LOGINAluna bergegas keluar mobilnya. Alih-alih mengikuti Sindi masuk ke dalam rumah sakit, dia justru berlari menuju Rengganis yang sibuk memakan sosis bakar bersama dengan seorang pria di sampingnya.
“Harus ada season dua loh, ya,” ujar pria di sampingnya. “Pokoknya kalau udah ada filenya, aku bisa bantu revisi. Baru kita pikiri kontrak selanjutnya.” Dari tempatnya berdiri, Aluna bisa melihat kalau Rengganis sangat menikmati percakapan ini. “Permisi,” ujar Aluna mem“Aku hanya ingin Raka bahagia. Kebahagiaan Raka ada sama aku.”Kalimat itu jatuh begitu saja. Tapi cukup untuk membuat semuanya terdiam.Sindi membeku. Matanya membesar tak percaya. “Luna kamu ngomong apa barusan? Ini nggak bercanda Luna. Ini—”Sindi sudah tidak bisa lagi mencerna isi kepala sahabatnya. Bagaimana bisa dia mengatakan itu dengan tenang, bahkan tanpa ekspresi takut sedikitpun.Aluna tidak langsung menjawab. Kepalanya masih tertunduk. Bahunya naik turun menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar emosi.“Aku capek, Sin. Capek banget. Rasanya aku bisa gila kalau terus-terusan mikir ini tanpa jalan keluar.” Dia menatap Sindi dengan mata yang sudah berair. “Bukan gitu caranya! Kamu nggak bisa—” Sindi terus menggeleng. Ia memegangi kedua tangan Aluna. “Aku tahu!” potong Aluna tiba-tiba. “Aku tahu ini nggak masuk akal! Aku tahu ini gila! Tapi aku ngerasain semuanya! Aku ada di sana. Aku hidup di sana. Aku lihat dia. Aku pegang dia. Aku—”Suaranya terhenti. Air matanya
Aluna terdiam. Dadanya naik turun tanpa jeda.“Ingat waktu kamu nolak pergi dari Raka?” lanjut Arga. “Di versi awal, kamu harusnya pergi. Diam. Menghilang perlahan—”“Dan mati mengenaskan?” potong Aluna. “Aku nggak mau! Aku punya pilihan!”“Dan pilihan itu merusak struktur besar cerita, Aluna. Kamu memang harus berakhir seperti itu,” katanya. “Kalau saja kamu tidak menolak, kamu tidak akan mungkin masuk sampai sejauh ini.”Aluna tertawa hambar. Air matanya mulai mengalir. Tangannya terangkat menyentuh dada.“Lucu ya … buat kamu, cinta itu cuma struktur. Padahal ngerasainnya pake hati.”Arga tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin. Namun ada yang mulai berubah dari ekspresinya. “Terus sekarang apa?” lanjut Aluna. “Kamu mau balikin semuanya ke jalur awal? Kamu bahkan membuat Rengganis lupa siapa aku.”“Semua diluar rencana,” katanya. “Kalau saja Raka tidak mengamuk ketika di persidangan Aisar tempo hari. Kalau saja dia tidak menghajar Aisar dan memintanya untuk mengembalikanmu. Mungkin
Hari-hari berikutnya berjalan terlalu rapi. Arga mulai mengikuti ritme dunia itu. Latihan militer, strategi, briefing, operasi. Layaknya anggota militer. Dia juga bisa langsung menyesuaikan diri. Seolah tubuhnya memang sudah terbiasa dengan itu.Sampai akhirnya dia bertemu dengan Aluna di sebuah cafe. “Siapa itu?” tanya Arga pada Aisar yang duduk tepat di sampingnya. Aisar sedikit menoleh dengan kening mengernyit. “Oh …” gumamnya santai. “Itu adalah istri dari Kapten Raka. Ku dengar mereka akan bercerai. Dan gosipnya, semua ini karena kedekatan Raka dengan Sabrina.”Arga sedikit menyipitkan mata. Dia ingat jelas bagian ini. Dari awal membantu Rengganis menulis cerita, Arga memang selalu terobsesi dengan Aluna. Dia begitu cantik dan sangat menawan dalam deskripsi. “Kalau memang seperti itu … mereka harus tetap bercerai,” gumamnya samar. “Y-ya … gimana Letkol?” tanya Aisar memastikan. Arga menyeringai samar. Matanya tetap menatap Aluna yang masih bercengkrama dengan teman-temannya.
Arga masih memperhatikan Aluna yang terduduk pucat. Bahkan sebelum wanita itu, dulu dia juga mengalami hal yang sama. Sejak awal, cerita ini memang berbeda. Memiliki nyawa sendiri dan tidak bisa mengikuti alur secara sukarela. Tepatnya ketika dia pertama kali mengirik kontrak itu pada Rengganis. “Kenapa semua tulisannya buram?” Arga mengotak-ngatik pengaturan laptopnya. Mencari tahu apa ada kesalahan atau tidak. Tapi semua baik-baik saja. Tidak ada yang aneh. ‘Membutuhkan peran villain tambahan.’ Arga mengernyit kala melihat tulisan asing itu tertera begitu saja di layar laptopnya. Tulisannya berbeda, lebih tebal dan lebih jelas dari barisan kalimat yang lain.Arga mengernyit. Namun belum sempat dia mencerna semuanya, lampu mendadak berkedip cepat, lalu padam.“A-apa itu?” tangannya terulur ke arah lubang hitam yang bergulung seperti kubangan air. Tak lama hembusan angin kencang membuat semua berkas di kamarnya berhamburan. Tubuhnya terhempas, seolah ditarik paksa untuk masuk ke
Suara Aluna tercekat di tenggorokan. Wajahnya langsung memucat. Jari-jarinya mencengkeram kuat sisi kursi, sampai buku jarinya memutih.Pria itu berdiri santai di hadapan mereka. Kemeja putihnya rapi. Lengan digulung setengah, memperlihatkan pergelangan tangan dengan jam hitam sederhana. Di tangannya masih ada laptop tipis yang tadi dilihat Aluna di dekat Rengganis.Dan senyum itu. Senyum yang sama seperti ketika mereka berjumpa pertama kali di dalam cerita itu. “Arga …” bisik Aluna hampir tak terdengar. “Kamu … kenapa kamu bisa ada disini?”Sindi langsung menoleh cepat. “Siapa?” tanyanya refleks. “Kamu kenal dia, Luna?”Pria itu mengangkat satu alis, lalu terkekeh pelan. “Apa kabar, Aluna?” tanya Arga pelan. “Salam kenal … aku editor dari cerita Kapten Raka.”Tubuh Aluna menegang. Jadi selama ini … editor yang tidak bisa dilihat, justry sudah ada di dekatnya. Terlalu dekat sampai tidak bisa ia kenali.“Jadi selama ini kamu—”Sebelah alis Arga terangkat. Dan spontan membuat Aluna men
“Charge 200!”“Siap, Dok!”“Semua menjauh—clear!”“BRAK—!”Tubuh Rengganis terangkat sesaat. Monitor yang tadi melonjak liar, sempat menunjukkan garis lurus sebelum kembali bergetar.Aluna menggigit bibir bawahnya. Matanya menatap tubuh Rengganis yang terus berguncang. “Masih fibrilasi, Dok!”“Naikkan ke 300! Cepat!”Sindi mundur satu langkah, refleks menutup mulutnya. Tangannya gemetar hebat. Dia belum pernah melihat kondisi seburuk ini sedekat ini.Dia menoleh pada Aluna yang masih terpaku. Tangannya tanpa sadar sedikit menarik Aluna untuk lebih mundur lagi. “Kita keluar sekarang,” ujar Sindi pelan. Aluna tidak bergerak. Matanya terpaku pada tubuh Rengganis yang seperti dipaksa kembali hidup.“Rengganis,” bisiknya hampir tak terdengar. “Dia nggak boleh mati, Sin. Nggak boleh!”“Charge!”Sekali lagi tubuh itu terangkat. Monitor bergetar lebih cepat dari sebelumnya. Garis itu sudah terlihat. Walaupun masih belum stabil. Tak sengaja dr. Sari melirik pada Aluna yang sudah meliriknya
Di bawah, Arga dan Sabrina sudah duduk tenang seperti sebelumnya. Sabrina tampak anggun dengan aura dingin yang sulit disentuh. Dia duduk dengan kaki disilangkan, gaun biru tua membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara rambutnya terikat rapi tanpa satu helai pun yang lepas.
Mobil melesat. Mesin meraung keras ketika Raka menekan pedal gas lebih dalam. Jalan yang tadinya lengang tiba-tiba terasa seperti arena perburuan. Aluna mencengkeram pegangan di atas pintu. “Raka mereka makin dekat!” pekiknya. Mobil hitam di belakang mereka mempercepat laju. Lampu depannya meny
Halaman kantor polisi sektor itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa motor terparkir dan satu mobil patroli yang berdiri di dekat gerbang. Aluna masih duduk di dalam mobilnya. Kedua tangannya memegang setir dengan lemah. Napasnya belum benar-benar stabil setelah kejadian tadi. Ia menatap ke
Mobil Aluna melaju cukup cepat di jalan raya yang masih dipenuhi kendaraan pagi hari. Matahari sudah naik lebih tinggi, tapi udara kota masih terasa sedikit dingin. Mungkin efek dari pagi tadi yang sempat turun hujan. Kedua tangan Aluna mencengkeram stir dengan erat. Ia tidak benar-benar tahu k







