LOGINSenin sore itu, langit di Kawasan Gading Serpong mulai meredup, menyisakan rona jingga yang lembut menyinari pepohonan di halaman rumah mewah milik Keluarga Eben. Sebuah mobil SUV putih berhenti perlahan di depan gerbang rumah, dan dari dalamnya keluar seorang wanita muda dengan penampilan elegan namun terlihat lelah.
“Akhirnya, aku sampai juga di rumah. Duh, capeknya!” keluhnya. Marsha Livia, gadis cantik yang berusia dua puluh lima tahun, sedang mengenakan blazer abu muda dengan celana bahan warna krem. Wajahnya cantik meski sedikit lelah, namun gadis itu maklum, hari Senin memang selalu padat, apalagi di dunia desain interior yang penuh revisi mendadak dan klien perfeksionis. Begitu langkah kakinya menyentuh teras, pintu rumah langsung terbuka. “Marsha Sayang, akhirnya kamu pulang juga, Nak,” sambut Nyonya Bertha, Sang ibu dengan senyum hangat di wajahnya. Wanita cantik itu mengenakan daster batik lembut dan sandal rumah, terlihat nyaman dan keibuan. “Maaf Mami, tadi sempat ada rapat tambahan di site project yang di Senayan,” jawab Marsha sambil mencium pipi ibunya dengan lembut. Dari dalam ruang keluarga, terdengar suara TV yang menyala. Tuan Eben, ayah Marsha, duduk santai di sofa besar dengan tangan memegang remote. “Pulang juga akhirnya gadis pekerja keras kita,” ucap Tuan Eben sambil tersenyum. “Lancar kerjaannya, Sha?” “Lancar, Pi. Cuma ya itu ... klien nggak bisa tenang kalau belum gonta-ganti layout lima kali,” jawab Marsha sambil tersenyum tipis. Nyonya Bertha menggamit tangan putrinya. “Sha, kamu mandi dulu, ya. Bersihin badan. Setelah itu Mami sama Papi mau ngobrol sedikit denganmu.” Marsha mengerutkan dahi, sedikit heran dengan nada serius ibunya. “Ngobrol seriuskah?” tanya lagi. “Yap, serius banget!” Kali ini Papi Eben yang angkat bicara. Tentang apa sih, Mi?” Marsha ternyata sangat penasaran. “Nanti saja deh, setelah kamu selesai mandi dan lebih segar. Pasti kamu capek, kan?” jawab ibunya, masih dengan senyum yang penuh arti. “Hmm ... baiklah. Pi, Mi, aku mandi dulu,” sahut Marsha dengan nada penasaran. Gadis cantik itu pun lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya yang luas dan modern, dominan warna krem dan putih, dengan sentuhan dekorasi elegan hasil desainnya sendiri. Begitu memasuki kamar, Marsha menjatuhkan tas kerja ke sofa kecil di sudut ruangan, melepas sepatu high heels-nya, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur empuk dengan selimut putih bersih. “Huh! Capeknya aku hari ini! Tapi apa ya, yang mau Papi dan Mami omongin ke aku?” gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya. “Nggak biasanya Mami dan Papi kelihatan setegas dan seserius itu.” Marsha menghela napas panjang. Lalu bangkit perlahan dan berjalan menuju kamar mandi pribadinya. Bathtub berbentuk oval di pojok ruangan itu tampak mengundangnya untuk segera masuk. Dia membuka kran air hangat, lalu menuangkan sedikit sabun mandi cair aroma rosemary favoritnya. Busa perlahan memenuhi bathtub. Setelah melepas pakaian kerja dan mengenakan handuk, Marsha pun masuk dan berendam. Air hangat segera melingkupi tubuhnya, memberi sensasi relaksasi yang sangat dibutuhkan setelah hari panjang. “Apakah Mami dan Papi mau ngomongin soal perusahaan?” pikirnya. “Tapi kayaknya nggak, deh. Nada suara Mami