Home / Romansa / TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU / 42. Setelah Pulang dari Bulan Madu

Share

42. Setelah Pulang dari Bulan Madu

last update Last Updated: 2026-01-21 17:53:23

Udara pagi di kawasan Menteng menyapa lembut lewat jendela besar rumah modern minimalis dua lantai yang kini menjadi milik pasangan baru, Arnold dan Marsha. Matahari baru saja naik, memantulkan cahaya ke lantai marmer putih dan menyorot lukisan-lukisan kontemporer yang menghiasi ruang tamu mereka.

Marsha duduk di meja makan sambil menyeruput teh melati hangat, rambutnya masih digulung handuk karena baru selesai mandi. Di meja, laptop dan sketsa interior berserakan.

Arnold, mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan dasi biru, berjalan turun dari lantai atas sambil memegang iPad-nya.

"Sayang, kamu lihat file presentasiku nggak? Yang semalam aku taruh di meja kerja?" tanya Arnold, membuka-buka tas kerja kulitnya.

Marsha tersenyum dan menunjuk ke meja dekat televisi.

"Tadi aku pindahin ke situ. Takut ketumpahan teh aku."

Arnold mengangguk, lalu berjalan ke arah yang ditunjuk.

"Thanks, ya. Hari ini aku ada meeting besar sama investor dari Singapura. Nggak boleh ada yang miss."

"Semanga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU    45. Welcome Baby Adrian

    Di sebuah ballroom hotel bintang lima, Jakarta Selatan.Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom. Tirai putih dihiasi taburan bunga hydrangea biru dan balon-balon transparan bernuansa pastel. Sebuah backdrop besar bertuliskan, Welcome Baby Adrian, berdiri di panggung utama, dikelilingi buket bunga dan hadiah-hadiah besar berbungkus rapi.Meja-meja bundar telah tertata dengan taplak putih dan centerpieces bunga mawar dan eucalyptus. Musik lembut mengalun dari grand piano di pojok ruangan.Marsha yang tengah hamil delapan bulan tampak memesona dalam gaun maternity biru langit, rambutnya disanggul anggun. Arnold tampil elegan dengan setelan jas abu muda, berdiri di samping sang istri menyambut tamu.“Zera!” seru Marsha, matanya berbinar saat melihat sahabatnya datang menggandeng Farez, suaminya.“Marsha! Aduh kamu cantik banget, makin glowing!” balas Zera sambil memeluk pelan sahabatnya.Farez menyalami Arnold, “Wah Bro, kelas banget tempatnya. Selamat ya, calon papa!”

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU    44. Acara Tujuh Bulanan

    Menteng, Jakarta Pusat.Matahari pagi menyusup ke balik tirai jendela kamar utama. Di atas ranjang, Marsha terbangun lebih segar dari biasanya. Rasa mual di pagi hari yang selama ini menghantuinya perlahan menghilang.Dia bangkit, duduk di tepi ranjang, dan mengusap perutnya yang kini mulai sedikit membuncit.“Selamat pagi, Baby,” bisiknya sambil tersenyum.Dari arah kamar mandi, Arnold keluar dengan handuk tergantung di leher.“Pagi, Sayang. Kamu terlihat lebih fresh,” katanya sambil menghampiri.“Pagi juga, Papinya Baby,” jawab Marsha manja. “Akhirnya pagi ini aku nggak muntah. Seneng banget rasanya.”Arnold mengecup kening istrinya. “Syukurlah. Ternyata trimester kedua memang benar kata dokter, badan kamu mulai menyesuaikan.”Marsha bangkit dan berjalan ke meja rias. “Hari ini aku mau ke showroom di Kemang. Klien kita mau liat mock-up kamar anak. Kamu ikut?”Arnold tertawa sambil mengambil jas kerjanya. “Kalau aku ikut, kantor bisa kosong. Tapi nanti sore aku pulang cepat. Soalny

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU    43. Kebahagiaan Keluarga Besar

