LOGINBravi menyangga tubuhnya, lalu menatap Raisa dan berkata, "Lebih baik tidur terpisah biar kau bisa tidur nyenyak."Bravi langsung bangun, menarik Raisa bersamanya, tetapi wajah Raisa benar-benar merah.Ekspresi Bravi tenang.Kontras dengan penampilan fisiknya terlalu besar.Hanya merasakan ukuran dan volumenya saja sudah menakutkan, Raisa pasti tidak akan mampu menanganinya.Gambaran dalam pikiran Raisa tak terlukiskan, tetapi dia segera menghentikannya."Aku ... aku beneran nggak mau ...."Bravi terkekeh, "Iya, aku tahu."Raisa sudah mengalami trauma, dan bayangan rasa sakit fisik hanya akan membuatnya semakin tidak nyaman. Dia lalu berkata, "Terus, kau gimana?"Bravi berkata, "Kau nggak perlu khawatir sama aku."Raisa benar-benar tidak mau memikirkannya sekarang, sama sekali tidak mau.Dia mungkin salah paham. Bravi adalah pria normal, momen awal pacaran pasti terasa antusias. Dia belum pernah berhubungan intim dengan wanita lain sebelumnya, jadi gairah fisiknya bisa dimengerti.Dia
Hani buru-buru berkata, "Itu nggak mungkin..."Raisa menanggapi, "Aku nggak bilang kalau itu harus tercapai dalam setahun, tapi pada akhirnya, kita harus sampai ke level itu."Dia berkata dengan suara berat, "Kak Hani, aku punya ambisi. Kau tahu, kau juga harus punya ambisi. Ayo kita berjuang bersama, bantu aku mewujudkan semua itu, oke?"Hani tidak tahu apakah dia terpengaruh oleh tatapan teguh di sorot mata Raisa atau ketenangan dan kepercayaan diri dalam nada suaranya yang menginspirasi, tetapi itu memberi Hani kepercayaan diri dan dorongan yang luar biasa. Dia bahkan merasakan ambisi dan semangat yang dimilikinya saat pertama kali lulus kuliah. Dia langsung menjawab, "Bu Raisa, saya siap mengikutimu." Untuk melakukan sesuatu, kita harus berani bermimpi besar dan bertindak tegas. Raisa berani mengatakan itu, jadi Hani pun berani memikirkannya.Cahaya bintang Centara Entertainment pasti akan lebih gemerlap daripada cahaya milik Surya Gemilang Entertainment di masa depan. Dia memilik
Sejak pertemuan terakhir mereka, perusahaan farmasi Yonan telah berkembang menjadi perusahaan raksasa bernilai triliunan. Dia telah naik kelas dan masuk ke dalam lingkaran elit pusat di Jerona. Seluruh kerajaan farmasinya merupakan konglomerat yang kuat dan berpengaruh, tidak kalah kuatnya dengan Keluarga Yuliardi yang telah mengumpulkan kekayaan selama dua generasi.Raisa membolak-balik dokumen, menggertakkan giginya saat mengklik halaman yang merinci tentang ibu dari Nadia.Sofia Hadinata adalah teman sekelas Yonan dari sekolah kedokteran.Sofia hanya pernah menikah sekali, dengan Yonan.Raisa sangat terpukul. Pikirannya langsung melayang ke ibunya, Mona. Berbagai spekulasi mulai bermunculan, pikirannya kacau balau. Dia mengklik tetikus untuk keluar, wajahnya pucat. Dia memegang kepala, ekspresinya tampak sedih.Emosi bergejolak dalam dirinya, campuran antara kebencian, dendam, dan amarah.Dia membenci kekejaman Yonan terhadap ibunya. Pantas saja, dia terus bolak-balik antara Jerona
Mirna tersenyum kaku, dan berkata, "Karena pacarmu sudah datang, kenapa nggak sekalian kenalin ke Tante?" Raisa berkata, "Ini cuma pacaran, bukan nikah. Aku takut malah bikin dia tertekan."Mirna tertegun. Dia menggunakan beberapa kata manis untuk menangkis permintaan Mirna, tetapi sama sekali tidak memberikan rasa hormat padanya. Mirna juga tidak ada alasan untuk memaksa Raisa berubah pikiran.Rian, di satu sisi mengagumi kefasihan lidah Raisa, tetapi juga mulai kehilangan kesabaran. Wajahnya memerah saat mendesak, "Ayo pergi."Mirna tidak terlalu tertarik untuk bertemu pacar Raisa. Anak muda sekarang berkencan hanya untuk bersenang-senang, jika merasa cocok, mereka langsung bersama. Lagipula, mereka mungkin seumuran. Jadi, dia tidak tertarik, lalu berbalik untuk menemani nenek di kamar.Begitu tantenya pergi, Rian berkata, "Kalau mau pacaran, ya sudah pacaran saja. Nggak usah pakai muncul di depanku."Raisa berkata, "Ya sudah, kau duluan saja. Aku pulang bareng Bravi."Wajah Rian m
Mendengar nama Keluarga Saloka, wajah Raisa berkedut.Mungkin karena teringat pada Yonan, kesamaan nama keluarga itu membuatnya waspada.Mengapa Nadia mencoba merebut artisnya?Banyak masalah datang bertubi-tubi, dan amarah di dalam diri Raisa perlahan membesar, tetapi ekspresinya tetap tenang. Dia lalu berkata, "Aku akan ke kantor, kita bicara lagi nanti."Hani mengiyakan dan menutup telepon.Mirna telah mengantar mereka ke pintu depan panti."Raisa, Rian, nggak ada yang serius. Aku akan menjaga nenekmu. Kalau sampai urusan mama kalian nggak bisa dirahasiakan lagi, ya sudah. Kalau nanti papa kalian datang, biar aku saja yang ketemu. Kalian nggak perlu khawatir, fokus saja sama pekerjaan kalian."Rian tampak jijik dan menjawab, "Mama baru kecelakaan saja, dia langsung cari orang lain. Apa dia pantas dipanggil papa?"Mirna menjawab, "Mulutmu itu tajam banget sih. Kenapa nggak balas dendam saja, pas dia datang?"Rian mengerutkan kening dan berkata, "Boleh, tapi aku takut nggak bisa tahan
Yonan Saloka, sang ayah, menemani mereka makan di sebuah restoran, lalu mengatakan bahwa keluarganya belum menyiapkan kamar tambahan dan perlengkapan mandi untuk mereka, jadi dia mengatur agar mereka menginap di hotel, memberi mereka banyak uang saku, dan menyuruh mereka menikmati beberapa hari untuk berjalan-jalan di Jerona.Perusahaan farmasi milik Yonan sangat sibuk. Raisa dan Rian menghabiskan waktu selama seminggu di Jerona, hanya tiga kali saja mereka makan bersama. Pada hari kepulangan, dia mengatakan akan mengantar mereka sendiri, tetapi pada akhirnya, hanya menyuruh supir.Meskipun obat-obatan perusahaannya sekarang sudah tersedia di apotek seluruh negeri, dan menjadikannya orang yang sangat sukses dalam arti konvensional, tetapi Raisa hanya mengenal sisi kejam, dingin, dan tidak bertanggung jawabnya saja.Raisa berkata, "Aku nggak mau ketemu dia."Mirna bertanya, "Sudah berapa lama kau nggak hubungi papamu?"Raisa menjawab, "Tiga sampai empat tahun."Mirna mencibir, "Dia berh







