Masuk“Aku cuka tokoh variabel yang bisa menghilang dan terasing kapanpun.” Raka mengeraskan rahangnya. Pupilnya menggelap tanpa sadar. Dia juga terluka. Dia terkoyak, bahkan lebih buruk dari Aluna. “Aku tahu,” bisiknya. “Aku tahu semuanya, Aluna.” Aluna kembali menggeleng. Dia mendorong dada Raka. “Sekarang kamu bilang, kamu tahu semuanya?” tanya Aluna. “Lalu apa yang terjadi sama dunia ini, Raka? Akan hilang? Akan hancur?” Hening. Tak ada yang bicara. Keduanya bungkam dalam isi kepala masing-masing. Sebelum akhirnya Raka menghela napas panjang. Raka pelan-pelan menyentuh pundak Aluna. “Kamu masih percaya sama aku, Luna?” Raka menatap Aluna lebih dalam. “Aku Raka. Aku suami kamu, Aluna…” Dada Aluna mengembang dalam sekejap. Tatapan Raka masih sama. Hangat, dan sangat menenangkan. Aluna menatap Raka cukup lama. Seolah sedang memastikan pria di depannya benar-benar nyata dan tidak akan menghilang begitu saja. “Aku percaya sama kamu,” bisiknya lirih. “Tapi aku takut, Raka. Aku ta
Aluna masuk ke dalam rumah dengan setengah berlari. Dadanya masih berdegup dengan cepat. “Tatapan Arga,” gumamnya pelan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran sofa. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Arga tersenyum padanya. Sentuhan hangat di pundaknya, membuat Aluna refleks menepis. Dia mundur satu langkah. Wajahnya tegang dan pucat. “Kamu kenapa?” tanya Raka dengan kedua alis saling bertaut. Sedangkan Aluna, wanita itu masih tegang. Lidahnya tak bisa bergerak. “Hey, kenapa? Apa yang terjadi?” Raka menyentuh pipi Aluna yang pucat pasi. “Aku di sini, semua akan baik-baik aja.” Aluna menggeleng. Dia menelan salivanya susah payah. “Ra-Raka… Raka, apa dia sudah pulang?” tanta Aluna. Tatapannya mengarah ke pintu utama, membuat Raka ikut menoleh ke sana. “Apa dia udah pulan, Raka!” Suara Aluna meninggi. “Jawab aku!” “Hey, semua baik-baik aja, Aluna.” Raka menarik Aluna masuk ke dalam dekapannya. “Semua baik-baik aja. Kamu nggak perlu setakut ini.” Aluna mempererat peluk
“Kapten Raka ada di rumah?” Suara itu membuat Raka dan Aluna membeku. Mereka berdua mengenal dengan jelas siapa pemilik suara itu. “Arga,” gumam Raka. Dia meremas ujung meja, lalu bergegas pergi menuju pintu utama. Sedangkan Aluna, wanita itu justru tak bisa bergerak. Matanya terus menatap kepergian Raka. Rahangnya mengeras dengan tangan mencengkram sendok. “Jadi dia juga ada di sini?” gumam Raka dengan suara yang nyaris tak terdengar. “Arga… si editor itu?” Aluna perlahan berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar. Napasnya sudah sedikit tersengal. Di dalam kepala Aluna terus terbayang ucapan-ucapan Arga di ruang tunggu rumah sakit kala itu. “Luna?” Suara Raka dari arah ruang depan membuat Aluna tersadar dari lamunannya. Namun tubuhnya masih terasa kaku. Jemarinya dingin walau telapak tangannya mulai berkeringat. Dia menelan ludah pelan. Langkah kaki terdengar mendekat dari arah pintu utama. Disusul suara Mbok Sari yang masih terdengar ramah menyambut tamu. “Masuk dulu Pak
Raka tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Aluna. Jemari pria itu perlahan mengusap punggung tangan Aluna menggunakan ibu jarinya. Gerakan kecil yang biasanya menenangkan, tapi kali ini justru membuat dada Aluna semakin tidak nyaman.“Kenapa nanya begitu?” tanya Raka akhirnya. “Apa ada yang aneh sama Letkol Arga?”Aluna menggigit bibir bawahnya pelan. Dia sendiri bingung harus menjawab apa. Karena kalau dia terlalu banyak bertanya tentang Arga, Raka pasti mulai curiga.“Aku cuma—” Aluna menghela napas pelan. Dia menggantung kalimatnya. “Ngerasa kamu berubah tiap dengar nama dia. Tadi aja, ekspresi kamu jadi berubah dingin.”Raka terkekeh kecil. Tawa yang jelas tak sampai ke matanya. “Aku berubah tiap dengar banyak nama orang, Luna. Bukan karena Letkol Arga aja.” Aluna sedikit menyandarkan tubuhnya. Dia menatap Raka dengan napas yang berat. “Tapi ini beda, Raka.” Aluna sedikit menekan kalimatnya. Raka terdiam beberapa saat. Dia ingin menceritakan semuanya, tapi Aluna
