تسجيل الدخولBimo meremas bongkahan padat Mayang di belakang.”Ma, tolong atur mereka semua. Aku serahkan urusan di rumah ini kepada Mama.” Mayang tersenyum smirk.”Tenang saja Bimo. Mama akan mengatur semuanya terutama mengurus istri mudamu ini. Dia harus mendapatkan banyak pelajaran bukan?” Wajah Cindy mendadak gugup saat menjadi pusat perhatian semua orang di rumah ini.“A-apa yang kalian katakan?! A-aku nggak mau! Aku akan katakan pada Kakek tentang kegilaan kalian semua! Dasar keluarga tidak waras!” Setelah mengatakan hal itu, Cindy langsung pergi meninggalkan rumahnya Bimo sambil membawa tasnya. Bimo membiarkan Cindy pergi dan tidak berniat untuk mengejarnya. Palingan gadis itu pulang ke rumah Pak Darsono. Mayang mengeluarkan catatan yang ada di dalam tasnya.”Kalian semua dengar baik-baik. Mama akan memberikan jadwal pergenjotan pada kalian semua. Hari Senin Sella, hari Selasa Tiara, hari Rabu Mama, hari Kamis Rosa, hari Jumat Dian, hari… “ “Eitsss… tunggu dulu! Kak Rosa?! Dian?! Jadi kal
Semburat merah menghiasi wajah Rosa. Bimo tahu kalau Rosa juga mau tapi malu. “A-apa yang kau katakan! Masih banyak sosis pria lain yang bisa aku makan, kenapa aku harus mengemis sosis baumu itu! Cepetan genjotannya! Setelah kau puas, segera pergi dari rumah ini!” seru Rosa dengan nada gugup sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka di dalam kamar. Blam! Pintu kamar tertutup rapat. Bimo kembali menatap Mayang tanpa menghentikan laju pinggulnya yang makin brutal dan liar saat menyodok titik terdalam mama mertuanya itu. “Ma, hari ini aku akan membuatmu melupakan kesedihan dan kekecewaanmu padaku. Biarkan aku menebus semua rasa bersalahku, Ma. Terimalah cintaku padamu,” Bimo kembali meraup bibir Mayang dengan kasar dan memeluk tubuhnya begitu erat. “Mmmphhh… mmppphh…” lenguh Mayang dalam ciuman panas mereka. Pinggul Bimo bergoyang seperti mesin bor berkekuatan penuh. Memompa lubang Mayang tanpa henti, cairan gairah mama mertuanya itu terus meluap-luap membuat batang Bimo lebih le
Bimo melepaskan jarinya dalam mulut Mayang. Melihat tidak ada penolakan dari mama mertuanya itu, Bimo bergerak cepat menurunkan celana pendeknya ke bawah dan membebaskan keperkasaan monsternya yang sudah mengeras dan berurat kehitaman menonjol. Setelah itu dia meloloskan celana dalamnya Mayang hingga ke batas pergelangan kaki dan membuka kedua paha wanita itu selebar mungkin sambil menuntun ujung keperkasaannya menuju pintu goa kenikmatan Mayang yang sangat lebat. “Ughhh… Bimo… geli Nak,”erang Mayang ketika Bimo menggesekkan ujung kepalanya hingga mengenai biji kacang merah Mayang. Bimo menekan pinggulnya ke dalam, merasakan betapa sempit lubang Mayang menelan batangnya perlahan hingga akhirnya terbenam habis menyentuh titik sensitifnya yang paling dalam. JLEB!“Ahhhh! Bimo! Perut Mama terasa penuh!” pekik Mayang dengan tubuh melengkung ke atas. Bimo memejamkan matanya erat, menikmati setiap denyutan dinding kewanitaan Mayang meremas dan memelintir miliknya di dalam sana. “Sial,
Kepala Bimo terasa berdenyut menyakitkan. Dia berusaha bangkit sambil memegangi kepalanya yang berdarah. Kedua matanya menatap nanar ke arah pintu kamarnya Mayang. Ternyata Mayang masih mengkhawatirkan dirinya meskipun dia sudah menyakiti wanita itu. “Mama… maafin Bimo, Ma,” batinnya menyesal. “Ngapain kamu bengong disini?! Cepat keluar dari rumah ini!” usir Rosa. Dengan langkah tertatih, Bimo melangkah keluar dari rumah Mayang. Dia tidak ingin membuat keributan dan memperkeruh suasana malam ini. Setelah keluar, dia tidak langsung pergi melainkan duduk berlutut di halaman rumah, berharap Mayang mau menemuinya disini. Gluduk! Gluduk! Suara petir menyambar-nyambar di atas langit. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Bimo masih tidak bergeming di tempatnya. Dia mengabaikan rasa sakit yang terus mendera kepalanya. Rintik-rintik hujan mulai turun. Lalu hujan turun semakin lebat, mengguyur tubuhnya Bimo. Bimo masih tak beranjak sedikitpun dan terus berlutut di depan halaman r
Rosa melipat kedua tangan di dada seraya mendongakkan kepalanya keatas.”Bimo sudah kawin lagi beberapa hari yang lalu Ma. Dia sengaja tidak memberitahu kita soal pernikahannya!” Bimo dengan cepat mendekati Mayang dan berusaha untuk menjelaskan semuanya.”Ma, ini tidak seperti yang Mama pikirkan. Aku terpaksa menikahi Cindy karena…” “Udahlah, jangan banyak alasan! Alasan pria nikah lagi itu apalagi kalau bukan cuma mau lobangnya doang!” potong Rosa dengan nada berapi-api. Bimo memegang kedua bahu Mayang yang bergetar. Dia tahu saat ini mama mertuanya itu pasti sangat kecewa setelah tahu dia sudah menikah lagi tanpa memberitahunya. “Maafkan aku, Ma. Aku memang sudah menikah lagi dengan Cindy beberapa hati yang lalu. Aku terpaksa menikahinya karena permintaan dari Pak Toto, kakeknya Cindy. Aku…” “Mama tidak mau dengar apapun lagi, Rosa ayo bawa Mama pulang sekarang,”Mayang melepaskan pegangan tangan Bimo lalu berbalik pergi meninggalkan rumah itu. Rosa tersenyum sinis.”Dasar pria me
Cindy hanya bisa mengerang pelan dengan mata berkaca-kaca saat menjilati jarinya Tiara.”Nyam... mmm... s-sshh…”lidah Cindy menjilati jari Tiara sampai cairannya benar-benar bersih. Seringai smirk di wajah Bimo semakin melebar. Dia kembali bangkit, membiarkan sosis jumbonya yang menegang keras dan berurat bergoyang menantang tepat di hadapan wajah Cindy yang masih terengah-engah.”Bagus sekali, Tiara. Kamu membuatnya terkencing-kencing hanya dalam 2 menit saja,” puji Bimo. Tiara terkekeh seraya menutup mulutnya. ”Tentu saja Kak. Lubang Cindy sangat sensitif, disentuh sedikit saja lubangnya langsung menjerit minta digenjot.”Sella dan Tiara perlahan menjauh ke sudut sofa. Sementara Cindy masih bersandar dengan posisi kedua paha mengangkang tepat di hadapan Bimo. Bimo mencondongkan tubuhnya ke depan, menempelkan ujung sosis jumbonya tepat di atas bibir lubang Cindy yang berkedut-kedut basah. Sret... sret…sret… Bimo sengaja menggesek-gesekkan kepala keperkasaannya maju-mundur d







