MasukLangkah kaki Reyhan terasa sedikit lebih ringan saat melangkah keluar dari halaman rumah keluarga besar. Pengumuman dimajukannya rapat pemegang saham luar biasa memang seperti vonis mati bagi kariernya, tetapi respons tenang yang ia tunjukkan di hadapan para paman setidaknya berhasil menahan gelombang prasangka buruk yang lebih parah.Di dalam mobil dalam perjalanan kembali ke rumah lama pinggiran kota, Malikha duduk di sampingnya. Ia melirik suaminya dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga."Mas Reyhan luar biasa tadi," tutur Malikha lembut, memecah keheningan di antara mereka. "Mas berhasil mengendalikan ego dan tidak terpancing provokasi Om Burhan. Cara Mas menerima pembekuan itu dengan adab yang tinggi justru membungkormu mulut orang-orang yang menuduh Mas tidak objektif."Reyhan tersenyum tipis, menghembuskan napas panjang sembari menatap jalanan di depannya. "Aku tidak akan bisa melakuka
Pagi hari di halaman samping rumah keluarga Al-Fahri terasa begitu mencekam. Pertemuan keluarga besar yang mendadak digelar oleh Om Burhan tidak bertempat di ruang rapat kantor pusat, melainkan di kediaman senior keluarga. Keputusan ini diambil secara cerdik untuk menciptakan tekanan sosial yang kuat dari sanak saudara, sekaligus menghindari pengawasan publik.Reyhan dan Malikha berjalan berdampingan memasuki ruangan. Tatapan dingin dan bisik-bisik miring dari para paman, bibi, serta sepupu langsung menyambut kehadiran mereka. Malikha menggenggam jemarinya sendiri di depan gamisnya, mencoba menata debaran dada sembari mempertahankan adab dan ketenangannya. Di sampingnya, Reyhan melangkah dengan rahang yang mengeras, berusaha menahan amarah yang bergolak di dalam batin."Terima kasih sudah datang, Reyhan, Malikha," panggil Om Burhan dari ujung meja kayu panjang, tersenyum dengan raut prihatin yang dibuat-buat di hadapan belasa
Surat panggilan sidang pleno darurat yang terpampang di layar gawai membangkitkan badai baru sebelum fajar menyingsing. Tanpa menunggu pagi, Reyhan langsung menggunakan akses akun pimpinan senior miliknya untuk menahan draf keputusan pencopotan permanen tersebut melalui portal resmi yayasan. Namun, harapan itu hancur berantakan dalam hitungan detik. Layar gawai hanya menampilkan pesan merah tebal: Akses Ditolak. Kewenang Hak Asah Anda Telah Dinetralkan oleh Sekretariat Komisaris.Reyhan mendengkus kasar, melempar gawai itu ke atas meja kayu hingga berdentang nyaring. "Sistem portal pimpinan sudah mengunciku keluar, Malikha! Om Burhan mencabut seluruh hak akses eksekutifku sebelum sidang pleno bahkan dimulai besok pagi. Ini bukan lagi ancaman, ini pembantaian wewenang secara sepihak!"Malikha yang berdiri di dekat lemari pendingin segera menghampiri suaminya. Wajahnya tet
Pintu depan tertutup pelan, meninggalkan keheningan tebal setelah kepulangan Pak Maman. Saksi kunci yang paling mereka harapkan telah mundur karena termakan narasi palsu Om Burhan. Kekalahan itu memukul telak benteng pertahanan mental Reyhan. Di ruang tengah rumah lama, pria itu duduk di lantai berbingkai karpet tipis, menyandarkan punggungnya pada kaki sofa kayu dengan tatapan kosong.Malikha berjalan dari arah dapur membawakan segelas air putih hangat. Ia menaruh gelas itu di meja kecil, lalu ikut duduk bersila di atas lantai, menjaga jarak beberapa jengkal dari suaminya demi memelihara adab dan kesantunan yang anggun."Mas Reyhan, minum dulu," panggil Malikha dengan nada bicara yang begitu lembut, mencoba mengurai ketegangan yang membeku di wajah sang suami.Reyhan meraih gelas tersebut, jemarinya bergetar pelan. Suara seraknya memecah keheningan. "Aku gagal lagi, Malikha. Satu-satunya saksi ku
