Share

Bab 7

Author: Sena
Bima sendiri tak tahu mengapa kalimat itu tiba-tiba meluncur dari bibirnya. Ia hanya merasakan satu hal dengan sangat jelas, yaitu Laila sedang menjauh darinya. Dan ia harus melakukan sesuatu untuk menahan Laila, apa pun caranya. Bahkan jika itu berarti memberikan pernikahan yang sebenarnya tak ingin ia wujudkan.

Mendengar kata-kata itu, tubuh Laila menegang sesaat. Ia tetap membelakangi Bima. Setelah beberapa detik hening, barulah ia bertanya pelan, “Kenapa?”

Padahal sebelumnya, ada begitu banyak kesempatan bagi Bima untuk melamar, namun ia tak pernah melakukannya. Mengapa sekarang, setelah pengkhianatan yang begitu terang-terangan, Bima justru membicarakan pernikahan?

Bima mengira Laila sedang mempertimbangkan lamarannya. Ia tersenyum dan mendekat ke arah Laila, kemudian berkata, “Kenapa harus ada alasan? Kita sudah bersama bertahun-tahun. Cepat atau lambat kita memang akan menikah. Dan menurutku sekaranglah waktu yang tepat.”

Mendengar kalimat itu, hati Laila sama sekali tak goyah. Ia hanya menanggapi dengan singkat, “Oh… begitu.”

Bima tak menyangka reaksi Laila akan sedatar itu. Bima mengira, mungkin Laila merasa ia hanya asal bicara, maka ia buru-buru menambahkan, “Laila, tenang saja. Semua yang seharusnya menjadi milikmu, tidak akan berkurang sedikit pun.”

Kemudian, tanpa menunggu jawaban Laila, ia bangkit dan meninggalkan kamar.

Laila tertidur dalam keadaan setengah sadar. Saat membuka mata kembali, hari sudah malam. Pesan dari kantor masuk, mengonfirmasi tiket pesawat untuk meninggalkan Kota Jaya, tepat dua minggu lagi.

Ia pun membalas pesan itu untuk mengkonfirmasi, lalu menemui dokter. Dokter mengatakan bahwa sekitar seminggu lagi ia sudah bisa keluar dari rumah sakit.

Mendengar hal itu, Laila menghela napas lega dan berjalan kembali ke kamarnya. Namun begitu tiba di tikungan lorong, sekelompok orang tiba-tiba muncul dengan membawa mawar. Mereka bersorak sambil mengelilinginya, mata mereka penuh iri.

“Selamat, Nona Laila!”

Laila sempat tertegun. Kemudian, di tengah kerumunan orang itu, ia melihat pria bersetelan jas sambil memegang cincin berlian. Itu Bima.

Laila tak kuasa menahan diri, ia bersin berturut-turut dan spontan menutup hidungnya. Namun Bima sepenuhnya tenggelam dalam suasana yang ia ciptakan sendiri.

Ia berlutut dengan satu kaki sambil mengangkat cincin tinggi-tinggi.

“Laila, menikahlah denganku.”

Alis Laila berkerut. Aroma bunga yang pekat membuat hidungnya perih dan terasa sesak.

Ia mengangkat tangan, mengisyaratkan Bima untuk berdiri. Tapi Bima lebih dulu memasangkan cincin itu ke jarinya dengan raut muka penuh kegembiraan.

“Laila, akhirnya kamu menerima lamaranku. Kita…”

“Uhuk uhuk… Bima.”

Napas Laila sudah mulai tersendat. Dengan suara tertahan ia berkata, “Suruh mereka pergi dulu. Aku… alergi serbuk sari…”

Bima baru tersadar akan sesuatu. Ia langsung berteriak menyuruh semua orang pergi, dan kerumunan itu pun dengan panik turun ke bawah. Namun Laila tetap tak mampu bertahan, dan ia pingsan.

Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, di benaknya terlintas kenangan saat pertama kali ia mengalami alergi serbuk sari. Waktu itu, Bima juga yang menggendongnya dari lantai satu sampai lantai tujuh belas. Agar Laila segera menerima pengobatan, Bima bahkan tidak berhenti sedikit pun, meski hanya untuk menarik napas. Tapi sekarang, ia justru sepenuhnya melupakan bahwa Laila alergi serbuk sari.

Sungguh ironis.

