MasukMalam itu, rembulan bulat menggantung di langit, memandikan halaman rumah Adipati Aryotedjo dengan cahaya pucat. Cempaka belum juga terlelap. Jantungnya berdegup cepat, seakan setiap dentum menandai waktu yang kian menipis menuju hari besarnya.
Ia duduk di sisi ranjang, memeluk lutut, tatapannya kosong ke arah lantai. Bayangan malam itu—tawa kasar serdadu, genggaman dingin Letnan Rembrandt, dan aib yang kini menghantui dirinya—terus muncul. Ketukan lembut di jendela membuat tubuhnya tersentak. Jantungnya melompat ke tenggorokan. Perlahan ia menoleh, lantas membuka jendela kayu yang tertutup tirai sutra. “Wira…” bisiknya terperangah. Pemuda itu memberi isyarat agar ia membuka jendela. Dengan tangan gemetar, Cempaka mendorong bingkai kayu itu, dan seketika Wiratama melangkah masuk dengan gesit. Napasnya teratur, seakan kehadirannya di tengah malam adalah hal biasa. “Maafkan aku, Cempaka,” katanya dengan suara tenang. “Aku tak bisa menunggu esok hari. Aku ingin melihatmu malam ini, sebelum semuanya berubah.” Cempaka mundur selangkah, menahan debar yang mengguncang dadanya. “Wira… ini berbahaya. Jika ayah atau Nyai Rengganis tahu…” Wiratama tersenyum tipis, menatapnya dalam-dalam. “Aku tidak peduli. Yang penting, aku harus meyakinkanmu. Kau terlihat gelisah akhir-akhir ini. Ada apa, Cempaka?” Pertanyaan itu bagaikan pisau menembus jantungnya. Cempaka menunduk, bibirnya bergetar, namun tak ada kata yang keluar. “Aku… aku hanya takut,” jawabnya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. Wiratama mendekat, menggenggam tangannya dengan hangat. “Jangan takut. Besok semuanya akan baik-baik saja. Kau akan menjadi istriku, dan aku akan menjagamu. Tak ada yang bisa mengganggu kita.” Cempaka memejamkan mata. Kata-kata itu seharusnya menenangkan, namun justru menambah beban di dadanya. 'Aku telah berkhianat padamu… aku tidak pantas…' Wiratama mengusap jemarinya, lalu menunduk sedikit, seakan menyembunyikan sesuatu di balik sorot matanya. “Percayalah, Cempaka. Bahkan jika ada hal yang ingin kau sembunyikan dariku… aku akan tetap menerimamu. Semua akan baik-baik saja.” Cempaka menatapnya dengan kaget. Kata-kata itu begitu menusuk. Apakah Wiratama tahu sesuatu? Atau hanya firasat? Senyumnya terlihat tulus, namun ada keteduhan aneh yang justru membuat hatinya makin tak tenang. “Wira…” suaranya pecah. “Aku…” Namun Wiratama menempelkan jari di bibirnya, menghentikan pengakuan yang nyaris meluncur. “Ssst… tidak perlu berkata apa-apa malam ini. Simpanlah tenagamu untuk esok. Itu hari kita.” Lalu ia melepaskan genggaman, mundur ke arah jendela. “Aku akan menunggumu di pelaminan. Ingatlah, Cempaka. Apa pun yang terjadi, aku ada di pihakmu.” */*/ Keesokan harinya, pagi di kediaman Adipati Aryotedjo diselimuti kesibukan yang gegap gempita. Sejak fajar, para abdi dalem dan perias mondar-mandir membawa baki berisi bunga, minyak wangi, kain panjang, dan perhiasan. Suara gamelan sudah bergema di pendapa, menyambut para tamu yang mulai berdatangan. Di kamar pengantin, Cempaka duduk di kursi rias. Tubuhnya dipenuhi wewangian, rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya dirias dengan teliti. Para perias bekerja dengan penuh konsentrasi, menambahkan bedak halus, menyapukan pemerah bibir, dan menyematkan hiasan emas di sanggulnya. Namun di balik kecantikan yang terpancar, hati Cempaka dilanda badai. Setiap tarikan napas terasa berat. Matanya sesekali menatap bayangannya di cermin perunggu. Wajah yang tersenyum itu seperti milik orang asing. Di luar, terdengar suara gong besar ditabuh—pertanda bahwa pesta akan segera dimulai. Sorak sorai tamu menggema, bercampur dengan suara gamelan yang semakin meriah. Lastri berdiri di belakangnya, menggenggam tangan tuannya dengan erat. “Den Ayu… jangan takut. Semuanya