LOGIN“Brengsek! Berikan dia air minum sekarang!! Berikan!!” teriak Bimo meledak-ledak saat Siska menyuruhnya untuk memberikan air kencing kepada Anto. Siska bergerak naik turun seraya menyeringai licik. “Ouhhh… eummm… baiklah… a-aku akan pertimbangan untuk memberikan… ouhhh… pria tidak berguna itu sedikit air asal kamu mau merangkak kemari dan menggonggong seperti anjing.” Bimo membogem lantai dengan keras hingga membuat keramiknya retak. BUAK!! “JALANG SIALAN!!” geramnya. Setelah puas mengumpat, barulah dia merangkak seperti yang diminta oleh Siska lalu menggonggong seperti seekor anjing. “AUUUU GUK! GUK! GUK!” Siska dan keempat pria bertubuh tinggi dan besar itu sontak tertawa terbahak-bahak mengejeknya. “Ahahahahha kurang keras Bimo! Ayo lebih keras lagi!” seru Siska kembali memprovokasi Bimo. Rahang Bimo bergetar dan giginya kembali gemeretak saat mendengarnya. Tapi, demi Anto dia harus menahan emosinya dan melakukan apa yang diinginkan oleh wanita dajjal itu. “AUUU!! GUK! G
“Apa?! Siska?!” seru Bimo kaget dengan mata terbelalak. Saat ini Siska yang menyerupai Vanya sedang duduk berlutut di bawah lantai seraya memanjakan dua pisang hitam dan putih dengan menggunakan kedua tangannya, sementara mulutnya memanjakan dua pisang lainnya yang berwarna sawo matang dan kekuningan. “Sllrrrpp… slrrrrpp… iya Bimo Sayang… Slrrrpp… slrrrrpp… aku adalah Siska. Gough… gough… gough…eummm… yummy… maaf aku sedang mabok pisang hehe tapi tetap pisangmu yang paling juara,” ucap Siska terkekeh di sela sedotan dan jilatannya di pisang hitam dan putih secara bergantian. Bimo mengepalkan kedua tangannya dengan kuat dan giginya gemeretak. Dia menaruh kepala Anto dengan hati-hati kembali ke bawah lantai lalu melangkah lebar mendekati dinding kaca itu dan menggebraknya sekeras mungkin. BRAK!! “WANITA BRENGSEK!! BERANINYA KAMU MENIPU KAMI!! KATAKAN DENGAN JUJUR KEMANA VANYA!! KATAKAN!!” teriak Bimo dengan wajah merah padam dan urat-urat di pelipisnya keluar. Seorang pria kulit h
Bimo terbangun dengan kepala terasa pening dan mata berkunang-kunang. Saat kedua matanya benar-benar terbuka lebar, dia sangat terkejut saat mendapati dirinya tengah berada di sebuah ruangan gelap, pengap dan kotor. “A-aku berada dimana?! Bukannya tadi aku sedang mengobrol santai dengan Vanya?!” gumamnya seraya berusaha bangkit meskipun sempoyongan. “A-air…” sayup-sayup terdengar suara lirih dari ujung ruangan. Suara itu terdengar sangat familiar di telinga Bimo. “S-suara ini? Seperti suara… “ kedua kaki Bimo melangkah mendekat ke arah sumber suara dan melihat seseorang tengah tergeletak di atas lantai yang kotor berdebu. Saat dia bersimpuh dan membalikkan tubuh orang itu, kedua matanya seketika melebar saat melihatnya. “ANTO?!” “A-air… “ lirih Anto dengan suara serak. Bimo dengan cepat menaruh kepala Anto di atas pahanya, wajahnya sangat cemas melihat keadaan Anto yang sangat menyedihkan. Tubuh Anto kurung kering sampai kehilangan tulangnya, rambutnya sudah gondrong tidak tera
Vanya melihat ke sekitarnya yang tampak ramai, para pengunjung terus berdatangan ke tenant Bimo Point Coffee. “Sepertinya tidak sekarang, hari ini Mas pasti sangat sibuk sekali. Bagaimana kalau besok kita bicara lagi?” tawar Vanya. “Boleh, besok aku kerumahmu saja. Kasihan anakmu jika di tinggal. Anto ada di rumah kan besok malam?” tanya Bimo. “Mas Anto kayaknya lembur deh. Paling telat dia pulang jam 11 atau jam 12 malam,” jawab Vanya tampak lesu dan kurang bersemangat.“Hem, kebutuhan hidup semakin tinggi. Semua bahan pokok naik. Anto pasti bekerja keras untuk memenuhi semua itu untuk kamu dan anak kalian,” ucap Bimo berusaha menghibur Vanya. “Iya, benar apa yang Mas katakan. Aku memang istri yang kurang bersyukur. Suamiku banting tulang kerja sampai lembur, tapi aku selalu merasa kurang,” ucap Vanya merasa bersalah sambil mengaduk-aduk es kopinya. “No, jangan bilang seperti itu. Perasaanmu valid kok. Kamu hanya menginginkan perhatian dan itu juga dirasakan oleh para wanita di
Wanita itu melambaikan tangan dari kejauhan seraya tersenyum menatap Bimo. “Mas Bimo!” “Vanya?” Vanya tampak cantik dengan mengenakan setelan dress renda kuning sebatas lututnya. Rambut panjangnya kini diurai dan diwarnai dengan warna cokelat. Istri sahabatnya itu berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di samping tenant. “Mas Bimo, kebetulan sekali kita bertemu di tempat ini. Selamat ya atas pembukaan tenant pertama Bimo point Coffee. Aku benar-benar bangga padamu, Mas!” “Terima kasih banyak Van. Kamu sendirian saja? Mana Anto dan anakmu?” tanya Bimo seraya melihat ke sekitarnya. “Anto sedang kerja dan anakku kutitipkan sama neneknya sebentar. Stres jagain anak seharian setiap hari, belum lagi urus cucian dan kerjaan rumah yang lain. Makanya hari ini aku memilih untuk me time. Aku juga baru inget kalo Bimo Point Coffee buka di area ruko mall Indonesia,” jawab Vanya panjang lebar. Bimo manggut-manggut mengerti.”Benar, kamu harus sering-sering me time dan jalan-jalan biar gak st
Bu RT mencengkram erat lehernya dengan kuat saat pentol bakso itu masuk ke dalam kerongkongannya. Matanya mendelik ke atas dan bergumam tidak jelas. “Ughh!! Ughh! Ughh!!” “Eh tolongin si Bu RT! Nanti dia metong!” seru Bu Dewi panik saat melihat Bu RT keselek pentol bakso. Bimo lagi-lagi kembali menghela nafas panjang. Dia melepaskan pelukannya dari Bu Dewi sebelum berpindah memeluk pinggang gemuk Bu RT dari belakang dan memberikan tekanan disana beberapa kali sampai akhirnya pentol bakso itu berhasil dikeluarkan. Wajah Bu RT yang semula membiru kini berangsur-angsur menghilang dan kembali ke warna kulit aslinya. “Hos…hos…hos…h-hampir saja aku mati,”gumam Bu RT dengan nafas terengah-engah. Setelah berhasil menyelamatkan wanita gemuk itu, Bimo mengajak semua anggota keluarganya untuk masuk ke dalam rumah. ***Sampai saat ini belum ada tanda-tanda kalau Baby Kesya akan berubah menjadi dewasa sama seperti Kenzo. Dia terus meminta pada Tiara dan anggota keluarganya yang lain untuk







