แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Bintang
Keesokan paginya, aku tetap pergi ke agen perjalanan.

Bukan untuk ikut dalam perjalanan itu, melainkan untuk mengambil kembali album fotografi yang kutitipkan di sana.

Begitu membuka pintu kaca, aku melihat mereka berempat sudah duduk di area tunggu.

Mina sedang memegang segelas teh susu hangat sambil berdiskusi dengan staf mengenai penginapan.

“Rumah kayu untuk melihat pemandangan di puncak tinggal dua kamar?”

Staf itu mengangguk.

“Satu kamar dengan dua ranjang dan satu kamar dengan satu ranjang besar. Kalau lima orang menginap, salah satu dari kalian harus tidur di sofa ruang tamu.”

Begitu mendengar itu, Jack langsung menoleh melihatku.

“Jena tidurnya nyenyak, biar dia tidur di sofa saja.”

Namun, Jonny malah mengerutkan kening.

“Malam hari di pegunungan itu dingin, di ruang tamu nggak ada pemanas.”

Aku agak terkejut dan menatapnya.

Namun, detik berikutnya, Jonny melanjutkan,

“Bukannya Jena suka foto? Lebih baik dia menginap di bawah gunung saja. Dia bisa naik sebelum matahari terbit untuk fotoin kita saat matahari terbit. Itu lebih praktis.”

Kehangatan yang baru saja muncul di hatiku langsung menghilang.

Ternyata dia bukan mengawatirkan aku kedinginan.

Dia hanya merasa aku bahkan tak perlu mengambil tempat di sofa itu.

Mina buru-buru menggenggam tanganku.

“Mana boleh begitu? Kita berlima pergi bersama. Mana boleh tinggalkan Jena sendirian di bawah gunung?”

Dia terdiam sejenak, lalu mengusulkan,

“Bagaimana kalau aku dan Jena tidur di kamar dengan ranjang besar, sementara kalian bertiga tidur di kamar yang satunya lagi?”

Kelvin langsung menolak.

“Kamu mudah terbangun. Kalau tidur berdesakan dengan orang lain, kamu nggak bisa istirahat dengan baik.”

Jack juga mengangguk.

“Jena suka bergerak saat tidur, bagaimana kalau kakinya nggak sengaja menyentuhmu?”

Mereka ingat bahwa Mina sangat mudah terbangun, tapi lupa bahwa lututku memiliki cedera lama yang akan terasa sakit kalau terkena dingin.

Cedera itu kudapat saat terjebak di pegunungan pada usia enam belas tahun.

Aku menarik kembali tanganku perlahan.

“Nggak perlu dibicarakan lagi, aku nggak ikut.”

Keempatnya langsung terdiam.

Mata Mina langsung berkaca-kaca.

“Karena masalah kamar, ya? Aku bisa tidur di sofa, benaran.”

“Bukan.”

Aku mengangkat ponselku.

“Aku sudah mendaftar kursus mengemudi, jadwalnya bentrok.”

Jack terkekeh sinis.

“Sudah kubilang, dia nggak mungkin marah hanya karena masalah sepele seperti ini. Kalian saja yang repot-repot membujuknya.”

Jonny kembali menundukkan kepala dan memeriksa rute perjalanan.

Hanya Kelvin yang menatapku selama beberapa detik.

“Kamu benaran nggak ikut?”

“Benaran.”

“Lalu bagaimana dengan foto kelulusan?”

“Bisa cari fotografer lokal.”

Keningnya agak berkerut, seolah tak terbiasa mendengar penolakanku.

Tiba-tiba, Mina memegangi dadanya dan terengah-engah beberapa kali.

Seketika, perhatian ketiga orang itu teralihkan padanya.

Jack mencarikan obat untuknya, Jonny membuka botol air mineral, sementara Kelvin berjongkok di hadapannya dan menyuruhnya bernapas perlahan.

Aku berjalan sendirian ke meja resepsionis untuk mengambil kembali album fotografi yang tebal itu.

Album tersebut berisi karya-karya yang kukumpulkan selama tiga tahun.

Sejak kelas satu hingga kelas tiga SMA, aku mengabadikan setiap momen penting yang kami lalui bersama. Awalnya, aku berniat memberikan album itu pada mereka saat perjalanan setelah kelulusan.

Namun, ketika kubuka asal, baru kusadari bahwa hampir tak ada diriku di dalamnya.

Aku adalah orang yang berada di balik kamera.

Orang yang bertugas menyimpan kenangan mereka.

Dan juga orang yang paling mudah diabaikan saat foto bersama.

Aku membawa album itu keluar dari agen perjalanan, tapi seorang staf malah mengejarku.

“Nona Jena, biaya perjalananmu belum dikembalikan.”

“Biaya perjalanan apa?”

Dia mengeluarkan kontrak dan menunjuk catatan pembayaran.

“Pak Kelvin bilang bahwa kamu mengundurkan diri dari perjalanan ini, tapi hotel dan tiket kendaraan sudah dipesan. Ada biaya pendaftaran yang harus dipotong dari uang deposit yang kamu bayarkan.”

