Compartir

Bab 2

Autor: Lapis Ketan
"Cukup, Clara! Itu 'kan cuma unggahan Instagram? Kenapa kamu perhitungan sekali?"

"Kak Irene sampai menangis, cepat minta maaf padanya!"

Hatiku rasanya hancur sekali

Jelas-jelas aku tidak bersalah, sekarang disuruh minta maaf.

Aku mencibir, "Minta maaf, atas dasar apa? Apa kesalahanku?"

Felix sangat marah.

"Apa kesalahanmu? Membuat Kak Irene sedih sama saja dengan cari masalah denganku!"

"Aku nggak peduli, cepat minta maaf! Kalau nggak, jangan salahkan aku bertindak kasar!"

Terdengar suara ibuku di telepon.

"Felix, jangan bicara kasar dengan Clara, dia kakakmu!"

Kemudian, dia berkata lagi di telepon, "Clara, Felix masih kecil, jangan diambil hati."

"Lagi pula, kami hanya makan sederhana hari ini, jangan terlalu dipikirkan."

Mendengar kata-kata ibuku, hatiku terasa sangat pedih.

Aku mencibir.

"Nggak perlu dijelaskan, toh kalianlah yang lebih cocok disebut sebagai keluarga."

Kata-kataku membuat ibuku marah.

Suara ibuku di telepon meninggi.

"Clara, kenapa kamu bicara seperti itu?!"

"Cuma nggak mengajakmu makan bareng, 'kan? Kenapa kamu mempermasalahkannya?"

"Kalau mau makan, aku transfer empat ratus ribu ke rekeningmu biar kamu makan sepuasnya!"

Di tengah obrolan kami, muncul notifikasi saldo masuk dari bank sebesar empat ratus ribu.

"Sudah, uang sudah kutransfer, lupakan masalah ini."

Setelah itu, ibuku langsung menutup telepon.

Aku mendengus.

Keluarga seperti ini, hubungan seperti ini, aku nggak menginginkannya lagi!

Aku menghubungi sahabatku.

"Mengenai proyek yang pernah kamu sebutkan sebelumnya, bolehkah aku bergabung?"

Sahabatku langsung menjawab, "Tentu saja boleh!"

"Clara, akhirnya kamu bersedia bergabung di perusahaanku!"

"Kapan kamu ke sini? Aku mau pesankan tiket pesawat untukmu."

Tanpa keraguan sedikit pun, aku menjawab, "Besok saja, makin cepat makin baik."

Setelah menutup telepon, hatiku mulai merasa tenang.

Sahabatku telah berkali-kali mengajakku bergabung di perusahaannya, tapi aku selalu menolaknya dengan alasan lokasinya terlalu jauh dari rumah.

Keinginanku saat itu hanya menemani keluargaku.

Namun, sekarang aku berubah pikiran!

Mereka berempat sampai di rumah ketika sudah larut malam.

Mereka sepertinya habis minum anggur, rumah dipenuhi dengan bau alkohol.

Aku sedang mengemasi barang-barangku.

Melihat aku mengemasi barang, raut wajah orang tuaku langsung berubah.

Ibuku segera mengambil pakaian di tanganku lalu membuangnya ke lantai.

"Clara, kamu sedang melakukan apa? Mau kabur dari rumah?"

"Bukankah Ibu sudah kasih uang? Kenapa kamu masih cari ribut?"

Aku mengambil pakaianku di lantai, lalu menatap ibuku.

"Cari ribut? Siapa sebenarnya yang cari ribut?"

"Aku sudah baca percakapan kalian di grup keluarga, apa kalian masih menganggapku keluarga?"

Wajah ibuku langsung memucat.

"Clara, dengarkan penjelasan Ibu …."

Aku mencibir. "Nggak perlu, aku sudah nggak menginginkan keluarga seperti ini."

Ayahku di samping akhirnya angkat bicara, tetapi kata-katanya penuh dengan tuduhan, "Cuma obrolan grup biasa, apa ada artinya?"

"Clara, kamu terlalu baperan."

"Baperan?"

Sudahlah.

Mereka akan tetap menyalahkanku apa pun yang kulakukan.

Aku tidak memedulikan mereka lagi, lalu mengemasi barang-barangku.

Irene maju sambil menangis.

"Clara, apa kamu baca pesan di WhatsApp-ku?"

"Maaf, semua ini salahku."

"Andai aku nggak datang ke rumah ini, kamu nggak akan terbebani seperti ini."

Sambil berbicara, dia maju dan menarik lenganku.

"Clara, jangan marah lagi, ya?"

"Yang pergi seharusnya aku, kamulah putri mereka."

Aku menepis tangannya di lenganku.

"Jangan pura-pura baik di depanku! Aku nggak percaya!"

Aku hanya menepis tangannya pelan, tetapi dia tersandung dan menabrak ujung meja.

Badannya ditahan oleh Felix di samping.

Felix berdiri di depan Irene, lalu mendorongku.

Aku tidak sempat menghindar dan akhirnya terjatuh ke lantai.

Lututku terbentur keras, rasanya sakit sekali.

Namun, tidak terlihat penyesalan di wajah Felix.

Sebaliknya, Felix terlihat senang melihat aku kesakitan.

"Siapa suruh kamu yang menyakiti Kak Irene duluan, ini balasan untukmu!"

"Lihat nanti kamu masih berani menyakitinya atau nggak!"

Aku melihat sekilas ada keraguan di wajah ibuku.

Ketika hendak memapahku berdiri, perhatiannya teralihkan oleh suara tangisan Irene.

"Bibi, sebaiknya aku pergi saja, aku hanya menyebabkan pertengkaran di keluarga ini."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 8

    Aku menggenggam erat tali ranselku, lalu menarik napas dalam-dalam."Hidupku sudah enak di luar sana.""Aku punya pekerjaan, juga punya tempat tinggal, Ibu nggak perlu khawatir.""Tapi, Ibu merindukanmu!"Tanpa mengatakan apa-apa, aku keluar dari kamar pasien.Felix mengejarku."Kak, pulanglah, Ayah dan Ibu sangat merindukanmu."Aku mencibir."Merindukanku? Mereka ingin aku pulang untuk kembali menjadi putri yang selalu pengertian itu?"Felix membuka mulutnya, tetapi tidak bisa berkata apa-apa.Aku keluar dari rumah sakit, sinar matahari di luar terasa menyilaukan.Ponselku berbunyi, ternyata Rita mengirimkan pesan.[Ada pesanan banyak lagi, kapan kamu pulang?]Aku membalas pesan, [Besok.]Saat aku berada di hotel malamnya, bel pintu kamarku berbunyi.Begitu pintu dibuka, aku melihat orang tuaku berdiri di luar, mata mereka bengkak."Clara, boleh kami masuk?"Aku tidak mengatakan apa-apa, hanya memiringkan badanku dan membiarkan orang tuaku masuk.Mereka menaruh apel, lalu berkata sete

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 7

    Irene punya seorang "sahabat", yang tahu semua rahasianya.Keduanya bertengkar karena memperebutkan seorang pria, akhirnya sahabatnya membocorkan rahasianya.Ironis sekali!Orang yang mencelakaiku, pada akhirnya celaka karena ulahnya sendiri!Saat ibuku membaca unggahan tersebut, dia terkejut.Ibuku menunjukkan ponsel kepada Irene, lalu menanyakan apakah berita itu benar.Irene langsung membantah, katanya itu bukan akunnya, tetapi dipalsukan orang lain.Namun, salah satu akun terhubung dengan nomor teleponnya, bukti ini tidak bisa dia sangkal.Ibuku menangis dengan keras, lalu berkata sambil menangis, "Clara, apa Bibi memperlakukanmu buruk? Kenapa kamu melakukannya? Clara adalah putri kandungku, kenapa kamu …."Irene juga menangis, tanpa pura-pura, kali ini dia benar-benar menangis histeris."Bibi, aku hanya takut!""Aku takut kalian mencampakkanku kalau ada Clara!"Ibuku tertegun."Kamu takut kami mencampakkanmu, jadi kamu mengusir Clara?""Kamu suruh dia tidur di balkon, merebut bara

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 6

    Kalau dulu, mungkin aku akan menangis karena merasa ditindas.Namun, sekarang aku merasa ini konyol.Dia selalu memakai trik yang sama.Dia selalu memposisikan dirinya sebagai korban, lalu membuat semua orang menyalahkan aku.Namun tidak kusangka, ada satu nama yang kukenal di antara komentar-komentar itu.Ibuku.Ibuku tidak tahu bahwa itu adalah akun kedua Irene, dia mengira itu unggahan orang asing.Ibuku menuliskan komentar.[Kamu benar sekali, putriku memang nggak tahu diri, andai dia pengertian sepertimu.]Aku membaca komentar itu, jariku terasa dingin.Ternyata di mata ibuku, aku orang yang seperti itu.Aku meletakkan ponselku, lalu berdiri lama di balkon.Aku teringat saat kecil dulu aku demam, Ibu begadang semalaman menjaga di samping tempat tidurku, berulang kali mengganti handuk di dahiku.Saat itu, aku mengira Ibu akan menyayangiku selamanya.Belakangan aku baru tahu, cinta bisa berubah.Seminggu kemudian, Rita mendapat pesanan besar, nilainya satu miliar lebih.Pembeli butu