akan berjalan lancar.” Cempaka hanya tersenyum tipis. Namun dalam hatinya, ia tahu bahwa hari ini bukan sekadar pernikahan. Hari ini adalah pengadilan—antara kehormatan yang ia kenakan di wajahnya, dan aib yang tersembunyi jauh di hatinya. "Permisi Den Ayu, prosesi pernikahan akan dilangsungkan sebentar lagi. Harap menuju pendapa sekarang." Seorang pelayan yang lain memberikan pengumuman. Cempaka hanya mengangguk sesaat. Dibantu Lastri, ia menuju pendapa kediaman Adipati Aryotedjo. Para tamu dari kalangan bangsawan, pejabat kolonial, hingga tetua desa sudah memenuhi bangku panjang yang disediakan. Mereka berbisik-bisik sembari menunggu prosesi dimulai. Gamelan ditabuh riang, suara gong menggelegar, dan sinden melantunkan tembang Jawa penuh sukacita. Dari kursi pengantin yang ditinggikan, Cempaka duduk anggun, tubuhnya tegap namun jemari bergetar di atas pangkuan. Kebaya putih keemasan membalut tubuhnya, sanggul tinggi berhias roncean melati memancarkan keanggunan, tetapi wajahnya pucat seperti kertas. Lastri berdiri di samping, sesekali membetulkan kain panjang tuannya. “Den Ayu, sebentar lagi. Bersabarlah…” bisiknya lirih. Cempaka menelan ludah. Dadanya sesak. Ia menunggu saat pintu gerbang dibuka dan calon suaminya masuk. Bayangan Raden Wiratama muncul dalam benaknya: lelaki gagah berwibawa, wajahnya kaku namun dihormati semua orang. Namun ketika gamelan berhenti sejenak, gong dipukul panjang, dan suara juru caraka menggema. Sosok yang muncul membuat darah Cempaka serasa berhenti mengalir seketika.Taman di kediaman Rembrandt tidak pernah sehijau pagi ini. Aroma tanah basah setelah hujan semalam menguap, bercampur dengan wangi bunga kemuning yang mekar di sudut pagar. Cempaka melangkah pelan di jalan setapak berbatu, jemarinya sesekali menyentuh kelopak mawar yang masih menyimpan butiran embun. Di sampingnya, Raden Aryotedjo berjalan dengan tangan tertaut di belakang punggung, langkahnya tidak lagi secepat dulu, namun dagunya tetap tegak dengan martabat yang kini lebih tenang. Pieter memperhatikan mereka dari beranda rumah, berdiri menyandar pada pilar putih besar sambil menyesap kopi terakhirnya. Ia sengaja memberikan ruang bagi ayah dan anak itu untuk menambal lubang-lubang di hati mereka yang sempat koyak. "Ayah akan kembali ke kadipaten sore ini," ucap Raden Aryotedjo memecah kesunyian. Beliau berhenti di bawah pohon kamboja tua, menatap bayangan dedaunan yang menari di atas rumput."Berkat suamimu, kehormatan Ayah dipulihkan dan jabatan itu dikembalikan pada Ayah seba
Percakapan hangat di meja makan itu terhenti saat suara derit sepatu bot yang tergesa-gesa bergema di lorong pualam. Sosok Bentley muncul di ambang pintu ruang makan. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak kaku dengan gurat kelelehan yang nyata, namun matanya memancarkan ketegasan seorang prajurit yang baru saja menyelesaikan misi krusial. Ia berdiri tegak, melakukan penghormatan militer sesaat sebelum melangkah mendekat ke arah Pieter. "Mohon maaf mengganggu sarapan Anda, Letnan. Ada kabar penting dari markas pusat dan kurir khusus dari Batavia," ujar Ben dengan suara bariton yang stabil. Ia mengangguk hormat pada Raden Aryotedjo dan Cempaka sebelum meletakkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua di atas meja, sedikit menjauh dari piring nasi liwet. Pieter menyeka mulutnya dengan serbet linen putih, lalu meraih map tersebut. "Katakan, Ben. Tidak perlu ada yang dirahasiakan di meja ini." Ben menarik napas pendek, pandangannya menyapu isi ruangan. "Pembersihan telah sele
Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela jati yang besar di kediaman Rembrandt, membawa serta aroma melati yang basah oleh embun dari taman depan. Di ruang makan utama rumah megah bergaya kolonial itu, suasana biasanya sunyi dan kaku, hanya diisi oleh denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen Delft Blue kegemaran Pieter. Namun pagi ini, udara terasa berbeda—lebih ringan, seolah beban berton-ton yang selama ini menekan atap rumah itu telah diangkat paksa oleh badai semalam. Raden Aryotedjo duduk di salah satu kursi kayu berukir yang biasanya ditempati tamu kehormatan Pieter. Beliau mengenakan beskap harian berwarna gading yang tampak sedikit kontras dengan arsitektur rumah bergaya Eropa tersebut. Rambutnya yang memutih tertutup blangkon dengan lipatan sempurna. Di hadapannya, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis. Tangannya yang mulai keriput memegang koran De Locomotief, namun matanya tidak benar-benar membaca barisan kalimat di sana. Langkah kak
Cempaka memejamkan mata, namun alih-alih terlelap, benaknya justru berkelana mundur ke masa setahun yang lalu. Ia mencoba memanggil kembali ingatan tentang malam di alun-alun itu. Di bawah dekapan hangat Pieter, narasi suaminya seolah menjelma menjadi mesin waktu yang menariknya kembali ke tengah keriuhan pasar malam Yogyakarta. "Pasar malam itu..." Cempaka bergumam, suaranya parau oleh rasa tidak percaya. "Aku ingat genangan airnya. Hujan baru saja berhenti, dan bau aspal basah bercampur dengan aroma bakaran sate dari kejauhan. "Tapi aku benar-benar tidak melihatmu, Pieter. Bagaimana mungkin seorang perwira Belanda dengan seragam mentereng bisa luput dari pandanganku?" Pieter terkekeh, dadanya naik turun dengan tenang. "Karena aku berdiri di tempat di mana bayangan pohon beringin paling pekat, Mevrouw. Aku tidak ingin merusak suasana. "Kehadiran seragam militer di tengah rakyat yang sedang bersuka cita biasanya hanya akan membawa kecemasan. Aku hanya ingin menjadi penonton mala
Malam semakin melarut, namun kantuk seolah enggan singgah di paviliun utama kediaman Rembrandt. Suara jangkrik di luar jendela terdengar seperti simfoni yang menemani sisa-sisa ketegangan yang perlahan menguap dari dinding kamar. Cahaya lampu minyak yang temaram menari-nari di langit-langit, memantulkan bayangan dua insan yang tengah berbaring bersisian. Mencoba mencari kedamaian di tengah puing-puing badai keluarga yang baru saja reda. Pieter menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati berukir, sementara Cempaka merebahkan kepala di dada bidang suaminya. Jemari Pieter yang kasar namun penuh kasih bergerak ritmis, mengusap helai demi helai rambut hitam Cempaka yang tergerai bebas. "Mevrouw, ada hal yang harus kuakui padamu," ucap Pieter memecah keheningan. Suaranya berat, membawa nada pengakuan yang tulus. Cempaka merasakan getaran di dada Pieter saat pria itu berbicara. Ia mendongak, menatap garis rahang suaminya yang tampak kokoh di bawah cahaya re
Lampu di paviliun belakang telah diganti dengan yang baru, namun bayang-bayang masa lalu seolah masih melekat di sudut-sudut langit-langitnya. Cempaka melangkah perlahan, melewati ambang pintu tempat kakaknya baru saja diseret keluar. Bau keringat dan ketegangan Pramana mulai memudar, digantikan oleh aroma kayu manis dari tungku kecil yang dibawa Sriah untuk menghangatkan ruangan. Di sudut paviliun, Lastri meringkuk di atas balai-balai. Ia tidak lagi menjerit, namun tubuhnya masih bergetar ritmis. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat, jemarinya mencengkeram kain jarik yang menutupi perutnya yang masih rata. "Mbak Sriah, biarkan kami bicara berdua," ucap Cempaka lembut. Sriah mengangguk patuh, memberikan pandangan iba terakhir pada Lastri sebelum keluar dan menutup pintu dengan suara klik yang pelan. Cempaka tidak langsung mendekat. Ia duduk di kursi kayu dekat balai-balai, membiarkan kehadirannya dirasakan oleh Lastri tanpa tekanan. "Dia sudah pergi, Las,"







