MasukKereta Tuan Lucien akhirnya berhenti tepat di depan gerbang utama Kediaman Hideria. Pria tua itu turun dengan langkah penuh keyakinan dan kesombongan. Ia bahkan tidak menunggu penjaga bertanya mengenai maksud kedatangannya ke sana. “Buka gerbangnya,” ucap Tuan Lucien, suaranya tegas dan penuh perintah. Para penjaga saling melirik sesaat, kemudian salah seorang segera memberikan aba-aba sebagai mana mestinya. “Buka gerbangnya!” Pintu gerbang Hideria pun terbuka lebar. Tuan Lucien tersenyum puas. Tidak ada pemeriksaan, tidak ada pertanyaan, tidak ada seorang pun yang berani menghalanginya. Seperti itu lah yang seharusnya. Bagaimanapun juga, ia adalah kakek kandung Suran, dan menurut pikirannya, selama Suran tidak mampu mengurus Hideria, dirinya adalah orang yang paling pantas dan berhak mengambil alih keadaan. Ia berjalan masuk dengan dada yang tegak. Beberapa pelayan sudah menunggu untuk menyambutnya. Di antara mereka berdiri Wulien pada baris depan. “Selamat datang
Malam itu, Tuan Lucien akhirnya mengambil keputusan final. Setelah berhari-hari merasa curiga, ia tidak ingin lagi hanya menunggu tanpa kejelasan yang nyata. Ia memanggil salah seorang bawahannya yang masih memiliki hubungan dengan orang-orang di Kediaman Hideria. “Berikan ini kepadanya,” ucap Tuan Lucien sambil menyerahkan sebuah botol kecil diletakkan di atas meja. “Masukkan ke dalam makanan Suran. Pastikan tidak ada yang mengetahui tentang ini. Racun ini tidak memiliki aroma dan warna, jadi pastikan berhasil. Pria itu menerima botol tersebut dengan kedua tangan. “Baik, Tuan Lucien.” Racun itu bukan racun biasa, Tuan Lucien sengaja meminta racun yang dibuat khusus untuk Suran, berharap kali ini tidak akan ada kesempatan baginya untuk bertahan lebih lama lagi. Malam harinya, makan malam Suran disiapkan seperti biasa. Beberapa hidangan diletakkan di atas meja makan. Pelayan yang membawa salah satu hidangan terlihat sedikit tegang, tetapi Suran tidak menunjukkan kecu
Hari-hari di Kediaman Hideria terasa jauh lebih tenang setelah Ailin dan Linira pergi dari sana. Suran bisa tidur tanpa mendengar keributan dari kamar Linira atau menerima laporan mengenai masalah yang dibuat oleh Ailin. Pagi hari pun terasa lebih tenang dan damai. Suran bisa duduk membaca dokumen tanpa harus merasa terganggu. Bahkan malam-malamnya terasa jauh lebih nyaman. Ia berdiri di depan jendela kamar sambil memandang halaman yang diterangi cahaya bulan sempurna. “Jauh lebih tenang. Ternyata suasana yang seperti ini terasa damai dan melegakan.” Wulien yang sedang merapikan beberapa dokumen dagang milik keluarga Hideria hanya tersenyum. Suran kemudian kembali duduk. Namun ketenangan itu bukan berarti ia berniat berhenti untuk bergerak. Justru sekarang, setelah masalah Ailin dan Linira untuk sementara selesai, Suran bisa mengalihkan seluruh perhatiannya kepada satu orang saja. Tuan Lucien yang juga adalah kakeknya sendiri. Pria tua yang selama ini bersem
Suran tersenyum sebelum akhirnya menjawab, “Tuan Kenn. Usia 64 tahun, duda anak 8, memiliki 6 rumah pribadi, ladang, tanah beberapa petak. Menikahlah dengan dia, itu cukup untuk membayar hutangmu.” “A–apa?!” Ailin terduduk lemas di lantai yang dingin. Perintah Suran terngiang-ngiang di kepalanya. Menikah lagi dengan pria tua?? Dengan seorang pria berusia enam puluh empat tahun. Ailin mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kukunya menekan telapak tangan hingga merah. Ia ingin sekali menolak. Namun setiap kali teringat wajah Linira yang masih terbaring lemah di kamar, keberaniannya langsung runtuh tak ber “Kalau saja aku menolak...” gumamnya lirih. “Pengobatan Linira akan terhenti. Dokter mungkin tidak akan datang lagi.” Obat-obatan yang dibutuhkan putrinya pun tidak akan bisa dibeli. Ailin akhirnya menundukkan kepala, lesu. “Baiklah kalau itu maumu.” Suaranya hampir tidak terdengar. “Aku akan melakukannya, apapun yang kau mau.” Suran menatapnya tanpa sedikit
Suran menganggukkan kepalanya, dia ingin bertanya lagi, tapi sempat merasa agak ragu. “Ngomong-ngomong... bagaimana dengan Rey?” Sejenak Wendy terdiam. “Nona, Rey itu sangat aneh. Tidak ada yang tahu dia siapa, rekam jejaknya juga tidak terbaca. Bukankah ini... mengerikan?” Mendengar itu, Suran terdiam sejenak. Tentu saja dia sudah menyadari ini sejak awal. Rey memiliki kekuatan yang besar, tapi pria itu tidak bisa ditebak setiap tindakannya. Semuanya seperti mudah untuk dia hadapi, tapi kadang Suran juga bisa melihat ada ketakutan, rasa sakit, dan kesulitan yang tidak bisa dia ungkapkan. “Mengerikan? Sepertinya semua orang akan berpikir seperti itu. Tapi kadang aku justru merasa sangat kasihan padanya. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku bisa merasakan semua itu bahkan tanpa ada alasan yang jelas.” Wulien mendengar itu meskipun Suran hanya seperti bergumam. Dahinya pun berkerut. “Nona, dia pergi kali ini pasti tidak akan kembali. Saya merasa takut kadang kala kalau dekat de
Setelah mendapatkan uang dari Suran, Ailin tidak membuang waktu sedikit pun. Ia segera menggunakan sebagian besar uang tersebut untuk mendatangkan salah satu dokter terbaik yang biasa menangani keluarga bangsawan dan bahkan memiliki pengalaman selama bertahun-tahun merawat keluarga dari lingkungan istana. Biayanya sangat mahal, namun Ailin tidak lagi memikirkan dirinya sendiri sekarang. “Berapa pun biayanya, tolong sembuhkan putriku, biarkan dia kembali seperti semula.” Dokter itu menatap Linira cukup lama sebelum menjawab, “Saya akan melakukan yang terbaik. Tetapi Anda harus memahami bahwa kondisi seperti ini membutuhkan waktu, dan biayanya juga tidak sedikit.” Ailin mengangguk cepat. “Saya tahu, saya pasti sanggup.” Perawatan pun dimulai, tidak ada obat ajaib yang membuat Linira langsung kembali seperti semula. Semuanya dilakukan sedikit demi sedikit, penuh kesabaran. Dokter mulai mengatur waktu tidur Linira, memastikan ia mendapatkan makanan yang cukup, mengurangi ha







