LOGINKeheningan seketika mencekam Dapur Vance setelah kalimat tajam itu terlontar dari bibir merah Lady Seraphina Sterling. Olivia terpaku di tempatnya, menatap wanita bergaun biru malam di hadapannya dengan manik mata membelalak."Membeli... seluruh wilayah Vance?" ulang Olivia perlahan, memastikan pendengarannya tidak bermasalah.Seraphina tertawa kecil, suara merdunya bergema meremehkan di antara rak-rak rempah dapur. "Mengapa terkejut, Nona Olivia? Kekayaan Keluarga Sterling melampaui imajinasi koki perbatasan sepertimu. Jika alasan penolakanmu karena kamu mencintai dapur di Vance ini, maka solusinya sederhana. Aku hanya perlu membeli wilayah ini dan menjadikannya milikku.""Anda melampaui batas, Lady Seraphina!"Langkah kaki berat bergema keras. Baron Julian Vance menerobos masuk ke dapur dengan wajah merah padam. Di belakangnya, beberapa pengawal Vance tampak bersiap siaga dengan tangan memegang hulu pedang.Julian melangkah lebar dan berdiri pas di depan Olivia, membentengi koki mud
Maya membanting ponselnya ke atas kasur dengan napas terengah-engah. Matanya menatap langit-langit apartemen sempitnya yang remang-remang, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi di platform baca online tempat ia mempublikasikan novelnya, The Legend of Astra."Kenapa bisa begini, sih?!" teriak Maya frustrasi, menarik rambut pendeknya.Ponselnya berdering. Nama "Editor Sarah" tertera di layar. Tanpa mengulur waktu, Maya menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga."Maya! Kamu lihat grafiknya?!" suara Sarah terdengar melengking dari seberang telepon."Mbak Sarah, jujur ya, aku mau protes!" potong Maya cepat dengan nada kesal. "Kemarin Mbak Sarah bilang, 'Maya, karakter Olivia perlu naik level. Buat Lady Seraphina tawar dia jadi koki sekaligus dayang pribadi biar derajatnya naik!' Aku turuti, kan?""Iya, terus?""Masalahnya, aku ngetik draf Bab 38 itu Olivia menerima tawaran Seraphina! Aku sudah mengetik adegan Olivia diboyong ke kediaman Sterling! Tapi kenapa begitu rilis,
Keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh sudut aula utama Mansion Rosewood sesaat setelah penawaran sensasional dari Lady Seraphina Sterling bergema di udara. Suasana perjamuan ulang tahun yang semula dipenuhi gelak tawa kini mendadak sarat akan intrik politik. Para bangsawan tinggi saling berbisik kasak-kusuk di balik kipas sutra dan piala kristal mereka, melemparkan pandangan penuh spekulasi ke arah Olivia. Gadis itu berdiri bergeming di belakang punggung tegap Baron Julian Vance, merasakan puluhan pasang mata menilai setiap gerak-geriknya.Melihat tekanan publik yang makin mengimpit Olivia, Julian mengambil satu langkah tegas ke depan. Tubuh jangkung sang baron menyembunyikan posisi Olivia secara utuh dari pandangan umum. Iris mata hijaunya yang tajam menatap Lady Seraphina dengan pancaran dingin dan menekan."Nona Olivia hadir di perjamuan ini sebagai partner resmiku, Lady Seraphina. Beliau bukanlah komoditas yang bisa Anda tawar begitu saja di depan umum hanya untuk dijadikan
Dua hari berlalu dengan cepat, dan malam puncak perjamuan ulang tahun Serikat Dagang Rosewood akhirnya tiba. Dapur utama Mansion Rosewood yang amat luas memancarkan kesibukan luar biasa. Puluhan koki dan asisten berjas putih bersih sibuk di depan tungku-tungku tembaga berukir.Atmosfer mendadak kaku saat Olivia melangkah masuk dengan celemek sederhana terikat di pinggangnya. Chef Pierre, koki eksekutif bertubuh gempal yang memimpin dapur Rosewood, menyilangkan tangan di dada seraya menatap Olivia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan."Jadi kau koki dari perbatasan Vance yang dibicarakan Marquess Caelum?" tegur Chef Pierre dingin. "Dapur ini hanya mengolah bahan kelas atas. Jangan sampai resep desa rendahanmu merusak reputasi perjamuan ini."Para asisten koki di sekelilingnya saling berbisik, menatap Olivia dengan keraguan yang amat terang-terangan. Namun, Olivia hanya tersenyum tenang. Matanya bergulir meneliti deretan bahan makanan di meja pualam besar. Sek
Pelayan wanita membimbing Julian dan Olivia menelusuri lorong berlantai marmer mengilap menuju suite utama di sayap utara. Ruangan tersebut amat luas, dilengkapi balkon pribadi yang menghadap langsung ke hamparan taman mawar perak."Rupanya Caelum menyiapkan dua kamar berdampingan yang terhubung pintu tengah," gumam Julian seraya memeriksa selot pintu penghubung. Ia berbalik menatap Olivia yang sedang mengagumi vas porselen di sudut meja. "Olivia, jika ada sesuatu yang mencurigakan nanti malam, segera panggil aku."Olivia tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Anda terlalu cemas, Tuan Baron. Ini hanya perjamuan penyambutan terbatas.""Ibu Kota bukan perbatasan Vance, Olivia," sahut Julian serius, menatap mata cokelat itu dengan lekat. "Di sini, setiap senyuman manis menyembunyikan belati."Sore berganti malam dengan cepat. Cahaya rembulan memantul di atas atap kubah kaca Mansion Rosewood yang megah. Olivia telah bersiap, mengenakan gaun hijau sage pilihannya yang jatuh dengan anggun di t
Keputusan membawa Olivia ke Ibu Kota telah bulat. Sebulan sebelum keberangkatan, Julian membawa penjahit langganan bangsawan terbaik ke kediaman Vance untuk menyiapkan seluruh kebutuhan sang koki. Di ruang tamu utama, tumpukan kain sutra premium, renda impor, beludru halus, hingga kotak-kotak perhiasan dan botol parfum porselen berserakan anggun di atas meja."Tuan Baron, ini sungguh terlalu berlebihan," ujar Olivia menghentikan jemari Julian yang sedang menunjuk sebuah gaun malam berlapis sulaman benang emas yang amat mahal.Julian menoleh, mata hijaunya menatap Olivia lembut. "Kau akan hadir sebagai koki kehormatan dari wilayah Vance, Olivia. Aku ingin kau mendapatkan fasilitas terbaik.""Tetapi saya ke sana untuk bekerja di dapur perjamuan, bukan berpesta sebagai bangsawan," kekeh Olivia halus. Ia memilah tumpukan pakaian tersebut dengan jemarinya yang terampil. "Saya hanya butuh beberapa gaun katun sederhana untuk dipakai sehari-hari di perjalanan, dan satu gaun formal yang nyaman