    Menteng, Jakarta Pusat, tiga hari setelah kunjungan ke dokter.Sejak dokter mengkonfirmasi kehamilan Marsha, suasana rumah Arnold dan Marsha berubah total. Di sela kesibukan mereka, keduanya mulai mencicil persiapan kecil-kecilan. Namun kabar itu belum mereka sampaikan kepada siapapun, hingga hari ini.Di ruang keluarga, Marsha duduk di sofa sambil memandangi layar ponsel, gugup.“Aku sudah kirim pesan ke Mami dan Papi,” katanya sambil melirik suaminya.Arnold yang sedang menuangkan jus jeruk ke gelas tertawa pelan. “Mereka pasti langsung nelepon. Siap-siap telingamu panas.”Tak sampai lima menit, benar saja. Ponsel Marsha bergetar. Nama Mami Bertha muncul di layar.“Marsha!” Terdengar suara mami Marsha di ujung telepon, penuh haru. “Ini bener? Kamu hamil?”Marsha menahan tawa. “Iya, Mi. Baru lima minggu. Aku juga kaget.”Terdengar suara Papi Eben berseru di belakang, “Puji syukur kepada Tuhan! Akhirnya Papi akan punya cucu!”Marsha dan Arnold tertawa bersama.“Arnold harus jaga kam

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU    42. Setelah Pulang dari Bulan Madu

    Udara pagi di kawasan Menteng menyapa lembut lewat jendela besar rumah modern minimalis dua lantai yang kini menjadi milik pasangan baru, Arnold dan Marsha. Matahari baru saja naik, memantulkan cahaya ke lantai marmer putih dan menyorot lukisan-lukisan kontemporer yang menghiasi ruang tamu mereka.Marsha duduk di meja makan sambil menyeruput teh melati hangat, rambutnya masih digulung handuk karena baru selesai mandi. Di meja, laptop dan sketsa interior berserakan.Arnold, mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan dasi biru, berjalan turun dari lantai atas sambil memegang iPad-nya."Sayang, kamu lihat file presentasiku nggak? Yang semalam aku taruh di meja kerja?" tanya Arnold, membuka-buka tas kerja kulitnya.Marsha tersenyum dan menunjuk ke meja dekat televisi. "Tadi aku pindahin ke situ. Takut ketumpahan teh aku."Arnold mengangguk, lalu berjalan ke arah yang ditunjuk. "Thanks, ya. Hari ini aku ada meeting besar sama investor dari Singapura. Nggak boleh ada yang miss.""Semanga

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU    41. Beruntungnya Aku Dicintai Olehmu

    Pagi di Valencia membawa suasana segar. Matahari memancarkan cahaya keemasan yang membias lembut di jendela kamar hotel tempat Arnold dan Marsha menginap. Dari balkon kamar mereka, pemandangan kota yang masih tenang terlihat indah dan megah.Marsha, yang baru selesai mengeringkan rambutnya, berjalan ke balkon sambil menyeruput teh hangat dari cangkir putih."Hariku terasa sempurna saat bangun dan bisa melihat kota seperti ini," gumamnya.Arnold, yang sedang memasang jam tangan, melirik ke arah istrinya. "Dan makin sempurna karena kamu ada di sini."Marsha tersenyum, matanya menatap Arnold penuh kasih. “Jadi, kita ke mana hari ini?”“Pertama kita ke Valencia Cathedral. Katanya dari menara katedral, kita bisa lihat seluruh kota,” jawab Arnold sambil memeriksa peta digital di ponselnya.Mereka pun bersiap, mengenakan pakaian kasual namun rapi, Arnold dengan kemeja abu-abu dan celana khaki, Marsha mengenakan blus hijau pastel dan rok panjang dengan syal tipis yang melambai saat tertiup an

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU    40. Valencia Dengan Berjuta Pesona

    Setelah beberapa hari penuh petualangan di Zaragoza, Arnold dan Marsha melanjutkan perjalanan bulan madu mereka ke kota yang cerah dan penuh kehidupan, Valencia. Kereta cepat AVE yang mereka tumpangi meluncur mulus di antara ladang jeruk dan pegunungan kecil, membawa mereka dari timur laut Spanyol ke pesisir timur yang hangat.Ketika mereka tiba di stasiun Joaquín Sorolla, matahari pagi menyambut dengan sinarnya yang lembut. Langit biru tanpa awan dan udara segar dari Laut Mediterania langsung memberi kesan santai dan menyenangkan.“Kita udah di Valencia, Sayang,” ujar Arnold sambil menarik koper mereka.Marsha menghela napas dalam, menikmati aroma laut yang samar. “Kota ini punya energi yang beda, ya. Cerah, tapi tenang.”Tujuan pertama mereka adalah City of Arts and Sciences, kompleks arsitektur modern paling terkenal di Valencia. Keduanya naik taksi, dan sepanjang jalan, Marsha tak berhenti menatap ke luar jendela.“Lihat bangunan itu!” serunya saat mereka melintasi Palau de les Ar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status