Masuk“Mantan istri?! Jadi Tante Erni adalah mantan istrinya Pak Darsono?!” batin Bimo kaget saat mendengar perkataan Pak Darsono. Dunia ini benar-benar sempit selebar daun kelor! “Siapa itu Bimo?” Tante Erni ikut muncul dari ambang pintu, wajah wanita itu berubah masam begitu melihat Pak Darsono. “Ngapain kamu kemari?” tanya Tante Erni dingin seraya melipat kedua tangan di dadanya. “Justru aku yang bertanya, ngapain Bimo ada disini?!” tanya Pak Darsono marah hingga urat-urat wajahnya keluar. Tante Erni memutar bola matanya.”Hei Darsono, apa kamu lupa kalau kita sudah lama bercerai?! Pak Bimo datang kemari untuk membicarakan proposal kerja sama dengan Supermarket kami. Lalu, ngapain kamu datang kemari?” Pak Darsono tiba-tiba saja menggenggam kedua tangan Tante Erni dengan erat.”Erni Sayang, aku mohon kembalilah bersamaku. Sudah berbagai lubang yang aku cicipi tapi hanya lubang empot-empotmu yang mampu mencengkram erat milikku.” Bimo menahan tawa saat mendengar kata-kata rayuan keluar
Tante Erni berjalan dengan anggun mendekat ke arah Bimo dan berdiri tepat di hadapannya. Aroma parfum mahalnya menyapu indra penciuman Bimo. Wanita itu terlihat cantik dengan menggunakan setelan kemeja ketat dan rok span pendek setinggi lutut yang memperlihatkan lekuk tubuh montoknya. “Maaf B-Bu Manager. Pria ini memaksa ingin bertemu langsung dengan Ibu tanpa membuat janji terlebih dahulu,”ucap Supervisor itu dengan nada bergetar ketakutan. Tante Erni tidak menjawab perkataan Supervisor itu. “Bimo, kamu ngapain datang kemari? Apa kamu sengaja nemuin Tante?” tanya Tante dengan seringai nakal di wajahnya. Melihat wajah Tante Erni, Bimo sampai terbayang-bayang mengingat bibir tebal wanita itu menghisap sosis gemuknya dengan rakus. “Iya Tante, eh maksudnya Bu Erni. Kedatangan saya kemari ingin membahas proposal produk kopi sachet yang ingin saya jual di Supermarket ini,” jawab Bimo sambil menunjukkan map proposal yang ada di tangannya. “Oh, jadi kamu pemilik produk kopi yang ditol
Namun, sebelum kedua tangan Bimo menyentuh tubuh Baby Juno. Tiba-tiba, terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga. BUM!Sebuah bom granat jatuh di antara Bimo dan Baby Juno. Bimo sampai terlempar beberapa meter hingga punggungnya menabrak keras ke sebuah pohon.“AHKK!!” teriak Bimo meringis kesakitan. Tak hanya Bimo, beberapa orang Polisi juga ikut terpental ke segala arah. Salah satu Polisi sampai tidak sadarkan diri setelah kepalanya menghantam batu.Kabut asap membumbung tinggi ke udara, tercium bau belerang yang sangat kuat, membuat dadanya terasa sesak dan mengaburkan pandangannya. “Uhuk-uhuk!” Bimo terbatuk-batuk seraya berusaha bangkit dan berjalan tertatih mencari keberadaan Baby Juno. “Juno!! Kamu dimana?!” teriak Bimo sambil mengibas-ngibas asap di depannya. Tidak ada jawaban ataupun geraman dari Baby Monster itu. Bimo perlahan jatuh merosot ke bawah dengan kedua lutut bertumpu di tanah. Kedua tangannya terkepal dan seluruh tubuhnya bergetar. Lagi-lagi, dia kembal
“Diam dan duduk tenang di belakang!” bentak Polisi yang duduk di bangku kemudi tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. ”Saya mohon, Pak! Anak saya ada di atas pohon itu! Dia mengikuti mobil ini!” seru Bimo panik, sudut matanya terus bergerak mengikuti pergerakan bayangan Baby Juno yang sedang melompat dari satu dahan ke dahan lain.Kedua Polisi di kemudi depan serentak tertawa meremehkannya. “Kamu sudah gila ya? Mana ada bayi bisa bergelantungan di pohon malam-malam begini? Sudah, jangan cari alasan buat kabur!” sahut polisi di sebelah kemudi dengan nada sinis.Bimo mengepalkan tangannya di belakang punggung dengan kuat. “Aku tidak punya waktu untuk berdebat dengan mereka!” batin Bimo seraya meredam amarahnya. Luka cakaran di bahunya mendadak bergejolak. Rasa perih yang membakar tadi kini bertransformasi menjadi aliran energi panas, yang mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya. Rasa panas itu menuntut untuk dilepaskan, memicu kekuatan tak kasat mata di dalam struktur tulang
Bimo membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang tanpa melepaskan cengkramannya pada Baby Juno. “Sial, kenapa para Polisi itu datang di situasi yang tidak tepat seperti ini?!” batinnya kesal. Lampu senter yang disorot oleh pihak kepolisian begitu menyilaukan, membuat mata Bimo perih. Tiba-tiba saja Baby Juno memekik histeris karena sensitif pada cahaya. Para Polisi spontan menutup telinga mereka karena kesakitan saat mendengar teriakannya. ”Tembak! Makhluk apa itu?! Tembak!” teriak salah satu Polisi yang panik dan ketakutan saat melihat wujud mengerikan Juno dengan mulut berlumuran darah di bawah sorotan lampu.”Jangan tembak! Dia anakku!” jerit Bimo mencegah mereka agar tidak melepaskan tembakan ke arah Baby Juno. DOR! DOR! Dua tembakan peringatan menggema dan menghantam atap plafon gedung ini hingga meruntuhkan sebagian puing-puing bangunan yang berdebu.Suara tembakan peluru itu membuat Baby Juno menggila. Dengan satu sentakan kaki kecilnya yang kuat, Baby Monster
“Awas!” teriak Baskoro dengan sigap. Pria itu langsung merangsek maju, pasang badan di depan Bimo dan Angel. Baskoro menyilangkan kedua lengannya di depan dada tepat saat Baby Juno menerjang dari kegelapan.Sret! Kuku tajam Baby Juno langsung mencakar lengannya Baskoro. Jaket tebal yang dipakainya langsung terkoyak memperlihatkan guratan luka gores yang sangat dalam. “AHKKK!!” teriak Baskoro meringis kesakitan. “Baskoro!!” pekik Bimo dan Angel bersamaan saat melihat Baskoro terluka. Angel segera bersimpuh dan menaruh asal senter yang dipegangnya di bawah lantai. Setelah itu, Angel mengoyak bajunya sendiri untuk menutupi luka Baskoro yang terus mengeluarkan darah segar. Setelah berhasil menyerang Baskoro, Bayi Monster itu melompat dan berputar di udara lalu mendarat mulus di atas tumpukan palet kayu tua tak jauh dari mereka.Bayi Monster itu merangkak rendah seperti seekor anjing kelaparan yang siap melahap mangsanya. ”Juno... tenanglah ini Papa, Nak!” panggil Bimo seraya p