Laila tak tahu berapa lama ia pingsan. Saat setengah sadar dan mulai membuka mata lagi, hari sudah berganti, hari kedua.

Kamar rawatnya kosong, perutnya terasa lapar. Laila hendak memanggil perawat untuk membantu memesan makanan. Namun baru saja melangkah keluar pintu, ia melihat Aya datang dari arah berlawanan. Ia membawa sebuah kotak makan yang tampak mewah, lalu menyodorkannya pada Laila.

“Nona Laila, ini sarapanmu. Bima menyuruhku mengantarkannya untukmu.”

Laila bahkan tak ingin menatap Aya. Ia menurunkan pandangan dan berkata dingin, “Taruh saja. Kamu boleh pergi.”

Melihat itu, Aya tersenyum penuh kemenangan. Tiba-tiba ia melangkah maju dan meraih tangan kanan Laila, tangan yang mengenakan cincin dari Bima.

“Ini cincin lamaran Bima kemarin, ya? Cantik sekali. Tapi dibanding punyaku, sepertinya masih kalah cantik.”

Sambil berkata begitu, Aya mengangkat tangannya sendiri. Di jari manisnya juga terpasang sebuah cincin berlian besar, ukurannya dua kali lebih besar daripada yang dikenakan Laila.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 29

    Acara pertunangan Laila dan Hendri digelar dengan suasana yang hangat dan penuh keintiman. Meski hanya pertunangan, Hendri tetap mengundang tim perancang busana internasional ternama dan secara khusus meminta mereka merancang gaun pertunangan untuk Laila.Seorang gadis memang tak pernah bisa tahan jika dihadapkan dengan pakaian yang indah, terlebih lagi Laila sendiri berlatar belakang desain. Saat mengenakan gaun itu, hati Laila langsung dipenuhi kegembiraan. Ia bahkan spontan berjinjit dan mengecup pipi Hendri.“Pak Hendri benar-benar royal. Terima kasih!”Setelah ciuman di pipi itu, Laila hendak pergi, namun Hendri segera menariknya kembali ke dalam pelukan sambil tersenyum nakal.“Ucapan terima kasihmu terlalu asal. Aku tidak terima.”Laila tertawa. “Lalu Pak Hendri mau yang seperti apa?”Hendri mendekat ke telinga Laila, berbisik pelan, “Malam ini…”Wajah Laila langsung memerah. Setelah mendengar kelanjutannya, ia melotot kesal.“Dasar mesum!”Hendri tertawa lepas, lalu mencuri dua

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 28

    Hubungan asmara Laila dan Hendri terjalin secara alami. Tak ada pengakuan cinta yang resmi, tak ada momen dramatis yang dibuat-buat. Perasaan di antara mereka tumbuh perlahan, seperti aliran air yang tenang namun pasti.Di hari rancangan akhir pemandian air panas disetujui, seluruh tim berkumpul untuk merayakan keberhasilan itu dalam sebuah jamuan. Di tengah suasana hangat dan tawa yang riuh, Hendri tiba-tiba mengeluarkan sebuah cincin berlian besar, berkilau sebesar telur merpati. Lalu, dengan sedikit pengaruh alkohol, mengangkatnya ke hadapan Laila.“Laila, maukah kamu menikah denganku?”Lukas yang melihat pemandangan itu langsung mendengus dingin. “Menikahi adikku tidak semudah itu. Kamu pikir cukup dengan cincin murahan seperti itu?”Tak disangka, Hendri sudah menyiapkan semuanya. Ia kemudian memberi isyarat singkat pada asistennya, dan tak lama kemudian sebuah map tebal diserahkan ke tangannya. Hendri langsung mengoper map itu ke Lukas.“Ini dua puluh persen saham perusahaanku. Su

