Share

Bab 3

Penulis: Helina
Karena harus "menjaga" kondisiku, di atas kapal pesiar itu hanya ada aku, Aldo, Jessica, serta para staf dan anggota keamanan keluarga.

Sebelum jamuan makan malam dimulai, Jessica sengaja mendekat ke hadapanku.

Aroma parfum di tubuhnya terasa sangat familier. Itu adalah parfum yang aku racik sendiri khusus untuk Aldo, yang katanya selalu sayang untuk dia pakai.

Ternyata malah dia berikan kepada Jessica.

Memanfaatkan kondisiku yang buta, Jessica sama sekali tidak segan mengayun-ayunkan botol parfum itu tepat di depan mataku.

Suaranya yang dibuat-buat manis terdengar penuh kemenangan, "Bu, aroma ini wangi nggak?"

Aku tersenyum, "Enak, kayak bau anjing betina yang lagi birahi."

Wajah Jessica seketika berubah pucat pasi.

Dia ingin mengamuk, tapi tidak berani.

Bagaimanapun, secara status aku masih nyonya rumah, Aldo tidak mengizinkan siapa pun mengusikku.

Saat jamuan makan malam, Aldo mengeluarkan sebuah kotak beludru.

Di dalamnya terbaring sebuah kalung berlian biru tua, Jantung Samudra, yang harganya sangat fantastis.

"Kamu suka nggak? Ini hadiah ulang tahun pernikahan kita."

Dia memakaikannya sendiri untukku, berlian yang terasa dingin itu menempel di kulitku dan memicu rasa merinding.

"Tanpa kamu, duniaku cuma kegelapan."

Dia berbisik di telingaku dengan nada yang sangat tulus, sebuah kasih sayang yang hampir bisa membuat orang tenggelam.

Jessica berdiri di kegelapan yang tidak jauh dari sana. Wajahnya pucat dan jemarinya hampir meremukkan gelas tinggi yang dia pegang.

Aku menyentuh kalung di leherku, lalu berbisik pelan, "Iya, sebentar lagi, duniamu memang cuma bakal tersisa kegelapan."

Aldo tertawa kecil, dia mencubit hidungku dengan gemas, "Ngomong apa sih kamu."

Dia mengira aku sedang merayunya, membalas betapa pentingnya dia bagiku.

Dia tidak tahu kalau aku sedang menyatakan sebuah fakta yang akan segera terjadi.

"Aldo, kita main permainan yuk?"

Aku berbalik, melingkarkan kedua tanganku di lehernya sambil bermanja-manja.

"Main apa?"

"Petak umpet."

Aku menunjuk ke arah mataku sendiri.

"Lagian aku juga nggak bisa lihat, sekali ini aja biarin aku yang jaga dan tangkap kamu, ya?"

Aldo dan Jessica saling bertukar pandang, mata mereka berdua memancarkan kegembiraan yang tertahan.

"Oke, kamu hitung sampai 100 ya," Aldo membungkuk dan mengecup punggung tanganku.

Aku mulai menghitung mundur dengan suara keras.

Suara langkah kaki yang terburu-buru segera menghilang di ujung lorong.

Aku tahu ke mana mereka akan pergi.

Aldo pasti akan pergi ke kabin mewah di lantai bawah, itu adalah "medan perang" yang sudah mereka janjikan sebelumnya.

Mendengar suara langkah kaki yang menjauh, senyum di sudut bibirku seketika sirna.

Aku lanjut pura-pura meraba-raba seperti orang buta.

"Aldo, kamu sembunyi di mana?" teriakku sambil mendorong pintu ruang ganti umum.

Tak jauh di belakangku, dua orang pengawal yang bertugas mengawasi segera mengikuti masuk.

Mereka adalah orang-orang yang diutus Aldo untuk menjagaku.

Aku tidak menyalakan lampu di dalam ruang ganti, loker-loker di sana tersusun sangat rapat.

Aku menyelinap masuk ke area titik buta yang paling dalam.

Suara sepatu kulit pengawal itu terdengar mondar-mandir di lorong loker.

"Bu? Ibu ada di dalam?"

Aku menahan napas, dengan kecepatan kilat melepas mantel dan mengenakan seragam petugas kebersihan yang sudah aku siapkan di dalam loker.

Aku menggelung rambut panjangku, mengenakan masker dan topi lidah yang ditarik rendah.

Aku mendorong kereta pembersih di sudut ruangan, menundukkan kepala, dan berjalan keluar dengan santai melalui pintu keluar lainnya.

