Share

Bab 6

Author: Sena
Suara dari kamar sebelah perlahan mereda. Laila duduk termenung di atas ranjang rumah sakit, pandangannya kosong.

Saat itu ponselnya berdering, itu telepon dari atasannya.

“Laila, pengajuan mutasi yang kamu ajukan enam bulan lalu sudah disetujui. Lokasi kerjamu dipindahkan ke Kota Hana, dua minggu lagi kamu harus mulai bekerja di sana.”

“Baik, Pak. Saya akan pergi ke Kota Hana tepat waktu.”

Dengan begitu, Laila menutup telepon.

Tak lama kemudian, Aya masuk ke kamarnya. Lipstiknya sudah luntur, riasannya berantakan, jelas disebabkan oleh kegiatan yang baru saja terjadi. Namun ekspresinya tetap penuh provokasi.

“Siapa yang mau ke Kota Hana? Kamu? Mau kabur dari rumah lagi pakai cara lama seperti itu?”

Kini, hanya mendengar suara Aya saja sudah membuat Laila muak.

“Keluar. Aku tidak ingin melihatmu.”

“Jangan pura-pura, Laila. Aku tahu kamu sudah bangun tadi, dan kamu juga melihat apa yang terjadi antara aku dan Pak Bima.”

“Kamu tahu jelas dia sudah lama tidak mencintaimu. Alasan dia tidak putus denganmu cuma karena dendam antara keluarga kalian. Jika sudah tahu begitu, kenapa kamu tidak pergi saja? Tahu diri sedikit!”

“Atau kamu mau menunggu sampai aku dan Pak Bima menikah, punya anak, dan hidup bahagia di depan matamu, baru kamu mau menyingkir?”

Laila menatap Aya yang berdiri dengan sikap congkak. Orang yang lebih dicintai memang selalu punya kepercayaan diri. Dulu, Laila juga seperti itu. Karena saat itu ia tahu, Bima mencintainya. Namun sekarang, yang tersisa hanyalah air mata dan kehancuran.

Pada saat itu, terdengar suara Bima dari luar pintu. Mata Aya langsung berkilat licik. Ia segera melangkah maju, mengambil beberapa bantal dari ranjang dan melemparkannya ke lantai di bawah kakinya, lalu cepat-cepat berdiri di sana, menutup wajahnya sambil menangis tertahan, sungguh akting yang sempurna.

Begitu Bima masuk dan melihat pemandangan itu, wajahnya langsung berubah.

Ia menatap Aya dengan dingin, lalu berseru, “Apa yang kamu lakukan di sini? Keluar!”

“Pak Bima, tadi Nona Laila menyuruh saya masuk. Begitu saya masuk, belum sempat bicara apa-apa, dia langsung memaki saya. Katanya saya perempuan tidak tahu malu karena telah menggoda Anda, lalu melempar bantal-bantal ini ke arah saya… hiks…” ucap Aya sambil terisak.

Seperti biasa, Aya membalikkan kenyataan, dengan beberapa kalimat penuh kebohongan, menempatkan dirinya sebagai korban.

Mendengar hal itu, Bima langsung menoleh ke arah Laila.

“Laila, sudah berapa kali aku bilang. Aya itu hanya sekretarisku. Jangan selalu menyerangnya seperti ini.”

Sekretaris?

Sekretaris yang bisa diajak naik ke ranjang kapan saja, yang bahkan datang ke rumah sakit tanpa mengenakan apa pun di balik mantelnya? Atau sekretaris yang ia sebut sebagai cinta baru, yang dibiarkan terang-terangan menggodanya?

Laila tersenyum getir. Pertanyaan-pertanyaan penuh sindiran di otaknya itu bahkan terlalu malas untuk ia ucapkan. Lagipula, ia akan segera pergi. Untuk apa masih berdebat?

“Pergilah. Aku ingin istirahat sebentar.”

Laila menarik selimut dan kembali berbaring. Dia terlihat sangat tenang, seolah tak ada apa pun yang terjadi.

Melihat ketenangan itu, Aya tertegun. Ia sama sekali tak menyangka, Laila setelah menyaksikan pengkhianatan dengan mata kepala sendiri, ia masih bisa setenang ini. Bahkan Laila seperti sudah menduganya sejak awal.