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 27

    Mendengar semua kebenaran yang diucapkan Bima, bukan hanya terkejut, tapi Laila juga merasa semuanya begitu tak masuk akal. Hal-hal yang dulu tak pernah bisa ia pahami, kini justru menjadi jelas dalam sekejap. Ternyata Bima bukan tiba-tiba berhenti mencintainya, melainkan sejak awal, Bima memilih untuk tidak lagi mencintainya.Laila terkekeh pelan seraya berkata, “Jadi selama ini kamu yakin aku akan selalu berada di sisimu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena kamu merasa aku berutang padamu, ya?”“Kamu menganggapku sebagai kompensasi dari Keluarga Permata, sebagai barang yang seharusnya menjadi milikmu, benar begitu?”Bahasanya kasar, tapi logikanya tepat. Bima terdiam, tak ada satu kata pun sanggahan keluar dari mulutnya.Saat itu juga, Laila benar-benar memahami situasi. Ia menatap Bima, menelusuri wajahnya dengan saksama. Seolah Laila melihatnya untuk terakhir kali.“Bima, sekarang aku sadar, selama ini aku tidak benar-benar memahamimu. Mungkin selama bertahun-tahun ini, yang k

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 26

    Pupil mata Aya mendadak membesar. Pertanyaan yang datang tiba-tiba itu membuat suaranya mulai bergetar.“A-aku… aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”Laila melanjutkan dengan nada bicara yang stabil dan tenang, “Kamu menyuap dokter di Kota Jaya untuk memalsukan semuanya. Karena itu, di setiap momen penting kamu selalu mengeluh perutmu sakit, agar Bima datang menemui kamu. Kalau tebakanku tidak salah, pada hari kami hendak mendaftarkan pernikahan pun, kamu sengaja membesar-besarkan kondisimu, sampai-sampai Bima begitu khawatir dan lupa sama sekali untuk pergi ke Kantor Catatan Sipil, benar bukan?”Sebenarnya, Laila sudah lama mencurigai hal ini. Sejak melihat Aya mampu bangun dan bergerak dengan leluasa sesaat setelah "operasi keguguran" selesai. Apalagi dia juga sempat melihat Aya diam-diam menyelipkan uang tunai kepada dokter yang menanganinya di rumah sakit, kecurigaan Laila menjadi semakin kuat.Ia pun mencoba menguji kebenarannya. Laila menyiapkan uang 40 juta dan memberikan

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 25

    “Tidak mungkin! Kamu pasti bicara seperti itu karena kamu masih marah!”Bima sama sekali tidak bisa menerima jawaban Laila. Selama ini, dia berani bersikap semena-mena dan bermain gila-gilaan dengan Aya, itu berdasarkan satu keyakinan mutlak bahwa Laila cinta mati padanya. Termasuk saat Laila kembali ke Kota Hana. Bima terus mengganggu Laila, terus memaksakan diri muncul di hadapan Laila, karena ia yakin Laila masih mencintainya.Namun, tadi Laila lebih memilih Hendri ketika bahaya datang, dan kata-kata yang ia ucapkan tanpa ragu itu benar-benar membuat Bima merasakan kepanikan mutlak untuk pertama kalinya.Laila kembali berbicara, suaranya masih tenang dan tegas. “Aku tidak sedang bicara karena emosi. Semua yang kukatakan adalah kebenaran.”Bima yang sudah kehilangan kendali tetap menggeleng keras, menolak percaya kalimat-kalimat yang diucapkan Laila.“Baik! Kalau begitu katakan padaku, sejak kapan kamu tidak mencintaiku? Dan kenapa?”“Sejak pertama kali aku tahu tentang hubungan gela

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 24

    Setelah acara lelang berakhir dan jamuan malam dimulai, Laila baru melangkahkan kaki untuk keluar ketika seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh, dan mendapati Bima berdiri di sana. Di tangan Bima tergenggam gelang giok jadeite yang baru saja ia menangkan dalam lelang. Kemudian ia mengulurkannya ke arah Laila.“Laila, kamu sudah 99 kali memaafkanku, aku bersedia menebus semuanya satu per satu, asal kamu mau memberiku satu kesempatan lagi.”“Cincin lamaran yang kuberikan padamu itu sebenarnya sudah kupilih sejak beberapa tahun lalu. Meski tidak besar, itu adalah wujud niatku untuk menikahimu. Sedangkan yang diperlihatkan Aya padamu, itu dia beli sendiri dengan kartu kreditku. Aku tahu hal itu sangat melukaimu, jadi anggap saja gelang giok ini sebagai permintaan maafku.”Setelah berpisah dengan Laila, Bima justru semakin menyadari betapa baiknya Laila padanya, dan betapa penting keberadaan Laila dalam hidup Bima. Bima dengan cepat dapat memastikan satu hal, ia tak bisa keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status