Compartilhar

135. Perdebatan

Autor: Min Ye-Rin
last update Data de publicação: 2026-05-01 08:35:56

Semenjak Sindi menceritakan insiden penembakan itu, pikiran Aluna dipenuhi oleh berbagai macam kemungkinan.

‘Cerita ini belum berakhir.’

‘Dia masih bisa kembali ke sana. Bertemu Raka dan mengubah semuanya.’

Aluna duduk di kursi tunggu. Masih menggunakan pakaian pasien dan infus bertengger di tangannya. Ruangan tunggu tidak begitu ramai kalau dipagi hari. Jadi dia bisa melihat lalu-lalang orang dengan teliti.

Tak sengaja cupit matanya menangkap sosok yang membuat tubuhnya meremang. Aluna
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 173. Paginya Raka dan Aluna

    Raka tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Aluna. Jemari pria itu perlahan mengusap punggung tangan Aluna menggunakan ibu jarinya. Gerakan kecil yang biasanya menenangkan, tapi kali ini justru membuat dada Aluna semakin tidak nyaman.“Kenapa nanya begitu?” tanya Raka akhirnya. “Apa ada yang aneh sama Letkol Arga?”Aluna menggigit bibir bawahnya pelan. Dia sendiri bingung harus menjawab apa. Karena kalau dia terlalu banyak bertanya tentang Arga, Raka pasti mulai curiga.“Aku cuma—” Aluna menghela napas pelan. Dia menggantung kalimatnya. “Ngerasa kamu berubah tiap dengar nama dia. Tadi aja, ekspresi kamu jadi berubah dingin.”Raka terkekeh kecil. Tawa yang jelas tak sampai ke matanya. “Aku berubah tiap dengar banyak nama orang, Luna. Bukan karena Letkol Arga aja.” Aluna sedikit menyandarkan tubuhnya. Dia menatap Raka dengan napas yang berat. “Tapi ini beda, Raka.” Aluna sedikit menekan kalimatnya. Raka terdiam beberapa saat. Dia ingin menceritakan semuanya, tapi Aluna

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 172. Gangguan Pagi

    Hening langsung turun di meja makan. Aluna yang tadi masih memegang sendok perlahan menghentikan gerakannya. Sedangkan Raka, pria itu masih menatap layar ponselnya tanpa berkedip.Getaran ponsel itu berhenti. Namun beberapa detik kemudian, kembali bergetar. Nama yang sama muncul lagi.“Kenapa nggak diangkat?” tanya Aluna hati-hati. “Itu atasan kamu kan? Ko mukanya tegang banget. Apa ada masalah?”Raka tidak langsung menjawab. Rahangnya masih terlihat mengeras. Tatapannya begitu tajam sampai Aluna ikut menahan napas.“Raka?” tanya Aluna lebih hati-hati. “Kamu baik-baik aja?”Pria itu akhirnya menghela napas panjang. Lalu membalik ponselnya hingga layar menghadap meja.“Gangguan pagi,” gumamnya datar. “Nggak harus diangkat. Ini belum masuk jam kerja.”Aluna mengernyit samar. Dia tidak percaya akan mengatakan ini. Karena Raka sebelumnya yang ia kenal, tidak akan pernah mengabaikan panggilan atasannya semudah ini.“Gangguan? Yakin?” tanya Aluna sedikit mengintrogasi. Raka kembali menyand

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 171. Rencana Cuti

    Raka benar-benar menunggu di bawah. Bahkan ketika Aluna selesai mandi dan turun dengan rambut yang masih setengah basah, pria itu sudah duduk santai di meja makan sambil membaca sesuatu di tablet hitam miliknya.Namun begitu mendengar suara langkah Aluna menuruni tangga, fokus Raka langsung buyar.Pria itu mendongak. Dan beberapa detik kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat.“Kenapa?” tanya Aluna heran ketika Raka terus menatapnya tanpa berkedip. “Ngeliatin aku udah kayak ngeliatin musuh gitu.”Raka tidak langsung menjawab. Dia menopang dagunya dengan satu tangan. Lalu tersenyum cukup lebar. “Kamu cantik,”gumamnya. “Sangat cantik.”Pipi Aluna langsung menghangat, dan kembali merona. Dia buru-buru menunduk dalam. “Baru mandi juga, ya pasti lah cantik,” balas Aluna berusaha untuk cuek. “Nggak usah berlebihan.”“Aku serius. Bahkan ketika kamu baru bangun tidur, kayak tadi,” goda Raka. “Rambut acak-acakan. Mata merah, muka kucel. Kamu tetep cantik.”Aluna buru-buru menarik kursi di

