LOGINNaya menatap keluar jendela kamar rawat inapnya yang mungil. Di luar sana, matahari nampak bersinar cerah membuat sebagian pasien berkeliaran di taman rumah sakit yang asri.Senyum membingkai di wajah Naya. Setelah mengepak baju-bajunya, kini dia siap pergi meninggalkan tempat ini.‘Ternyata tidak buruk juga…’ pikir Naya. Arman dan Sophia mungkin ada benarnya juga, memasukkan dirinya ke sini karena sekarang Naya merasa jauh lebih baik.“Nyonya Naya,” suara perawat itu mengalihkan pandangan Naya dari jendela. “Sopir Anda sudah datang.”“Oh, baiklah,” buru-buru Naya menenteng tas besarnya.Setelah dia berpamitan dengan para perawat di sana, akhirnya Naya bisa keluar juga dari tempat itu. Udara jadi terasa lebih segar sekarang, entah kenapa.Jantung Naya berdebar penuh semangat karena dalam waktu hitungan menit dia akan bertemu putranya, Haryasena.Sudah dua setengah bulan dia tak menyentuh anaknya. Mereka hanya bertemu melalui video call dari Sophia, dimana setelah Rahmat meninggal, Sop
Dari balik kacamata hitamnya, Naya tahu, ibu mertuanya itu seperti menyimpan banyak keresahan.“Kenapa dua hari belakangan ini bukan Mama yang datang? Apa ada masalah?” Tanya Naya sambil terus menyelidiki raut wajah Sophia.“Aku sibuk,” tandasnya cepat setelah mengambil ponselnya dari tangan Naya. Naya sedikit tenang karena di tengah kekacauan yang terjadi di mansion, putranya sehat-sehat saja. Amah dan babysitter itu menjaga Haryasena dengan baik.“Aku tak sabar keluar dari sini, Ma. Dokter bilang emosiku mulai stabil. Jadi… mungkin Mama bisa membujuk dokter agar aku bisa cepat pulang,” pinta Naya.“Itu bukan urusanku,” Sophia memasukkan ponsel ke tasnya.“Aku tahu apa yang terjadi,” sahut Naya cepat. “Skandal-skandal itu, juga Papa yang dirawat di rumah sakit.”Naya bisa melihat rahang Sophia yang mengeras. “Aku hanya mencemaskan putraku, Ma…” lanjut Naya.“Kamu tak perlu mencemaskan apa-apa. Tadi kamu lihat sendiri kan saat video call? Dia baik-baik saja. Semua masalah ini akan be
Pendingin di kamar tidurnya bekerja secara maksimal, mengembuskan udara dingin ke seluruh ruangan. Namun tetap saja, pelipis Sophia sedikit berkeringat. Telapak tangannya pun basah.Tadi pagi, dia tak sengaja mencuri dengar di ruang kerja putranya bahwa Rahmat sudah sadarkan diri. Kondisinya mendadak stabil bahkan bisa pulang hari ini juga.“Pulang hari ini?” Sophia menggigit bibirnya di pinggir ranjang. Sedari tadi dia memainkan jemarinya dengan gelisah. “Gawat… Dia pasti akan membuka semua kebenarannya di depan Arman…”Kepala wanita itu tertunduk dalam sembari menghela napas panjang keputusasaan.Sebentar lagi, dia akan diusir dari mansion ini, membawa surat cerai lalu menghadapi kenyataan pahit. Di usianya yang kepala enam ini dia jadi gelandangan, miskin dan terlunta-lunta.“Tidak… tidak…” Sophia menggelengkan kepalanya. “Itu tak boleh terjadi!”Tepat saat dia hendak memikirkan bagaimana caranya dia membujuk Rahmat agar tak menceraikan dirinya, pintu kamarnya membuka.Napas wanita
PLAK!Tangan Rahmat mengayun dan menampar pipi istrinya begitu Sophia berdiri dari bawah kakinya.Bibir wanita itu bergetar tak percaya. “Ka-kamu… tega menamparku?”Namun ekspresi Rahmat tak melembut sama sekali. Sambil menahan nyeri di dada kirinya, kedua rahang lelaki itu mengeras dengan sorot mata yang sengit.“Jalang sepertimu harus dapat pelajaran,” desisnya tanpa ampun. “Keluar dari mansion ini.”Sophia menggeleng. “Tidak. Ini rumahku juga. Berpuluh-puluh tahun aku tinggal di sini, kamu tak bisa mengusirku begitu saja, Rahmat! Kita punya perjanjian hitam di atas putih yang menyatakan kalau aku juga berhak atas aset mansion ini!”Satu sudut bibir Rahmat menyungging sinis. “Kamu lupa? Kalau kamu selingkuh lagi maka kamu tak akan mendapatkan apapun, tak sepeserpun, Sophia. Bersiaplah jadi gelandangan di luar sana.”Wajah Sophia menegang. Tentu saja dia ingat hal itu tetapi dia berharap Rahmat pasti bakal memaafkannya. Pria itu sungguh mencintainya, Sophia yakin itu.Tetapi keyakina
