Home / Romansa / Takdir Tidak Pernah Keliru / Permintaan Maaf Robi

Share

Permintaan Maaf Robi

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-09-15 22:33:42

Demi apa, Vimala sedang merasakan bosan yang teramat sangat saat ini.

Teman-temannya mengajak makan siang tapi Vimala tolak, demi menurut kepada suami.

Bahkan Vimala menolak kedatangan mereka yang ingin berkunjung untuk olah raga di gym kecil miliknya.

Sayangnya, bunda tidak bisa menemani hari ini karena sedang ikut perjalanan bisnis bersama ayah ke Australia.

Jadi sekarang dia hanya berguling-guling di sofa ruang televisi.

Tidak ada yang bisa dilakukan.

Zyandru juga sedang sibuk meeting
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Dewi Arsandi
vimala coba belajar bisnis jdi wanita mandiri astaga diluar suamimu lagi ngejar mantanx
goodnovel comment avatar
eLLy aprilia
Yg ga suka dr vimala tuh knp sih dia ga bs mikir klo roby n burhan tuh jahat?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Bukti yang Memberatkan

    Zyandru tiba bersama Davin beberapa menit kemudian.Vimala yang sedang beristirahat di ruang kerja suaminya ikut datang setelah mengetahui ada perkembangan baru.Yudha mempersilakan mereka duduk.“Pak Zyandru, Bu Ratih menemukan satu transaksi yang perlu kita perhatikan.”Ratih langsung menampilkan dokumen tersebut.“Ini pembayaran sebesar empat koma enam miliar rupiah yang dilakukan dua hari setelah pak Wisnutama meninggal.”Vimala mengernyit.“Setelah papa meninggal?”“Iya, Bu.”Zyandru membaca nama vendor dan nomor transaksi.“Bukankah ini termasuk pembayaran yang sedang diperiksa?”“Betul.”Ratih menyerahkan salinan catatan Wisnutama.“Dan ini instruksi beliau sebelum meninggal.”Zyandru membaca tulisan tersebut.TAHAN PEMBAYARAN. DOKUMEN BELUM LENGKAP.Kemudian ia kembali menatap layar.“Siapa yang menyetujui pencairannya?”Ratih menunjukkan riwayat otorisasi.Robi.Burhan.Zyandru mengeraskan rahangnya.Vimala menatap kedua nama itu cukup lama.“Jadi papa

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Penemuan Baru

    Pertemuan berlanjut setelah mereka beristirahat sejenak.Ratih memperlihatkan hasil pencocokan berkas A-17 dengan data transaksi yang telah diperiksa tim audit internal.“Dari dua belas pembayaran tadi, ada beberapa yang sejak awal sudah masuk dalam laporan dugaan penyimpangan. Tetapi nomor referensi pada catatan pak Wisnutama membantu kami menemukan keterkaitan antardokumen yang sebelumnya belum terlihat jelas.”“Seperti apa?” tanya Zyandru.“Beberapa tagihan menggunakan uraian pekerjaan berbeda, tetapi melampirkan laporan kegiatan dengan isi yang hampir sama. Bahkan ada foto dokumentasi yang digunakan lebih dari satu kali.”Davin menggeleng. “Ceroboh banget.”Ratih menoleh.“Justru itu yang menarik, Pak Davin. Dokumen-dokumen tersebut tidak diajukan bersamaan. Ada jarak waktu beberapa bulan.”“Jadi kalau enggak diperiksa satu per satu, mungkin enggak kelihatan?”“Betul.”Zyandru mengusap rahangnya.“Berapa nilai transaksi yang sekarang bisa kita dukung dengan temuan dokum

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Pengkhianatan Orang Terdekat