Suasana pagi di rumah lama pinggiran kota terasa begitu menenangkan saat mentari menembus celah jendela. Di meja makan kayu, Malikha baru saja menuangkan teh hangat ke cangkir Reyhan. Namun, ketenangan privat itu mendadak terusik ketika Hendra datang membawa lembaran draf cetakan dari grup komunikasi internal yayasan Al-Fahri."Ada apa, Hendra?" tanya Reyhan, menghentikan gerakannya yang hendak menyesap teh.Hendra menunduk ragu, lalu meletakkan lembaran draf tersebut di atas meja. "Mohon maaf, Pak Reyhan, Bu Malikha. Om Burhan dan tim dewan baru saja memublikasikan narasi resmi mengenai alasan pembekuan jabatan Anda. Pesannya dikemas sangat halus, seolah-olah dewan sedang berusaha menyelamatkan reputasi keluarga."Reyhan mengambil kertas itu dan membacanya. Wajahnya perlahan memerah, rahangnya mengetat menahan amarah yang meletup. Dalam narasi tersebut, Om Burhan tidak menggunakan kata tuduhan kr
Malam beranjak hangat di rumah lama pinggiran kota. Sebuah lampu gantung menyala temaram di atas meja kayu sederhana, menerangi dua piring nasi goreng telur buatan Malikha. Aroma bumbu tumis yang harum memenuhi ruang makan kecil itu, menggantikan atmosfer kaku yang biasa menyelimuti meja rapat Al-Fahri."Mas Reyhan, dicoba dulu," tutur Malikha lembut sembari menarik kursi kayu untuk duduk di hadapan suaminya. Ia tetap menjaga jarak dan adab kesantunan yang anggun, menatap Reyhan dengan binar mata yang Teduh.Reyhan memegang sendoknya, lalu menyuapkan porsi kecil ke dalam mulutnya. Sebuah senyuman tulus yang sudah lama menghilang akhirnya terbit di wajah pria itu. "Masakanmu selalu punya cara untuk menenangkan pikiranku, Malikha. Di sini, tanpa gelar CEO dan riuk-piuk kantor pusat, rasa makanannya justru jauh lebih nikmat.""Alhamdulillah jika Mas menyukainya," balas Malikha dengan rona merah tipis
Malam kembali turun menaungi kota, membawa sisa-sisa ketegangan dari ruang sidang pleno yang baru saja ditunda. Manuver agresif Tante Rania untuk menggabungkan paksa aset panti asuhan berhasil ditahan untuk sementara waktu berkat intervensi mendadak dari dewan penasihat hukum senior Al-Fahri. Meski
Malam yang tenang kembali menyelimuti apartemen setelah badai pesan singkat dari Clarissa meredakan tawa kecil mereka. Di atas meja makan, cangkir teh yang mulai mendingin menjadi saksi bisu dua pasang mata yang menatap lurus ke depan, merenungi bayangan konflik baru yang mulai bersemi sebelum lu
"Pak Reyhan, apa Anda sadar dengan apa yang baru saja Anda ucapkan?"Petugas berwajib menatap Reyhan dengan pandangan serius. Ruangan itu kini dilingkupi keheningan yang mencekam. Semua orang menahan napas, tidak percaya dengan keputusan gila yang diambil oleh sang CEO muda."Saya sadar sepenuhnya,
Ruang pemeriksaan di lantai eksekutif terasa sedingin es. Malikha duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua tangan yang saling meremas di atas pangkuan. Di hadapannya, bukan lagi sekadar auditor internal, melainkan dua orang petugas berwajib berseragam lengkap yang sengaja didatangkan oleh kubu Ibu K







