Share

Bab 8

Author: Sena
Pandangan Laila tertuju pada cincin berlian yang dikenakan Aya itu. Seketika napasnya mendadak terasa sesak. Seolah-olah ia kembali merasakan sensasi alergi serbuk sari. Dadanya seperti tertekan, ia sulit bernapas.

Melihat reaksi itu, Aya justru semakin puas. Ia mundur setengah langkah, mengarahkan tangannya ke perut, lalu mengusapnya.

“Nona Laila, aku benar-benar kagum dengan pertahananmu. Kamu sudah terang-terangan diselingkuhi, tapi kamu masih memikirkan pernikahan.”

“Sekalipun kamu menyandang gelar istrinya Bima, memang kenapa? Kamu bahkan tak tahu betapa bahagianya Bima kemarin saat tahu aku hamil.”

Baru saat itu, Laila mengerti. Pantas saja kemarin Bima tak muncul, ternyata ia pergi merayakan bahwa dia akan menjadi orang tua bersama Aya.

Laila menatap wanita di hadapannya yang sama sekali tak tahu malu itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit, senyumannya getir.

“Kalau begitu, selamat untuk kalian.”

Usai berkata demikian, Laila berbalik hendak pergi. Namun pada saat itu, Bima terlihat berlari mendekat. Ia berdiri di depan Laila, merangkul tubuh Laila untuk melindunginya, lalu menatap Aya dengan dingin.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Pergi sekarang juga!”

Begitu melihat sikap Bima, Aya langsung memasang wajah seakan-akan hendak menangis. Dengan suara lirih ia berkata, “Bima… aku, aku tadi merasa tidak enak badan, jadi datang ke rumah sakit untuk periksa… perutku sering terasa nyeri, aku takut…”

Kepura-puraan di mata Aya begitu jelas, siapa pun bisa melihatnya. Tetapi Bima tetap tak mampu menahan rasa cemas. Ia mengerutkan kening untuk menekan reaksi khawatirnya.

“Kalau begitu cepat cari dokter! Kenapa masih berdiri di sini?”

Tangisan Aya semakin menjadi, air matanya jatuh seperti bunga pir diterpa hujan.

“Tapi aku tidak berani pergi sendiri, aku takut… lagipula ini pertama kalinya untukku, pertama kali aku…”

Ia hampir saja mengucapkan kata "hamil".

Tapi Bima refleks melangkah maju. Saat ia menoleh dan melihat wajah Laila yang pucat, langkahnya terhenti, dan ia mundur lagi.

“Pergilah sendiri ke dokter. Hanya pemeriksaan biasa, apa yang perlu ditakuti?”

Setelah itu ia merangkul Laila dan membawanya kembali ke kamar rawat. Begitu mereka masuk ke kamar, Bima justru semakin gelisah. Hatinya seolah ikut terbang mengikuti kepergian Aya. Ia berkali-kali melirik ke arah pintu, berulang kali mengeluarkan ponsel menunggu kabar, jelas terlihat ia sudah kehilangan ketenangan.

Laila memandangnya, lalu teringat saat pertama kali datang ke Kota Jaya. Karena tak cocok dengan iklim di kota ini, ia sering demam. Waktu itu, Bima juga terlihat khawatir seperti ini, sampai dahinya berkerut.

Hanya saja, kini rasa khawatir itu telah berpindah pada orang lain.

“Laila, aku keluar sebentar. Nanti aku kembali.”

Usai mengatakan itu, Bima segera bangkit dan meninggalkan kamar.

Laila menatap pintu kamar dengan pandangan kosong sesaat. Lalu perlahan ia melepas cincin yang kemarin dipaksakan Bima terpasang ke jarinya. Laila meletakkan cincin itu di meja samping.

Kemudian, ia kembali mengeluarkan buku catatannya, menunduk, dan menulis dengan gerakan yang pelan.

[Memaafkan ke-98. Dia membuat wanita lain hamil, tepat di hari yang sama saat dia melamarku.]

Setelah selesai menulis, ia menatap baris kalimat itu. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi halaman buku itu, membuat tulisan di atasnya perlahan menjadi kabur, sama seperti puluhan catatan sebelumnya.

Laila lalu menutup buku itu. Dan di dalam hatinya, sebuah keputusan pun kian menguat.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 29

    Acara pertunangan Laila dan Hendri digelar dengan suasana yang hangat dan penuh keintiman. Meski hanya pertunangan, Hendri tetap mengundang tim perancang busana internasional ternama dan secara khusus meminta mereka merancang gaun pertunangan untuk Laila.Seorang gadis memang tak pernah bisa tahan jika dihadapkan dengan pakaian yang indah, terlebih lagi Laila sendiri berlatar belakang desain. Saat mengenakan gaun itu, hati Laila langsung dipenuhi kegembiraan. Ia bahkan spontan berjinjit dan mengecup pipi Hendri.“Pak Hendri benar-benar royal. Terima kasih!”Setelah ciuman di pipi itu, Laila hendak pergi, namun Hendri segera menariknya kembali ke dalam pelukan sambil tersenyum nakal.“Ucapan terima kasihmu terlalu asal. Aku tidak terima.”Laila tertawa. “Lalu Pak Hendri mau yang seperti apa?”Hendri mendekat ke telinga Laila, berbisik pelan, “Malam ini…”Wajah Laila langsung memerah. Setelah mendengar kelanjutannya, ia melotot kesal.“Dasar mesum!”Hendri tertawa lepas, lalu mencuri dua