tadi … lebih kayak, personal?” Marsha memejamkan mata sejenak, menikmati harum rosemary dan kehangatan air yang menenangkan. Namun pikirannya terus bertanya-tanya. “Masa ... soal jodoh?” gumamnya tiba-tiba, dan Marsha tertawa sendiri. “Ha-ha-ha, nggak mungkin. Mereka tahu aku masih sibuk kerja. Lagian aku kan belum cerita siapa pun yang lagi dekat denganku. Eh, emang nggak ada sih.” Setelah sekitar dua puluh menit berendam, Marsha pun bangkit dari bathtub dan mengeringkan tubuhnya. Gadis itu pun mengenakan piyama satin berwarna biru muda dan mengikat rambutnya dengan karet kecil. Saat dia keluar dari kamar mandi, aroma rosemary dari tubuhnya tercium samar. Marsha benar-benar merasa segar sekarang. Tak lama kemudian, suara lembut ibunya terdengar dari lantai bawah. “Sha, kalau kamu sudah siap, Mandi turun ya, Nak. Papi sudah nunggu di ruang keluarga dari tadi.” “Iya, Mi!” sahut Marsha sambil mengambil ponselnya dari atas meja. Dia pun melangkah pelan menuruni tangga, menyusuri koridor yang dihiasi foto-foto masa kecilnya. Di ruang keluarga, Tuan Eben duduk bersandar di kursi favoritnya sambil meneguk teh hangat, sementara Nyonya Bertha sudah duduk di sofa panjang, mempersilakan putrinya duduk di antara mereka. Marsha duduk perlahan, memperhatikan wajah kedua orang tuanya yang tampak serius tapi penuh kasih. “Jadi... ini tentang apa, Mi, Pi?” tanyanya lembut. Nyonya Bertha saling pandang dengan suaminya, lalu mulai berbicara. “Sha … Mami sama Papi tahu kamu lagi sibuk banget dengan pekerjaan. Kami bangga banget sama kamu, bisa memimpin tim desain interior di perusahaan keluarga dan punya klien besar. Tapi, ada hal lain yang juga penting.” Marsha mengangguk pelan. “Aku ngerti, Mi … tapi maksudnya apa?” Tuan Eben angkat bicara. “Kami cuma ingin kamu juga punya kehidupan pribadi yang bahagia, Nak. Sekarang Zera dan Mary, dua teman kamu itu sudah pada menikah, kan? Mami dan Papi cuma khawatir kamu terlalu fokus kerja sampai lupa membangun sebuah hubungan.” Marsha tertawa pelan, meski agak canggung. “He-he-he. Memangnya Mami sama Papi tahu aku jomlo?” “Kami tahu banget,” jawab Nyonya Bertha sambil tersenyum. “Makanya, Mami mau bicara soal sesuatu yang penting. Tapi tolong jangan salah sangka dulu, ya.” Marsha menegakkan tubuhnya. “Apa itu, Mi?” “Kemarin Mami ketemu sama sahabat Mami waktu kuliah dulu, Tante Dina. Putranya, Arnold Zafazel. Kamu mungkin pernah dengar namanya.” “Arnold?” Marsha memutar ingatan. “CEO AZ Corp?” “Iya,” jawab Tuan Eben. “Papi dan Mami kenal baik dengan keluarganya. Anaknya sopan, cerdas, dan sukses. Kedua orang tuanya juga bilang Arnold masih single. Nah, mereka ingin mengenalkan kalian berdua.” Marsha membelalak kecil. “Tunggu, ini maksudnya, dijodohin?” “Bukan langsung nikah, Sayang,” ucap Nyonya Bertha cepat-cepat. “Cuma dikenalin dulu. Ketemu, ngobrol, lihat apakah cocok. Nggak ada paksaan. Tapi siapa tahu ini jalan yang Tuhan buka untuk kalian berdua.” Marsha terdiam beberapa detik. Dia tidak menolak ide itu, hanya saja kaget karena tiba-tiba. “Aku nggak keberatan dikenalin dengan siapapun, Mi, Pi, asalkan nggak buru-buru. Aku butuh waktu untuk mengenal seseorang.” “Itu juga yang diminta Arnold,” ucap Tuan Eben. “Dia juga maunya kenalan dulu, nggak langsung serius.” Marsha mengangguk