Share

Bab 3

Penulis: Lapis Ketan
Tanpa memedulikan apa pun, ibuku langsung memeluk Irene.

"Bodoh, mana mungkin Bibi membiarkanmu pergi, sekarang kamu hanya punya Bibi."

Sambil berbicara, ibuku berbalik dan menatapku, tatapannya penuh kekecewaan.

"Clara, kali ini kamu sudah keterlaluan!"

"Ibu kecewa sama kamu!"

Kecewa?

Aku tersenyum pahit.

Ibu ingin aku selalu mengalah pada Irene, sudah kulakukan.

Ibu ingin aku bisa menoleransi perbuatan Irene, sudah kulakukan.

Lalu, apa kesalahanku yang membuat Ibu kecewa?

Apa karena aku tidak lagi diam, membiarkan Irene menindasku seperti dulu?

Apa karena setelah sadar aku dianaktirikan, aku tidak lagi mau berpura-pura bodoh?

Tapi Bu, aku juga manusia!

Aku juga punya harga diri.

Ayahku mulai menjadi penengah.

"Clara, kali ini ibumu benar-benar marah!"

"Cepat minta maaf pada Irene, masalah ini kita anggap selesai."

Lagi-lagi disuruh minta maaf!

Sampai detik ini, selalu aku yang disuruh minta maaf!

Kali ini, aku tidak mau!

Aku menengadahkan kepala dan menatap mereka, lalu berkata, "Aku nggak mau minta maaf!"

Tidak disangka, Felix menendangku.

"Kalau begitu, mari kita lihat mulutmu atau tinjuku yang lebih kuat!"

Aroma darah memenuhi mulutku, darah segar menyembur keluar dari mulutku.

Namun, Felix tidak peduli, lalu terus menghinaku, "Clara, jangan coba-coba bermain trik denganku!"

"Kuberi tahu, kalau kamu nggak minta maaf, aku akan menghajarmu!"

Sambil berbicara, Felix mengangkat kakinya lagi.

Ayahku menghentikan Felix. "Felix, jangan kasar seperti itu, dia itu kakakmu!"

Felix segera membantah, "Irene itu baru kakakku."

"Dia terlalu perhitungan, aku nggak mau kakak seperti dia!"

"Kakakku hanya Kak Irene!"

Lalu, ibuku angkat bicara, "Clara, jangan salahkan kami karena memihak Irene."

"Lihat dirimu sekarang! Seingatku, dulu kamu sangat pengertian."

Sambil berbicara, ibuku menarik Irene masuk ke dalam kamar.

Dari sudut mataku, Irene terlihat melirikku, lirikannya penuh keangkuhan.

Seolah berkata, "Lihatlah, selamanya kamu nggak akan bisa menang dariku!"

"Semua barang milikmu, termasuk keluargamu, semuanya jadi milikku!"

Seolah mendapatkan izin, Felix mendekatiku lagi dengan tatapan mengancam.

Setelah mendengar perkataan ibuku, ayah yang berada di sampingku tidak berkata apa-apa lagi, kembali ke kamarnya.

Felix datang sambil mengepalkan tangan.

"Clara, aku peringatkan sebaiknya segera minta maaf kepada Kak Irene."

"Kalau nggak, aku akan menghajarmu dengan keras!"

"Jangan sampai kamu kena pukul sia-sia, tapi pada akhirnya kamu mau minta maaf."

Ini pertama kalinya melihat tatapan Felix seperti ini, tiba-tiba dia terasa sangat asing bagiku.

Meskipun biasanya Felix tidak bersikap ramah padaku, selama ada Ayah dan Ibu, Felix tidak akan berani bertindak terlalu berlebihan.

Namun, sekarang Felix menatapku seperti melihat seorang penjahat yang dosanya tidak terampuni.

Seolah dia ingin menghancurkanku berkeping-keping.

Padahal konflik di antara kami nggak sedalam ini!

Trik Irene benar-benar hebat!

Pertama ibuku, lalu ayahku, lalu Felix!

Mereka satu per satu rela menyakitiku demi Irene.

Aku tersenyum pahit. "Sekalipun kamu menghajarku sampai mati hari ini, aku nggak akan minta maaf!"

Felix memukul tubuhku berkali-kali.

Aku tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Dibandingkan sakit di hatiku, rasa sakit ini tidaklah seberapa.

Akhirnya, ayahku keluar untuk menghentikannya.