Aku menatap nama yang tercantum sebagai pembayar, sementara jariku perlahan mengepal.

Setengah bulan lalu, Kelvin bilang bahwa dia ingin menyiapkan kejutan kelulusan dan mengambil 40 juta dariku.

Aku kira dia masih mengingat janji yang dibuatnya saat kami berusia enam belas tahun untuk mengajakku pergi ke pegunungan bersalju.

Ternyata, uang itu dia gunakan untuk membiayai perjalanan mereka berempat.

Aku kembali ke area tunggu dan meletakkan kontrak di hadapan Kelvin.

“Jelaskan.”

Begitu melihat catatan pembayaran itu, ekspresi Kelvin tampak agak canggung.

“Awalnya memang dipesan untuk lima orang, tapi kemudian Mina ingin menginap di rumah kayu dengan pemandangan terbaik. Jadi, biayanya kurang sedikit, makanya pakai uang itu dulu.

“Kok nggak tanya padaku?”

“Kita ini sudah seperti keluarga sendiri. Emangnya perlu begitu perhitungan? Setelah perjalanan selesai, aku akan mengembalikannya.”

Tatapanku tertuju pada tangan Mina.

Di jari manisnya terpasang sebuah cincin emas putih. Di bagian dalamnya terukir inisial nama kami berlima.

“Cincin itu juga dibeli dengan uangku?”

Seketika, wajah Mina memucat. Dia buru-buru melepas cincin itu.

“Jena, aku nggak tahu kalau itu uangmu. Mereka hanya bilang karena sudah lulus, jadi ingin memberikan kenang-kenangan untuk persahabatan kita.”

Jack langsung berdiri.

“Berapa harganya? Biar kutransfer sekarang. Jangan salahkan Mina.”

“Baiklah.”

Aku mengeluarkan selembar rincian biaya dari dalam album fotografi.

“Ditambah biaya pemotretan selama tiga tahun, penyuntingan foto dan pembuatan album kenangan, totalnya 76 juta.”

Dia terkejut.

“Biaya fotografi apa?”

“Karena aku bukan teman yang ikut berpergian bersama kalian, melainkan hanya orang yang bertugas memotret kalian, jadi biayanya dihitung berdasarkan harga pasar.”

Area tunggu itu langsung menjadi hening.

Aku merapikan kontrak, lalu memeluk album fotografi yang bahkan tak memuat diriku sendiri itu.

Dari belakang, untuk pertama kalinya Kelvin memanggil nama lengkapku.

“Jena Hasim, kamu benar-benar mau begitu perhitungan?”

Aku tak menoleh.

Tentu saja harus dihitung dengan jelas.

Karena mulai sekarang, yang tersisa diantara diriku dan mereka hanyalah hutang.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 10

    Saat berusia dua puluh enam tahun, proyek observasi luar angkasa yang kuikuti akhirnya resmi mengumumkan hasil penelitiannya.Setelah konferensi pers selesai, seorang wartawan bertanya kepadaku mengapa aku memilih bidang astrofisika.Aku menatap gambar nebula di belakangku, lalu teringat pada hujan deras saat aku berusia enam belas tahun.Hari itu, aku pergi sendirian ke gunung. Bukan karena sedang marah atau ingin mencari perhatian.Aku hanya mendengar bahwa akan ada hujan meteor yang sangat langka.Namun, hujan semakin deras dan aku akhirnya terjebak di sebuah gardu pandang yang sudah tidak digunakan.Ketika mereka bertiga menemukanku, seluruh tubuh mereka sudah basah kuyup.Jack menggendongku turun gunung, Jonny memayungiku, sementara Kelvin menggenggam tanganku dan berulang kali berjanji bahwa mulai saat itu, dia pasti akan memilihku lebih dulu.Saat masih muda, aku menganggap kata-kata itu lebih abadi daripada bintang-bintang.Baru kemudian aku mengerti bahwa bintang pun bisa pada

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 9

    Saat semester enam perkuliahaku, aku mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa di luar negeri.Sebelum berangkat, untuk pertama kalinya Ibu datang sendirian ke kampus untuk menemuiku.Tiga tahun tidak bertemu, dia terlihat jauh lebih tua. Beberapa helai rambut putih sudah tampak di pelipisnya.Dia tidak lagi membujukku untuk pulang, juga tidak menyinggung Mina maupun ketiga pemuda itu.Dia hanya mengikutiku berkeliling laboratorium, mendengarkan saat aku menjelaskan alat-alat dan proyek penelitian yang sedang kukerjakan.Saat kami sampai di dinding penghargaan, dia langsung melihat fotoku.Dalam foto itu, aku berdiri di tengah tim sambil memegang piala perlombaan.Ibu mendongak dan menatapnya cukup lama.“Waktu kecil, setiap kali kamu mendapat penghargaan, kamu juga selalu suka berdiri di tengah.”Aku tidak menyangka dia masih mengingatnya.“Lalu kenapa setelah itu kamu tidak pernah berdiri di tengah lagi?”“Karena harus memberi tempat kepada orang lain.”Seketika,