Kedua pengawal itu masih sibuk menendang pintu bilik satu per satu di dalam ruang ganti untuk mencariku.

Aku mendorong kereta itu tanpa hambatan menuju bagian belakang dek.

Tanganku meraba pemicu ledakan mikro yang aku samarkan sebagai gantungan ponsel.

Bom itu sudah tersembunyi di dalam saluran ventilasi ruang ganti.

Aku bersembunyi di antara kerumunan, jemariku menekan tombol hitung mundur pada alat pemicu.

Sepuluh, sembilan, delapan .…

Saat ini, melalui earphone mikro di telingaku, terdengar jelas percakapan dari dalam kabin utama.

"Bos, malam ini kita pakai gaya baru ya," Jessica tertawa genit berkali-kali.

"Aku bawa pelumas khusus, malam ini kita main sampai tuntas."

Di dalam earphone, terdengar erangan rendah dari tenggorokan Aldo, "Aku habisin kamu malam ini."

Aku tersenyum dingin, melepas earphone itu dan membuangnya ke laut yang berombak.

"Tiga."

"Dua."

"Satu."

"Selamat merayakan hari jadi, semoga selamanya tidak pernah terpisahkan."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tak Lagi Buta, Masa Depanmu yang Hancur   Bab 9

    Setahun kemudian, sinar matahari yang hangat menyinari kantor pusat Grup NJ di lantai teratas.Aku berdiri di depan jendela besar sembari memegang kopi, memandang kota yang dulunya dikuasai secara tiran oleh Keluarga Antonio, kini terukir namaku di setiap sudutnya.Tajuk utama surat kabar finansial internasional di atas meja tampak sangat mencolok, [Grup NJ Selesaikan Akuisisi Terakhir Aset Luar Negeri Milik Grup Antonio, Era Keluarga Antonio Berakhir Total].Jonny mengetuk pintu dan masuk, menyerahkan sebuah dokumen yang sudah menguning. Itu adalah surat nikahku dan Aldo dulu.Aku mendadak teringat, saat menikah dengan Aldo dulu, dia memegang dokumen itu dengan sangat hati-hati dan menyimpannya di dalam brankas.Dia berkata bahwa benda ini jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan di dunia.Namun akhirnya, dia juga yang menyeret aku ke neraka."Nona, semua prosedurnya udah beres. Sekarang udah nggak ada lagi aset legal atas nama Aldo."Aku mengambil dokumen itu, memantik pemantik

  • Tak Lagi Buta, Masa Depanmu yang Hancur   Bab 8

    Aldo menatapku, dia justru tersenyum.Dia berlutut di lantai, bahkan dalam situasi seperti ini, dia masih bersikap seolah sangat mencintai."Novi, asalkan itu kamu, kamu boleh lakuin aja apa pun ke aku.""Apa kamu mau bunuh aku? Kalau mati di tanganmu, aku udah ikhlas kok.""Bunuh kamu?" Aku tertawa."Itu sih terlalu enak di kamu."Aku menjentikkan jari.Jonny mengeluarkan sebuah pemutar suara.Terdengar rekaman suara Jessica sebelum tewas, rahasia terakhir yang berhasil orang-orangku paksa keluar dari mulutnya."Kecelakaan waktu itu sebenarnya udah diatur sama Bos.""Dia bilang, asalkan kamu buta, kamu cuma bakal bergantung sama dia dan nggak bakal bisa lepas dari dia.""Dia juga sengaja nunda-nunda waktu pengobatan ...."Rekaman itu menggema di dalam gereja yang kosong.Raut penuh kasih di wajah Aldo seketika membeku."Nggak, nggak mungkin kayak gitu.""Aku sayang banget sama kamu! Aku cuma takut kehilangan kamu aja!"Aku melangkah mendekat ke arahnya dengan pandangan dingin."Sayang

  • Tak Lagi Buta, Masa Depanmu yang Hancur   Bab 7

    Kasino terbesar di Salkana tampak sangat megah dan berkilauan.Aldo membawa rombongan besar anak buahnya menyerbu ke ruang VIP dengan aura membunuh yang kental."Suruh bos kalian keluar nemuin aku!"Sebelum manajer kasino sempat bicara, dari tangga melingkar di lantai dua terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang nyaring."Tuan Aldo, jangan emosi begitu, nanti lukanya terbuka lagi, lho."Suara ini ....Aldo mendadak mendongak.Terlihat seorang wanita mengenakan gaun merah dengan punggung terbuka sedang berjalan turun perlahan.Aku melepas cadar hitam di wajahku, memperlihatkan wajah yang sangat cantik menawan.Mata yang dulu pernah dia kecup berkali-kali, yang kini bersinar tajam, menatap lurus ke arahnya.Aku, Novi Jovana.Namun, tidak seperti diriku yang dulu selalu penurut.Saat ini, auraku terpancar sepenuhnya, layaknya seorang ratu."Novi .…"Aldo menatapku dengan tatapan yang penuh keserakahan dan obsesi yang gila.Aku memerintahkan anak buahku untuk menodongkan senjata ke a

