FAZER LOGINKilatan cahaya kamera itu membuat mata Rahmat Kartajaya sedikit berkunang-kunang. Di sampingnya, berdiri putra kesayangannya sekaligus satu-satunya, Arman Kartajaya.Mereka berdiri berdampingan dengan senyum mengembang, begitu gagah dan berwibawa.“Oke, sekali lagi… satu, dua, tiga!” Titah fotografer itu sambil menjepret film terakhirnya.Tiba-tiba saja Rahmat kepikiran untuk mengambil foto berdua dengan putranya yang akan menggantikan foto lama mereka di ruang kerja Rahmat Kartajaya.Saat akhirnya foto mereka jadi, Rahmat memperhatikan foto itu dengan bangga.Pria setengah baya itu memperhatikan wajah Arman. Hidung besar pria itu… sepasang mata hitamnya… serta rahangnya yang keras dan tinggi.Semua orang memuji Arman mirip dengannya. Dan tak ada jejak Haryanto di wajah putranya, itulah yang dia yakini selama ini.“Papa,” suara Arman membuyarkan lamunannya. Arman lantas berdiri di samping Rahmat, sama-sama memandangi foto mereka.“Sepertinya keputusan yang tepat kita mengambil foto be
Suara letusan itu menggema di setiap rongga telinga Rahmat Kartajaya. Namun hanya jeritan Sophia yang terasa nyata.Ruang amunisi pistolnya kosong sehingga hanya ada udara yang keluar saat Rahmat menekan pelatuknya.Keheningan lantas menyeruak selama sesaat.Begitu Haryanto membuka kedua matanya dia tak percaya dirinya masih hidup. Ditatapnya mata Rahmat yang masih memicing tajam ke arahnya.“Kamu pikir aku akan melumuri darahku demi membunuh seorang pria rendahan sepertimu?” Ucapnya dingin. “Jangan harap. Tetapi melihatmu ketakutan seperti kodok itu sungguh menggelikan.”Tawa bengis pria itu berderai.“Te-terima kasih, Tuan–”“Jangan sentuh aku!” Rahmat menendang kakinya begitu Haryanto tiba-tiba saja menyeruak ke arahnya dan berlutut. “Aku tak akan melepasmu begitu saja, brengsek. Kamu harus bayar mahal pengkhianatanmu itu!”Lantas, Rahmat mengalihkan pandangannya ke istrinya yang gemetar di ambang pintu. Pipi Sophia jelas basah karena air mata dan ekspresinya memancarkan ketakutan
“A-apa?” Akhirnya Sophia bisa mengeluarkan suaranya, walaupun dengan terbata-bata. “Kamu… mandul. Ba-bagaimana bisa?”Sorot mata Rahmat masih menyalang tajam. “Diam-diam, aku memeriksakan kondisiku ke dokter, sekitar tiga bulan lalu. Dan hasilnya aku mandul.”Bibir Sophia mengatup rapat. Sekarang tubuhnya benar-benar terasa kaku.Seketika Rahmat melempar kotak itu ke lantai. Namun, Sophia tak bereaksi. Dia masih dalam keadaan syok.Lantas, Rahmat mencondongkan tubuhnya ke wajah Sophia yang ketakutan. Embusan kasar napas suaminya itu menyapu kedua pipi Sophia yang dingin.“Kamu pikir kamu bisa menipuku?” Suara Rahmat mengalun tajam. Sophia masih membisu. Mata wanita itu mu
Di luar hujan rintik-rintik turun membasahi kaca depan mobil Sophia yang sedang melipir di pinggir jalan yang sepi.Seperti biasa, di jok penumpang ada Haryanto. Mereka baru saja kembali dari toko tanaman, membeli beberapa anggrek untuk digantung di teras belakang. Sebenarnya, ibu mertuanya sedikit protes karena halaman belakang mereka sekarang sudah seperti kebun raya yang dipenuhi berbagai jenis tanaman.Maka sekarang Sophia mengincar bagian teras belakang. Namun ini akan jadi kali terakhirnya ke toko tanaman itu karena dia akan mengakhiri hubungan gelapnya dengan pria yang duduk di sampingnya ini.“Hentikan,” sahut Sophia.Haryanto langsung menghentikan pergerakan tangannya yang hendak membelai pipi majikannya.
