Accueil / Romansa / Takdir Kedua Istri Sang Kapten / 134. Fakta Yang Sebenarnya

Share

134. Fakta Yang Sebenarnya

Auteur: Min Ye-Rin
last update Date de publication: 2026-04-30 11:59:52

“Luna… Luna kamu denger aku?”

Suara Sindi terdengar jauh. Seperti teredam di balik air.

Aluna tidak langsung menjawab. Dadanya naik turun dengan cepat. Napasnya belum stabil. Matanya masih kosong, menatap langit-langit ruangan IGD yang putih dan terang.

Berbeda jauh dengan tempat gelap yang barusan ia tinggalkan.

“Raka…” bisiknya lagi.

Sindi langsung menggenggam tangannya. Membungkuk, seraya mendekat.

“Aku di sini, Luna. Ini aku, Sindi. Kenapa bisa sampai seperti ini? Jangan buat aku kha
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   143. Ketemu Raka

    Setelah kejadian percakapan dengan Arga tempo hari, Aluna seperti semakin kehilangan hidupnya. Antara kembali dan tetap tinggal, faktanya sama saja. Raka akan tetap lupa padanya. “Luna!” Wanita itu menoleh. Orang yang ia tunggu selama hampir satu jam akhirnya datang. “Sorry telat!” Sindi nyengir jahil sambil sekantong cemilan. “Udah jangan marah, ya. Kita jalan-jalan aja. Lupain masalah itu, dan happy!” Seru Sindi antusias. Aluna hanya mendelik. Masuk mobil tanpa berkata. Sebenarnya malas. Libur seperti ini, enaknya rebahan di rumah, tapi Sindi terus saja memintanya untuk ikut.Tepat ketika duduk di kursi kemudi, Aluna sedikit mendongak menatap langit. Ada yang aneh dari langit pagi ini. Tidak begitu cerah. Dan ada kumpulan awan hitam yang terus bergerak tidak jelas, layaknya kaset kusut. “Buruan! Sebelum aku berubah pikiran!” pekik Aluna. “Iya, iya… ayo—” kalimat Sindi menggantung, ketika melirik Aluna yang sudah terpaku di tempatnya. Ia mengikuti arah pandangan Aluna.“Di tem

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   142. Dia akan melupakan semuanya

    “Aku hanya ingin Raka bahagia. Kebahagiaan Raka ada sama aku.”Kalimat itu jatuh begitu saja. Tapi cukup untuk membuat semuanya terdiam.Sindi membeku. Matanya membesar tak percaya. “Luna kamu ngomong apa barusan? Ini nggak bercanda Luna. Ini—”Sindi sudah tidak bisa lagi mencerna isi kepala sahabatnya. Bagaimana bisa dia mengatakan itu dengan tenang, bahkan tanpa ekspresi takut sedikitpun.Aluna tidak langsung menjawab. Kepalanya masih tertunduk. Bahunya naik turun menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar emosi.“Aku capek, Sin. Capek banget. Rasanya aku bisa gila kalau terus-terusan mikir ini tanpa jalan keluar.” Dia menatap Sindi dengan mata yang sudah berair. “Bukan gitu caranya! Kamu nggak bisa—” Sindi terus menggeleng. Ia memegangi kedua tangan Aluna. “Aku tahu!” potong Aluna tiba-tiba. “Aku tahu ini nggak masuk akal! Aku tahu ini gila! Tapi aku ngerasain semuanya! Aku ada di sana. Aku hidup di sana. Aku lihat dia. Aku pegang dia. Aku—”Suaranya terhenti. Air matanya

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   141. Keputusan Aluna

    Aluna terdiam. Dadanya naik turun tanpa jeda.“Ingat waktu kamu nolak pergi dari Raka?” lanjut Arga. “Di versi awal, kamu harusnya pergi. Diam. Menghilang perlahan—”“Dan mati mengenaskan?” potong Aluna. “Aku nggak mau! Aku punya pilihan!”“Dan pilihan itu merusak struktur besar cerita, Aluna. Kamu memang harus berakhir seperti itu,” katanya. “Kalau saja kamu tidak menolak, kamu tidak akan mungkin masuk sampai sejauh ini.”Aluna tertawa hambar. Air matanya mulai mengalir. Tangannya terangkat menyentuh dada.“Lucu ya … buat kamu, cinta itu cuma struktur. Padahal ngerasainnya pake hati.”Arga tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin. Namun ada yang mulai berubah dari ekspresinya. “Terus sekarang apa?” lanjut Aluna. “Kamu mau balikin semuanya ke jalur awal? Kamu bahkan membuat Rengganis lupa siapa aku.”“Semua diluar rencana,” katanya. “Kalau saja Raka tidak mengamuk ketika di persidangan Aisar tempo hari. Kalau saja dia tidak menghajar Aisar dan memintanya untuk mengembalikanmu. Mungkin

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   140. Sudah Diamati sejak awal

    Hari-hari berikutnya berjalan terlalu rapi. Arga mulai mengikuti ritme dunia itu. Latihan militer, strategi, briefing, operasi. Layaknya anggota militer. Dia juga bisa langsung menyesuaikan diri. Seolah tubuhnya memang sudah terbiasa dengan itu.Sampai akhirnya dia bertemu dengan Aluna di sebuah cafe. “Siapa itu?” tanya Arga pada Aisar yang duduk tepat di sampingnya. Aisar sedikit menoleh dengan kening mengernyit. “Oh …” gumamnya santai. “Itu adalah istri dari Kapten Raka. Ku dengar mereka akan bercerai. Dan gosipnya, semua ini karena kedekatan Raka dengan Sabrina.”Arga sedikit menyipitkan mata. Dia ingat jelas bagian ini. Dari awal membantu Rengganis menulis cerita, Arga memang selalu terobsesi dengan Aluna. Dia begitu cantik dan sangat menawan dalam deskripsi. “Kalau memang seperti itu … mereka harus tetap bercerai,” gumamnya samar. “Y-ya … gimana Letkol?” tanya Aisar memastikan. Arga menyeringai samar. Matanya tetap menatap Aluna yang masih bercengkrama dengan teman-temannya.

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   139. Tokoh yang tidak pernah ada

    Arga masih memperhatikan Aluna yang terduduk pucat. Bahkan sebelum wanita itu, dulu dia juga mengalami hal yang sama. Sejak awal, cerita ini memang berbeda. Memiliki nyawa sendiri dan tidak bisa mengikuti alur secara sukarela. Tepatnya ketika dia pertama kali mengirik kontrak itu pada Rengganis. “Kenapa semua tulisannya buram?” Arga mengotak-ngatik pengaturan laptopnya. Mencari tahu apa ada kesalahan atau tidak. Tapi semua baik-baik saja. Tidak ada yang aneh. ‘Membutuhkan peran villain tambahan.’ Arga mengernyit kala melihat tulisan asing itu tertera begitu saja di layar laptopnya. Tulisannya berbeda, lebih tebal dan lebih jelas dari barisan kalimat yang lain.Arga mengernyit. Namun belum sempat dia mencerna semuanya, lampu mendadak berkedip cepat, lalu padam.“A-apa itu?” tangannya terulur ke arah lubang hitam yang bergulung seperti kubangan air. Tak lama hembusan angin kencang membuat semua berkas di kamarnya berhamburan. Tubuhnya terhempas, seolah ditarik paksa untuk masuk ke

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   138. Takdir yang menulis Sendiri

    Suara Aluna tercekat di tenggorokan. Wajahnya langsung memucat. Jari-jarinya mencengkeram kuat sisi kursi, sampai buku jarinya memutih.Pria itu berdiri santai di hadapan mereka. Kemeja putihnya rapi. Lengan digulung setengah, memperlihatkan pergelangan tangan dengan jam hitam sederhana. Di tangannya masih ada laptop tipis yang tadi dilihat Aluna di dekat Rengganis.Dan senyum itu. Senyum yang sama seperti ketika mereka berjumpa pertama kali di dalam cerita itu. “Arga …” bisik Aluna hampir tak terdengar. “Kamu … kenapa kamu bisa ada disini?”Sindi langsung menoleh cepat. “Siapa?” tanyanya refleks. “Kamu kenal dia, Luna?”Pria itu mengangkat satu alis, lalu terkekeh pelan. “Apa kabar, Aluna?” tanya Arga pelan. “Salam kenal … aku editor dari cerita Kapten Raka.”Tubuh Aluna menegang. Jadi selama ini … editor yang tidak bisa dilihat, justry sudah ada di dekatnya. Terlalu dekat sampai tidak bisa ia kenali.“Jadi selama ini kamu—”Sebelah alis Arga terangkat. Dan spontan membuat Aluna men

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   24. Kemunculan Nama Baru

    Langkah kaki terdengar dari belakang. Perlahan, Aluna menoleh, lalu tersenyum lelah pada pria berjas yang masih saja menguntitnya tanpa lelah. “Dia akan sadar.” Suara berat itu terdengar sangat tenang. “Kalau tidak ada komplikasi, ya,” jawab Aluna datar.

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   23. Melawan Kehendak Penulis

    Aluna menatap pria berjas itu tanpa rasa takut sedikitpun. Sorot matanya tetap tenang. Dia percaya kalau apa yang baru saja dia lakukan memang bukan kesalahan. Dan sebagai dokter, dia berhak untuk melanjutkan operasi sampai selesai. Dia tidak akan pernah mundur. Karena kalau di

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   22. Sumpah Seorang Dokter

    “Aku bisa melakukannya.” Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Dokter Farid menatapnya tidak percaya. “Kamu?” “Aku tahu prosedurnya.” “Ini operasi pengangkatan peluru, bukan pertolongan pertama, Aluna!” “Aku tahu.” Aluna menatap Dokter Fari

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   19. Baku Tembak Part 2

    Pertanyaan itu terdengar terlalu cepat, seolah dia tidak menyadari nada suaranya sendiri. Aluna hanya menggeleng pelan. Wajah pucat dan masker oksigen fortable yang ada di tangannya mengatakan hal yang berbeda. Raka memperhatikan wajahnya beberapa deti

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status