LOGIN“Apakah Pangeran Eden mengira Lia akan meracuni Kak Chyara?” Azelia menatap Eden dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ekspresi wajahnya tampak terluka, seolah pertanyaan Eden benar-benar telah menyinggung perasaannya. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengangkat gelas yang berada di tangannya. Dalam satu gerakan, Azelia meneguk seluruh isi minuman tersebut hingga habis. “Lihat,” ucapnya dengan suara bergetar sambil menunjukkan gelas kosong di tangannya. “Lia meminumnya sendiri. Apakah sekarang Pangeran masih mengira Lia ingin meracuni Kak Chyara?” Air mata perlahan mengalir di pipi Azelia. Beberapa bangsawan yang berada di sekitar mereka mulai memperhatikan kejadian itu dengan tatapan penasaran. Suasana yang sebelumnya hangat seketika berubah sedikit canggung. Azelia tampak seperti seseorang yang benar-benar tersakiti karena dicurigai di hadapan banyak orang. Callister segera melangkah maju. “Salam hormat, Pangeran Kedua,” ujar Callister sambil sedikit menundukkan kepalanya. “A
“Azelia, Chyara sedang hamil sehingga dia tidak boleh meminum anggur.” Callister segera mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas yang disodorkan kepada Chyara. Sejak adiknya mengandung, ia menjadi jauh lebih waspada terhadap apa pun yang akan dikonsumsi Chyara. Ia tidak ingin mengambil risiko, sekalipun minuman itu hanya terlihat seperti anggur biasa. Namun, sebelum tangan Callister sempat menyentuh gelas tersebut, Azelia segera menarik tangannya ke belakang. Senyum di wajahnya sempat berubah menjadi bingung, seolah ia tidak memahami mengapa Callister langsung berasumsi bahwa minuman itu adalah anggur. Gadis itu kemudian menatap cairan di dalam gelas itu sebelum kembali memandang kakak laki-lakinya. “Kata siapa ini anggur?” tanya Azelia. “Ini jus anggur buatan Lia sendiri. Lia mendengar minuman ini cukup baik untuk kesehatan janin.” Azelia kemudian melirik ke arah para pelayan yang berdiri tidak jauh dari sana. Beberapa pelayan segera membawa baki berisi gelas-gelas lain yang
“Yang Mulia Putra Mahkota dan Yang Mulia Putri Mahkota memasuki aula!” Suara pelayan yang lantang menggema ke seluruh penjuru aula. Seketika, percakapan para bangsawan yang sebelumnya memenuhi ruangan perlahan mereda, lalu seluruh perhatian beralih ke arah tangga besar. Di sanalah Darian dan Chyara muncul berdampingan, berjalan perlahan menuruni tangga menuju aula utama. Puluhan pasang mata mengikuti setiap langkah mereka dengan rasa penasaran yang sulit disembunyikan. Darian menggenggam tangan Chyara dengan erat sejak mereka mulai menuruni tangga. Jemarinya tidak menunjukkan tanda-tanda akan melepaskan tangan gadis itu, ia sengaja ingin memastikan semua orang melihat hubungan mereka. Pemandangan tersebut membuat beberapa bangsawan saling bertukar pandang. Selama ini, mereka mengenal Darian sebagai seseorang yang dingin dan tidak pernah menunjukkan perhatian khusus kepada Chyara. Kini, pria itu justru berjalan di sisinya sambil menggenggam tangan gadis itu. Tatapan Chyara perla
Setelah kabar tentang kehamilan Chyara menyebar ke seluruh istana, Kaisar Eldrin tidak membuang waktu untuk mengadakan sebuah perayaan besar. Berita mengenai calon pewaris pertama Kekaisaran segera menjadi perhatian seluruh bangsawan, sehingga undangan pun dikirim ke berbagai wilayah. Mereka semua datang untuk merayakan kehadiran calon penerus yang kelak akan menjadi bagian dari garis keturunan utama keluarga kekaisaran. Bagi banyak orang, kehamilan Chyara bukan sekadar kabar bahagia, melainkan sebuah peristiwa penting bagi masa depan kekaisaran. Chyara mengembuskan napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Sejak mengetahui dirinya tengah mengandung, semua orang di sekitarnya seakan memperlakukannya seperti benda rapuh yang dapat pecah kapan saja. Bahkan untuk berjalan beberapa langkah, selalu ada pelayan yang dengan sigap menawarkan bantuan dan mengawasinya dari dekat. Chyara sendiri merasa bahwa dirinya masih baik-baik saja, tetapi tampaknya tidak ada seorang pun
Chyara mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh tabib itu justru membuat pikirannya semakin kosong. Ia menatap pria tua di hadapannya dengan wajah membeku, seolah belum mampu memahami apa yang baru saja didengarnya.“Apa?” Chyara menelan ludah pelan. “Aku ... mengandung?”Ruangan itu seketika dipenuhi keheningan. Chyara masih memandangi tabib di hadapannya, seakan berharap pria itu segera mengatakan bahwa dirinya hanya salah dengar. Namun, senyum tipis yang terukir di wajah sang tabib justru menegaskan bahwa ucapan tersebut bukanlah sebuah kesalahan.“Benar, Yang Mulia,” jawab tabib itu dengan hormat. “Putri Mahkota sedang mengandung.”Chyara membeku semakin lama. Tangannya yang berada di atas selimut perlahan mengepal, sementara pikirannya berusaha mencerna kenyataan yang terasa datang terlalu tiba-tiba. Ia bahkan belum sempat memikirkan kematian Arthur dan kejadian aneh yang baru saja dialaminya, tetapi kini sebuah masalah baru kembali muncul d
Tiba-tiba sesuatu terjadi. Pedang yang berada di tangan algojo terlepas dari genggamannya seolah ditarik oleh kekuatan tak kasatmata. Tubuh algojo itu tersentak, ia bahkan tidak sempat memahami apa yang sedang terjadi. Dalam sekejap, pedang tersebut melayang di udara dengan kecepatan tinggi sebelum berbalik menuju Arthur.Sret!Chyara membelalakkan mata, pedang itu langsung menembus dada Arthur. Bilah tajam tersebut menghujam tepat ke arah jantungnya. Mata Arthur sedikit membelalak, sementara tubuhnya tersentak akibat serangan yang tidak terduga itu.Beberapa detik kemudian, darah segar mulai mengalir dari luka di dadanya. Percikan darah mengenai bagian depan gaun Chyara. Gadis itu langsung membeku, tatapannya tetap tertuju pada Arthur yang kini masih berlutut di hadapannya.Pria itu perlahan menundukkan pandangan ke arah pedang yang menembus tubuhnya, kemudian ia kembali mengangkat wajahnya, tatapannya langsung memandangi Chyara.Chyara tidak dapat menggerakkan tubuhnya, ia benar-be