"Berhenti memukulnya, nanti konsekuensinya besar kalau sampai dia mati."

Felix juga merasa tidak ada gunanya, jadi dia berhenti memukulku.

Kondisi rumah seketika menjadi tenang.

Aku berbaring di lantai yang dingin, mengingat kembali semua yang terjadi.

Entah sudah berapa lama, aku mendengar orang tuaku berbicara dengan suara sangat pelan di dalam kamar, "Apa yang kita lakukan hari ini nggak keterlaluan?"

"Nggak, justru yang dilakukan Clara hari ini sudah sangat keterlaluan, memang seharusnya memberinya pelajaran."

"Paling besok kita buatkan dia makanan enak sebagai permintaan maaf kita."

"Kamu masih belum mengenal wataknya? Dia itu sangat mengutamakan keluarga."

Aku tertawa, ternyata karena aku mengutamakan keluarga.

Jadi, mereka bisa seenaknya menginjak harga diriku!

Tepat pada saat itu, ponselku berbunyi.

Sahabatku mengirimkan informasi tiketku, penerbanganku besok pagi.

Aku berdiri sambil menahan sakit, membawa kartu identitas dan langsung keluar rumah.

Saat menutup pintu, aku merasa kelegaan luar biasa.

Keluarga ini … aku sudah nggak menginginkannya lagi!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 8

    Aku menggenggam erat tali ranselku, lalu menarik napas dalam-dalam."Hidupku sudah enak di luar sana.""Aku punya pekerjaan, juga punya tempat tinggal, Ibu nggak perlu khawatir.""Tapi, Ibu merindukanmu!"Tanpa mengatakan apa-apa, aku keluar dari kamar pasien.Felix mengejarku."Kak, pulanglah, Ayah dan Ibu sangat merindukanmu."Aku mencibir."Merindukanku? Mereka ingin aku pulang untuk kembali menjadi putri yang selalu pengertian itu?"Felix membuka mulutnya, tetapi tidak bisa berkata apa-apa.Aku keluar dari rumah sakit, sinar matahari di luar terasa menyilaukan.Ponselku berbunyi, ternyata Rita mengirimkan pesan.[Ada pesanan banyak lagi, kapan kamu pulang?]Aku membalas pesan, [Besok.]Saat aku berada di hotel malamnya, bel pintu kamarku berbunyi.Begitu pintu dibuka, aku melihat orang tuaku berdiri di luar, mata mereka bengkak."Clara, boleh kami masuk?"Aku tidak mengatakan apa-apa, hanya memiringkan badanku dan membiarkan orang tuaku masuk.Mereka menaruh apel, lalu berkata sete

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 7

    Irene punya seorang "sahabat", yang tahu semua rahasianya.Keduanya bertengkar karena memperebutkan seorang pria, akhirnya sahabatnya membocorkan rahasianya.Ironis sekali!Orang yang mencelakaiku, pada akhirnya celaka karena ulahnya sendiri!Saat ibuku membaca unggahan tersebut, dia terkejut.Ibuku menunjukkan ponsel kepada Irene, lalu menanyakan apakah berita itu benar.Irene langsung membantah, katanya itu bukan akunnya, tetapi dipalsukan orang lain.Namun, salah satu akun terhubung dengan nomor teleponnya, bukti ini tidak bisa dia sangkal.Ibuku menangis dengan keras, lalu berkata sambil menangis, "Clara, apa Bibi memperlakukanmu buruk? Kenapa kamu melakukannya? Clara adalah putri kandungku, kenapa kamu …."Irene juga menangis, tanpa pura-pura, kali ini dia benar-benar menangis histeris."Bibi, aku hanya takut!""Aku takut kalian mencampakkanku kalau ada Clara!"Ibuku tertegun."Kamu takut kami mencampakkanmu, jadi kamu mengusir Clara?""Kamu suruh dia tidur di balkon, merebut bara

