登入Orang kepercayaan itu pun mengangguk. “Baik. Ngomong-ngomong, sepupu dari keluarga mendiang Nyonya Hideria mencoba mengirim pesan untuk anda.” “Pesan? Pesan apa?” “Saya dengar, beberapa bulan sebelum Tuan Hideria wafat, beliau memberikan keleluasaan bagi sepupu anda ingin datang, bahkan tinggal di kediaman Hideria. Ayah anda juga menyanggupi biaya hidup sepupu anda jika sepupu anda berniat untuk tinggal di kediaman anda,” ucap orang kepercayaan Suran. Gret... Suran mengepalkan tangannya, sadar bahwa semua yang diucapkan oleh orang kepercayaannya itu memang benar adanya. Dulu, ibu kandungnya Suran sangat menyayangi keluarga, apalagi anak-anak dari keluarganya. Bukan hanya sekali dua kali saja ibu kandungnya Suran ingin mengurus anak dari keluarganya karena takut Suran akan kesepian mengingat Suran adalah anak satu-satunya mereka. Namun, saat itu sepupunya itu masih kecil dan belum tahu betapa nikmatnya jika memiliki banyak harta. Suran juga sangat menginginkan memiliki sauda
Rey sontak bangkit, meraih dagu Suran, dan kini posisi wajah mereka benar-benar dekat. “Kau tidak boleh jadi milik siapapun!” Menggigit bibir bawahnya, Suran merasa tatapan mata Rey yang begitu dekat dengannya seolah memberikan tekanan yang begitu kuat. Tidak boleh jadi milik siapapun? Kalimat itu sebenarnya apa artinya? Pikir Suran. Rey menatap semakin dalam, saat itu pula lah Suran makin merasakan aneh di dalam hatinya. “Kau suka merendahkan dirimu sendiri ya? Kenapa kau jadi ingin menempatkan dirimu sebagai selir? Apa kau sangat frustrasi gagal menikah dengan pujaan hatimu sampai tidak lagi peduli dengan siapa yang akan kau nikahi?” tangan Rey, dia masih terlalu dekat membuat Siran menjauhkan dirinya. Rey menatap tangannya yang sudah tidak lagi menyentuh wajah Suran, lalu menjauhkan dirinya. “Bukan urusanmu, kenapa kau ikut campur? Lagi pula, menjadi selir atau apapun juga tidak akan mengubah statusku sebagai Hideria,” ucap Suran, tapi dia benar-benar tidak menatap
“Suran!!!!” Ailin langsung bangkit, meminta untuk Linira tidak berteriak lagi. “Linira, pelan kan suaramu!” kesal Ailin, “masih bagus kita bisa tetap tinggal di sini, kau tidak mau hidup sengsara di luar kediaman ini, kan?” Linira mengepalkan tangannya, merasa kalau ibunya itu sangat tidak memahami bagaimana perasaannya. Padahal, dia sudah mengorbankan banyak hal untuk mencapai tujuannya, tapi sekarang semua pengorbanan itu seolah tak memiliki arti apapun, hancur begitu saja. “Suran tidak tahu kalau kau memang melakukan perselingkuhan dengan Luderin. Dia membawa berkas pemeriksaan ke hakim istana karena ingin kau mendapatkan keadilan, mengira kau dijahati orang di luar sana sampai jadi seperti ini,” ucap Ailin, tegas. Linira tentu saja masih tidak bisa menerima alasan itu. Bagaimanapun, rencananya benar-benar sudah gagal. Namun, begitu kembali memikirkan hal itu tiba-tiba sajadahnya mengernyit. “Bu, apakah terkuaknya semua ini di hadapan banyak orang?” Ailin tentu
“Ah, ini belum seberapa. Kau akan lihat seberapa teganya aku setelah ini.” “A–apa lagi maksud mu?” tanya Luderin, tapi anehnya dia benar-benar merasa sangat tertekan dan waspada. Suran tidak memberi jawaban, ia hanya tersenyum karena apa yang akan terjadi pada Luderin nanti tentu saja sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh pria itu. “Aku tidak akan menemui mu lagi setelah ini, jika bertemu di jalan, lebih baik kau berpura-pura saja tidak melihatku juga tidak mengenal ku. Kalau kau masih saja mengganggu ku, maka aku tidak akan segan untuk memberi pelajaran padamu,” ucap Suran, itu juga bagian dari mengancam dan jelas tidak main-main. Luderin memang sangat marah, tapi mana mungkin dia berani untuk banyak bicara kalau ada pedang yang siap menebas lehernya. Ibunya Luderin pun merasakan kesalnya, tapi juga sama-sama harus menahan diri. Suran meninggalkan tempat itu, masuk ke dalam tanpa ingin melihat Luderin sedikitpun. Rey juga ikut masuk setelah Wulien. “Brengsek!!!” mak
“Jangan sembarangan! Luderin itu pria terhormat, mana mungkin melakukan hal itu?!” balas Ibunya Luderin. “Terhormat? Hahaha...!” Suran menutup mulutnya, kali ini dia benar-benar tidak tahan untuk tidak tertawa. Luderin dan Ibunya benar-benar terlihat bingung, tapi juga memiliki firasat buruk. Wulien juga sama, dia terasa meskipun tidak sekeras Suran. “Suran, kenapa kau tertawa? Aku... aku tidak paham. Kau tidak percaya lagi padaku?” tanya Luderin. Sejenak menenangkan diri agar tidak terus tertawa, akhirnya Suran bisa bicara lagi serius sekarang. “Luderin, mau sampai kapan kau dan keluargamu menganggap ku bodoh? Kau tahu tidak kenapa sampai sekarang kau masih tidak paham bagaimana aku? Kau lah yang bodoh, bukan aku.” Luderin dan Ibunya saling menatap, mulai merasa curiga kalau pada akhirnya dia dan Suran memang tidak bisa menikah. “Bukti perselingkuhan mu dan Linira sudah terbukti, kau mau apa lagi? Tidak usah berpura-pura seolah aku ini sangat mencintai mu hingga
Ibunya Luderin langsung berekspresi sinis. “Kenapa aku harus jual milikku? Kita tidak boleh melakukan itu, semua itu penting bagi Ibu.” Luderin menatap marah, “Jangan banyak omong kosong, cepat lakukan saja!” Perdebatan itu terus berlangsung. Ibunya Luderin ingin mempertahankan barang-barang miliknya yang berharap, yang dia anggap sudah menjadi milik pribadinya meski dia sendiri juga tahu dengan cara apa semua benda itu akhirnya sampai ke tangannya. “Bu, kalau ibu masih saja ngeyel, yang akan sulit bukan cuma aku, tapi Ibu juga pasti akan lebih kesulitan. Coba pikirkan lagi, aku mungkin masih bisa menikah dengan Suran, atau minimal dengan wanita lain yang sedikit berada jadi aku bisa tinggal dengannya. Lalu Ibu?” Ibunya Luderin terdiam, dia memikirkan semua yang harus dilakukan tanpa mengeluarkan uang sedikitpun, terutama menjual barang-barangnya. “Ibu akan datang ke rumah Suran. Siapa tahu dia masih mau menikah denganmu. Kalau menikah dengan Suran sekarang sudah tidak mun