Bima pun merasakan kejanggalan yang sama. Laila memang masih berbicara padanya dengan normal, namun tatapannya kosong, terasa tak lagi ada cinta, tak ada kelembutan seperti dulu. Kesadaran akan hal itu membuat jantung Bima berdetak panik.

Ia segera mendorong Aya untuk keluar kamar, lalu kembali berdiri di sisi ranjang dan berkata dengan suara yang lembut, “Laila, saat di ruang privat kemarin, aku tidak bisa melihat dengan jelas, makanya aku menyuruhmu minta maaf. Aku tahu, aku salah.”

“Iya.”

Laila tak ingin menatap Bima. Ia membelakangi Bima, menghadap ke sisi lain ranjang. Bayangan wajah Aya yang penuh kesombongan kembali melintas di benaknya.

Melihat sikap Laila yang begitu dingin, hati Bima tiba-tiba terasa kosong dan membeku.

Entah mengapa, ia merasa seolah akan kehilangan Laila. Dan itu jelas bukan kehilangan biasa, melainkan kehilangan secara sepenuhnya, kehilangan sampai tak ada jalan untuk kembali bersama.

Perasaan itu membuat seluruh tubuhnya bergetar. Dalam kekacauan pikirannya, ia melangkah maju dan akhirnya mengucapkan kalimat yang telah lama tertahan di dadanya.

“Laila, ayo kita menikah.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 29

    Acara pertunangan Laila dan Hendri digelar dengan suasana yang hangat dan penuh keintiman. Meski hanya pertunangan, Hendri tetap mengundang tim perancang busana internasional ternama dan secara khusus meminta mereka merancang gaun pertunangan untuk Laila.Seorang gadis memang tak pernah bisa tahan jika dihadapkan dengan pakaian yang indah, terlebih lagi Laila sendiri berlatar belakang desain. Saat mengenakan gaun itu, hati Laila langsung dipenuhi kegembiraan. Ia bahkan spontan berjinjit dan mengecup pipi Hendri.“Pak Hendri benar-benar royal. Terima kasih!”Setelah ciuman di pipi itu, Laila hendak pergi, namun Hendri segera menariknya kembali ke dalam pelukan sambil tersenyum nakal.“Ucapan terima kasihmu terlalu asal. Aku tidak terima.”Laila tertawa. “Lalu Pak Hendri mau yang seperti apa?”Hendri mendekat ke telinga Laila, berbisik pelan, “Malam ini…”Wajah Laila langsung memerah. Setelah mendengar kelanjutannya, ia melotot kesal.“Dasar mesum!”Hendri tertawa lepas, lalu mencuri dua

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 28

    Hubungan asmara Laila dan Hendri terjalin secara alami. Tak ada pengakuan cinta yang resmi, tak ada momen dramatis yang dibuat-buat. Perasaan di antara mereka tumbuh perlahan, seperti aliran air yang tenang namun pasti.Di hari rancangan akhir pemandian air panas disetujui, seluruh tim berkumpul untuk merayakan keberhasilan itu dalam sebuah jamuan. Di tengah suasana hangat dan tawa yang riuh, Hendri tiba-tiba mengeluarkan sebuah cincin berlian besar, berkilau sebesar telur merpati. Lalu, dengan sedikit pengaruh alkohol, mengangkatnya ke hadapan Laila.“Laila, maukah kamu menikah denganku?”Lukas yang melihat pemandangan itu langsung mendengus dingin. “Menikahi adikku tidak semudah itu. Kamu pikir cukup dengan cincin murahan seperti itu?”Tak disangka, Hendri sudah menyiapkan semuanya. Ia kemudian memberi isyarat singkat pada asistennya, dan tak lama kemudian sebuah map tebal diserahkan ke tangannya. Hendri langsung mengoper map itu ke Lukas.“Ini dua puluh persen saham perusahaanku. Su

