LOGIN“Terserah. Ambil apa aja yang kalian mau, hari ini aku yang traktir!” sahut Bagas tanpa menoleh, matanya terus mengunci tatapan Sinta.
Sinta mematung, tak percaya. Bagaimana bisa Bagas yang dikenalnya ojol kere tapi punya uang segepok? Matanya melotot lebar menatap tumpukan uang merah di depannya. Sikap judes dan cibirannya langsung amblas tanpa sisa, berganti dengan rasa takjub campur malu yang membuat pipinya merona. Ia menelan ludah susah payah. Uang di meja itu lebih dari cukup untuk menutup omzet warungnya selama dua hari penuh! “E-eh... Mas Bagas... ya ampun, kok repot-repot banget sih, Mas?” Nada suara Sinta mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, begitu manis dan mendesah manja. “Duduk dulu, Mas... biar Sinta bikinin kopi spesial khusus buat Mas Bagas ya...” Uang mampu mengubah segalanya, dan itu juga terjadi pada Lina. Istrinya juga berubah karena uang. Karena lembar kertas itu, Bagas dicampakkan, dikhianati, bahkan diinjak-injak harga dirinya. Tapi sekarang, satu per satu, akan ia tunjukkan kekuatan seseorang yang terbuang. Bagas menunggu, ujung jarinya mengetuk permukaan meja. Tatapnya terus tertuju pada Sinta, berusaha mencari celah untuk membawanya ke ranjang secara halus, tanpa ada curiga. Sinta buru-buru menyeduh kopi dengan gerakan yang sengaja dibuat menggoda. Pinggulnya meliuk-liuk, dan dadanya yang montok berguncang lembut di balik kaos ketatnya. “Mas Bagas....” panggilnya manja seraya membawa cangkir kopi dengan tubuh yang meliuk pelan. Sinta mengantarkan secangkir kopi panas ke meja pojok tempat Bagas duduk bersandar. Bukannya meletakkan cangkir lalu pergi, Sinta justru mencondongkan badannya sangat rendah hingga aroma parfum melati murahan yang ia pakai langsung menusuk hidung Bagas. *Cup.* Dada montok Sinta yang padat dan kenyal itu sengaja digesekkan ke pundak kokoh Bagas. Gerakannya begitu halus, seolah-olah ia cuma kehilangan keseimbangan tanpa sengaja. Tehnik yang luar biasa, yang biasa digunakan oleh wanita murahan menggaet mangsa, tapi kali ini, bukan Bagas mangsanya, melainkan sebaliknya. “Aduh, maaf ya Mas Bagas... sempit mejanya, nggak sengaja kesenggol,” bisik Sinta dengan mata mengerling liar, bibirnya hampir menyentuh telinga Bagas. Keduanya sangat dekat, hingga embus napas Sinta yang hangat menyapu leher Bagas. Tubuh bagian depan wanita itu masih menempel rapat di lengan pria itu, membiarkan Bagas merasakan betapa empuk dan kencangnya gundukan di balik kaos tipisnya. Bagas menoleh pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Dalam jarak sedekat ini, Bagas mengakui bahwa meski tabiatnya busuk, fisik Sinta memang luar biasa menggairahkan. Tubuhnya padat berisi, kulitnya mulus, dan tatapan matanya memancarkan rasa haus yang liar. Bagas mengangguk pelan. Tangannya merogoh saku, lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribu lagi dan menyelipkannya langsung ke saku celemek Sinta, tepat di samping pinggul ramping wanita itu. “Buat kamu,” bisik Bagas dengan tatapan mata teduh namun menusuk. “Wajahmu cantik, ini buat tambah-tambah beli skincare. Kalau kurang, kamu bilang aja. Jangan sungkan.” Mata Sinta seketika berbinar liar. Jantungnya berdegup kencang bukan main. Baru kali ini ada pria tampan yang begitu enteng menyawernya uang ratusan ribu hanya untuk alasan beli bedak! Rasa gengsi dan cibirannya tempo hari lenyap tertelan serakah. Ia seolah lupa bahwa kemarin ia merendahkan Bagas. Sinta langsung merapatkan tubuhnya makin berani, jemari lentiknya mulai mengusap lembut punggung tangan Bagas di atas meja. “Ya ampun... Mas Bagas perhatian banget sih jadi cowok. Padahal dulu Sinta judes ya? Maaf ya Mas kalau kemarin, Sinta galak. Jangan kapok datang ke sini, Mas... Sinta jadi pengen nemenin Mas terus deh..." Namun, tepat di saat jemari Sinta mengelus punggung tangan Bagas, hawa dingin yang menusuk tulang seketika berganti menjadi panas membakar! Cincin akik hitam legam yang melingkar di jari manis Bagas berdenyut kencang! Batu akik itu mendadak memancarkan aura panas yang luar biasa, seolah sedang mendidihkan darah di pembuluh tangan Bagas! ‘Ada apa?’ Bagas mengerutkan kening, namun ia tetap mempertahankan aktingnya di depan wanita itu. Perasaan aneh menggetar di dada, Bagas menatap cincin akik tersebut. DZZZZTTT! Di dalam rongga kepala Bagas, sebuah suara geraman berat, kasar, dan menggelegar mendadak meledak bagai sambaran petir di siang bolong: “AKU MAU WANITA ITU, BAGAS!!” Suara gaib milik Raja Gagak itu begitu buas dan penuh nafsu hewani yang membakar. “TUBUHNYA... DADA BESARNYA... BAUNYA MASIH MURNI!! SERAHKAN WANITA MONTOK ITU PADAKU SEKARANG JUGA!! BAWA DIA KE RANJANG ATAU AKU YANG AKAN MENGHISAP HABIS JIWAMU!!” Bagas tercekat. Napasnya langsung memburu, dahinya dipenuhi butiran keringat dingin menahan tekanan aura gaib yang begitu mencekik lehernya. Rasa sakit berdenyut di jarinya semakin menjadi-jadi. Cincin itu menuntut tumbal sekarang juga! ‘Sial! Bagaimana ini?’ Bagas berpikir keras. Sinta yang melihat Bagas tiba-tiba berkeringat dan menatapnya tajam justru tersenyum manja, menyangka Bagas sedang kepalang terangsang oleh belahan dadanya. ”Mas Bagas... kok bengong?” Bagas menelan ludah getir, menatap wajah Sinta dengan kebingungan yang membuncah di dadanya. Syaratnya sudah jelas: apa pun caranya, ia harus mencekoki Sinta dengan cairan gaib dari Mbah Jono, dan membiarkan tubuhnya dirasuki sang iblis untuk menuntaskan ritual penumbalan. Tapi masalah besarnya: seumur hidupnya, Bagas cuma pernah tidur dengan Lina—istri sah yang dinikahinya secara resmi! Meski wajahnya tampan dan bertubuh tegap, Bagas tidak pernah tertarik pada wanita yang bukan miliknya. Ia, pria lurus dan tidak punya pengalaman dalam urusan *one night stand*, merayu wanita nakal, apalagi mengajak janda agresif check-in ke hotel melati. “Mas Bagas....” Sinta memanggil, lalu menyandarkan kepala pada pundak Bagas yang kokoh, jari lentiknya menyusuri lengan Bagas yang penuh otot. “Mas nggak mau ngajak aku ke mana gitu? Jalan-jalan gitu, Mas.” Bagas menoleh, masih berpikir bagaimana caranya dia membawa wanita binal ini ke ranjang tanpa dicurigai warga atau malah kena razia sebelum ritual selesai?“Terserah. Ambil apa aja yang kalian mau, hari ini aku yang traktir!” sahut Bagas tanpa menoleh, matanya terus mengunci tatapan Sinta. Sinta mematung, tak percaya. Bagaimana bisa Bagas yang dikenalnya ojol kere tapi punya uang segepok? Matanya melotot lebar menatap tumpukan uang merah di depannya. Sikap judes dan cibirannya langsung amblas tanpa sisa, berganti dengan rasa takjub campur malu yang membuat pipinya merona. Ia menelan ludah susah payah. Uang di meja itu lebih dari cukup untuk menutup omzet warungnya selama dua hari penuh! “E-eh... Mas Bagas... ya ampun, kok repot-repot banget sih, Mas?” Nada suara Sinta mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, begitu manis dan mendesah manja. “Duduk dulu, Mas... biar Sinta bikinin kopi spesial khusus buat Mas Bagas ya...” Uang mampu mengubah segalanya, dan itu juga terjadi pada Lina. Istrinya juga berubah karena uang. Karena lembar kertas itu, Bagas dicampakkan, dikhianati, bahkan diinjak-injak harga dirinya. Tapi sekarang,
Siang itu, matahari menyengat ubun-ubun di kawasan pangkalan truk. Debu jalanan beterbangan tertiup angin panas, membuat suasana sekitar kian gerah dan pengap. Warung kopi bambu milik Sinta tampak ramai dipenuhi sopir-sopir berbadan legam dan para pemuda kampung yang sengaja nongkrong berdesakan. Mereka datang hanya demi menikmati lekuk tubuh sintal sang janda pirang. Memesan satu cangkir kopi hitam seharga empat ribu perak, mereka sanggup bertahan duduk berjam-jam sambil memandangi tubuh Sinta yang sengaja dibalut pakaian serba minim. Bagas memarkir motor matik bututnya agak jauh di bawah naungan pohon rindang. Pria itu menatap warung bambu dari kejauhan dengan tarikan napas tertata rapi. Tangan kanannya merogoh saku celana jeans kusam, menggenggam erat amplop cokelat kecil berisi sisa tabungan terakhir. Uang darurat sebesar satu juta rupiah—dana simpanan yang rencananya mau dipakai mencicil motor dan mencari kontrakan agar tak lagi hidup serumah dengan mertua yang gemar mencaci
"Apa pilihan ini sudah benar atau tidak?" Sepanjang jalan, kalimat itu terus memenuhi kepala Bagas. Jujur, ia masih takut Tuhan, tapi dendam dan rasa sakitnya melampui batas. Hingga akhirnya, deru motor butut Bagas akhirnya mati tepat di ujung jalan setapak lereng Gunung Salak. Pria itu memberanikan tekad, tak ada jalan kembali. Kabut tebal yang turun pelan-pelan, menusuk kulitnya yang cuma terbalut jaket ojol kusam. Bau tanah basah sisa hujan campur dedaunan busuk membuat bulu kuduk berdiri, tapi semua itu tidak akan menghentikan langkahnya. Bahkan dinginnya hutan tidak sebanding dengan sakit hati Bagas. “Nggak. Aku harus kaya!” Bagas menanamkan kata itu dalam-dalam. Demi mendapatkan kekayaan yang ia ingin, akal sehatnya tak mampu berpikir secara rasional. Dari petunjuk obrolan bapak-bapak di warung kopi, ia nekat menerobos semak belukar, membiarkan tubuhnya tertusuk duri-duri kecil, sampai akhirnya berdiri di depan sebuah gubuk kayu reyot di tengah lebatnya pepohonan y
“Diam! Tutup mulutmu, Bagas!” sergah Bu Ratna jauh lebih galak. “Nurdin itu laki-laki, wajar kalau dia butuh pelampiasan apalagi Rika jauh! Daripada dia beli di luar sana, belum tentu ceweknya bersih, gimana kalau punya penyakit? Nggak cuma itu aja, Nurdin itu PNS, kalau sampai ketahuan sama cewek nggak bener, nanti ngaruh di pekerjaan dia! Ibu ini nggak mau sampai menantu Ibu kenapa-kenapa, dan Ibu nggak mau rumah tangga Rika dan Nurdin malah dirusak sama cewek di luar sana!” “Itu pemikiran yang salah, Bu!” Bagas jelas tak bisa menerima pendapat mertuanya yang melenceng. “Salah atau tidak, bukan kamu yang menilai! Sekarang minggir sana, jangan kotori ruang makan ini! Baumu itu loh, nyebar kemana-mana. Pantes aja, Lina lebih suka sama Nurdin, dia wangi. Nggak kayak kamu, bau keringat, bensin, apek, campur-campur, nggak jelas!" Di tengah amarah yang membakar dada, Bagas bergegas menyusul Lina yang sedang berada di dalam kamar tidur mereka. Ia langsung membanting pintu kamar, m
“Bahkan di ranjang pun nggak bisa muasin dia! Lina sendiri yang datang, dia sendiri yang menawarkan diri, dan ya, aku cuma menjawab apa yang dia mau. Dia minta dijamah, minta dibiayain hidupnya! Dan tahu kenapa? Itu karena kamu nggak sanggup ngasih kehidupan yang Lina mau!” Lina yang meringkuk di sudut kasur tak berani menatap mata Bagas, tapi bibirnya tetap menggumam sinis dari balik selimut. “Pergi kamu, Mas... aku nggak sudi punya suami sampah kayak kamu ...” Kata-kata itu bagai belati tajam yang dihujamkan berulang kali tepat di ulu hati Bagas. Seluruh tulang di tubuhnya terasa remuk, hidupnya hancur, sehancur-hancurnya. Cinta, ketulusan, dan pengorbanan banting tulang yang ia berikan selama bertahun-tahun dibalas dengan pengkhianatan paling hina di bawah selimut rumah mertuanya sendiri. Bagas gelap mata, ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat, melangkah maju hendak menghajar wajah sok Nurdin. "Mati! Mati saja kamu, Bangsat!" Tinju Bagas terangkat, tetapi sebelum tinju itu m
Ketika sampai rumah, saat Bagas melangkah perlahan ke pintu depan dan melepas helm kusamnya, dia merasa aneh saat melihat pintu kayu jati itu tidak terkunci rapat, melainkan sedikit renggang menyisakan celah tipis. "Ini aneh," gumam Bagas sambil mengernyitkan dahi. Biasanya Bu Ratna cerewet sekali soal mengunci pintu rumah sebelum tidur. Tanpa prasangka apa-apa, Bagas mendorong daun pintu pelan-pelan tanpa menimbulkan decitan. Hawa dingin dari lantai ruang tamu langsung menyapa telapak kakinya yang bertelanjang. Rumah itu sunyi senyap, hanya denting jam samar yang terdengar. Namun, saat Bagas melangkahkan kaki melewati lorong menuju kamarnya, telinganya mendadak menangkap keanehan. Perasaannya mulai tak tenang. Bagas menatap tajam sekeliling, suara itu bukan dari kamar ibunya, bukan pula dari kamarnya sendiri. Suara itu berasal dari kamar tamu—kamar ber-AC yang biasanya hanya dipakai keluarga besar kalau sedang menginap di akhir pekan. Kriet... kriet... Derit ranjang ka







