ログインVictor terkekeh pelan saat mendengar jawaban istrinya, pria itu menundukkan wajahnya, berniat meraup bibir istrinya untuk memberikan 'hukuman' balasan.Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, pergerakan Victor tiba-tiba terhenti kaku. Pria itu meringis, memejamkan matanya dengan kuat. Kepalanya mendadak berdenyut luar biasa nyeri, seolah ada ribuan jarum yang menusuk pelipisnya akibat efek hangover dan pergerakannya yang terlalu agresif.Melihat suaminya kesakitan, Adriana melepaskan kalungan tangannya. Ia mendorong dada bidang Victor dengan lembut agar pria itu menyingkir dari atasnya dan kembali duduk bersandar di kepala ranjang.Adriana mengambil kembali gelas air di atas nakas dan menyodorkan pil pereda nyeri yang tadi belum sempat tertelan sempurna oleh suaminya."Minum ini dan duduklah dengan tenang." omel Adriana dengan nada seorang istri yang sedang mengurus suaminya yang keras kepala. Ia menatap Victor lekat-lekat, lalu menambahkan dengan senyum simpul. "Itulah hukuma
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai kamar utama yang tebal, menusuk langsung ke kelopak mata Victor. Pria itu mengerang tertahan, mengangkat sebelah tangannya untuk menutupi wajah. Kepalanya terasa seolah baru saja dihantam palu berkali-kali. Efek alkohol dari bergelas-gelas anggur yang ia tenggak semalam kini menagih bayaran dengan kejam.Di tengah rasa pening yang berdenyut hebat di pelipisnya, ia merasakan pergerakan di sisi tempat tidur. Sebuah gelas kaca berisi air dingin dan dua butir pil pereda nyeri disodorkan di atas meja tepat di hadapannya.Victor membuka matanya dengan susah payah. Siluet Adriana yang sudah rapi dan wangi terlihat duduk di tepi ranjang."Adriana...?" panggil Victor, suaranya terdengar luar biasa serak dan kering."Hmm..." gumam Adriana singkat.Wanita itu sengaja membuang pandangannya ke arah lain dan memasang raut wajah sedingin es. Adriana sedang berpura-pura masih menyimpan kemarahan yang sama seperti saat ia mendorong dada suamin
Mendengar deklarasi yang begitu tiba-tiba dan penuh keyakinan dari bibir Evelyn, Adriana terdiam karena kaget.Wanita itu membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun kembali menutupnya. Otaknya berusaha memproses perubahan drastis ini. Selama beberapa minggu, rumah ini menjadi saksi bisu betapa dingin dan kacaunya hubungan Evelyn dan suaminya. Namun kini, menatap binar mata anak tirinya yang begitu hidup dan penuh tekad, keraguan di hati Adriana menguap."Kau... sudah berbaikan dengan Davian?" tanya Adriana akhirnya, suaranya melembut, memancarkan kelegaan yang tulus.Sebuah senyuman yang luar biasa lebar, merekah di bibir Evelyn."Ya..." jawab Evelyn, rona kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya yang sedikit kelelahan. "Kami sudah membicarakan. Banyak hal yang terjadi, dan aku tahu ada banyak yang harus aku tebus pada Davian. Tapi... kami ingin memulai semuanya dari awal."Adriana mengangguk pelan. Sebuah senyum tipis ikut terukir di bibirnya. Sebagai seseorang yang j
Mendengar suara suaminya yang bergetar penuh penyesalan, sisa-sisa amarah dan ego di dalam dada Adriana runtuh seutuhnya. Rasa hangat perlahan mengalir, menggantikan kecemasan yang sejak tadi menggerogotinya.Adriana menghela napas panjang. Ia menggeser posisinya, membiarkan Victor menyandarkan kepala dengan nyaman di pelukannya, sementara tangannya yang bebas membelai rambut hitam pria itu dengan kelembutan yang luar biasa."Sudahlah." bisik Adriana, suaranya mengalun tenang di tengah ruangan yang remang-remang itu. "Aku juga minta maaf, Victor. Sepertinya aku juga bereaksi berlebihan sore tadi. Aku hanya... terlalu lelah dan emosional mendengar gosip kotor itu."Pengakuan Adriana itu seolah menjadi obat penawar rasa sakit yang paling manjur bagi Victor. Pria itu mengeratkan pelukannya di pinggang Adriana selama beberapa detik, menghirup aroma istrinya dalam-dalam, sebelum akhirnya seluruh otot di tubuhnya benar-benar rileks. Beban pikiran yang memaksanya menenggak alkohol telah
