Share

BAB 82

Author: Rainina
last update Last Updated: 2026-01-06 14:37:51

Evelyn menatap pintu yang baru saja tertutup itu dengan napas memburu. Tangannya gemetar, karena lonjakan amarah yang begitu hebat hingga membuat ujung-ujung jarinya terasa dingin.

“Sialan!” teriak Evelyn, menyapu seluruh isi nampan makan malam di meja ke lantai.

Suara piring pecah dan denting sendok garpu yang beradu dengan lantai marmer menggema di kamar yang sunyi itu. Evelyn menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang, mencengkeram kepalanya yang berdenyut.

Evelyn benar-benar membenci tempat ini. Dan lebih dari segalanya, ia membenci kehadiran Theo.

Kenapa bajingan itu harus ada di rumah ini sekarang? Padahal terakhir kali ia ke sini pria itu sedang dalam perjalanan bisnis yang panjang.

Evelyn membenci Theo. Sangat membencinya. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia lebih membenci dirinya sendiri karena pernah membiarkan pria itu mempermainkannya.

Theo memang saudara tirinya, tapi dulu, sebelum semua kekacauan ini terjadi, Theo adalah segalanya bagi Evelyn.

Pria itu cerdas, tampan, dan satu-sat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Razee
Kasian sekali adriana… huhuhu
goodnovel comment avatar
Fi Tri
makasih Thor... sdh update... konfliknya smkin seru...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 87

    Adriana terbangun saat matahari mulai tinggi dan mengganggu pandangannya. Tangannya secara refleks meraba sisi tempat tidur di sebelahnya. Kosong.Bukan hanya kosong, sprei sutra di sisi itu terasa dingin dan licin, tanpa ada satu pun kerutan bekas tindihan tubuh. Victor sepertinya tidak tidur di sana. Pria itu bahkan tidak menyentuh sisi ranjang itu semalaman, membiarkan Adriana menguasai ranjang itu sendirian.Adriana menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan perasaan campur aduk.Tok. Tok.Lamunannya buyar saat suara ketukan halus terdengar, disusul pintu kamar yang terbuka perlahan. Seorang pelayan wanita berseragam rapi melangkah masuk, membawa nampan berisi sarapan.“Permisi, Nona,” ucap pelayan itu sopan, namun matanya tidak berani menatap langsung ke arah wajah lebam Adriana. Ia meletakkan nampan itu di atas meja nakas. “Tuan meminta saya membawakan sarapan dan obat pereda nyeri untuk Anda.”Adriana hanya mengangguk pelan, matanya terpaku pada namp

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 86

    Victor membawa Adriana masuk ke dalam kamar tidur utama, ruangan luas bernuansa abu-abu gelap dan maskulin yang selama ini hanya bisa Adriana bayangkan.Ia mendudukkan Adriana dengan hati-hati di tepi ranjang berukuran king size, seolah wanita itu adalah barang pecah belah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Victor berjalan menuju lemari di sudut ruangan dan kembali dengan sebuah kotak P3K lengkap di tangannya.Lampu kamar yang temaram menyembunyikan sebagian ekspresi Victor, namun Adriana bisa merasakan ketegangan yang menguar dari tubuh pria itu.Victor menarik sebuah kursi mendekat ke tepi ranjang, lalu duduk tepat di hadapan Adriana. "Ini akan sedikit perih," gumam Victor pelan, suaranya terdengar berat namun lembut.Kapas basah itu menyentuh sudut bibir Adriana yang sobek."Sshhh..." Adriana mendesis refleks, tubuhnya sedikit tersentak mundur."Maaf," ujar Victor cepat. Tangannya berhenti di udara sejenak, membiarkan Adriana mengatur napas, sebelum kembali menyentuh luka itu de

