เข้าสู่ระบบSaat berusia dua puluh enam tahun, proyek observasi luar angkasa yang kuikuti akhirnya resmi mengumumkan hasil penelitiannya.Setelah konferensi pers selesai, seorang wartawan bertanya kepadaku mengapa aku memilih bidang astrofisika.Aku menatap gambar nebula di belakangku, lalu teringat pada hujan deras saat aku berusia enam belas tahun.Hari itu, aku pergi sendirian ke gunung. Bukan karena sedang marah atau ingin mencari perhatian.Aku hanya mendengar bahwa akan ada hujan meteor yang sangat langka.Namun, hujan semakin deras dan aku akhirnya terjebak di sebuah gardu pandang yang sudah tidak digunakan.Ketika mereka bertiga menemukanku, seluruh tubuh mereka sudah basah kuyup.Jack menggendongku turun gunung, Jonny memayungiku, sementara Kelvin menggenggam tanganku dan berulang kali berjanji bahwa mulai saat itu, dia pasti akan memilihku lebih dulu.Saat masih muda, aku menganggap kata-kata itu lebih abadi daripada bintang-bintang.Baru kemudian aku mengerti bahwa bintang pun bisa pada
Saat semester enam perkuliahaku, aku mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa di luar negeri.Sebelum berangkat, untuk pertama kalinya Ibu datang sendirian ke kampus untuk menemuiku.Tiga tahun tidak bertemu, dia terlihat jauh lebih tua. Beberapa helai rambut putih sudah tampak di pelipisnya.Dia tidak lagi membujukku untuk pulang, juga tidak menyinggung Mina maupun ketiga pemuda itu.Dia hanya mengikutiku berkeliling laboratorium, mendengarkan saat aku menjelaskan alat-alat dan proyek penelitian yang sedang kukerjakan.Saat kami sampai di dinding penghargaan, dia langsung melihat fotoku.Dalam foto itu, aku berdiri di tengah tim sambil memegang piala perlombaan.Ibu mendongak dan menatapnya cukup lama.“Waktu kecil, setiap kali kamu mendapat penghargaan, kamu juga selalu suka berdiri di tengah.”Aku tidak menyangka dia masih mengingatnya.“Lalu kenapa setelah itu kamu tidak pernah berdiri di tengah lagi?”“Karena harus memberi tempat kepada orang lain.”Seketika,
Sebelum libur, proyek observasi yang kuikuti akhirnya mencapai hasil tahap awal.Dosen pembimbing mencantumkan namaku dalam laporan penelitian, bahkan merekomendasikanku untuk mengikuti program penelitian mahasiswa tahun depan.Ketika kabar itu dikirim ke grup keluarga, Ibu langsung mengirim beberapa emoji ucapan selamat.Ayah juga sampai menelepon, sesuatu yang jarang dilakukannya dan bilang ingin mengadakan pesta untuk merayakannya.Setelah orang tuaku bercerai, Ayah segera membangun keluarga baru.Selama bertahun-tahun, dia sesekali mengirimiku uang untuk biaya hidup, tetapi jarang menanyakan kabarku. Sekarang, setelah tahu aku berhasil masuk ke proyek penelitian penting, dia baru tiba-tiba teringat bahwa dia masih memiliki seorang putri yang bisa dibanggakan.Aku menolak pesta itu dan juga tidak pulang untuk merayakan tahun baru.Ibu bertanya apakah aku masih marah kepadanya.Aku bilang, proyek observasi selama liburan di kampus sedang kekurangan orang.Itu bukan alasan.Dibandingk
Sebulan setelah mulai kuliah, aku bergabung dengan klub astronomi kampus.Saat kegiatan observasi pertama di luar kampus, dosen menyerahkan tugas pencatatan kepadaku.Aku memotret Nebula Orion, lalu merapikan seluruh data dan menyusunnya dalam bentuk tabel. Setelah sibuk hingga larut malam, ketua klub, Jeff, menyerahkan segelas air hangat kepadaku.“Kamu jago melakukan hal-hal seperti ini. Dulu sering melakukannya?”“Dulu aku terbiasa mengatur perjalanan untuk orang lain.”Dia tampak bingung.“Untuk orang lain?”Aku tersenyum, tetapi tidak menjelaskan.Kemampuan yang dulu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dariku, untuk pertama kalinya mendapat pengakuan di lingkungan baru.Aku bisa memotret, mengedit video, merencanakan rute perjalanan, dan mengingat kebutuhan setiap orang.Di sisi Mina, kemampuan-kemampuan itu hanya menjadi alat untuk memudahkan mereka untuk menjaganya.Namun, di sini, semua kemampuan itu adalah milikku sendiri.Setelah kegiatan observasi selesai, aku menerima paket
Keesokan sorenya, aku bertemu Kelvin di bawah gedung asrama.Dia terlihat seperti tidak tidur semalaman. Lingkaran gelap tampak jelas di bawah matanya dan kemejanya juga kusut.Selama delapan belas tahun terakhir, aku belum pernah melihatnya seberantakan ini.Dia berjalan cepat menghampiriku dan mengulurkan tangan, berniat mengambil ranselku.Aku menghindar ke samping.Tangannya terhenti di udara. Ada sedikit rasa canggung yang melintas di matanya.“Kok nggak angkat telepon?”“Nggak dengar.”“Lalu pesanku?”“Nggak lihat.”Kelvin menatapku, seolah tidak mengerti kenapa aku tahu dia akan datang, tetapi tetap tidak pergi menjemputnya di bandara.Dulu, setiap kali salah satu dari mereka bertiga pergi ke luar kota, aku selalu lebih dulu memeriksa jadwal penerbanganSaat mereka turun dari pesawat, aku akan membawa air minum dan jaket, lalu menunggu mereka di pintu keluar.Kelvin pernah berkata sambil tersenyum, selama dia melihatku, dia akan tahu bahwa dirinya sudah pulang.Namun sekarang, d
Pada hari mereka menyadari bahwa aku sudah pergi, diriku sedang mengikuti kegiatan pengamatan bintang untuk mahasiswa baru.Universitasku berada di dataran tinggi bagian utara, dengan perbedaan suhu yang cukup ekstrim antara siang dan malam. Siang hari langit masih cerah tanpa awan, tapi begitu malam tiba, angin dingin mulai berhembus melewati lereng bukit.Aku merapatkan jaket, lalu bersama teman asramaku memasang teleskop.Begitu ponsel dinyalakan, puluhan panggilan tak terjawab langsung masuk bersamaan.Dari Ibu, Jack, Jonny dan Kelvin.Pesan di grup berlima juga perlahan berubah, dari yang awalnya penuh ketidaksabaran menjadi kepanikan.Jack bertanya aku bersembunyi di mana.Jonny mengatakan kalau aku hanya sedang merajuk, sekarang masih belum terlambat untuk pulang.Kelvin hanya mengirim satu pesan.[Kirim alamatmu.]Nada bicaranya masih seperti sedang memerintahku.Seolah-olah selama dia membuka suara, aku seharusnya kembali seperti dulu, memberitahu jadwal, perasaan dan semua ra