Hembusan angin malam yang dingin menyapu tubuh Adriana saat ia turun dari taksi di depan pelataran gedung Sterling Industries. Tanpa membuang waktu, kakinya yang masih dibalut sepatu hak tinggi melangkah cepat memasuki lobi yang kini terasa lengang."Apa Tuan Sterling masih di atas?" tanya Adriana tanpa basa-basi pada dua petugas keamanan yang berjaga di pintu Lobby.Kedua petugas itu sedikit terkejut melihat sang Asisten yang menjadi pusat perhatian sore tadi kini kembali ke kantor. "Benar, Nona. Tuan Victor belum turun sejak tadi dan mobilnya masih ada di tempat parkir khusus."Mendapat jawaban itu, Adriana segera bergegas menuju lift eksekutif. Sepanjang perjalanan naik ke lantai teratas, ia meremas tali tas tangannya. Rasa kesalnya sudah menguap entah ke mana, digantikan oleh rasa cemas dan bersalah yang mencubit nuraninya.Sementara itu, di dalam ruangan CEO yang temaram, Clara menolak untuk menyerah. Melihat Victor yang berjalan sempoyongan dan nyaris kehilangan keseimbanganny
Denting halus dari perpaduan alat makan perak dan piring porselen terdengar mengalun lembut diiringi alunan musik jazz di restoran mewah tersebut. Di salah satu meja sudut yang tertutup dari pandangan publik, Adriana duduk berhadapan dengan seorang teman lamanya.Namun, alih-alih menikmati hidangan di hadapannya, perhatian Adriana sepenuhnya tersita oleh layar ponsel di tangannya.[Apa Victor sudah makan malam?]Ibu jari Adriana ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Pesan singkat itu meluncur ke nomor kepala pelayan di kediaman utama Sterling.Sejujurnya, setelah insiden memalukan di lobi tadi sore, ego Adriana masih terluka. Ia sengaja melarikan diri, menolak panggilan suaminya, dan berniat mendiamkan Victor malam ini agar pria arogan itu menyadari bahwa Adriana sama sekali tidak menyukai cara impulsifnya. Tapi pada akhirnya, cinta dan kepedulian mengalahkan ego dan keras kepalanya.Adriana sangat mengenal suaminya. Victor adalah pria gila kerja yang sering kali
"Diam." desis Adriana.Ia menundukkan wajahnya, memotong setiap kata godaan yang mungkin akan keluar lagi dari mulut suaminya. Kali ini, Adriana mengambil alih kendali sepenuhnya. Ia meraup bibir Victor dalam sebuah ciuman, membungkam pria itu dengan inisiatifnya sendiri.Di saat yang sama, sebela
Mengabaikan tumpukan pekerjaan di mejanya sejenak, Adriana melangkah menuju ruangan Victor.. Jantungnya masih berdebar kencang sambil memeluk map coklat berisi desain gaun pengantin itu di dadanya.Ia tersenyum sopan pada sekretaris Victor dan langsung diizinkan masuk tanpa pertanyaan.Begitu melan
Davian memalingkan wajahnya dengan kasar, menolak menatap bibir Evelyn yang terlihat begitu mengundang. Urat di lehernya menonjol seiring dengan napasnya yang semakin berat."Berhenti." desis Davian. Suaranya terdengar
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Evelyn tidak lagi merengek, tidak lagi membujuk, bahkan tidak lagi mengomel. Dari posisinya yang berbaring kaku, Davian bisa merasakan hembusan napas wanita itu perlahan berubah menjadi teratur dan tenang, menerpa wajahnya.