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 85

    Awalnya, Adriana mengira mobil yang dikendarai Victor tu akan melaju menuju pusat kota, kembali ke gedung apartemen mewah tempat penthouse Victor berada.Ia sudah terlalu lelah untuk bertanya. Setelah lelah menangis dan meronta hanya untuk diabaikan oleh Victor, akhirnya Adriana memilih diam. Tubuhnya terasa remuk, dan rasa perih di wajahnya berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Adriana menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin, membiarkan dirinya pasrah.Namun, ketika mobil mulai melambat dan berbelok tajam, mata Adriana terbuka.Pemandangan diluar jendela membuatnya seketika menegakkan tubuhnya. Rasa kantuk dan lelahnya lenyap, digantikan oleh rasa ketakutan yang muncul begitu saja.Mereka tidak berada di basement gedung pencakar langit yang dikenali Adriana.Di hadapannya, sebuah gerbang besi raksasa perlahan terbuka secara otomatis. Adriana mengenali tempat ini. Ia pernah ke sini untuk mengambil dokumen atas perintah Victor.Ini kediaman keluarga Sterling.Tidak, ba

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 84

    Adriana memalingkan wajahnya, tidak sanggup menahan tatapan intens pria itu lebih lama lagi. Rasa perih di pipinya tidak sebanding dengan rasa malu yang membakar dadanya. Ia benci saat ada orang yang melihatnya dalam kondisi seperti ini.“Kumohon... pergilah.”“Tidak.” Victor menjawab dengan cepat. Tangannya masih mengurung Adriana, menolak memberinya ruang untuk pergi.Adriana tertawa kecil, ia menatap pria itu dengan tatapan menantang.“Berhenti bertingkah bodoh, kau terlihat konyol,” desis Adriana. “Reaksimu terlalu berlebihan untuk seorang pria yang hanya menginginkan tubuhku.”Wajah Victor menegang. Ada kilatan penyesalan di matanya, ia ingin membantah tuduhan itu.“Aku tidak…”“Kau sudah memperjelas semuanya waktu itu, Victor,” potong Adriana. Ia sudah tidak peduli lagi untuk bersikap sopan. Untuk apa ia menjaga tata krama pada orang yang sedang berusaha ia usir? Ia lelah, ia merasa bersalah. Ia juga benci dengan fakta berurusan dengan pra itu telah menariknya ke lubang neraka

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 83

    “Aku bilang, buka pintunya Adriana.”Suara Victor terdengar rendah, namun mampu membuat Adriana merasa tidak berdaya. Ia mengabaikan bentakan Adriana, mengabaikan pengakuan wanita itu tentang memanfaatkan dirinya.Bagi Victor saat ini, semua kata-kata itu tidak ada artinya dibandingkan dengan lebam yang terlihat jelas di wajah wanita itu.“Pergi! Apa kau bodoh?!” jerit Adriana dari balik pintu, suaranya pecah karena air mata yang mulai jatuh.Rahang Victor mengeras. Kesabarannya tidak cukup untuk terus membujuk wanita itu membuka pintunya secara baik-baik.Ia tidak menjawab. Sebaliknya, Victor mundur selangkah, lalu menghentakkan bahunya ke daun pintu dengan sekuat tenaga.BRAK!Adriana terlonjak mundur karena hentakan tubuh Victor di pintunya. Pria ini gila. Batinnya.BRAK!Victor menghantamkan tubuhnya sekali lagi, Kayu tua yang menahan rantai itu di pintu itu kalah begitu saja. Rantai pengaman yang sudah berkarat itu terlepas dari kusennya, terpental ke lantai dengan suara denting

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 82

    Evelyn menatap pintu yang baru saja tertutup itu dengan napas memburu. Tangannya gemetar, karena lonjakan amarah yang begitu hebat hingga membuat ujung-ujung jarinya terasa dingin.“Sialan!” teriak Evelyn, menyapu seluruh isi nampan makan malam di meja ke lantai.Suara piring pecah dan denting sendok garpu yang beradu dengan lantai marmer menggema di kamar yang sunyi itu. Evelyn menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang, mencengkeram kepalanya yang berdenyut.Evelyn benar-benar membenci tempat ini. Dan lebih dari segalanya, ia membenci kehadiran Theo.Kenapa bajingan itu harus ada di rumah ini sekarang? Padahal terakhir kali ia ke sini pria itu sedang dalam perjalanan bisnis yang panjang.Evelyn membenci Theo. Sangat membencinya. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia lebih membenci dirinya sendiri karena pernah membiarkan pria itu mempermainkannya.Theo memang saudara tirinya, tapi dulu, sebelum semua kekacauan ini terjadi, Theo adalah segalanya bagi Evelyn. Pria itu cerdas, tampan, dan satu-sat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status