    Menjelang tengah hari, Zyandru dan Vimala tiba di MG Group.Davin yang sedang berbicara dengan seorang staf langsung menghampiri ketika melihat mereka keluar dari lift.“Selamat siang, Pak. Selamat siang, Bu Mala.”“Siang, Davin.”Davin melirik perut Vimala.“Wah, calon bos kecil ikut inspeksi?”Vimala tertawa.“Iya. Mau lihat papanya kerja.”“Bagus, Bu. Biar nanti tahu kalau papanya suka nyuruh-nyuruh orang.”Zyandru menatap sebal.“Davin!”Davin mengangkat kedua tangan.“Saya cuma menyampaikan fakta, Pak.”Vimala tertawa semakin keras.Zyandru menggeleng sambil menggandeng istrinya menuju ruang rapat.“Pak Yudha sudah datang?” tanyanya.“Sudah. Sama Bu Ratih dari Audit Internal.”“Baik.”Davin membukakan pintu.Di dalam, Yudha telah duduk bersama seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan yang mengenakan blazer hitam.Ratih merupakan kepala tim audit internal yang menangani penelusuran transaksi mencurigakan sejak Burhan dan Robi tidak lagi bekerja di MG Gro

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Bukti Kuat

    Yudha kembali membaca laporan yang baru dikirim Reza.Di bagian bawah halaman kedua terdapat catatan singkat petugas keamanan mengenai kejadian pada hari kematian Wisnutama Natamanggala.Pukul 16.42 WIB. Pak Burhan meminta akses ke ruang arsip pribadi Presiden Direktur dengan alasan mengambil dokumen perusahaan. Permintaan ditolak karena ruangan sedang diamankan.Di bawahnya tercantum keterangan tambahan.Dokumen yang dimaksud: berkas pemeriksaan khusus, kode A-17.Yudha mengerutkan kening.Kode tersebut terasa tidak asing.Ia membuka kembali daftar inventaris yang sebelumnya ditemukan bersama dokumen pribadi Wisnutama.Jemarinya bergerak menyusuri deretan nomor hingga berhenti pada satu baris.A-17 — Pemeriksaan Khusus Pembayaran Vendor dan Otorisasi Internal.Yudha terdiam.Jadi, Burhan tidak sekadar ingin memasuki ruang arsip.Laki-laki itu mengetahui persis dokumen yang dicarinya.Ia meraih ponsel dan kembali menghubungi Reza.“Pak Reza, dalam laporan ini tertulis ko

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Kebahagiaan Kecil

    Pukul enam sore. Zyandru tiba di rumah ketika langit Jakarta mulai gelap. Begitu memasuki kamar utama, ia mendapati Vimala sedang duduk di depan meja rias. Perempuan itu baru selesai mengeringkan rambutnya. Ia mengenakan gaun rumah berwarna biru muda yang jatuh longgar hingga bawah lutut. Melihat suaminya melalui cermin, senyum langsung muncul di wajahnya. “Sayang!” Zyandru menghampiri. Kemudian menunduk dan melingkarkan kedua tangan pada bahu istrinya dari belakang. “Hai, sayang.” Vimala mendongak. Zyandru mengecup bibirnya lalu mengusap pipi Vimala lembut. “Cantik banget.” Vimala tertawa kecil. “Apa sih baru pulang sudah gombal.” Zyandru tersenyum. “Memangnya salah muji istri sendiri?” “Enggak.” Zyandru kembali mengecup pipi istrinya. Vimala memegang kedua tangan yang melingk

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Mencari Tahu

    Tidak sampai dua puluh menit kemudian, seorang perempuan memasuki ruang rapat.Usianya sekitar pertengahan empat puluhan.Rambutnya dipotong sebahu dan tertata rapi.Ia mengenakan blus putih dengan blazer berwarna abu-abu.“Selamat siang, Pak Zyandru.”Zyandru berdiri.“Siang, Bu Maya. Silakan duduk.”Perempuan itu tersenyum sopan.“Terima kasih, Pak.”Davin memperkenalkan Yudha dan menjelaskan secara singkat tujuan pertemuan tersebut.Maya tampak sedikit terkejut ketika mendengar nama Wisnutama disebut.Namun ia tetap duduk dengan tenang.“Bu Maya, kami sedang memeriksa beberapa dokumen lama milik almarhum Pak Wisnutama,” Yudha memulai.“Baik, Pak.”“Ada satu jadwal pertemuan yang ingin kami pastikan.”Maya mengangguk.“Pertemuan apa?”“Pertemuan almarhum dengan pak Burhan pada pagi hari sebelum beliau meninggal.”Wajah Maya berubah.Ia menatap Yudha.Kemudian beralih kepada Zyandru.“Pertemuan itu?”Zyandru menegakkan tubuh.“Ibu ingat?”Maya terdiam beberapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status