Ini pertanyaan yang dari tadi gue tahan-tahan!” Arnold menghela napas dan menyandarkan punggung. “Dari kalian berdua, nggak mungkin pertanyaan itu nggak keluar.” “Bagaimana nggak? Gue udah sah jadi suami Mary, yang udah gue pacarin sejak SMA,” ucap Joseph bangga. “Farez juga udah nikah sama Zera, gadis idamannya dari masa sekolah.” Arnold tersenyum tipis. “Gue tahu, kalian berdua udah menang start. Dan gue senang lihat pernikahan kalian bahagia. Tapi gue ….” “Lo kenapa?” Farez mencondongkan tubuh. “Jangan bilang Lo belum ada calon?” “Bener. Belum ada. Tapi minggu ini, nyokap sama bokap gue mengucapkan ide brilian mereka,” seru Arnold sambil menekankan nada sinis di kata brilian. Joseph tertawa. “Let me guess, perjodohan?” Arnold mengangguk. “Tepat. Gue akan dikenalin sama anak sahabat nyokap, namanya Marsha Livia.” Farez mengangkat alis. “Nama yang bagus. Lo udah pernah ketemu?” “Belum. Gue cuma dengar katanya dia kerja di dunia korporat juga. Sama-sama sibuk, sama-sama jomlo,” jawab Arnold sambil memutar gelas air kelapanya. “Lo okay dengan ide itu?” tanya Joseph hati-hati. Arnold mengangguk pelan. “Awalnya gue agak risih, jujur. Tapi pas gue pikir-pikir lagi … ya mungkin nggak ada salahnya nyoba. Toh, kenalan doang dulu. Bukan langsung dijodohin ke altar.” “Setuju,” sahut Farez. “Gue juga kenal beberapa pasangan yang awalnya dari perjodohan. Malah lebih harmonis daripada yang pacaran bertahun-tahun.” “Lagipula, Lo juga bukan tipe cowok yang bisa kenalan sembarangan. Waktu Lo habis buat kerja dan keluarga,” tambah Joseph. “Kadang orang tua itu tahu kita, lebih dari yang kita kira.” Arnold terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Iya, mungkin Lo bener. Bisa saja ini waktunya gue buka sedikit pintu buat hal yang baru.” Farez menepuk bahu Arnold. “That’s the spirit! Siapa tahu Marsha itu soulmate Lo yang udah ditungguin dari dulu.” “Minggu depan gue bakal diajak makan malam bareng dia dan orang tuanya. Nyokap gue yang atur semuanya,” ujar Arnold. “Wah… semangat ya, Bro. Jangan lupa pake parfum terbaik Lo,” celetuk Joseph sambil tertawa. “Dan jangan kaku. Tetap jadi diri Lo sendiri,” tambah Farez. Arnold mengangguk sambil tersenyum lega. Obrolan mereka perlahan berubah menjadi candaan-candaan ringan dan nostalgia masa kuliah. Namun, di dalam hati Arnold, terselip secercah harapan. Mungkin, hanya mungkin, pertemuan dengan Marsha Livia bisa menjadi babak baru dalam hidupnya, yang tak hanya dipenuhi target dan laporan, tapi juga cerita cinta yang selama ini belum dimulai. “Marsha Livia, bagaimanakah sosokmu sekarang? Apakah kamu masih ingat denganku?” seru Arnold dalam hatinya. Ternyata oh ternyata, Arnold telah menyelidiki Marsha secara diam-diam untuk memastikan sesuatu hal. Dan ternyata, ya benar. Gadis itu memang temannya saat di taman kanak-kanak dulu. Gadis cilik yang pernah bertahta di hati Arnold kecil yang selama ini dicari-cari olehnya. Pria itu benar-benar tak menyangka jika sang ibu malah berpikir untuk menjodohkannya dengan cinta masa kecilnya, yang sejak dulu masih tertinggal dalam hatinya.Di sebuah ballroom hotel bintang lima, Jakarta Selatan.Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom. Tirai putih dihiasi taburan bunga hydrangea biru dan balon-balon transparan bernuansa pastel. Sebuah backdrop besar bertuliskan, Welcome Baby Adrian, berdiri di panggung utama, dikelilingi buket bunga dan hadiah-hadiah besar berbungkus rapi.Meja-meja bundar telah tertata dengan taplak putih dan centerpieces bunga mawar dan eucalyptus. Musik lembut mengalun dari grand piano di pojok ruangan.Marsha yang tengah hamil delapan bulan tampak memesona dalam gaun maternity biru langit, rambutnya disanggul anggun. Arnold tampil elegan dengan setelan jas abu muda, berdiri di samping sang istri menyambut tamu.“Zera!” seru Marsha, matanya berbinar saat melihat sahabatnya datang menggandeng Farez, suaminya.“Marsha! Aduh kamu cantik banget, makin glowing!” balas Zera sambil memeluk pelan sahabatnya.Farez menyalami Arnold, “Wah Bro, kelas banget tempatnya. Selamat ya, calon papa!”
