Masuk"Aku sudah memberi kamu berkali-kali kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki hidupmu setelah perceraian kelammu itu, Chloe!" cecar Arthur penuh penyesalan."Tapi malam ini kamu benar-benar membuktikan padaku bahwa kamu tidak lebih dari wanita kotor yang tidak layak menyandang nama Sinclair!" pangkas Arthur lagi.Chloe mundur satu jengkal, gelombang ketakutan yang teramat sangat dahsyat kini menggantikan seluruh rasa percaya diri palsu yang tadi ia agungkan.Ia melirik ke arah Tiffany yang berdiri tenang mengelus perut hamilnya di balik punggung Arthur, menyadari betapa hancurnya posisi dirinya malam ini.Rencana kotor yang ia susun dengan menjual perhiasan ibunya justru menjadi perangkap maut yang membongkar seluruh kebusukan karakternya di hadapan sang ayah.Tidak ada lagi pembelaan yang bisa ia susun, tidak ada lagi air mata buatan yang sanggup meluluhkan hati Arthur Sinclair yang sudah terlanjur membatu.Ethan berdiri di samping meja mahoninya dengan tenang, membiarkan per
Ethan mengetuk permukaan cermin itu menggunakan buku jarinya tiga kali, menghasilkan bunyi dentukan padat yang bergema nyaring di dalam ruangan."Di balik cermin ini, ada mertuaku Arthur Vance dan istriku Tiffany yang sedang duduk manis menyaksikan seluruh pertunjukan gratismu," beber Ethan lugas."Setiap desah merayumu, setiap hinaanmu pada Tiffany, hingga aksimu yang bertelanjang moral merekam sempurna tanpa ada satu detik pun yang terlewat," tegas Ethan.Chloe mundur dua langkah secara refleks, dadanya bergolak hebat dihantam oleh rasa malu, ketakutan, dan kehancuran yang tak tertahankan.Tubuhnya gemetaran kencang dari ujung kepala hingga ujung kaki, membayangkan bagaimana seluruh keluarga Vance menonton kelakuannya yang seperti wanita murahan.Rasa percaya diri tinggi yang membumbung sejak ia berhasil menyuap staf kelab kini hancur berkeping-keping menjadi abu yang tak berharga.Ia menatap Ethan dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya atas kecerdikan dan keja
Ujung bibir tebal berlipstik merah menyala milik Chloe tinggal seujung kuku dari permukaan kulit pipi Ethan.Ethan menggerakkan kepalanya secara mendadak ke arah kanan, membuat hembusan napas hangat dan ciuman paksa Chloe menghantam udara kosong.Pria jangkung berahang kaku itu mendorong kedua bahunya ke belakang, lalu berdiri tegak dari kursi kulitnya dengan gerakan yang teramat sangat santai.Kedua tangannya meluncur tenang masuk ke dalam saku celana bahannya yang terpotong rapi, menunjukkan ketenangan mutlak tanpa ada riak kekagetan sedikit pun.Chloe yang kehilangan tumpuan hampir saja tersungkur ke atas permukaan meja kayu mahoni sewaktu tubuh tegap Ethan menghilang dari jangkauannya.Ia menyandarkan kedua tangannya di tepi meja dengan napas memburu kasar, merapikan tatanan rambut panjangnya yang sudah berantakan dan acak-acakan."Ethan! Kenapa kamu malah menghindar di saat kita sudah sejauh ini?!" jerit Chloe dengan nada suara histeris yang melengking tinggi."Aku sudah
Semua rasa malu telah meluas menguap dari kepalanya, tergantikan oleh gelombang frustrasi dan obsesi liar yang telah mencapai puncaknya.Ia merangsek makin rapat ke arah kursi kulit yang diduduki Ethan, mencondongkan seluruh bagian atas tubuhnya secara terang-terangan dan ugal-ugalan.Kedua tangannya yang bercat kuku merah menyala meremas lembut bahu tegap Ethan, lalu bergerak turun merayapi bagian dada kemeja hitam pria itu."Ethan, lihat aku! Jangan cuma diam menatap kosong seperti itu!" seru Chloe dengan nada suara menuntut bercampur desahan yang sengaja dibuat memikat."Aku rela membuang semua harga diriku di depanmu malam ini, aku rela melakukan apa saja yang kamu minta!" jeritnya seraya mencoba menempelkan dadanya ke lengan Ethan."Kamu pikir wanita polos seperti Tiffany bisa memberikan kepuasan dan kelihatan berkelas seperti diriku di atas ranjang?" cecar Chloe makin melenceng jauh tanpa kendali."Dia cuma wanita beruntung yang kebetulan mengandung anakmu, tapi akulah wa
"Tindakan wanita itu bukan sekadar kebodohan, Tiffany. Itu adalah ancaman kotor yang tidak bisa ditoleransi lagi oleh keluarga kita," pangkas Arthur dengan suara tajam."Aku sudah benar-benar gagal mendidik anak perempuan itu hingga tumbuh menjadi benalu kotor yang tidak punya harga diri," sambung Arthur kian murka.Arthur memutar pandangan matanya ke arah layar monitor lagi, menyaksikan bagaimana tangan berpoles cat kuku merah Chloe merayapi bahu tegap milik Ethan.Ujung tongkat kayu Arthur dihentakkan kuat ke atas lantai marmer ruangan kontrol, menciptakan suara benturan keras yang memecahkan keheningan sepi."Kalau bukan karena rencana Ethan untuk mengumpulkan bukti penuh di depan hukum, aku sendiri yang akan menyuruh orang menyeret wanita itu keluar!" seru Arthur."Dia sengaja menggunakan namamu untuk merendahkan harga dirimu sebagai wanita dan ibu dari calon cucu-cucuku!" lanjut Arthur dengan dada naik turun meluapkan emosi.Tiffany menghembuskan napas panjang, berusaha me
"Kamu tidak tahu betapa menderitanya aku sejak kamu meninggalkanku dan memilih wanita sialan itu," oceh Chloe lagi seraya memiringkan kepalanya di bahu Ethan."Dia tidak sebanding denganku, Ethan. Dia cuma wanita polos yang kebetulan beruntung mengandung anakmu," tekan Chloe dengan nada penuh kebencian yang mendalam."Biarkan aku menggantikan posisinya malam ini. Aku janji aku bisa membuatmu melupakan wanita itu untuk selamanya," bujuk Chloe seraya mencoba mengecup leher Ethan.Sebelum bibir tebal berlipstik merah menyala itu sempat menyenggol kulit lehernya, Ethan menggerakkan kepalanya secara mendadak ke arah kanan dengan sangat cepat.Sentuhan bibir Chloe meleset sepenuhnya, hanya menghantam udara kosong di balik kerah kemeja hitam yang terpasang amat rapi dan bersih.Pria tegap itu mengetukkan ujung jarinya ke atas meja mahoni, menyebarkan dentuman pelan yang menggema keras di seluruh penjuru ruangan yang sunyi tersebut."Lanjutkan saja aksimu, Chloe. Buat rekaman malam i
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas