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 27

    Mendengar semua kebenaran yang diucapkan Bima, bukan hanya terkejut, tapi Laila juga merasa semuanya begitu tak masuk akal. Hal-hal yang dulu tak pernah bisa ia pahami, kini justru menjadi jelas dalam sekejap. Ternyata Bima bukan tiba-tiba berhenti mencintainya, melainkan sejak awal, Bima memilih untuk tidak lagi mencintainya.Laila terkekeh pelan seraya berkata, “Jadi selama ini kamu yakin aku akan selalu berada di sisimu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena kamu merasa aku berutang padamu, ya?”“Kamu menganggapku sebagai kompensasi dari Keluarga Permata, sebagai barang yang seharusnya menjadi milikmu, benar begitu?”Bahasanya kasar, tapi logikanya tepat. Bima terdiam, tak ada satu kata pun sanggahan keluar dari mulutnya.Saat itu juga, Laila benar-benar memahami situasi. Ia menatap Bima, menelusuri wajahnya dengan saksama. Seolah Laila melihatnya untuk terakhir kali.“Bima, sekarang aku sadar, selama ini aku tidak benar-benar memahamimu. Mungkin selama bertahun-tahun ini, yang k

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 26

    Pupil mata Aya mendadak membesar. Pertanyaan yang datang tiba-tiba itu membuat suaranya mulai bergetar.“A-aku… aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”Laila melanjutkan dengan nada bicara yang stabil dan tenang, “Kamu menyuap dokter di Kota Jaya untuk memalsukan semuanya. Karena itu, di setiap momen penting kamu selalu mengeluh perutmu sakit, agar Bima datang menemui kamu. Kalau tebakanku tidak salah, pada hari kami hendak mendaftarkan pernikahan pun, kamu sengaja membesar-besarkan kondisimu, sampai-sampai Bima begitu khawatir dan lupa sama sekali untuk pergi ke Kantor Catatan Sipil, benar bukan?”Sebenarnya, Laila sudah lama mencurigai hal ini. Sejak melihat Aya mampu bangun dan bergerak dengan leluasa sesaat setelah "operasi keguguran" selesai. Apalagi dia juga sempat melihat Aya diam-diam menyelipkan uang tunai kepada dokter yang menanganinya di rumah sakit, kecurigaan Laila menjadi semakin kuat.Ia pun mencoba menguji kebenarannya. Laila menyiapkan uang 40 juta dan memberikan

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 25

    “Tidak mungkin! Kamu pasti bicara seperti itu karena kamu masih marah!”Bima sama sekali tidak bisa menerima jawaban Laila. Selama ini, dia berani bersikap semena-mena dan bermain gila-gilaan dengan Aya, itu berdasarkan satu keyakinan mutlak bahwa Laila cinta mati padanya. Termasuk saat Laila kembali ke Kota Hana. Bima terus mengganggu Laila, terus memaksakan diri muncul di hadapan Laila, karena ia yakin Laila masih mencintainya.Namun, tadi Laila lebih memilih Hendri ketika bahaya datang, dan kata-kata yang ia ucapkan tanpa ragu itu benar-benar membuat Bima merasakan kepanikan mutlak untuk pertama kalinya.Laila kembali berbicara, suaranya masih tenang dan tegas. “Aku tidak sedang bicara karena emosi. Semua yang kukatakan adalah kebenaran.”Bima yang sudah kehilangan kendali tetap menggeleng keras, menolak percaya kalimat-kalimat yang diucapkan Laila.“Baik! Kalau begitu katakan padaku, sejak kapan kamu tidak mencintaiku? Dan kenapa?”“Sejak pertama kali aku tahu tentang hubungan gela

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 24

    Setelah acara lelang berakhir dan jamuan malam dimulai, Laila baru melangkahkan kaki untuk keluar ketika seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh, dan mendapati Bima berdiri di sana. Di tangan Bima tergenggam gelang giok jadeite yang baru saja ia menangkan dalam lelang. Kemudian ia mengulurkannya ke arah Laila.“Laila, kamu sudah 99 kali memaafkanku, aku bersedia menebus semuanya satu per satu, asal kamu mau memberiku satu kesempatan lagi.”“Cincin lamaran yang kuberikan padamu itu sebenarnya sudah kupilih sejak beberapa tahun lalu. Meski tidak besar, itu adalah wujud niatku untuk menikahimu. Sedangkan yang diperlihatkan Aya padamu, itu dia beli sendiri dengan kartu kreditku. Aku tahu hal itu sangat melukaimu, jadi anggap saja gelang giok ini sebagai permintaan maafku.”Setelah berpisah dengan Laila, Bima justru semakin menyadari betapa baiknya Laila padanya, dan betapa penting keberadaan Laila dalam hidup Bima. Bima dengan cepat dapat memastikan satu hal, ia tak bisa keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status