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 6

    Kalau dulu, mungkin aku akan menangis karena merasa ditindas.Namun, sekarang aku merasa ini konyol.Dia selalu memakai trik yang sama.Dia selalu memposisikan dirinya sebagai korban, lalu membuat semua orang menyalahkan aku.Namun tidak kusangka, ada satu nama yang kukenal di antara komentar-komentar itu.Ibuku.Ibuku tidak tahu bahwa itu adalah akun kedua Irene, dia mengira itu unggahan orang asing.Ibuku menuliskan komentar.[Kamu benar sekali, putriku memang nggak tahu diri, andai dia pengertian sepertimu.]Aku membaca komentar itu, jariku terasa dingin.Ternyata di mata ibuku, aku orang yang seperti itu.Aku meletakkan ponselku, lalu berdiri lama di balkon.Aku teringat saat kecil dulu aku demam, Ibu begadang semalaman menjaga di samping tempat tidurku, berulang kali mengganti handuk di dahiku.Saat itu, aku mengira Ibu akan menyayangiku selamanya.Belakangan aku baru tahu, cinta bisa berubah.Seminggu kemudian, Rita mendapat pesanan besar, nilainya satu miliar lebih.Pembeli butu

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 5

    Aku memegang ponsel, tidak menjawab sepatah kata pun.Suaranya terdengar bergetar menahan tangis."Jawab! Katakan kamu ada di mana, Ibu pergi menjemputmu."Aku menjawab dengan tenang, "Nggak perlu. Aku ada di luar kota, nggak akan pulang dalam waktu dekat."Di seberang telepon hening selama beberapa detik.Suara ibuku terdengar tidak percaya."Apa maksudmu? Kamu pergi ke luar kota sendirian? Kamu gila, ya? Kamu itu perempuan …."Aku menyelanya dengan suara yang sangat tenang, "Aku bukan sedang minta izin, melainkan hanya memberitahumu."Suara ibuku meninggi. "Clara!""Cepat pulang! Apa-apaan kamu ini! Bukankah cuma karena satu kali nggak mengajakmu makan bareng? Apa perlu sampai membuat keributan seperti ini?"Aku tidak menjawab apa-apa.Sepertinya ibuku mengira aku ragu, sehingga dia melembutkan suaranya."Ya sudah, pulanglah. Ibu masak daging asam manis kesukaanmu.""Felix juga sudah mengaku salah, lalu kita sekeluarga hidup rukun."Keluarga!Aku menyeringai."Bu, aku tanya satu hal.

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 4

    Aku memaksakan diri berjalan di pinggir jalan dan memanggil taksi."Antar saya ke bandara."Sopir melihat wajahku yang pucat dan penuh luka.Dia bertanya apa perlu lapor polisi.Aku menggelengkan kepala, lalu memberitahukan tempat tujuanku.Di luar jendela, satu per satu lampu jalan melintas ke belakang.Mengingatkanku pada kenangan saat ibuku menggenggam tanganku ketika aku sedang menghitung lampu jalan.Pada saat itu, ibuku berkata, "Clara anak paling baik, Ibu paling sayang sama kamu."Sungguh menggelikan!Seampainya di bandara, masih ada waktu empat jam lebih sebelum naik pesawat.Aku mencari tempat duduk di pojokan.Luka di lututku masih terasa sakit.Aku menyingsingkan ujung celana, ada memar yang sangat besar, dan sangat bengkak.Aku pergi ke kamar mandi untuk membilas lukaku dengan air dingin.Sakit luar biasa.Dari cermin terlihat mataku merah, ada bekas darah yang sudah mengering di sudut mulutku.Aku menggosok dengan kuat, tapi justru makin memerah.Akhirnya aku tidak mengus

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 3

    Tanpa memedulikan apa pun, ibuku langsung memeluk Irene."Bodoh, mana mungkin Bibi membiarkanmu pergi, sekarang kamu hanya punya Bibi."Sambil berbicara, ibuku berbalik dan menatapku, tatapannya penuh kekecewaan."Clara, kali ini kamu sudah keterlaluan!""Ibu kecewa sama kamu!"Kecewa?Aku tersenyum pahit.Ibu ingin aku selalu mengalah pada Irene, sudah kulakukan.Ibu ingin aku bisa menoleransi perbuatan Irene, sudah kulakukan.Lalu, apa kesalahanku yang membuat Ibu kecewa?Apa karena aku tidak lagi diam, membiarkan Irene menindasku seperti dulu?Apa karena setelah sadar aku dianaktirikan, aku tidak lagi mau berpura-pura bodoh?Tapi Bu, aku juga manusia!Aku juga punya harga diri.Ayahku mulai menjadi penengah."Clara, kali ini ibumu benar-benar marah!""Cepat minta maaf pada Irene, masalah ini kita anggap selesai."Lagi-lagi disuruh minta maaf!Sampai detik ini, selalu aku yang disuruh minta maaf!Kali ini, aku tidak mau!Aku menengadahkan kepala dan menatap mereka, lalu berkata, "Aku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status