pelan. “Baiklah, kalau begitu aku setuju. Siapa tahu memang ini jalanku.” Nyonya Bertha langsung memeluk putrinya dengan bahagia. “Mami senang kamu mau coba, Sayang. Nanti kita atur pertemuannya, ya?” Marsha tersenyum tipis. “Okay, Mi. Tapi please ... jangan langsung pesenin gedung resepsi, ya!” candanya. Tuan Eben tertawa. “Ha-ha-ha. Tenang aja, Sayang. Kita orang tua, bukan agen wedding planner.” “Ha-ha-ha!” Marsha dan ibunya ikut tertawa. Malam itu, di rumah hangat yang penuh cinta, sebuah babak baru dalam hidup Marsha Livia mulai disiapkan, dengan langkah pelan, tapi pasti.Di sebuah ballroom hotel bintang lima, Jakarta Selatan.Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom. Tirai putih dihiasi taburan bunga hydrangea biru dan balon-balon transparan bernuansa pastel. Sebuah backdrop besar bertuliskan, Welcome Baby Adrian, berdiri di panggung utama, dikelilingi buket bunga dan hadiah-hadiah besar berbungkus rapi.Meja-meja bundar telah tertata dengan taplak putih dan centerpieces bunga mawar dan eucalyptus. Musik lembut mengalun dari grand piano di pojok ruangan.Marsha yang tengah hamil delapan bulan tampak memesona dalam gaun maternity biru langit, rambutnya disanggul anggun. Arnold tampil elegan dengan setelan jas abu muda, berdiri di samping sang istri menyambut tamu.“Zera!” seru Marsha, matanya berbinar saat melihat sahabatnya datang menggandeng Farez, suaminya.“Marsha! Aduh kamu cantik banget, makin glowing!” balas Zera sambil memeluk pelan sahabatnya.Farez menyalami Arnold, “Wah Bro, kelas banget tempatnya. Selamat ya, calon papa!”
Menteng, Jakarta Pusat.Matahari pagi menyusup ke balik tirai jendela kamar utama. Di atas ranjang, Marsha terbangun lebih segar dari biasanya. Rasa mual di pagi hari yang selama ini menghantuinya perlahan menghilang.Dia bangkit, duduk di tepi ranjang, dan mengusap perutnya yang kini mulai sedikit membuncit.“Selamat pagi, Baby,” bisiknya sambil tersenyum.Dari arah kamar mandi, Arnold keluar dengan handuk tergantung di leher.“Pagi, Sayang. Kamu terlihat lebih fresh,” katanya sambil menghampiri.“Pagi juga, Papinya Baby,” jawab Marsha manja. “Akhirnya pagi ini aku nggak muntah. Seneng banget rasanya.”Arnold mengecup kening istrinya. “Syukurlah. Ternyata trimester kedua memang benar kata dokter, badan kamu mulai menyesuaikan.”Marsha bangkit dan berjalan ke meja rias. “Hari ini aku mau ke showroom di Kemang. Klien kita mau liat mock-up kamar anak. Kamu ikut?”Arnold tertawa sambil mengambil jas kerjanya. “Kalau aku ikut, kantor bisa kosong. Tapi nanti sore aku pulang cepat. Soalny
Menteng, Jakarta Pusat, tiga hari setelah kunjungan ke dokter.Sejak dokter mengkonfirmasi kehamilan Marsha, suasana rumah Arnold dan Marsha berubah total. Di sela kesibukan mereka, keduanya mulai mencicil persiapan kecil-kecilan. Namun kabar itu belum mereka sampaikan kepada siapapun, hingga hari ini.Di ruang keluarga, Marsha duduk di sofa sambil memandangi layar ponsel, gugup.“Aku sudah kirim pesan ke Mami dan Papi,” katanya sambil melirik suaminya.Arnold yang sedang menuangkan jus jeruk ke gelas tertawa pelan. “Mereka pasti langsung nelepon. Siap-siap telingamu panas.”Tak sampai lima menit, benar saja. Ponsel Marsha bergetar. Nama Mami Bertha muncul di layar.“Marsha!” Terdengar suara mami Marsha di ujung telepon, penuh haru. “Ini bener? Kamu hamil?”Marsha menahan tawa. “Iya, Mi. Baru lima minggu. Aku juga kaget.”Terdengar suara Papi Eben berseru di belakang, “Puji syukur kepada Tuhan! Akhirnya Papi akan punya cucu!”Marsha dan Arnold tertawa bersama.“Arnold harus jaga kam
