แชร์

80. Rencana Di Luar Rencana

ผู้เขียน: Min Ye-Rin
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-09 09:01:49

“Bagus,” lanjutnya lirih. “Berarti aku tidak perlu mencarinya terlalu jauh.”

Di depannya, Rengganis hanya bisa menggeleng lemah. Air matanya sudah mengalir tanpa henti. Dia ingin berteriak, ingin memperingatkan Aluna, tapi mulutnya tersumpal kain. Tubuhnya terikat, tak bisa bergerak sedikit pun.

Pria itu melirik ke arah Rengganis. Tatapannya berubah dingin. “Sekarang tinggal kamu,” ucapnya pelan.

Langkah kakinya m
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   90. Raka Aku Mohon... Panggil Aku

    Mata Aisar bergetar. Dan untuk sepersekian detik, hanya sepersekian detik, sebelum emosi di wajahnya kembali berubah. Namun di detik selanjutnya, dia kembali tertawa. “Sayangnya, aku nggak butuh nasihat dari orang yang sebentar lagi akan mati.” Dia berdiri. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Dan satu lagi,” lanjutnya sambil melirik Raka. “Aku sudah menemukan cara untuk menang.” Raka tidak bergerak. Dia menatap Aisar dengan pandangan yang sudah buram. “Aku nggak perlu jadi tokoh utama,” kata Aisar. “Aku cuma perlu menghancurkan tokoh utamanya, dan keluar sebagai pemenangnya.” Sunyi kembali mencekik. Ucapan itu menggantung di udara seperti ancaman yang sudah pasti terjadi. Aisar menatap tubuh Raka yang hampir tak bergerak. “Permainan selesai,” katanya dingin. “Walaupun kamu tidak mati di tanganku, kamu akan tetap mati di tangan mereka semua.” Aisar menarik kembali rambu

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   89. Nasib Villain Dan Tokoh Utama

    “Tidak ada yang melihat kita, Raka,” katanya. Dia melepaskan ikatan tangan Raka. Dan seketika, tubuh jangkung itu benar-benar ambruk menyentuh lantai dingin. Rasa nyeri sudah tidak bisa lagi dijelaskan dengan kata. Bahkan ini melebihi sakitnya dihujani peluru. Dengan gerakan yang cepat, Aisar menarik rambut Raka hingga pria itu mendongak. Matanya terpejam beberapa saat, lalu dia kembali tersenyum. “Dia… dia istriku,” gumam Raka nyaris tak terdengar. “Jangan… jangan pernah sentuh dia.” Gelak tawa Aisar membuat Raka menyipitkan mata. “Aku sudah menyentuhnya. Kami bertemu disana. Dia sangat cantik, menarik. Dia juga pintar. Ah… satu lagi—” Aisar menggantung kalimatnya beberapa detik. “Yang jelas… dia bukan Aluna Rengganis—istrimu.” Kedua mata Raka menggelap. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan yang berusaha ia kepal. “Apa maumu?” tanya Raka. “Kenapa kamu melakukan semua ini, Aisar!” “Kamu tenta

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   88. Raka Tidak Akan Pernah Memanggilku

    Sekuat apapun Aluna berusaha untuk masuk ke dunia itu, dia tetap tidak bisa. Pintu hitam itu tidak kunjung muncul. Dan semua harapannya seperti kertas kosong tak bertinta. “Luna…” Suara Sindi berhasil membuat Aluna menoleh. Wajahnya begitu kusut dengan kantung mata yang cukup menyedihkan. Bukan karena dinas malam, melainkan karena dia memang sudah kehilangan kantuknya selama beberapa hari. Sindi duduk tepat di dekat Aluna yang kini bersandar di sofa ruang istirahat. Matanya kini menatap lemari besar di depannya. Dimana dia dan Raka dulu keluar dari pintu hitam. “Nggak bisa, Sin,” gumam Aluna lelah. Dia melabuhkan kepalanya di pundak Sindi. “Gimana kalau sampai Raka kenapa-kenapa? Gimana kalau sampai Aisar nyelakain dia?” Air mata Aluna sudah mulai mengalir. Dia terisak dan sesekali memukuli dadanya yang terasa sesak. Sindi tidak melakukan apapun. Matanya beralih menatap cincin yang melingkar di jari manis Aluna. “Ka

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   87. Sesuatu Yang Kupertahankan part2