Sorot mata Rahmat yang tajam itu seolah menusuk tepat ke jantungnya. Sophia pun tak berkutik. Bibirnya terasa kelu dan tubuhnya seakan mematung.Lelaki itu kini berdiri tepat hanya sejengkal dari wajah istrinya yang pucat pasi.“Jelaskan padaku. Apa maksud semua ini?” Desak Rahmat. “Foto-foto mesum dirimu dengan pria-pria muda itu? Jadi, selama ini kamu bersenang-senang di belakangku, tidur dengan banyak pria seperti yang kamu lakukan tiga puluh tujuh tahun lalu?”Sophia masih tak mampu untuk mengeluarkan suaranya.Mata besar Rahmat memicing sambil menelengkan kepalanya. “Aku sudah memberimu kesempatan kedua Sophia… Dan ini balasan yang kamu lakukan untukku?”Napas berat lelaki itu berembus di kedua pipi Sophia, yang entah kenapa membuat wanita itu semakin bergidik ketakutan.“Aaa!” Sophia memekik tertahan begitu jari-jari keriput Rahmat mencengkram lehernya. Tak sampai membuat Sophia sesak napas, namun tetap saja wanita itu syok seakan suaminya bakal mencekiknya hingga mati.“Aku tak
Sedari tadi, Naya terus mendongak dari novel yang sedang dibacanya. Seharusnya jam segini mertuanya sudah datang menemuinya sehingga dia bisa melakukan video call dengan putranya di mansion, sekaligus menitipkan beberapa botol ASI pada wanita itu–akhir-akhir ini ASI-nya mulai lancar.“Apa mereka mulai ingkar janji?” Pikir Naya sambil memicingkan matanya curiga.Naya mendengus kesal dan tepat di saat itu tiba-tiba seorang perawat yang cukup akrab dengannya mendatanginya.“Mbak Naya,” ucapnya dengan raut yang serius. Perawat itu menarik kursi kosong di hadapan Naya. “Apa semua ini benar, Mbak?” Leher Naya menjulur ke layar ponsel yang disodorkan oleh perawat itu.Lantas, dahinya mengerut. Dia melihat sebuah artikel di portal berita online dengan headline yang menyebut nama Keluarga Kartajaya.Semakin Naya membaca artikel itu, semakin dalam pula kerutan di dahinya. Matanya kini membelalak tak percaya begitu menangkap foto-foto Sophia yang merangkul pria-pria muda dengan pose yang vulgar
“Mereka sepertinya memiliki kedekatan yang tak wajar,” Wira melaporkan apa yang didengarnya ke bosnya.Arman bersedekap sambil menghela napas pelan. “Kamu tak perlu cemas soal itu. Mustahil ada hubungan spesial antara istriku dengan sopir itu. Istriku orang yang terhormat. Lagi pula, sopir itu tak
Rahang pria itu yang tadinya mengeras kini melembut. Sepasang mata coklat itu tak lagi memicing tajam melainkan menyipit keheranan.“Penawaran? Untukku?” Dia nampak tak percaya, menerima kartu nama yang disodorkan Arman.“Dia asisten pribadiku. Kamu bisa menghubunginya,” terang Arman. “Ada pekerjaa
Ardi berdiri di tepi kolam renang, menjaring daun-daun kering yang mengambang di permukaan air menggunakan kayu panjang.Sesosok bayangan perlahan mendekat ke sampingnya.“Mas Ardi!” Sapa Shinta riang.“Hei, Shin,” mata Ardi otomatis tertuju ke pergelangan kaki perempuan itu. “Gimana kakimu? Sudah
Suara dentingan gelas beradu. Obrolan-obrolan samar terdengar memenuhi sudut restoran. Hujan di luar sudah reda, menyisakan titik-titik air yang membasahi kaca jendela.Naya memutar-mutar gelasnya, memperhatikan gelembung wine yang meletup-letup. Tatapannya mulai sayu dan pipinya nampak memerah.“L