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 28

    Hubungan asmara Laila dan Hendri terjalin secara alami. Tak ada pengakuan cinta yang resmi, tak ada momen dramatis yang dibuat-buat. Perasaan di antara mereka tumbuh perlahan, seperti aliran air yang tenang namun pasti.Di hari rancangan akhir pemandian air panas disetujui, seluruh tim berkumpul untuk merayakan keberhasilan itu dalam sebuah jamuan. Di tengah suasana hangat dan tawa yang riuh, Hendri tiba-tiba mengeluarkan sebuah cincin berlian besar, berkilau sebesar telur merpati. Lalu, dengan sedikit pengaruh alkohol, mengangkatnya ke hadapan Laila.“Laila, maukah kamu menikah denganku?”Lukas yang melihat pemandangan itu langsung mendengus dingin. “Menikahi adikku tidak semudah itu. Kamu pikir cukup dengan cincin murahan seperti itu?”Tak disangka, Hendri sudah menyiapkan semuanya. Ia kemudian memberi isyarat singkat pada asistennya, dan tak lama kemudian sebuah map tebal diserahkan ke tangannya. Hendri langsung mengoper map itu ke Lukas.“Ini dua puluh persen saham perusahaanku. Su

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 27

    Mendengar semua kebenaran yang diucapkan Bima, bukan hanya terkejut, tapi Laila juga merasa semuanya begitu tak masuk akal. Hal-hal yang dulu tak pernah bisa ia pahami, kini justru menjadi jelas dalam sekejap. Ternyata Bima bukan tiba-tiba berhenti mencintainya, melainkan sejak awal, Bima memilih untuk tidak lagi mencintainya.Laila terkekeh pelan seraya berkata, “Jadi selama ini kamu yakin aku akan selalu berada di sisimu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena kamu merasa aku berutang padamu, ya?”“Kamu menganggapku sebagai kompensasi dari Keluarga Permata, sebagai barang yang seharusnya menjadi milikmu, benar begitu?”Bahasanya kasar, tapi logikanya tepat. Bima terdiam, tak ada satu kata pun sanggahan keluar dari mulutnya.Saat itu juga, Laila benar-benar memahami situasi. Ia menatap Bima, menelusuri wajahnya dengan saksama. Seolah Laila melihatnya untuk terakhir kali.“Bima, sekarang aku sadar, selama ini aku tidak benar-benar memahamimu. Mungkin selama bertahun-tahun ini, yang k

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 26

    Pupil mata Aya mendadak membesar. Pertanyaan yang datang tiba-tiba itu membuat suaranya mulai bergetar.“A-aku… aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”Laila melanjutkan dengan nada bicara yang stabil dan tenang, “Kamu menyuap dokter di Kota Jaya untuk memalsukan semuanya. Karena itu, di setiap momen penting kamu selalu mengeluh perutmu sakit, agar Bima datang menemui kamu. Kalau tebakanku tidak salah, pada hari kami hendak mendaftarkan pernikahan pun, kamu sengaja membesar-besarkan kondisimu, sampai-sampai Bima begitu khawatir dan lupa sama sekali untuk pergi ke Kantor Catatan Sipil, benar bukan?”Sebenarnya, Laila sudah lama mencurigai hal ini. Sejak melihat Aya mampu bangun dan bergerak dengan leluasa sesaat setelah "operasi keguguran" selesai. Apalagi dia juga sempat melihat Aya diam-diam menyelipkan uang tunai kepada dokter yang menanganinya di rumah sakit, kecurigaan Laila menjadi semakin kuat.Ia pun mencoba menguji kebenarannya. Laila menyiapkan uang 40 juta dan memberikan

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 25

    “Tidak mungkin! Kamu pasti bicara seperti itu karena kamu masih marah!”Bima sama sekali tidak bisa menerima jawaban Laila. Selama ini, dia berani bersikap semena-mena dan bermain gila-gilaan dengan Aya, itu berdasarkan satu keyakinan mutlak bahwa Laila cinta mati padanya. Termasuk saat Laila kembali ke Kota Hana. Bima terus mengganggu Laila, terus memaksakan diri muncul di hadapan Laila, karena ia yakin Laila masih mencintainya.Namun, tadi Laila lebih memilih Hendri ketika bahaya datang, dan kata-kata yang ia ucapkan tanpa ragu itu benar-benar membuat Bima merasakan kepanikan mutlak untuk pertama kalinya.Laila kembali berbicara, suaranya masih tenang dan tegas. “Aku tidak sedang bicara karena emosi. Semua yang kukatakan adalah kebenaran.”Bima yang sudah kehilangan kendali tetap menggeleng keras, menolak percaya kalimat-kalimat yang diucapkan Laila.“Baik! Kalau begitu katakan padaku, sejak kapan kamu tidak mencintaiku? Dan kenapa?”“Sejak pertama kali aku tahu tentang hubungan gela

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 24

    Setelah acara lelang berakhir dan jamuan malam dimulai, Laila baru melangkahkan kaki untuk keluar ketika seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh, dan mendapati Bima berdiri di sana. Di tangan Bima tergenggam gelang giok jadeite yang baru saja ia menangkan dalam lelang. Kemudian ia mengulurkannya ke arah Laila.“Laila, kamu sudah 99 kali memaafkanku, aku bersedia menebus semuanya satu per satu, asal kamu mau memberiku satu kesempatan lagi.”“Cincin lamaran yang kuberikan padamu itu sebenarnya sudah kupilih sejak beberapa tahun lalu. Meski tidak besar, itu adalah wujud niatku untuk menikahimu. Sedangkan yang diperlihatkan Aya padamu, itu dia beli sendiri dengan kartu kreditku. Aku tahu hal itu sangat melukaimu, jadi anggap saja gelang giok ini sebagai permintaan maafku.”Setelah berpisah dengan Laila, Bima justru semakin menyadari betapa baiknya Laila padanya, dan betapa penting keberadaan Laila dalam hidup Bima. Bima dengan cepat dapat memastikan satu hal, ia tak bisa keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status