Sophia sadar tindakannya sudah di luar nalar. Tetapi apa boleh buat, hatinya kesal karena Rahmat menolaknya begitu saja.Sambil berjalan tergesa, Sophia terus memperhatikan keadaan di sekitarnya.Malam begitu gelap dan angin pun berembus kencang. Dia yakin tak akan ada orang yang memergokinya datang ke paviliun tengah malam seperti ini.Pintu paviliun itu ternyata tak dikunci sehingga memudahkan Sophia untuk melenggang masuk. Telapak kakinya terasa dingin saat menginjak lantai, entah karena memang lantainya dingin atau mungkin karena jantungnya yang berdebar begitu cepat.“A-aah… Aah…”Mata Sophia sontak memicing ketika dia mendengar desahan yang berasal dari salah satu pintu kamar yang ada di depannya.‘Suara Haryanto…’ pikirnya. ‘Apa dia sedang bercinta dengan seseorang? Tapi, dengan siapa? Jangan-jangan dengan salah satu pelayan??’Rasa penasaran itu mendorongnya untuk mendekat ke salah satu pintu kamar.“Ugh… Aaahhh…”Napas Sophia terasa memburu, mendengar erangan tukang kebunnya.
Kartajaya Grup memenangi tender terbesar dalam sejarah perusahaan mereka saat itu, sebuah proyek pembangunan kota satelit di pinggiran kota. Kedekatan ayahnya Rahmat Kartajaya dengan beberapa orang penting membuat perusahaannya dengan mudah memenangi tender tersebut.Untuk pertama kalinya, Rahmat Kartajaya akan memimpin proyek itu. Ini akan jadi titik pembuktian dirinya bahwa dia memang kompeten menjadi CEO Kartajaya Grup selanjutnya.Maka dari itu, Rahmat pun tenggelam dalam pekerjaannya. Dia bahkan jarang pulang dan menghabiskan waktu bersama Sophia.Di tengah kebosanan wanita itu, ada Haryanto yang mulai menarik perhatian Sophia.‘Bagaimana mungkin dia bisa begitu menawan?’ batin Sophia, memperhatikan Haryanto dari balik kacamata hitamnya. Otot-otot tangan tukang kebun itu terlihat ketika memotong beberapa tanaman liar yang menjalar di tembok.Sudah sebulan lebih Sophia tak mendapat belaian kasih sayang dari Rahmat. Mungkin suaminya itu lupa kalau sudah punya istri, ucap Sophia den
“Mereka sepertinya memiliki kedekatan yang tak wajar,” Wira melaporkan apa yang didengarnya ke bosnya.Arman bersedekap sambil menghela napas pelan. “Kamu tak perlu cemas soal itu. Mustahil ada hubungan spesial antara istriku dengan sopir itu. Istriku orang yang terhormat. Lagi pula, sopir itu tak
Ardi berdiri di tepi kolam renang, menjaring daun-daun kering yang mengambang di permukaan air menggunakan kayu panjang.Sesosok bayangan perlahan mendekat ke sampingnya.“Mas Ardi!” Sapa Shinta riang.“Hei, Shin,” mata Ardi otomatis tertuju ke pergelangan kaki perempuan itu. “Gimana kakimu? Sudah
“Ya-Yang bener, Nay??” Mulut Dalia menganga tak percaya. “Jadi selama ini… Arman tak pernah memuaskanmu di atas ranjang?”“Sst…” sela Naya lalu menggeleng.“Astaga…” Dalia memelankan suaranya. “Yang benar saja?! Apa kalian tak pernah membahas masalah ini? Seks dalam pernikahan itu penting lho, Nay.
Rahang pria itu yang tadinya mengeras kini melembut. Sepasang mata coklat itu tak lagi memicing tajam melainkan menyipit keheranan.“Penawaran? Untukku?” Dia nampak tak percaya, menerima kartu nama yang disodorkan Arman.“Dia asisten pribadiku. Kamu bisa menghubunginya,” terang Arman. “Ada pekerjaa