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 8

    Sebelum libur, proyek observasi yang kuikuti akhirnya mencapai hasil tahap awal.Dosen pembimbing mencantumkan namaku dalam laporan penelitian, bahkan merekomendasikanku untuk mengikuti program penelitian mahasiswa tahun depan.Ketika kabar itu dikirim ke grup keluarga, Ibu langsung mengirim beberapa emoji ucapan selamat.Ayah juga sampai menelepon, sesuatu yang jarang dilakukannya dan bilang ingin mengadakan pesta untuk merayakannya.Setelah orang tuaku bercerai, Ayah segera membangun keluarga baru.Selama bertahun-tahun, dia sesekali mengirimiku uang untuk biaya hidup, tetapi jarang menanyakan kabarku. Sekarang, setelah tahu aku berhasil masuk ke proyek penelitian penting, dia baru tiba-tiba teringat bahwa dia masih memiliki seorang putri yang bisa dibanggakan.Aku menolak pesta itu dan juga tidak pulang untuk merayakan tahun baru.Ibu bertanya apakah aku masih marah kepadanya.Aku bilang, proyek observasi selama liburan di kampus sedang kekurangan orang.Itu bukan alasan.Dibandingk

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 7

    Sebulan setelah mulai kuliah, aku bergabung dengan klub astronomi kampus.Saat kegiatan observasi pertama di luar kampus, dosen menyerahkan tugas pencatatan kepadaku.Aku memotret Nebula Orion, lalu merapikan seluruh data dan menyusunnya dalam bentuk tabel. Setelah sibuk hingga larut malam, ketua klub, Jeff, menyerahkan segelas air hangat kepadaku.“Kamu jago melakukan hal-hal seperti ini. Dulu sering melakukannya?”“Dulu aku terbiasa mengatur perjalanan untuk orang lain.”Dia tampak bingung.“Untuk orang lain?”Aku tersenyum, tetapi tidak menjelaskan.Kemampuan yang dulu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dariku, untuk pertama kalinya mendapat pengakuan di lingkungan baru.Aku bisa memotret, mengedit video, merencanakan rute perjalanan, dan mengingat kebutuhan setiap orang.Di sisi Mina, kemampuan-kemampuan itu hanya menjadi alat untuk memudahkan mereka untuk menjaganya.Namun, di sini, semua kemampuan itu adalah milikku sendiri.Setelah kegiatan observasi selesai, aku menerima paket

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 6

    Keesokan sorenya, aku bertemu Kelvin di bawah gedung asrama.Dia terlihat seperti tidak tidur semalaman. Lingkaran gelap tampak jelas di bawah matanya dan kemejanya juga kusut.Selama delapan belas tahun terakhir, aku belum pernah melihatnya seberantakan ini.Dia berjalan cepat menghampiriku dan mengulurkan tangan, berniat mengambil ranselku.Aku menghindar ke samping.Tangannya terhenti di udara. Ada sedikit rasa canggung yang melintas di matanya.“Kok nggak angkat telepon?”“Nggak dengar.”“Lalu pesanku?”“Nggak lihat.”Kelvin menatapku, seolah tidak mengerti kenapa aku tahu dia akan datang, tetapi tetap tidak pergi menjemputnya di bandara.Dulu, setiap kali salah satu dari mereka bertiga pergi ke luar kota, aku selalu lebih dulu memeriksa jadwal penerbanganSaat mereka turun dari pesawat, aku akan membawa air minum dan jaket, lalu menunggu mereka di pintu keluar.Kelvin pernah berkata sambil tersenyum, selama dia melihatku, dia akan tahu bahwa dirinya sudah pulang.Namun sekarang, d

  • Tak Lagi Menunggu Untuk Dipilih   Bab 5

    Pada hari mereka menyadari bahwa aku sudah pergi, diriku sedang mengikuti kegiatan pengamatan bintang untuk mahasiswa baru.Universitasku berada di dataran tinggi bagian utara, dengan perbedaan suhu yang cukup ekstrim antara siang dan malam. Siang hari langit masih cerah tanpa awan, tapi begitu malam tiba, angin dingin mulai berhembus melewati lereng bukit.Aku merapatkan jaket, lalu bersama teman asramaku memasang teleskop.Begitu ponsel dinyalakan, puluhan panggilan tak terjawab langsung masuk bersamaan.Dari Ibu, Jack, Jonny dan Kelvin.Pesan di grup berlima juga perlahan berubah, dari yang awalnya penuh ketidaksabaran menjadi kepanikan.Jack bertanya aku bersembunyi di mana.Jonny mengatakan kalau aku hanya sedang merajuk, sekarang masih belum terlambat untuk pulang.Kelvin hanya mengirim satu pesan.[Kirim alamatmu.]Nada bicaranya masih seperti sedang memerintahku.Seolah-olah selama dia membuka suara, aku seharusnya kembali seperti dulu, memberitahu jadwal, perasaan dan semua ra

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status