LOGINKeheningan malam di ruang kerja utama kediaman Ashford mendadak terasa begitu mencekam dan menindas. Hawa dingin dari pendingin udara menusuk hingga ke tulang, namun tidak sanggup mendinginkan darah panas yang bergolak di dalam dada Christian Ashford. Pria itu duduk sendirian di balik meja kayu jati berukuran besar, dikelilingi botol-botol minuman keras yang sudah kosong tak tersisa.Layar ponsel pintar yang menyala terang di atas meja terus menampilkan deretan unggahan terbaru dari berbagai portal berita hiburan dan media sosial.Foto-foto megah dari jamuan privat klan Sinclair mendominasi halaman depan seluruh platform berita online. Di sana, wajah Tiffany terlihat begitu berseri, duduk anggun dalam balutan gaun krem mewah sambil diapit oleh Ethan Vance dan keluarga besar Sinclair yang tersenyum penuh kebanggaan. Judul-judul berita berukuran besar menyorot kabar kehamilan Tiffany sebagai berita paling panas yang menggegerkan dunia bisnis elite kota.Christian memandangi foto-fot
Kabar bahagia mengenai kehamilan Tiffany menyebar cepat seperti kilat di antara kalangan elite kota. Hanya dalam hitungan jam setelah kabar itu dipastikan dokter, seluruh klan Sinclair gempar oleh suka cita yang sudah lama tidak mereka rasakan. Arthur Sinclair, sang kepala klan yang biasanya berwajah dingin dan penuh wibawa keras, membatalkan seluruh agenda bisnisnya hari itu tanpa ragu demi menyambut calon cicit pertamanya."Pindahkan seluruh pot bunga anggrek ke halaman tengah dan pastikan koki menyiapkan menu khusus yang aman untuk ibu hamil!" seru Arthur dengan suara lantang yang memikat perhatian seluruh pelayan kediaman utama.Pria tua bertubuh tegap itu berjalan menyusuri aula besar rumah mewahnya sambil memegang tongkat kayu berukir emas.Raut wajahnya yang biasanya kaku dan menakutkan kini dihiasi senyum lebar yang sangat cerah sejak pagi hari. Kerabat dekat dan anggota keluarga besar klan Sinclair dipanggil secara mendadak untuk menghadiri jamuan makan malam privat yang
Sentuhan dua telapak tangan hangat Ethan yang membingkai pipi Tiffany terasa begitu nyata dan posesif. Ibu jari Ethan bergerak amat perlahan mengusap sisa bulir air mata di pipi istrinya, menghapus setiap jejak keraguan yang sempat membakar ketenangan ruangan VVIP tersebut. Kehangatan tubuh pria itu merambat langsung ke dalam syaraf Tiffany, menghentikan getaran ketakutan yang sejak tadi melumpuhkan persendiannya.Ethan menundukkan kepala, memajukan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis tanpa sisa.Pria itu memejamkan mata rapat-rapat saat mendaratkan bibirnya tepat di tengah kening Tiffany. Kakek dan nenek moyang keluarga Vance tak pernah mengajarkan kepasrahan, tetapi malam ini sang tiran bisnis menyerahkan seluruh kekuasaannya tepat di atas kening wanita di depannya. Ciuman itu berlangsung sangat lama, dalam, dan penuh dengan penekanan emosi yang sanggup meruntuhkan gunung es mana pun di panggung bisnis internasional.Ethan mengecup kening Tiffany dengan dalam,
Potongan-potongan kecil kertas itu jatuh ke lantai rumah sakit.Serpihan putih dan cokelat dari dokumen pernikahan kontrak mereka melayang pelan di udara sebelum akhirnya mendarat berhamburan di atas ubin marmer ruang rawat VVIP yang dingin. Setiap helai kertas yang berserakan di dekat kaki Ethan membawa patahan kalimat hukum yang dulu mengikat mereka dalam ikatan formalitas bernilai bisnis semata. Keheningan pekat seketika kembali membungkus ruangan, menyisakan deru napas Ethan yang naik turun memburu setelah melepaskan seluruh amarah emosionalnya.Tiffany menatap tumpukan kertas itu, merasa dunianya baru saja berubah drastis dalam hitungan detik.Wanita itu terpaku kaku di atas tempat tidur, pandangan matanya melekat erat pada serpihan dokumen yang kini tersebar acak tanpa bentuk di lantai. Ada perasaan aneh yang mendadak menyeruak hebat di dalam dadanya, gabungan antara kepanikan luar biasa dan kebebasan tak kasat mata yang selama ini tersembunyi di balik ketakutannya. Draf asl
Suara derit halus dari amplop cokelat tebal yang tertekan jemari kekar Ethan menggelegar hebat di dalam keheningan ruang rawat VVIP. Tiffany membeku di atas tempat tidur rumah sakit, menahan napas sewaktu menyadari tatapan mata suaminya yang mendadak berubah sangat pekat. Sepasang mata obsidian milik pria itu berkilat tajam, menyalurkan rasa sakit hati yang teramat dalam akibat pertanyaan konyol mengenai masa berlaku kontrak pernikahan mereka.Dengan mata yang terkunci pada Tiffany, Ethan mulai merobek surat itu.Tangan kanan Ethan menarik kuat sudut atas amplop cokelat tebal tersebut, membuat serat kertas tebal itu terkoyak secara paksa di udara. Bunyi gesekan keras kertas yang terbelah dua bergema nyaring, memutus keheningan malam dan memantul di dinding-dinding ruang rawat VVIP yang begitu tenang. Pria itu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari sepasang mata jernih istrinya yang mulai berkaca-kaca dipenuhi ketakutan murni.Robekan demi robekan terdengar nyaring di ruan
Ethan berdiri mematung di samping tempat tidur dengan raut wajah yang menggelap total. Tatapan matanya terkunci rapat pada wajah Tiffany yang masih memucat di balik selimut tebal rumah sakit. Suasana di dalam ruang perawatan privat itu mendadak hening membeku, hanya diselingi oleh bunyi desis tipis dari saluran pendingin udara dan ritme lambat alat pemantau detak jantung di sudut ruangan.Tiffany mengepalkan kedua tangannya di bawah lipatan kain selimut, merasakan sapuan hawa dingin yang kian menusuk hingga ke tulang.Suara rendah suaminya yang tadi mengulangi kata kontrak masih bergema nyaring di dalam kepalanya, memicu rasa bersalah yang amat besar sekaligus ketakutan yang tak mampu ia jelaskan. Ia melihat bagaimana dada tegap Ethan naik turun meluapkan napas berat, menahan gelombang amarah dan kekecewaan yang bergejolak hebat di balik jas mewahnya."Kamu pikir selama lima tahun ini aku cuma menganggapmu sebagai barang pajangan di dalam rumahku?" desik Ethan dengan suara serak y
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang
Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin