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 170. Kejutan Pagi

    Aluna berkedip cepat. Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat. Wajahnya semakin memerah layaknya strawberry. Namun kehangatan itu adalah kehangatan yang mereka rindukan selama ini. “Aku mencintaimu, Aluna.” Raka mendekat tubuh wanitanya. Hingga mereka sama-sama terlelap di dunia dan mimpi yang sama. Pagi menyapa begitu berani tanpa aba-aba. Aluna mengerjap, kala sinar mentari menerobos masuk lewat tirai yang terbuka. “Raka…” hembusan napas Raka membuat Aluna mengulas senyum. “Kamu masih ada di sini.” Matanya kembali berair. “Ini bukan mimpi. Kamu masih ada sama aku.” Aluna buru-buru menyeka air matanya, ketika Raka menggeliat. Mata pria itu perlahan terbuka. Lalu tersenyum ketika bertemu tatap dengan Aluna. “Gimana tidurnya?” tanya Raka pelan. Dia kembali menuntun Aluna ke dalam dekapan. “Kamu nggak mimpi buruk lagi?” Aluna menggeleng samar. Dia membalas pelukan Raka dengan sama eratnya. “Aku tidur nyenyak banget,” bisiknya. “Bahkan demamku juga udah hilang. Aku ud

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 169. Kencan?

    Aluna langsung tersedak ludahnya sendiri. Dia sampai terbatuk sambil memukul dada pelan. “Apa?” tanyanya dengan wajah memerah. “Pu-punya cucu?”Raka justru tertawa kecil melihat reaksi Aluna. Dadanya ikut bergetar karena tawa itu. Tangannya masih sibuk mengusap pelan rambut Aluna yang sedikit berantakan.“Kenapa kaget begitu?” godanya santai. “Papa sama Mama cuma bilang pengen gendong cucu sebelum tua.”“Bukan itu masalahnya!” protes Aluna cepat. Dia mendorong dada Raka pelan, walau pipinya sudah panas bukan main. Wajahnya semakin merah menahan malu. “Ka-kamu ngomongnya tiba-tiba. Aku… aku cuma kaget aja.”Raka mengangkat sebelah alisnya jahil. Dia sedikit mencubit pipi Aluna. “Lah, memangnya salah?” tanya Raka. Dia sedikit mengangkat sebelah alisnya. “Yang aku goda istri sendiri, itu nggak papa dong. Kalau yang aku goda orang lain, baru salah.”Aluna mendelik kesal. Namun ekspresi kesal itu justru membuat Raka semakin gemas. Pria itu terkekeh kecil sambil menarik tubuh Aluna lebih

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   168. Alur Cerita

    Arman tidak langsung menjawab. Dia menatap Raka heran. “Maksudmu?” tanya Arman dengan sebelah alis terangkat. “Papa pasti mengenalnya, Raka.”Raka mengerjap samar. “Ah—maksud aku…”“Papamu jelas mengenal Letkol Arga, Raka,” potong Inaya. Dia meraih teh di gelas keramik, lalu menyeruputnya pelan. “Yang ngenalin kamu sama Aluna dulu, kan juga Letkol Arga. Masa kamu lupa?”Tubuh Raka kembali meremang. Dia mendadak pucat pasi. Jelas yang mengenalkannya dengan Aluna dulu adalah Kolonel Andi. Karena hanya dia lah yang dekat dengan Raka dulu. ‘Ceritanya benar-benar berubah? Sejauh ini?’ pikir Raka. Ada rasa lega karena mungkin saja cerita ini jauh lebih baik dari sebelumnya, tapi Arga? Raka jelas mengkhawatirkannya. Karena di cerita sebelumnya, Arga adalah villain yang sebenarnya. “Raka.” Suara Arman membuat Raka terbangun dari lamunannya. Dia mengangkat wajahnya, lalu menatap Arman. “Y-ya?”“Jaga Aluna,” kata Arman. “Papa sama Mama nggak bisa menginap. Oma kalian kasihan ditinggal sendir

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   48. Tamu Yang Tidak Diharapkan

    Di bawah, Arga dan Sabrina sudah duduk tenang seperti sebelumnya. Sabrina tampak anggun dengan aura dingin yang sulit disentuh. Dia duduk dengan kaki disilangkan, gaun biru tua membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara rambutnya terikat rapi tanpa satu helai pun yang lepas.

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   44. Ketegangan Di lorong Rumah Sakit

    Tubuh Raka langsung menegang. Pupilnya melebar dengan napas yang sudah tercekat. Lagi-lagi petunjuk tentang anggota militer. Siapa yang berani menginjak harga dirinya sampai sejauh ini. “Tapi itu mimpi.” Suara Raka melemah dan tidak setegas sebelumnya. Seolah dia sedan

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   38. Seseorang Yang Ada Di Lantai Tiga

    Dion mendengus. Kalau saja Raka bukan atasannya, dia pasti sudah berani menyentul buah jakun pria itu. Dalam situasi tegang seperti ini saja, dia masih bisa bermain teka-teki. Tanpa meminta persetujuan, Dion mengambil satu potong kue bantal itu. Raka memperhatikannya tanpa

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   31. Seharusnya Dia Belum Muncul

    “Aku tidak mengenalnya,” potong Sabrina. “Lebih tepatnya, aku tidak mengenal wanita arogan seperti dia.” Pupil Raka menyusut. Dia tidak pernah merasa tersinggung seperti ini sebelumnya. Padahal yang disinggung adalah Aluna, tapi rasa sesaknya justru meambat di dada Raka.

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status