LOGIN“Baik Nyonya,” sahut Bimo seraya berjalan mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Tatapan matanya tak lepas menatap punggung mulus Mayang yang terlihat putih bersih tanpa cacat dan noda.Tanpa membuang banyak waktu, Bimo membalurkan minyak zaitun di atas punggung Mayang sebelum melakukan pijatannya disana.“Eugggh…enak…tekan lagi bagian itu Bimo,” ucap Mayang sembari memejamkan matanya saat Bimo memijat lurus bagian punggungnya.Sesekali tangan Bimo sengaja mengenai samping gundukan Mayang saat memijat punggungnya. Mayang hanya bergumam tidak jelas selama pijatan berlangsung. Pijatan itu semakin lama semakin turun ke bawah paha dalamnya Mayang. Jarinya tak sengaja menekan belahan dan biji kacang merah Mayang yang sudah mengeras.“Ughhh…eummm…geli…” desah Mayang saat Bimo menggesekkan jarinya beberapa kali disana. Bahkan dia berani menyusupkan jarinya ke dalam goa kenikmatan Mayang sudah basah.“Ouhh Bimo tusuk lebih dalam!! Tambah lagi jarinya!! Ouhhh!!” pekik Mayang sambil membenamka
Semua orang reflek menutup hidung mereka masing-masing.“Hans? Kamu sakit perut? Udah sana buruan ke kamar mandi! Nanti kalau keciprit gimana?” suruh Mayang sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya. “Maaf Baby. Setiap kali aku melihat kecantikan dan kemontokanmu, perutku terasa mulas dan ingin kentut,” jawab Hans menggoda Mayang.Bukannya tergoda, Mayang malah terlihat semakin ilfeel. “Sepertinya kamu habis kesambet jin penunggu jengkol di belakang rumah ya? Udah sana pergi! Nanti keciprit beneran disini!” “Duh, My Baby kalau lagi marah makin cantik dan imut deh. Gemesin pengen digenjot,” tawa Hans blak-blakan dan tanpa tahu malu. “Yaudah, kalau dek Mayang malu ngeliatin kegantenganku ini, aku akan pergi sekarang.” Hans bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi menuju kamarnya sambil bersenandung riang dengan wajah berbinar-binar.Setelah Hans menghilang, Tiara dan putrinya Kesya langsung menyambar tas mereka masing-masing dari atas kursi yang ada di sebelah mereka.“Ad
“Uhuk!! Uhuk!! Uhuk!!” Tiara sampai terbatuk-batuk saat melihatnya. Beruntung Sella cepat-cepat memberikan gelas berisi minuman ke Tiara. Tiara segera menyambar gelas itu dan meminumnya sampai tandas. “Itu orang apa dakocan sih, Ma?” celetuk Rosa. “Rosa jangan ngomong seperti itu,”tegur Mayang dengan cepat. Hans menuruni anak tangga dengan baju kaos hitam ala anak punk dan celana panjang ketat koyak-koyak serta sandal swallow yang terlihat kekecilan di kakinya. Rambutnya dipakaikan minyak rambut dan ditata seperti jambul khatulistiwa ala Syahroni. Jari-jarinya juga dipenuhi dengan batu akik. “Wah sedapnya masakan istriku,” puji Hans seraya berjalan mendekat dan duduk tepat di sebelah Sella. Sella spontan menggeser kursinya menjauh dengan ekspresi jijik. “Papa Hans! Ngapain sih dandanan kayak gitu?! Terus ngapain manggil Mama dengan sebutan istriku?! Kalian kan udah lama pisah!” Hans hanya tertawa cengengesan. “Gapapa. Mayang akan menjadi istri masa depannya Papa, Sel. Doakan sa
Untuk sementara waktu Hans akan tinggal di rumah ini. Kamarnya berada di lantai 2, tepat di seberang kamarnya Mayang. Bimo merasa gelisah dalam tidurnya dan tidak bisa memejamkan mata hanya untuk semenit saja. Beberapa kali dia membolak-balikkan badannya tapi tetap saja tidak bisa tidur. Belum sempat mencari tahu tentang keberadaan Prof.Malik, mantan suaminya Mayang tiba-tiba muncul dan mengajak Mayang untuk rujuk. Karena tidak bisa tidur, akhirnya dia memutuskan keluar dari kamarnya untuk mencari angin sejenak. Kedatangan Hans membuat perhatian seluruh anggota keluarga di rumah ini tertuju pada pria berdarah Belanda itu. Jujur Bimo merasa sangat cemburu tiap kali mata Hans menatap mama mertuanya. Saat dia keluar dan berdiri di atas balkon sambil nyebat, tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya dan berdiri tepat di sebelahnya. “Boleh minta rokoknya?” tanya Hans. Bimo sedikit terkejut saat melihatnya. Namun dia berusaha untuk tetap tenang dan mengeluarkan seba
“Hans? Kenapa kamu datang kemari?” tanya Mayang dingin saat menatap pria bule itu.“Mayang…aku sangat merindukan dirimu dan putri kita, Tiara. Aku datang kemari hanya ingin menemui kalian dan….mengajaknya rujuk,” jawab Hans, mantan suami Mayang yang ketiga.Mayang dan Bimo tersentak saat mendengarnya.“Rujuk? Kamu gak salah bicara mau ngajak aku rujuk? Apa kamu lupa kalau kamu udah ninggalin aku waktu Tiara masih masih usia 3 tahun? Kamu bahkan nggak pernah ngasih nafkah buat anakmu!!” seru Mayang emosi dengan bahu naik turun.Hans bersimpuh di bawah kaki Mayang dengan wajah bersalah. “Maafkan aku, Mayang. Aku terpaksa harus meninggalkan kamu dan Tiara. Aku…saat itu mengalami koma karena kecelakaan. Keluargaku sengaja tidak memberitahukan hal ini padamu karena mereka memang tidak merestui hubungan kita.” Mayang mundur beberapa langkah ke belakang sambil menutup mulutnya sendiri dengan mata berkaca-kaca. “T-tidak mungkin! Kamu pasti bohong Hans! Kamu sama saja seperti dua mantan suami
“Maaf Nona Sella, saya tidak mencurinya. Nyonya Mayang sendiri yang memberikan baju ini kepada saya,” ucap Bimo seraya menghentikan aktivitasnya.“Bohong! Baru juga kerja tapi kamu lancang sekali!! Lepaskan baju itu sekarang juga!!” perintah Sella murka.“Tapi Non…” “Nggak ada tapi-tapian!! Lepas atau angkat kaki dari rumah ini!!” tegas Sella tanpa ganggu gugat.Bimo tidak bisa berkutik lagi dan terpaksa harus menuruti permintaan Sella karena tidak ingin ditendang keluar dari rumah ini. Dia melepaskan kaos polo mahalnya dan memperlihatkan otot sixpack dada bidangnya di hadapan istrinya itu.Mata Sella seolah akan melompat keluar dari tempatnya saat melihat tubuh polosnya yang kekar dan berotot. Wanita itu buru-buru memalingkan wajahnya ke samping dengan wajah memerah.“Ehem! S-sekarang buka juga celananya! Cepat!!” desak Sella.“Iya Nona,” Bimo terpaksa menurunkan celana pendeknya sampai hanya menyisakan dalamannya saja yang membungkus burung perkututnya.Ibu-ibu tetangga yang lagi n







