INICIAR SESIÓNBagi Armand Putradi, hidup tak lebih dari sebuah lembar penilaian. Saat kami masih berpacaran, dia pernah berkata bahwa orang maupun hal yang nilainya di bawah sembilan puluh tidak layak menyita waktunya. Setelah menikah, rupanya aku pun tak luput dari penilaiannya. Di hari jadi pernikahan kami, aku menyiapkan satu meja penuh hidangan kesukaannya. Dia mencicipi satu suapan, lalu memberikan penilaiannya dengan santai. "Delapan puluh sembilan." Setelah itu, dia meletakkan sendoknya dan pergi menemani Irene Aditya makan karena wanita itu sedang tidak berselera. Saat perayaan ulang tahun perusahaan, aku menghabiskan waktu mencoba dua puluh tujuh gaun. Armand hanya melirik sekilas. "Delapan puluh delapan. Nggak pantas dipakai ke acara." Namun malam itu, dia justru menggandeng Irene ke pesta. Wanita itu hanya mengenakan gaun putih sederhana. Demi mendapatkan nilai sempurna darinya, aku meninggalkan pekerjaanku, meraih tujuh sertifikat, dan menguasai empat bahasa asing. Aku sudah memberikan semua yang kupunya. Namun di matanya, usahaku tetap tak pernah cukup. Nilai yang kudapat selalu berhenti di angka delapan puluh sembilan. Sementara Irene tidak perlu melakukan apa-apa. Dia cukup berdiri di sana, nilainya sudah sempurna. Pernah suatu kali aku bertanya, "Lalu, aku harus gimana supaya bisa dapat nilai sembilan puluh?" Dia hanya melirik Irene. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Saat itulah aku tiba-tiba tertawa. Baru malam itu aku menyadarinya. Sejak awal pun, standar penilaiannya tak pernah berubah. Hanya saja, standar itu bukan aku. Aku melepas cincin pernikahan dari jariku, lalu menjatuhkannya ke dalam gelas anggur di hadapannya. "Armand, kali ini giliranku yang kasih nilai." "Kesetiaanmu, nol." "Pernikahanmu, nol." "Dan sebagai manusia, kamu juga nggak lulus."
Ver másPada hari cabang Arsea resmi berdiri, aku dipercaya memimpin proses seleksi perekrutan pertama.Setelah menyelesaikan tes penerjemahan, seorang gadis muda menghampiriku dengan wajah tegang. "Bu Vanda, kira-kira berapa nilai yang akan saya dapat?"Aku menutup buku catatan di tanganku."Kenapa harus ada nilai?""Saya takut kemampuan saya masih belum cukup baik.""Kamu sudah menyampaikan makna aslinya dengan utuh dan berhasil menangani situasi yang nggak terduga. Kalau masih ada yang perlu diperbaiki, pulang dan berlatih lagi."Gadis itu masih tampak ragu."Kalau begitu, apa saya diterima?"Aku menyerahkan kartu identitas kerjanya."Selamat bergabung."Dia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum dan menerima kartu itu.Di dekat pintu, Adrian berdiri sambil membawa dua porsi sarapan."Bu Vanda, pewawancaranya saja belum sarapan. Penilaiannya nggak lulus.""Dipotong berapa poin?""Nggak ada potongan."Dia menyodorkan segelas susu kedelai hangat kepadaku."Lain kali jangan lupa sar
Rapat darurat Grup Hantara berlangsung selama enam jam.Ketika akhirnya keluar dari ruang rapat, Armand sudah tidak lagi menjabat sebagai direktur utama.Dewan direksi menilai bahwa selama ini dia terlalu sering menyalahgunakan wewenangnya dan mengutamakan orang-orang terdekatnya. Sikap tersebut telah menyebabkan kerugian pada sejumlah proyek perusahaan.Kebocoran informasi internal yang dilakukan Irene juga membuat perusahaan harus menghadapi tuntutan ganti rugi dalam jumlah besar.Ayahnya melemparkan surat pengunduran diri ke hadapannya."Demi seorang wanita, kamu sampai hancurin perusahaan seperti ini. Sekarang kamu puas?"Armand membungkuk dan mengambil surat itu."Ini kesalahanku."Malam itu, dia datang menemuiku untuk menyelesaikan penandatanganan perjanjian restrukturisasi saham yang terakhir.Aku membaca seluruh ketentuannya sebelum mengangkat kepala."Kamu menyerahkan sepuluh persen saham atas namamu sendiri?""Untuk ngasih kompensasi kepada tim luar negeri yang diberhentikan.
Kabar tentang penonaktifan Irene dengan cepat menyebar ke seluruh Grup Hantara.Namun, sebelum perusahaan sempat mengambil langkah lebih lanjut, dia tiba-tiba muncul dalam konferensi pers dan memberikan versinya sendiri."Semua surel itu dikirim sendiri oleh Vanda."Dia mengangkat setumpuk dokumen yang sudah dicetak dan menunjukkannya kepada para wartawan."Dia memang sudah lama berniat meninggalkan Pak Armand. Karena itu, dia sengaja mengalihkan semua kesalahan kepadaku."Seorang wartawan segera mengarahkan mikrofon kepadaku."Nona Vanda, bukti apa yang Anda miliki?"Aku menyalakan proyektor yang sudah disiapkan."Pertama, alamat login saat surel pertama dikirim berasal dari kantor Presiden Grup Hantara."Layar besar menampilkan lokasi login dari sistem kantor tersebut.Ekspresi Irene seketika menegang."Siapa pun bisa masuk ke kantor itu.""Benar. Karena itu, aku juga mengajukan pemeriksaan tulisan tangan dan keaslian cap."Aku mengganti tampilan ke halaman berikutnya."Cap yang digu
Enam bulan berlalu. Aku akhirnya berhasil menyelesaikan sebuah negosiasi internasional di Jenovia.Begitu keluar dari ruang rapat, Adrian Gunadi menyerahkan termos kepadaku."Dokter sudah nyuruh kamu ngurangin kopi."Aku menerima sambil tersenyum. "Hari ini aku cuma minum satu cangkir.""Minggu lalu kamu juga bilang begitu."Aku tertawa kecil."Pak Adrian sampai harus ngurusin kebiasaan minumku sekarang?""Bukan ngurusin. Aku cuma mengingatkan."Dia menyerahkan catatan rapat yang baru saja kami selesaikan."Nggak ada yang berhak menilai keputusanmu. Termasuk aku."Aku menunduk, memandangi catatan di tanganku.Setelah kembali bekerja, rupanya kebiasaan lama masih sulit kutinggalkan. Tanpa sadar, aku terus memeriksa pekerjaanku berulang kali, bahkan memperbaiki setiap jeda kecil dalam prosesnya.Seusai rapat pertamaku, aku bahkan sempat bertanya kepada Adrian, "Menurutmu, tadi penampilanku gimana?"Dia hanya menjawab singkat, "Sudah selesai. Itu sudah cukup."Kalimat sederhana itu membua


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.