    “Baik,” gumamnya. “Kita punya banyak waktu.” Dia melirik ke arah anggota PM dan beberapa anak buahnya yang baru masuk. Tanpa perlu perintah panjang, dua orang langsung maju. Kursi Raka didorong kasar hingga hampir terjatuh. Tubuhnya ditarik, lalu dipaksa berdiri. Kedua tangannya diikat membentang. BUGH! Pukulan kedua. Kali ini dari sisi lain. Tubuh Raka terhuyung, tapi dia tetap bertahan. Kakinya tidak goyah. Meski napasnya mulai berat. “Ngaku saja,” ujar salah satu petugas dengan suara rendah. “Ini akan lebih mudah. Kamu tidak perlu menahan rasa sakit ini.” Raka terkekeh pelan. Suaranya sudah terdengar serak dan berat. “Mudah untuk siapa?” Satu pukulan lagi mendarat di perutnya. Raka membungkuk sesaat. Napasnya terputus, ketika merasakan gelenyar aneh di area perutnya. Kolonel Andi menatap itu semua tanpa ekspresi. Seol

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   86. Sesuatu Yang Kupertahankan

    Sebelumnya… Raka mengikuti sesuai arahan. Dia tahu kalau mereka akan langsung membawanya ke penjara. “Apa di sana ada Kolonel?” Pertanyaan Raka membuat satu prajurit meliriknya. Dia mengangguk sungkan. “Siap. Ada Kapten!” Suara lantangnya membuat Raka tersenyum. Karena sebelumnya mereka tidak setakut ini. “Maafkan kami, Kapten—” kalimat mereka menggantung ketika Raka berdehem. Langkah mereka berhenti, lalu melirik Raka pelan. Pria itu sudah tersenyum. “Kalian hanya melakukan tugas. Kalau kalian tidak patuh, itu baru kesalahan.” Mereka semua menunduk. Mereka tidak menyangka akan menyeret Raka ke dalam penjara. Orang yang paling pengertian, orang yang paling ramah dan tidak pernah sombong walau prestasinya melebihi pangkatnya sendiri. Perjalanan dilanjutkan. Tepat ketika berada di depan pintu besi yang tertutup itu, dada Raka sedikit menyempit. Dia ingat janj

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   85. Akhirnya Aku Bisa Membawamu Kembali

    Aluna menyandarkan tubuhnya di kursi besi. Dia kini sedang duduk di ruang UGD. Mendapatkan pasien yang tiba-tiba banyak, membuat tenaganya terkuras habis malam ini. Salah satu dokter UGD sampai tidak enak karena mendapat bantuan dari Aluna yang jelas bukan bagian dari UGD. Sebagai tanda terima kasih, dia bahkan diberi beberapa cemilan dan air mineral, lengkap dengan waktu bersantai. Tubuhnya memang bersantai, tapi isi kepalanya masih terlalu penuh. “Raka… gimana kabar kamu di sana?” bisik Aluna sambil meneguk minuman bersoda di tangannya. Dia menatap langit-langit rumah sakit sebentar, lalu memejamkan mata. Menikmati setiap denyut rasa lelah yang mengalir bersama darahnya. Belum ada lima belas menit dia menikmati waktunya, tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Sindi. ‘Aluna ke ruang ICU sekarang! Rengganis kolaps! Panggil Dr. Sari juga!’ Suara Sindi ya

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   52. Alasan Dibalik Cerita

    “Jangan bunuh dia. Dia berhak bahagia. Raka sudah mulai berubah. Dia mulai mencintai Aluna. Kamu tahu itu, kan? Rumah tangga mereka bisa diselamatkan, nggak semua cerita harus berakhir sedih, kan?” Jarinya makin mencengkeram tangan Rengganis. “Please… aku mohon. Jangan ambil itu

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   50. Aku Kembali?

    “Hah—!” Udara masuk kasar ke paru-parunya. Aluna langsung bangkit dengan napas terengah, tangannya refleks mencengkeram dada yang tadi terasa seperti diremas dari dalam. Namun tidak ada rasa sakit sekarang. Yang ada hanya

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   49. Jalan Menuju Rengganis

    Aluna tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Arga sambil menahan kedipan matanya untuk beberapa saat. Di sebelah Arga, Sabrina sudah kembali tersenyum dan maju satu langkah. “Baik,” katanya. “Kalau kamu butuh bukti, aku akan membuktikannya.”

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   48. Tamu Yang Tidak Diharapkan

    Di bawah, Arga dan Sabrina sudah duduk tenang seperti sebelumnya. Sabrina tampak anggun dengan aura dingin yang sulit disentuh. Dia duduk dengan kaki disilangkan, gaun biru tua membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara rambutnya terikat rapi tanpa satu helai pun yang lepas.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status