Menteng, Jakarta Pusat.Matahari pagi menyusup ke balik tirai jendela kamar utama. Di atas ranjang, Marsha terbangun lebih segar dari biasanya. Rasa mual di pagi hari yang selama ini menghantuinya perlahan menghilang.Dia bangkit, duduk di tepi ranjang, dan mengusap perutnya yang kini mulai sedikit membuncit.“Selamat pagi, Baby,” bisiknya sambil tersenyum.Dari arah kamar mandi, Arnold keluar dengan handuk tergantung di leher.“Pagi, Sayang. Kamu terlihat lebih fresh,” katanya sambil menghampiri.“Pagi juga, Papinya Baby,” jawab Marsha manja. “Akhirnya pagi ini aku nggak muntah. Seneng banget rasanya.”Arnold mengecup kening istrinya. “Syukurlah. Ternyata trimester kedua memang benar kata dokter, badan kamu mulai menyesuaikan.”Marsha bangkit dan berjalan ke meja rias. “Hari ini aku mau ke showroom di Kemang. Klien kita mau liat mock-up kamar anak. Kamu ikut?”Arnold tertawa sambil mengambil jas kerjanya. “Kalau aku ikut, kantor bisa kosong. Tapi nanti sore aku pulang cepat. Soalny
Menteng, Jakarta Pusat, tiga hari setelah kunjungan ke dokter.Sejak dokter mengkonfirmasi kehamilan Marsha, suasana rumah Arnold dan Marsha berubah total. Di sela kesibukan mereka, keduanya mulai mencicil persiapan kecil-kecilan. Namun kabar itu belum mereka sampaikan kepada siapapun, hingga hari ini.Di ruang keluarga, Marsha duduk di sofa sambil memandangi layar ponsel, gugup.“Aku sudah kirim pesan ke Mami dan Papi,” katanya sambil melirik suaminya.Arnold yang sedang menuangkan jus jeruk ke gelas tertawa pelan. “Mereka pasti langsung nelepon. Siap-siap telingamu panas.”Tak sampai lima menit, benar saja. Ponsel Marsha bergetar. Nama Mami Bertha muncul di layar.“Marsha!” Terdengar suara mami Marsha di ujung telepon, penuh haru. “Ini bener? Kamu hamil?”Marsha menahan tawa. “Iya, Mi. Baru lima minggu. Aku juga kaget.”Terdengar suara Papi Eben berseru di belakang, “Puji syukur kepada Tuhan! Akhirnya Papi akan punya cucu!”Marsha dan Arnold tertawa bersama.“Arnold harus jaga kam
Udara pagi di kawasan Menteng menyapa lembut lewat jendela besar rumah modern minimalis dua lantai yang kini menjadi milik pasangan baru, Arnold dan Marsha. Matahari baru saja naik, memantulkan cahaya ke lantai marmer putih dan menyorot lukisan-lukisan kontemporer yang menghiasi ruang tamu mereka.Marsha duduk di meja makan sambil menyeruput teh melati hangat, rambutnya masih digulung handuk karena baru selesai mandi. Di meja, laptop dan sketsa interior berserakan.Arnold, mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan dasi biru, berjalan turun dari lantai atas sambil memegang iPad-nya."Sayang, kamu lihat file presentasiku nggak? Yang semalam aku taruh di meja kerja?" tanya Arnold, membuka-buka tas kerja kulitnya.Marsha tersenyum dan menunjuk ke meja dekat televisi. "Tadi aku pindahin ke situ. Takut ketumpahan teh aku."Arnold mengangguk, lalu berjalan ke arah yang ditunjuk. "Thanks, ya. Hari ini aku ada meeting besar sama investor dari Singapura. Nggak boleh ada yang miss.""Semanga
Pagi di Valencia membawa suasana segar. Matahari memancarkan cahaya keemasan yang membias lembut di jendela kamar hotel tempat Arnold dan Marsha menginap. Dari balkon kamar mereka, pemandangan kota yang masih tenang terlihat indah dan megah.Marsha, yang baru selesai mengeringkan rambutnya, berjalan ke balkon sambil menyeruput teh hangat dari cangkir putih."Hariku terasa sempurna saat bangun dan bisa melihat kota seperti ini," gumamnya.Arnold, yang sedang memasang jam tangan, melirik ke arah istrinya. "Dan makin sempurna karena kamu ada di sini."Marsha tersenyum, matanya menatap Arnold penuh kasih. “Jadi, kita ke mana hari ini?”“Pertama kita ke Valencia Cathedral. Katanya dari menara katedral, kita bisa lihat seluruh kota,” jawab Arnold sambil memeriksa peta digital di ponselnya.Mereka pun bersiap, mengenakan pakaian kasual namun rapi, Arnold dengan kemeja abu-abu dan celana khaki, Marsha mengenakan blus hijau pastel dan rok panjang dengan syal tipis yang melambai saat tertiup an
Setelah beberapa hari penuh petualangan di Zaragoza, Arnold dan Marsha melanjutkan perjalanan bulan madu mereka ke kota yang cerah dan penuh kehidupan, Valencia. Kereta cepat AVE yang mereka tumpangi meluncur mulus di antara ladang jeruk dan pegunungan kecil, membawa mereka dari timur laut Spanyol ke pesisir timur yang hangat.Ketika mereka tiba di stasiun Joaquín Sorolla, matahari pagi menyambut dengan sinarnya yang lembut. Langit biru tanpa awan dan udara segar dari Laut Mediterania langsung memberi kesan santai dan menyenangkan.“Kita udah di Valencia, Sayang,” ujar Arnold sambil menarik koper mereka.Marsha menghela napas dalam, menikmati aroma laut yang samar. “Kota ini punya energi yang beda, ya. Cerah, tapi tenang.”Tujuan pertama mereka adalah City of Arts and Sciences, kompleks arsitektur modern paling terkenal di Valencia. Keduanya naik taksi, dan sepanjang jalan, Marsha tak berhenti menatap ke luar jendela.“Lihat bangunan itu!” serunya saat mereka melintasi Palau de les Ar







