Mag-log inSeorang pria melangkah masuk dengan langkah tegap, diiringi para pengawal Belanda. Tubuh jangkung, seragam militer dengan hiasan emas, mata biru yang menusuk dari kejauhan. Letnan Rembrandt.
Keributan kecil terdengar di antara tamu. Bisik-bisik mengalir deras. “Bukan Wiratama… siapa itu? Mengapa yang datang justru serdadu Belanda?” Cempaka membeku. Tangannya mencengkeram erat kain kebaya, wajahnya pucat pasi. Ia ingin bangkit, ingin berteriak bahwa ini semua salah, tapi tubuhnya tak mampu bergerak. Letnan Rembrandt berjalan semakin dekat, sorot matanya tidak beranjak dari wajah Cempaka. Senyum tipis muncul di bibirnya, senyum yang pernah begitu dekat di malam kelam itu. Juru caraka mengumumkan dengan suara lantang, “Inilah mempelai pria, Letnan Rembrandt, yang atas perintah dan restu Adipati Aryotedjo, akan bersanding dengan Raden Ayu Cempaka.” Pendapa bergemuruh. Sebagian tamu saling berpandangan, sebagian terdiam bingung. Para abdi dalem menunduk dalam-dalam, tak berani bersuara. Sementara itu, hati Cempaka seakan hancur berkeping-keping. Malam tadi, Wiratama sendiri yang meyakinkannya—tapi kini ia tidak ada. Digantikan sosok asing yang justru membawa dosa masa lalu ke hadapan semua orang. Letnan Rembrandt kini berdiri tepat di hadapannya. Ia menunduk sedikit, lalu mengulurkan tangan, sorot matanya berkilat penuh arti. Senyum sinisnya hanya bisa terbaca jelas oleh Cempaka: Aku telah menunggumu. Pendapa yang semula riuh dengan suara gamelan mendadak terasa sunyi dan sesak. Dunia seolah berhenti berputar ketika Cempaka menatap lelaki berseragam itu berdiri di hadapannya—bukan Raden Wiratama, bukan lelaki yang dijanjikan kepadanya sejak kecil, melainkan sosok yang selama berminggu-minggu ia coba lupakan. Napasnya tercekat. Jemarinya bergetar hebat saat perlahan ia menoleh ke arah kursi kehormatan tempat sang ayah duduk. Raden Aryotedjo—laki-laki yang selama hidupnya ia anggap sebagai panutan, pelindung, dan sosok paling ia percaya—balas menatapnya. Namun tatapan itu bukan lagi pancaran wibawa seorang bangsawan yang teguh seperti biasanya. Kini, mata sang ayah dipenuhi oleh sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya: penyesalan yang dalam, kelelahan, dan rasa bersalah yang teramat nyata. Cempaka merasa seluruh tubuhnya lunglai. “Ayah…” bibirnya bergerak tanpa suara. Raden Aryotedjo tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengalihkan pandangan ke lantai, seolah tak sanggup menahan sorot mata putrinya yang penuh pertanyaan dan luka. Di tengah kekacauan batinnya, suara berat namun tenang menyelinap di telinganya. “Apa yang kau khawatirkan, Raden Ayu?” bisiknya pelan, nyaris terdengar seperti godaan. “Bukankah memang seharusnya begini? Mengingat apa yang sudah pernah kita lakukan.” Urat leher Cempaka menegang. Darahnya mendidih. Ia memandangnya dengan tatapan tajam penuh kemarahan. “Jaga bicaramu, Letnan!” desisnya tertahan di sela napas yang tersengal. “Pernikahan ini… justru tak boleh terjadi!” Rembrandt tidak tampak terkejut. Ia bahkan menyeringai tipis, seperti menikmati kepanikan yang tergambar jelas di wajah Cempaka. “Kenapa?” ujarnya santai, langkahnya sedikit maju mendekat. “Ah… apa kau berpikir kau masih bisa memilih, Raden Ayu?” Cempaka mengerutkan kening, hatinya diliputi kegelisahan yang kian menjadi-jadi. “Apa maksudmu?” “Melihat reaksimu,” ucap Rembrandt pelan namun tajam, “sepertinya kamu belum tahu apa yang terjadi, ya?” Cempaka menggigit bibir bawahnya, jemarinya mengepal kuat di atas pangkuan. “Katakan dengan jelas, apa maksud ucapanmu?” suaranya bergetar, antara kemarahan dan ketakutan. Rembrandt menatapnya lama, lalu perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia mendekat begitu dekat hingga Cempaka dapat merasakan hangat napasnya di sisi telinga. “Wiratama,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar oleh siapa pun selain dirinya,"dia sudah menjualmu padaku."Taman di kediaman Rembrandt tidak pernah sehijau pagi ini. Aroma tanah basah setelah hujan semalam menguap, bercampur dengan wangi bunga kemuning yang mekar di sudut pagar. Cempaka melangkah pelan di jalan setapak berbatu, jemarinya sesekali menyentuh kelopak mawar yang masih menyimpan butiran embun. Di sampingnya, Raden Aryotedjo berjalan dengan tangan tertaut di belakang punggung, langkahnya tidak lagi secepat dulu, namun dagunya tetap tegak dengan martabat yang kini lebih tenang. Pieter memperhatikan mereka dari beranda rumah, berdiri menyandar pada pilar putih besar sambil menyesap kopi terakhirnya. Ia sengaja memberikan ruang bagi ayah dan anak itu untuk menambal lubang-lubang di hati mereka yang sempat koyak. "Ayah akan kembali ke kadipaten sore ini," ucap Raden Aryotedjo memecah kesunyian. Beliau berhenti di bawah pohon kamboja tua, menatap bayangan dedaunan yang menari di atas rumput."Berkat suamimu, kehormatan Ayah dipulihkan dan jabatan itu dikembalikan pada Ayah seba