Hening langsung turun di meja makan. Aluna yang tadi masih memegang sendok perlahan menghentikan gerakannya. Sedangkan Raka, pria itu masih menatap layar ponselnya tanpa berkedip.Getaran ponsel itu berhenti. Namun beberapa detik kemudian, kembali bergetar. Nama yang sama muncul lagi.“Kenapa nggak diangkat?” tanya Aluna hati-hati. “Itu atasan kamu kan? Ko mukanya tegang banget. Apa ada masalah?”Raka tidak langsung menjawab. Rahangnya masih terlihat mengeras. Tatapannya begitu tajam sampai Aluna ikut menahan napas.“Raka?” tanya Aluna lebih hati-hati. “Kamu baik-baik aja?”Pria itu akhirnya menghela napas panjang. Lalu membalik ponselnya hingga layar menghadap meja.“Gangguan pagi,” gumamnya datar. “Nggak harus diangkat. Ini belum masuk jam kerja.”Aluna mengernyit samar. Dia tidak percaya akan mengatakan ini. Karena Raka sebelumnya yang ia kenal, tidak akan pernah mengabaikan panggilan atasannya semudah ini.“Gangguan? Yakin?” tanya Aluna sedikit mengintrogasi. Raka kembali menyand
Raka benar-benar menunggu di bawah. Bahkan ketika Aluna selesai mandi dan turun dengan rambut yang masih setengah basah, pria itu sudah duduk santai di meja makan sambil membaca sesuatu di tablet hitam miliknya.Namun begitu mendengar suara langkah Aluna menuruni tangga, fokus Raka langsung buyar.Pria itu mendongak. Dan beberapa detik kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat.“Kenapa?” tanya Aluna heran ketika Raka terus menatapnya tanpa berkedip. “Ngeliatin aku udah kayak ngeliatin musuh gitu.”Raka tidak langsung menjawab. Dia menopang dagunya dengan satu tangan. Lalu tersenyum cukup lebar. “Kamu cantik,”gumamnya. “Sangat cantik.”Pipi Aluna langsung menghangat, dan kembali merona. Dia buru-buru menunduk dalam. “Baru mandi juga, ya pasti lah cantik,” balas Aluna berusaha untuk cuek. “Nggak usah berlebihan.”“Aku serius. Bahkan ketika kamu baru bangun tidur, kayak tadi,” goda Raka. “Rambut acak-acakan. Mata merah, muka kucel. Kamu tetep cantik.”Aluna buru-buru menarik kursi di
Di bawah, Arga dan Sabrina sudah duduk tenang seperti sebelumnya. Sabrina tampak anggun dengan aura dingin yang sulit disentuh. Dia duduk dengan kaki disilangkan, gaun biru tua membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara rambutnya terikat rapi tanpa satu helai pun yang lepas.
Tubuh Raka langsung menegang. Pupilnya melebar dengan napas yang sudah tercekat. Lagi-lagi petunjuk tentang anggota militer. Siapa yang berani menginjak harga dirinya sampai sejauh ini. “Tapi itu mimpi.” Suara Raka melemah dan tidak setegas sebelumnya. Seolah dia sedan
Dion mendengus. Kalau saja Raka bukan atasannya, dia pasti sudah berani menyentul buah jakun pria itu. Dalam situasi tegang seperti ini saja, dia masih bisa bermain teka-teki. Tanpa meminta persetujuan, Dion mengambil satu potong kue bantal itu. Raka memperhatikannya tanpa
Mobil Aluna melaju cukup cepat di jalan raya yang masih dipenuhi kendaraan pagi hari. Matahari sudah naik lebih tinggi, tapi udara kota masih terasa sedikit dingin. Mungkin efek dari pagi tadi yang sempat turun hujan. Kedua tangan Aluna mencengkeram stir dengan erat. Ia tidak benar-benar tahu k