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 5

    Aku memegang ponsel, tidak menjawab sepatah kata pun.Suaranya terdengar bergetar menahan tangis."Jawab! Katakan kamu ada di mana, Ibu pergi menjemputmu."Aku menjawab dengan tenang, "Nggak perlu. Aku ada di luar kota, nggak akan pulang dalam waktu dekat."Di seberang telepon hening selama beberapa detik.Suara ibuku terdengar tidak percaya."Apa maksudmu? Kamu pergi ke luar kota sendirian? Kamu gila, ya? Kamu itu perempuan …."Aku menyelanya dengan suara yang sangat tenang, "Aku bukan sedang minta izin, melainkan hanya memberitahumu."Suara ibuku meninggi. "Clara!""Cepat pulang! Apa-apaan kamu ini! Bukankah cuma karena satu kali nggak mengajakmu makan bareng? Apa perlu sampai membuat keributan seperti ini?"Aku tidak menjawab apa-apa.Sepertinya ibuku mengira aku ragu, sehingga dia melembutkan suaranya."Ya sudah, pulanglah. Ibu masak daging asam manis kesukaanmu.""Felix juga sudah mengaku salah, lalu kita sekeluarga hidup rukun."Keluarga!Aku menyeringai."Bu, aku tanya satu hal.

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 4

    Aku memaksakan diri berjalan di pinggir jalan dan memanggil taksi."Antar saya ke bandara."Sopir melihat wajahku yang pucat dan penuh luka.Dia bertanya apa perlu lapor polisi.Aku menggelengkan kepala, lalu memberitahukan tempat tujuanku.Di luar jendela, satu per satu lampu jalan melintas ke belakang.Mengingatkanku pada kenangan saat ibuku menggenggam tanganku ketika aku sedang menghitung lampu jalan.Pada saat itu, ibuku berkata, "Clara anak paling baik, Ibu paling sayang sama kamu."Sungguh menggelikan!Seampainya di bandara, masih ada waktu empat jam lebih sebelum naik pesawat.Aku mencari tempat duduk di pojokan.Luka di lututku masih terasa sakit.Aku menyingsingkan ujung celana, ada memar yang sangat besar, dan sangat bengkak.Aku pergi ke kamar mandi untuk membilas lukaku dengan air dingin.Sakit luar biasa.Dari cermin terlihat mataku merah, ada bekas darah yang sudah mengering di sudut mulutku.Aku menggosok dengan kuat, tapi justru makin memerah.Akhirnya aku tidak mengus

  • Tak Lagi Punya Tempat Pulang   Bab 3

    Tanpa memedulikan apa pun, ibuku langsung memeluk Irene."Bodoh, mana mungkin Bibi membiarkanmu pergi, sekarang kamu hanya punya Bibi."Sambil berbicara, ibuku berbalik dan menatapku, tatapannya penuh kekecewaan."Clara, kali ini kamu sudah keterlaluan!""Ibu kecewa sama kamu!"Kecewa?Aku tersenyum pahit.Ibu ingin aku selalu mengalah pada Irene, sudah kulakukan.Ibu ingin aku bisa menoleransi perbuatan Irene, sudah kulakukan.Lalu, apa kesalahanku yang membuat Ibu kecewa?Apa karena aku tidak lagi diam, membiarkan Irene menindasku seperti dulu?Apa karena setelah sadar aku dianaktirikan, aku tidak lagi mau berpura-pura bodoh?Tapi Bu, aku juga manusia!Aku juga punya harga diri.Ayahku mulai menjadi penengah."Clara, kali ini ibumu benar-benar marah!""Cepat minta maaf pada Irene, masalah ini kita anggap selesai."Lagi-lagi disuruh minta maaf!Sampai detik ini, selalu aku yang disuruh minta maaf!Kali ini, aku tidak mau!Aku menengadahkan kepala dan menatap mereka, lalu berkata, "Aku

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status