Percakapan hangat di meja makan itu terhenti saat suara derit sepatu bot yang tergesa-gesa bergema di lorong pualam. Sosok Bentley muncul di ambang pintu ruang makan. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak kaku dengan gurat kelelehan yang nyata, namun matanya memancarkan ketegasan seorang prajurit yang baru saja menyelesaikan misi krusial. Ia berdiri tegak, melakukan penghormatan militer sesaat sebelum melangkah mendekat ke arah Pieter. "Mohon maaf mengganggu sarapan Anda, Letnan. Ada kabar penting dari markas pusat dan kurir khusus dari Batavia," ujar Ben dengan suara bariton yang stabil. Ia mengangguk hormat pada Raden Aryotedjo dan Cempaka sebelum meletakkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua di atas meja, sedikit menjauh dari piring nasi liwet. Pieter menyeka mulutnya dengan serbet linen putih, lalu meraih map tersebut. "Katakan, Ben. Tidak perlu ada yang dirahasiakan di meja ini." Ben menarik napas pendek, pandangannya menyapu isi ruangan. "Pembersihan telah sele
Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela jati yang besar di kediaman Rembrandt, membawa serta aroma melati yang basah oleh embun dari taman depan. Di ruang makan utama rumah megah bergaya kolonial itu, suasana biasanya sunyi dan kaku, hanya diisi oleh denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen Delft Blue kegemaran Pieter. Namun pagi ini, udara terasa berbeda—lebih ringan, seolah beban berton-ton yang selama ini menekan atap rumah itu telah diangkat paksa oleh badai semalam. Raden Aryotedjo duduk di salah satu kursi kayu berukir yang biasanya ditempati tamu kehormatan Pieter. Beliau mengenakan beskap harian berwarna gading yang tampak sedikit kontras dengan arsitektur rumah bergaya Eropa tersebut. Rambutnya yang memutih tertutup blangkon dengan lipatan sempurna. Di hadapannya, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis. Tangannya yang mulai keriput memegang koran De Locomotief, namun matanya tidak benar-benar membaca barisan kalimat di sana. Langkah kak
Cempaka memejamkan mata, namun alih-alih terlelap, benaknya justru berkelana mundur ke masa setahun yang lalu. Ia mencoba memanggil kembali ingatan tentang malam di alun-alun itu. Di bawah dekapan hangat Pieter, narasi suaminya seolah menjelma menjadi mesin waktu yang menariknya kembali ke tengah keriuhan pasar malam Yogyakarta. "Pasar malam itu..." Cempaka bergumam, suaranya parau oleh rasa tidak percaya. "Aku ingat genangan airnya. Hujan baru saja berhenti, dan bau aspal basah bercampur dengan aroma bakaran sate dari kejauhan. "Tapi aku benar-benar tidak melihatmu, Pieter. Bagaimana mungkin seorang perwira Belanda dengan seragam mentereng bisa luput dari pandanganku?" Pieter terkekeh, dadanya naik turun dengan tenang. "Karena aku berdiri di tempat di mana bayangan pohon beringin paling pekat, Mevrouw. Aku tidak ingin merusak suasana. "Kehadiran seragam militer di tengah rakyat yang sedang bersuka cita biasanya hanya akan membawa kecemasan. Aku hanya ingin menjadi penonton mala
Malam semakin melarut, namun kantuk seolah enggan singgah di paviliun utama kediaman Rembrandt. Suara jangkrik di luar jendela terdengar seperti simfoni yang menemani sisa-sisa ketegangan yang perlahan menguap dari dinding kamar. Cahaya lampu minyak yang temaram menari-nari di langit-langit, memantulkan bayangan dua insan yang tengah berbaring bersisian. Mencoba mencari kedamaian di tengah puing-puing badai keluarga yang baru saja reda. Pieter menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati berukir, sementara Cempaka merebahkan kepala di dada bidang suaminya. Jemari Pieter yang kasar namun penuh kasih bergerak ritmis, mengusap helai demi helai rambut hitam Cempaka yang tergerai bebas. "Mevrouw, ada hal yang harus kuakui padamu," ucap Pieter memecah keheningan. Suaranya berat, membawa nada pengakuan yang tulus. Cempaka merasakan getaran di dada Pieter saat pria itu berbicara. Ia mendongak, menatap garis rahang suaminya yang tampak kokoh di bawah cahaya re
Lampu di paviliun belakang telah diganti dengan yang baru, namun bayang-bayang masa lalu seolah masih melekat di sudut-sudut langit-langitnya. Cempaka melangkah perlahan, melewati ambang pintu tempat kakaknya baru saja diseret keluar. Bau keringat dan ketegangan Pramana mulai memudar, digantikan oleh aroma kayu manis dari tungku kecil yang dibawa Sriah untuk menghangatkan ruangan. Di sudut paviliun, Lastri meringkuk di atas balai-balai. Ia tidak lagi menjerit, namun tubuhnya masih bergetar ritmis. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat, jemarinya mencengkeram kain jarik yang menutupi perutnya yang masih rata. "Mbak Sriah, biarkan kami bicara berdua," ucap Cempaka lembut. Sriah mengangguk patuh, memberikan pandangan iba terakhir pada Lastri sebelum keluar dan menutup pintu dengan suara klik yang pelan. Cempaka tidak langsung mendekat. Ia duduk di kursi kayu dekat balai-balai, membiarkan kehadirannya dirasakan oleh Lastri tanpa tekanan. "Dia sudah pergi, Las,"