  • Tak Lagi Buta, Masa Depanmu yang Hancur   Bab 6

    Tiga bulan telah berlalu.Aldo mengerahkan seluruh kekuatannya hanya untuk menemukan keberadaanku.Namun, aku seolah menguap dari muka bumi, bahkan tidak meninggalkan jejak sedikit pun.Aldo makin temperamental.Cacat tubuh yang dideritanya membuat psikologinya sangat menyimpang. Ketidakpuasan sekecil apa pun akan berakhir dengan eksekusi anak buah kepercayaannya.Seluruh bawahannya hidup dalam ketakutan dan rasa saling curiga.Keluarga musuh, Cosnatra, memanfaatkan kesempatan ini untuk mencaplok wilayah kekuasaan Aldo secara besar-besaran.Keluarga Antonio yang dulu tak tertandingi kini mulai menunjukkan tanda-tanda keruntuhan.Larut malam, Aldo mabuk berat dan meringkuk di tempat tidur yang pernah aku tempati, sambil memeluk baju tidur yang tidak sempat aku bawa.Itu baju yang pernah aku pakai, masih menyisakan aroma melati yang samar."Novi ... kamu tega banget ...."Dia membenamkan wajahnya di pakaian itu sambil terisak pelan.Manusia baru sadar akan hal berharga setelah kehilangan

  • Tak Lagi Buta, Masa Depanmu yang Hancur   Bab 5

    Aldo terbangun di sebuah rumah sakit pribadi.Dia mencoba bergerak, tapi rasa nyeri yang menusuk segera menjalar dari bagian bawah tubuhnya.Saat selimut disingkap, perban tebal membungkus bagian vitalnya dengan noda darah yang samar-samar merembes.Dari kamar sebelah terdengar jeritan Jessica yang memilukan, seolah-olah perempuan itu sudah gila.Dokter utama berdiri di samping tempat tidur dengan perasaan waswas, kepalanya menunduk tidak berani menatapnya."Gimana kondisinya?" Suara Aldo terdengar lemah.Dokter itu langsung jatuh berlutut, "Bos, meskipun operasi pemisahannya berhasil, tapi ... karena robekan paksa dan luka bakar kimiawi yang terlalu parah sebelumnya, jaringan ereksi Anda rusak.""Ngomong pakai bahasa manusia!""Ke depannya, mungkin nggak akan bisa ereksi secara normal ...."Keheningan yang mematikan pun menyelimuti ruangan.Wajah Aldo yang tadinya pucat berubah menjadi sangat mengerikan.Cacat?Dia, seorang bos mafia yang disegani, malah dibuat cacat oleh seorang wani

  • Tak Lagi Buta, Masa Depanmu yang Hancur   Bab 4

    Di dalam kabin, gairah sedang memuncak.Aldo menyerang bagaikan binatang buas yang tidak kenal lelah, menuntut dengan penuh kegilaan.Suara Jessica terdengar liar dan melengking, memacu saraf Aldo makin kencang."Sayang, kok hari ini kamu sempit banget?"Aldo terengah-engah, merasakan sensasi jepitan yang belum pernah sekuat ini sebelumnya.Bahkan, ada sedikit rasa panas yang menyengat."Itu karena kamu hebat banget ... ah ... panas ...."Jessica pun mulai merasakan ada yang tidak beres.Bagian bawahnya terasa perih luar biasa secara bertubi-tubi, seolah-olah sedang terbakar api."Nggak beres ... kenapa panas banget?"Aldo mengernyitkan dahi dan gerakannya pun terhenti.Rasa terbakar itu dengan cepat berubah menjadi nyeri hebat, seakan kulit mereka sedang terkikis oleh asam pekat."Cepat ... cepat cabut!"Jessica menjerit histeris dengan wajah yang terdistorsi karena menahan sakit.Aldo pun panik, dia refleks mencoba menarik diri.Namun, di detik berikutnya, pupil matanya mengecil seke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status