Udara pagi di kawasan Menteng menyapa lembut lewat jendela besar rumah modern minimalis dua lantai yang kini menjadi milik pasangan baru, Arnold dan Marsha. Matahari baru saja naik, memantulkan cahaya ke lantai marmer putih dan menyorot lukisan-lukisan kontemporer yang menghiasi ruang tamu mereka.Marsha duduk di meja makan sambil menyeruput teh melati hangat, rambutnya masih digulung handuk karena baru selesai mandi. Di meja, laptop dan sketsa interior berserakan.Arnold, mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan dasi biru, berjalan turun dari lantai atas sambil memegang iPad-nya."Sayang, kamu lihat file presentasiku nggak? Yang semalam aku taruh di meja kerja?" tanya Arnold, membuka-buka tas kerja kulitnya.Marsha tersenyum dan menunjuk ke meja dekat televisi. "Tadi aku pindahin ke situ. Takut ketumpahan teh aku."Arnold mengangguk, lalu berjalan ke arah yang ditunjuk. "Thanks, ya. Hari ini aku ada meeting besar sama investor dari Singapura. Nggak boleh ada yang miss.""Semanga
Pagi di Valencia membawa suasana segar. Matahari memancarkan cahaya keemasan yang membias lembut di jendela kamar hotel tempat Arnold dan Marsha menginap. Dari balkon kamar mereka, pemandangan kota yang masih tenang terlihat indah dan megah.Marsha, yang baru selesai mengeringkan rambutnya, berjalan ke balkon sambil menyeruput teh hangat dari cangkir putih."Hariku terasa sempurna saat bangun dan bisa melihat kota seperti ini," gumamnya.Arnold, yang sedang memasang jam tangan, melirik ke arah istrinya. "Dan makin sempurna karena kamu ada di sini."Marsha tersenyum, matanya menatap Arnold penuh kasih. “Jadi, kita ke mana hari ini?”“Pertama kita ke Valencia Cathedral. Katanya dari menara katedral, kita bisa lihat seluruh kota,” jawab Arnold sambil memeriksa peta digital di ponselnya.Mereka pun bersiap, mengenakan pakaian kasual namun rapi, Arnold dengan kemeja abu-abu dan celana khaki, Marsha mengenakan blus hijau pastel dan rok panjang dengan syal tipis yang melambai saat tertiup an
Setelah beberapa hari penuh petualangan di Zaragoza, Arnold dan Marsha melanjutkan perjalanan bulan madu mereka ke kota yang cerah dan penuh kehidupan, Valencia. Kereta cepat AVE yang mereka tumpangi meluncur mulus di antara ladang jeruk dan pegunungan kecil, membawa mereka dari timur laut Spanyol ke pesisir timur yang hangat.Ketika mereka tiba di stasiun Joaquín Sorolla, matahari pagi menyambut dengan sinarnya yang lembut. Langit biru tanpa awan dan udara segar dari Laut Mediterania langsung memberi kesan santai dan menyenangkan.“Kita udah di Valencia, Sayang,” ujar Arnold sambil menarik koper mereka.Marsha menghela napas dalam, menikmati aroma laut yang samar. “Kota ini punya energi yang beda, ya. Cerah, tapi tenang.”Tujuan pertama mereka adalah City of Arts and Sciences, kompleks arsitektur modern paling terkenal di Valencia. Keduanya naik taksi, dan sepanjang jalan, Marsha tak berhenti menatap ke luar jendela.“Lihat bangunan itu!” serunya saat mereka melintasi Palau de les Ar







