Share

Bab 5

Author: Sena
Laila tak tahu bagaimana ia sampai di rumah sakit. Saat tersadar, hari sudah berganti menjadi keesokan pagi.

Ia tahu Bima ada di dalam kamar rumah sakit bersamanya. Maka Laila sengaja berpura-pura masih tertidur. Ia tak ingin menghadapi Bima, apalagi mendengar alasan-alasan canggung yang pasti akan Bima ucapkan.

Dokter pergi, Bima kembali duduk di sisi ranjang, menarik selimut dan menutupkannya pada tubuh Laila. Gerakannya lembut, seolah ia sedang melindungi sesuatu yang paling berharga.

Namun apa yang ia lakukan terhadap Laila, justru seperti memperlakukan sebuah sampah. Tiba-tiba, pintu kamar kembali terbuka. Aroma parfum yang menyengat menyeruak masuk.

Itu Aya.

Begitu masuk, Aya langsung menerjang ke pelukan Bima, seraya bicara dengan suara manja dan penuh keluhan, “Pak Bima, kenapa kamu mengabaikan aku? Apa kamu marah padaku? Aku rindu sekali…”

Bima terkejut. Ia menoleh cepat ke arah Laila, lalu menjawab dengan suara pelan dan rendah, “Kenapa kamu ke sini? Aku tidak marah. Cepat pergi, jangan sampai Laila tahu!”

“Efek biusnya belum hilang, mana mungkin dia tahu,” ucap Aya merajuk. “Bos Bima, apa kamu tidak merindukanku?”

Sambil berbicara begitu, tangan Aya bergerak melepas mantel, memperlihatkan pakaian dalam yang menggoda. Bima terdiam seketika.

Dari reaksi Bima, Aya tahu, ia datang pada waktu yang tepat. Aya melirik ke arah Laila di ranjang, memperhatikan naik-turun napasnya. Ia tahu Laila sudah bangun. Sebuah niat nakal pun terbentuk di otak Aya.

Gerakannya semakin berani. Aya langsung menanggalkan pakaiannya, lalu mendorong Bima ke ranjang pendamping, kemudian mencium leher pria itu dengan terampil.

“Bukankah kamu bilang suka yang ini?” bisiknya. “Aku sengaja memakainya untukmu… bahkan tanpa lapisan lain. Di sepanjang jalan tadi, banyak yang melirikku…”

Napas Bima menjadi berat, meski sisa kewarasan masih bertahan di otaknya.

“Jangan main-main. Kamu pulang dulu, nanti malam aku akan menemuimu.”

“Tidak mau… aku benar-benar merindukanmu. Pak Bima, aku tahu kamu juga menginginkanku…”

Aya sangat paham selera pria. Dan dalam hal ini, ia amat piawai. Benar saja, tak lama, pertahanan Bima melemah, penolakannya melunak.

Menyadari itu, Aya semakin tak terkendali. Tangannya meraih sabuk Bima, dan dengan sengaja mengarah ke sisi ranjang Laila, kemudian ia mengeluarkan suara desahan lembut, seakan sengaja agar Laila mendengarnya.

Laila yang berbaring di ranjang, tentu saja tahu ini disengaja. Darahnya seakan membeku, tubuhnya dingin layaknya tubuh tak bernyawa.

Ternyata, pengkhianatan di ujung cinta bukan hanya menyayat hati, tapi juga sangat memalukan dan kejam. Pria yang dulu mencintainya sepenuh jiwa, kini hatinya telah lama menjadi milik orang lain.

Di saat genting seperti itu, terdengar suara Bima yang bergetar, “Kita ke kamar sebelah.”

Bima meraih mantel di lantai, menutupkannya ke tubuh Aya, lalu menggendongnya keluar dengan cepat menuju kamar sebelah. Tak lama kemudian, suara-suara intim pun terdengar.

Meski mereka berusaha menahan, Laila tetap bisa mendengarnya dengan jelas.

Air mata Laila jatuh layaknya hujan deras. Dengan perlahan, ia duduk dari ranjang. Laila kembali mengeluarkan buku catatannya, membuka halaman ketiga dari belakang, dan dengan tangan gemetar menulis, [Memaafkan ke-97. Dia tidur dengan perempuan lain di depan mataku.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 29

    Acara pertunangan Laila dan Hendri digelar dengan suasana yang hangat dan penuh keintiman. Meski hanya pertunangan, Hendri tetap mengundang tim perancang busana internasional ternama dan secara khusus meminta mereka merancang gaun pertunangan untuk Laila.Seorang gadis memang tak pernah bisa tahan jika dihadapkan dengan pakaian yang indah, terlebih lagi Laila sendiri berlatar belakang desain. Saat mengenakan gaun itu, hati Laila langsung dipenuhi kegembiraan. Ia bahkan spontan berjinjit dan mengecup pipi Hendri.“Pak Hendri benar-benar royal. Terima kasih!”Setelah ciuman di pipi itu, Laila hendak pergi, namun Hendri segera menariknya kembali ke dalam pelukan sambil tersenyum nakal.“Ucapan terima kasihmu terlalu asal. Aku tidak terima.”Laila tertawa. “Lalu Pak Hendri mau yang seperti apa?”Hendri mendekat ke telinga Laila, berbisik pelan, “Malam ini…”Wajah Laila langsung memerah. Setelah mendengar kelanjutannya, ia melotot kesal.“Dasar mesum!”Hendri tertawa lepas, lalu mencuri dua

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 28

    Hubungan asmara Laila dan Hendri terjalin secara alami. Tak ada pengakuan cinta yang resmi, tak ada momen dramatis yang dibuat-buat. Perasaan di antara mereka tumbuh perlahan, seperti aliran air yang tenang namun pasti.Di hari rancangan akhir pemandian air panas disetujui, seluruh tim berkumpul untuk merayakan keberhasilan itu dalam sebuah jamuan. Di tengah suasana hangat dan tawa yang riuh, Hendri tiba-tiba mengeluarkan sebuah cincin berlian besar, berkilau sebesar telur merpati. Lalu, dengan sedikit pengaruh alkohol, mengangkatnya ke hadapan Laila.“Laila, maukah kamu menikah denganku?”Lukas yang melihat pemandangan itu langsung mendengus dingin. “Menikahi adikku tidak semudah itu. Kamu pikir cukup dengan cincin murahan seperti itu?”Tak disangka, Hendri sudah menyiapkan semuanya. Ia kemudian memberi isyarat singkat pada asistennya, dan tak lama kemudian sebuah map tebal diserahkan ke tangannya. Hendri langsung mengoper map itu ke Lukas.“Ini dua puluh persen saham perusahaanku. Su

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 27

    Mendengar semua kebenaran yang diucapkan Bima, bukan hanya terkejut, tapi Laila juga merasa semuanya begitu tak masuk akal. Hal-hal yang dulu tak pernah bisa ia pahami, kini justru menjadi jelas dalam sekejap. Ternyata Bima bukan tiba-tiba berhenti mencintainya, melainkan sejak awal, Bima memilih untuk tidak lagi mencintainya.Laila terkekeh pelan seraya berkata, “Jadi selama ini kamu yakin aku akan selalu berada di sisimu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena kamu merasa aku berutang padamu, ya?”“Kamu menganggapku sebagai kompensasi dari Keluarga Permata, sebagai barang yang seharusnya menjadi milikmu, benar begitu?”Bahasanya kasar, tapi logikanya tepat. Bima terdiam, tak ada satu kata pun sanggahan keluar dari mulutnya.Saat itu juga, Laila benar-benar memahami situasi. Ia menatap Bima, menelusuri wajahnya dengan saksama. Seolah Laila melihatnya untuk terakhir kali.“Bima, sekarang aku sadar, selama ini aku tidak benar-benar memahamimu. Mungkin selama bertahun-tahun ini, yang k

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 26

    Pupil mata Aya mendadak membesar. Pertanyaan yang datang tiba-tiba itu membuat suaranya mulai bergetar.“A-aku… aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”Laila melanjutkan dengan nada bicara yang stabil dan tenang, “Kamu menyuap dokter di Kota Jaya untuk memalsukan semuanya. Karena itu, di setiap momen penting kamu selalu mengeluh perutmu sakit, agar Bima datang menemui kamu. Kalau tebakanku tidak salah, pada hari kami hendak mendaftarkan pernikahan pun, kamu sengaja membesar-besarkan kondisimu, sampai-sampai Bima begitu khawatir dan lupa sama sekali untuk pergi ke Kantor Catatan Sipil, benar bukan?”Sebenarnya, Laila sudah lama mencurigai hal ini. Sejak melihat Aya mampu bangun dan bergerak dengan leluasa sesaat setelah "operasi keguguran" selesai. Apalagi dia juga sempat melihat Aya diam-diam menyelipkan uang tunai kepada dokter yang menanganinya di rumah sakit, kecurigaan Laila menjadi semakin kuat.Ia pun mencoba menguji kebenarannya. Laila menyiapkan uang 40 juta dan memberikan

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 25

    “Tidak mungkin! Kamu pasti bicara seperti itu karena kamu masih marah!”Bima sama sekali tidak bisa menerima jawaban Laila. Selama ini, dia berani bersikap semena-mena dan bermain gila-gilaan dengan Aya, itu berdasarkan satu keyakinan mutlak bahwa Laila cinta mati padanya. Termasuk saat Laila kembali ke Kota Hana. Bima terus mengganggu Laila, terus memaksakan diri muncul di hadapan Laila, karena ia yakin Laila masih mencintainya.Namun, tadi Laila lebih memilih Hendri ketika bahaya datang, dan kata-kata yang ia ucapkan tanpa ragu itu benar-benar membuat Bima merasakan kepanikan mutlak untuk pertama kalinya.Laila kembali berbicara, suaranya masih tenang dan tegas. “Aku tidak sedang bicara karena emosi. Semua yang kukatakan adalah kebenaran.”Bima yang sudah kehilangan kendali tetap menggeleng keras, menolak percaya kalimat-kalimat yang diucapkan Laila.“Baik! Kalau begitu katakan padaku, sejak kapan kamu tidak mencintaiku? Dan kenapa?”“Sejak pertama kali aku tahu tentang hubungan gela

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 24

    Setelah acara lelang berakhir dan jamuan malam dimulai, Laila baru melangkahkan kaki untuk keluar ketika seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh, dan mendapati Bima berdiri di sana. Di tangan Bima tergenggam gelang giok jadeite yang baru saja ia menangkan dalam lelang. Kemudian ia mengulurkannya ke arah Laila.“Laila, kamu sudah 99 kali memaafkanku, aku bersedia menebus semuanya satu per satu, asal kamu mau memberiku satu kesempatan lagi.”“Cincin lamaran yang kuberikan padamu itu sebenarnya sudah kupilih sejak beberapa tahun lalu. Meski tidak besar, itu adalah wujud niatku untuk menikahimu. Sedangkan yang diperlihatkan Aya padamu, itu dia beli sendiri dengan kartu kreditku. Aku tahu hal itu sangat melukaimu, jadi anggap saja gelang giok ini sebagai permintaan maafku.”Setelah berpisah dengan Laila, Bima justru semakin menyadari betapa baiknya Laila padanya, dan betapa penting keberadaan Laila dalam hidup Bima. Bima dengan cepat dapat memastikan satu hal, ia tak bisa keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status